Anehdong Jumat

Dua Belas Kisah Lucu Seputar Jumatan

JUMATAN 
adalah ibadah yang serius. Para jamaah dilarang berbicara. Mereka dituntut untuk khusyuk mendengarkan khutbah. Tapi namanya juga manusia; sesekali terjadi peristiwa lucu dalam keseriusan Jumatan. Khatib juga manusia; jamaahnya juga manusia.

Berikut beberapa kejadian lucu atau tidak lazim, yang terjadi seputar Jumatan. Cerita ini sebut saja “Anehdong Jumat”. Beberapa kisah ini penulis ikuti kejadiannya atau penulis alami sendiri. Beberapa lainnya dituturkan oleh teman (khatib).

#1. Khatib Tertidur

Khutbah pertama berjalan lancar. Seperti biasa, jeda sebelum khutbah kedua, khatib duduk di kursi dalam mimbar. Jamaah khusyuk berdoa di antara dua khutbah karena merupakan amalan sunah; 2 menit, …. 3,5,6,10 menit, khatib belum juga berdiri di mimbar.

Jamaah khatam berdoa malah lebih-lebih. Tengok sani-sini eh ternyata khatibnya tertidur. Ternyata, tak hanya jamaah yang boleh tidur!

#2. Anu Jamaah

Khatib yang satu ini memang khas, di samping suaranya berapi-api, dikenal juga dengan ekspresi tubuhnya. Wajah dan tangannya sering digerakkan mengilustrasikan isi khutbah. Tapi kali ini aneh, tanggannya lama menunjuk seorang jamaah.

Ketika jamaah itu tersadar, barulah tangan sang khatib berpindah ekspresi. Ah, rupanya sang khatib memberi tahu kalau sarung jamaah terbuka tanpa ada kain lagi, dan terlihatlah, maaf, anunya …

#3. Tukar Guling Ayat

Ada beberapa kalimat atau ayat di dalam al-Quran yang memiliki kesamaan, meski kalimat atau ayat sebelum dan sesudahnya berbeda. Suatu saat seorang khatib membaca surat al-A’la dalam rakaat pertama.

Sampai pada kalimat “fadzakkir” sang imam melanjutkan pada kalimat “innama anta mudzakkir”. Padahal mestinya berlanjut “innafaati dzikra”. Tentu ini mengejutkan bagi jamaah, soalnya itu masuk surat al-Ghasiyah.

Astagfirullah, ada “tukar guling” ayat nih! Ada-ada saja. Khatib juga manusia(wi) he he he …

#4. Tema Jihad di Basis Militer

Khatib satu ini memang pemberani; meski khutbah di Lanmar (Pangkalan Marinir) tetap saja dia sampaikan tema jihad. Memang, saat itu Amerika Serikat dan sekutu sedang menginvasi Afghanistan.

Tapi setelah itu, sang khatibtak lagi diundang. Dan…., teman-temannya,  yang juga jadi khatib di situ, ikut tak lagi diundang.  Ini memang risiko berteman bro! Meski tak ikut khutbah bertema “keras”, teman-temannya juga kena getahnya, he he he ….

#5. Pergantian Khatib

Khatib ini dikenal datang mepet waktu. Suatu saat jalan macet; maka terlambatlah dia di lokasi Jumatan. Karena waktu sudah masuk (Jawa = manjing), maka adzan dikumandangkan dan akhirnya khatib pengganti naik mimbar. Tapi, begitu tahu khatib  asli akhirnya datang, khatib dadakan itu pun turun dan memersilahkan khatib asli naik mimbar, selesai adzan dikumandangkan.

Jamaah bingung, ada pergantian”pemain”. Tapi sang khatib badal (pengganti)  plong maklum dia hanya pengurus mushala pabrik, tak terbiasa khutbah Jumat.

#6. Ringtone Dangdut

Seperti biasa, lima puluh persen lebih jamaah terlelap di tengah khutbah berlangsung. Tapi, tiba-tiba semua jamaah bangun sambil gelagapan.

Ada apa gerangan? Ah, terdengar lagu dangdut di tengah mereka. Tolah-toleh sana sini, eh ternyata ringtone HP sang khatib. Pecinta dangdut ya?

#7. Jadwal Bentrok
Dia seorang khatib muda. Tidak semua Jumatnya terisi jadwal. Karena itu sering dimintai jadi badal para khatib senior. Para khatib senior kadang aneh, kok bisa jadwalnya double. Maka biar Jumatan gak kosong dicarilah badal  khatib.

Suatu Jumat, dengan semangat tawadhu, khatib muda itu berangkat ke suatu masjid untuk menjadi badal khatib senior. Di depan dia duduk siap bertugas. Ah ternyata khatib lain datang juga. Dia terbengong-bengong. Ini sebenarnya jadwal siapa?

#8. Terkunci Tak Ikut Jumatan
Entah karena capek atau menunggu waktu tiba, seorang karyawan leyeh-leyeh sambil baca koran saat jam istirahat tiba. Eh, ternyata kebablasan tidur dan runyamnya, tak ada yang membangunkan. Ketika terjaga khutbah Jumat sudah berlangsung.

Ia bergegas menuju masjid. Ah dasar nasib, ternyata pintu kantor sudah dikunci dari luar. Jadi, terpaksa “berjamaah” sendirian!

#9. Naskah Terbang

Dia memang bukan khatib senior; jam “terbangnya” baru sedikit. Tapi semangatnya yang luar biasa membuat dia selalu siap memberikan khutbah, meski isi khutbah harus dibaca lewat tulisan.

Suatu kesempatan, dengan lancar dia baca teks khutbah. Tapi di tengah jalan angin kencang kipas angin menerbangkan naskah. Dia gelagapan karena tak biasa khutbah tanpa teks. Maka dipungutnya naskah yang jatuh itu. Hem …ono-ono wae!

#10. Khutbah Bertele-tele

Khutbahnya berapi-api; sebagian berisi “serangan” pada pihak lain. Sudah 35 menit khutbah pertama belum juga berakhir. Takmir memberi isyarat dengan jam tangan ke arahnya. Ternyata semangat api-api dilanjutkan pada khutbah kedua.

Sudah lebih 15 menit belum juga diakhiri. Giliran seorang jamaah memberi isyarat ke takmir. Lalu takmir itu memberi isyarat lagi pada khatib, mengingatkan lamanya khutbah. Semangat ya semangat … tapi ingat waktu!

#11. Adzan Salah Tempat

Saat itu, di sebuah kampung itu ada satu masjid dan satu mushala. Keduanya memang menyelenggarakan shalat rawatib berjamaah.

Sebagai kelaziman, hanya masjid yang menyelenggarakan shalat Jumat. Nah, di suatu Jumat ada yang ganjil.

Rupanya terdengar juga adzan saat masuk dhuhur tiba dari corong mushala. Apa mushala juga mengadakan jamaah Jumat?

Ah, rupanya muadzin mushala tersebut tak ingat kalau hari itu Jumat. Terlalu bersemangat juga gak baik, he he he…

#12. Khotib Diinterupsi

Hati-hati memilih tema dalam khutbah; jangan sampai mengambil tema kontroversial. Seperti yang pernah terjadi di salah satu masjid terkenal di Surabaya utara.

Tiba-tiba seorang jamaah interupsi pada khatib yang dianggap membawa pesan kontroversial itu. Jamaah lainnya pada bengong. He he … ada juga khatib yang diinterupsi!

Mohammad Nurfatoni
Pengalaman dari berbagai tempat Jumatan

Marka2

Batas, Penyelamat


Batas. Membatasi. Apakah membatasi berarti mengekang? Mengekang kebebasan? Jurang dengan batas tepi, apakah mengekang? Atau justru menjaga? Pintu palang kereta api, mengekang atau menyelamatkan? Marka jalan, membatasi kebebasan?

Saya, termasuk yang terbantu oleh marka jalan. Terutama pada jalan-jalan yang lebar. Atau saat dalam perjalanan malam. Tanpa marka, saya gampang terlena. Dengan marka, saya akan terpandu ke jalan(an) yang benar.

Jadi, marka jalan bukan pengekang. Dia adalah batas minimal agar kendaraan tidak liar. Sebab jika di jalanan kendaraan bebas lepas, dia akan membahayakan kendaraan lain, juga diri sendiri.

Lalu bolehkan kita melarang balita memegang api? Boleh, dan harus. Meski membatasi, tapi larangan itu menyelamatkan. Tangan balita akan terbakar jika kita tidak melarangnya.

Dengan analogi seperti itu kita berpikir positif tentang batas. Dalam batas ada kemerdekaan. Seperti pernikahan. Ada yang tadinya boleh menjadi tidak boleh. Tapi di sisi lain, yang awalnya tidak boleh menjadi boleh.

Dalam terminologi agama, batas disebut syariat. Ada halal, ada haram. Dalam terminologi lain, batas disebut hukum. Ada yang boleh dan ada yang tak boleh.

Tanpa batas, tanpa syariat, tanpa hukum, tatanan masyarakat akan kacau. Manusia bisa seenaknya, sekehendaknya. Korupsi adalah salah satu contohnya.

Atau, bayangkan jika seseorang boleh mengawini siapa saja, sesukanya, tanpa batas, tanpa nilai. Maka bukan saja seorang lelaki akan “mengawini” sesama lelaki, lebih jauh dia akan “mengawini” makhluk spesies lain.

Jangan apriori pada batas! Dia justru menyelamatkan. Semoga!

Sidojangkung, 9 Pebruari 2016
Mohammad Nurfatoni

Sumber ilustrasi rambu: http://www.warnet-family.com/2013/04/jenis-jenis-marka-jalan.html

100_0922 (2)

Sujud Syukur Pertamaku

Dadaku berguncang. Lalu aku bersujud syukur di teras ruang persalinan RSAL dr Ramelan Surabaya, saat tangisan bayi menyeruak di pagi yang hening, sekitar pukul 10.00 WIB. Itulah untuk kali pertama aku bersujud syukur, atas karunia besar Allah ini.

Pasti itu tangis anak pertamaku. Perasaan yang semula cemas saat menunggu kelahiran terbayar dengan suka cita yang luar biasa. Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana perasan bahagia yang menyelimuti hatiku.

Sesaat kemudian datang sang perawat, membawa bayi mungil yang sudah dimandikan. Aku cium dengan bahagia. Dan aku semakin bahagia ketika kudapati bayi dalam keadaan sehat sempurna.

Lalu aku diminta sang perawat adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri. Aku ikuti saja, tak ada waktu untuk berdebat soal masih adanya perselisihan tentang hukum mengadzani atau mengiqomati sang bayi.

Tapi semangat bahwa kalimat thayyibah-lah yang harus pertama didengar sang bayi, sungguh penting untuk aku ikuti.

Masa-masa sulit yang dirasakan sang ibu, Siti Rondiyah, saat hamil dan melahirkan terbayar lunas saat itu. Perilaku, psikologis, dan fisik yang aneh mengiringi kehamilan anak pertamanya: kaki bengkak, tak mau tercium bau sabun, atau ngidam mangga adalah sedikit cerita tentang kehamilan itu.

Saat hamil anak pertama, Sang Ibu juga masih harus menyelesaikan 2 semester kuliahnya di IKIP Surabaya. Aku selalu mengantarnya ke kampus Ketintang, meski hanya berbekal sepeda onthel, pinjaman seorang teman.

Masa-masa sulit (secara ekonomi) di awal-awal pernikahan, tidak boleh menyurutkan tekad kami menjadi (calon) orang tua yang tangguh bagi (calon) anak-anaknya.

Honor guru honorer yang sangat minim; kontrak rumah yang sempit, yang serba terbatas atau seringnya kami makan “ikan” terasi, yaitu campuran terasi dengan parutan kelapa dengan bumbu secukupnya; adalah sedikit gambaran tentang tantangan hidup yang kami alami.

Sepekan setelah menikah, kami berdua memang memutuskan harus hidup mandiri. Kami tidak ingin membebani orang tua, meski kami waktu itu masih memulai “hidup”.

Sembari mencari tempat tinggal sendiri di Surabaya, kami sempat “ditampung” oleh sahabat senior untuk “bulan madu” di rumahnya. Akhirnya, kami dapat kontrak rumah Rp 225.000 setahun, yang uangya aku pinjam dari koperasi sekolah.

Sebenarnya belum pantas disebut rumah, hanya bilik-bilik kecil. Listrik dan air PAM masih ikut rumah induk yang empunya, WC harus sewa di tetangga sebelah. “Perabot”-nya juga sangat sederhana, karpet bekas untuk tidur dan meja dan kursi plastik disumbang saudaraku.

***

Maka, setelah aku diperbolehkan masuk ruangan persalinan, aku cium Ibu Sang Bayi. Kusampaikan terima kasih dan penghargaan atas perjuangan berat mengemban amanah untuk meneruskan generasi manusia, umat Nabi Muhammad SAW.

Setelah kami pastikan semua selamat dan sehat, aku putuskan untuk pulang ke rumah orang tua kami berdua di Tuban dan Lamongan.

Waktu itu kami belum punya telpon, apalagi HP, karena penggunanya juga masih sangat terbatas. Aku agak kaget, ketika kusampaikan bahwa anak pertamaku lelaki.

Sebab kerabat ada yang bilang, “Kowe pinter Nak, anak pertama lanang.” Aku gak paham maksudnya dan merasa lucu saja. Sebab bayi lelaki atau perempuan itu bukan aku yang merekayasa, melainkan kehendak Allah SWT semata.

Tiga hari ibu dan bayinya di rawat di RSAL. Kami memilih tempat ini karena dalam pertimbangan Bude kami yang menjadi bidan di situ, cocok untuk ibu pemula, karena akan diajari cara merawat bayi secukupnya.

Waktu itu, tahun 1994, kami harus bayar tarif sebesar Rp 90.000-an. Sepekan setelah itu kami melalukan ritual sunah aqiqah. Sebenarnya bukan kami yang melakukan, tetapi mertua karena dua kambing, beras, dan bumbu-bumbu dibawakan dari Tuban.

Mungkin beliau menjejaki Nabi Muhammad SAW yang mengaqiqahi cucunya (tapi aslinya kami belum punya biaya untuk aqiqah sendiri, he he he).

Aku pilihkan nama AZKA IZZUDDIN MOHAMMAD. Azka berarti lebih suci. Kami bermaksud bahwa anak kami akan lebih baik. Nama pertama ini sekaligus nama panggilan. Aku tak ingin nama panggilan anakku beda dengan nama aslinya.

Sementara Izzuddin, bermakna penegak atau pemulia agama. Kami ingin anak pertamaku ini menjadi pejuang bagi agamanya seperti Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi sebelumnya, serta para pejuang Islam yang telah meneladaninya.

Sedangkan Mohammad, kusandarkan pada Nabi Muhammad SAW dengan maksud agar anakku menjadi pengikut setianya dan sekaligus kusandarkan pada namaku, ayahnya. Maka semua anakku, baik lelaki maupun perempuan nama ketiganya adalah Mohammad.

Ananda Azka Izzuddin Mohammad, semoga harapan-harapan yang tersurat dalam namamu akan melecut dirimu untuk menjadi pribadi yang mulia dan unggul di tengah-tengah zaman yang selalu berubah ini. Semoga Allah SWT selalu memberimu bimbingan dan petunjuk, amien.

Mohammad Nurfatoni, ayah dari lima anak.

GelasOk

Segelas Misteri Kematian

DALAM buku Indonesia X – Files, ahli forensik terkemuka Indonesia, dr Abdul Mun’im Idries SpF, menulis sejumlah kasus kematian yang mengandung misteri.

Perihal kematian Munir yang diracun arsenik, Mun’im menulis: “Pada akhirnya, kematian Munir memang masih menjadi tanda tanya. Punya urusan apa Pollycarpus menghabisi Munir? Kalau memang ia “ditugaskan”, oleh siapa? Jawabannya masih terembunyi di balik halimun misteri yang masih saja menggelayut di awang-awang negeri ini. Hingga kini.”

Mun’im punya otoritas untuk bertanya seperti itu. Ia adalah dokter forensik dalam kasus Munir, juga dalam kasus kematian populer lainnya. Sebut misalnya pembunuhan Marsinah dan Nasrudin. Atau tragedi Tanjung Priok dan Trisakti. Bahkan Mun’im juga ikut mengotopsi Faturrahman Al Ghazi yang ditembak polisi dan militer Filipina atas tuduhan terorisme.

Penuh Misteri. Itu pula yang terjadi pada kematian Wayan Mirna Salihin oleh racun sianida dalam segelas kopi yang diminumnya. Jessica Kumala Wongso, yang menjadi tersangka pembunuhan, adalah sahabat Mirna. Sulit dicerna oleh akal: seorang sahabat membunuh sahabatnya sendiri. Bagaimana bisa, segelas kopi persahabatan berubah menjadi misteri kematian.

Tapi inilah kehidupan. Bukan hanya sesama sahabat, anak membunuh ayah atau suami membunuh istri, bukanlah sebuah dongeng. Itu kisah nyata, kisah masa kini. Bukan seperti penghianatan Brutus pada Julius Caesar yang terjadi 45 tahun sebelum Masehi.

Maka orang berbicara soal motif. Motif bisa membuat orang kalap dan lepas kendali. Seperti Qabil yang membunuh Habil, saudaranya, karena rasa dengki. Dalam kasus Mirna, polisi sendiri belum memberi keterangan, karena Jessica tidak mengakui bahwa ia yang melakukannya.

Tapi dari media massa, juga imedia sosial, berhamburan spekulasi tentang motif pembunuhan Mirna. Padahal motif itu harus dikuak dari pengakuan tersangka, tidak dari lainnya. Kecuali ada skenario. Kita tunggu saja perkembangannya.

Soal motif ini pula yang membuat ragu banyak orang bahwa Pollycarpus adalah aktor utama di balik pembunuhan Munir. Apa pentingnya Munir bagi Pollycarpus, seorang pilot pesawat? Kecuali jika Pollycarpus dilihat dalam perspektif seorang intelejen. Kalau perpektifnya begitu, harus ada “siapa” di balik Pollycarpus.

Tapi sinilah missing link itu. Ada yang terputus. Terlihat jika Pollycarpus yang “dikorbankan”, mungkin dengan sejumlah jaminan atau kompensasi. Masih misteri, sampai kini.

Yang juga menarik, pembunuhan dengan racun, arsenik pada Munir atau sianida pada Mirna, bukanlah pembunuhan biasa. “Pelakunya sangat pintar mencari racun yang termasuk ideal untuk membunuh yaitu arsenik yang tidak ada rasa, bau, atau warna,” tulis Mun’im menyorot kasus Munir.

Demikian juga dalam kasus Mirna. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan sianida. ”Itu adalah mainan intelejen,” kata pengamat. Setidaknya, pembunuhan dengan racun mematikan membutuhkan pengetahuan soal bahan kimia dan akses mendapatkannya. Apakah Jessica sehebat itu. Ini juga masih misteri.

Tapi, sebenarnya yang menjadi misteri itu kematian atau aktor di balik kematian? “Menurut ajaran taswuf, insanlah yang merupakan rahasia Allah (menyimpan misteri), sedang kematian hanya merupakan the milestone of human life,” tulis Muhammad Zuhri, dalam buku Mencari Nama Allah yang Keseratus.

Kematian adalah sisi lain dari kehidupan. Keberadaannya menjadi tak terpisahkan dari wujud kehidupan. Maka bisa dikatakan bahwa setiap manusia sejak kelahirannya telah mendukung kematiannya sendiri. Namun begitu, kematian masih menjadi sesuatu yang menakutkan bagi banyak orang.

Mengapa takut? “Karena kematian selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidakberdayaan, kehilangan, dan kebangkrutan hidup,” tulis Komaruddin Hidayat dalam Psikologi Kematian.

Tapi ucapan Socrates yang dikutip Quraish Shihab dari kitab Al Milal wa An Nihal karya Abu Al Fatih Muhammad Asy Syharastani (wafat 1153 M) ini cukup mencengangkan, “Ketika aku meneliti rahasia kehidupan kutemukan maut, dan ketika kutemukan maut kutemukan sesudahnya kehidupan abadi. Karena itu kita harus prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian karena kita hidup untuk mati dan kita mati untuk hidup.”

Meski kematian adalah jalan kehidupan abadi, namun kehidupan wajib dihormati. Dan pembunuhan adalah penghianatan yang amat besar pada kehidupan. Semoga pembunuhan Mirna adalah x-file terakhir.

Mohammad Nurfatoni
Sekretaris Yayasan Bina Qalam Indonesia

Dipublikasikan kali pertama Jumat, 5 Pebruari 2016 oleh harian Duta Masyarakat, terbit di Surabaya, bekerjasama dengan Yayasan Bina Qalam Indonesia.

sawahmenghijau (2)

Satu Pohon, Sejuta Kehidupan

Jangan suka menyepelekan hal-hal kecil sebab hal-hal besar terbentuk dari bagian-bagian kecil. Tak akan ada mesin besar jika tak ada sekrup-sekrup kecil. Dan banyak hal-hal yang [kelihatannya] kecil tapi bernilai besar.

Salah satu hal kecil yang bernilai besar adalah menanam pohon — satu jiwa satu pohon. Pohon bernilai besar; bukan hanya untuk kelestarian semesta tapi juga mengalir pahalanya sampai kubur — seperti sabda Nabi SAW.

Maka kampanye ini sangat penting: “Satu Jiwa Satu Pohon”, minimal. Bukankah pohon berguna untuk semua: kesuburan tanah; kesegaran udara; siklus air?

Perhatikan burung-burung bersarang di dahan-rantingnya dan sebagian besar mengambil makanan dari pohon itu! Belum binatang-binatang kecil yang “berumah” di pohon: semut, laba-laba, atau ulat.

Juga manusia memanfaatkan pohon untuk menjaga kualitas hidupnya. Lalu mengapa tak tersisa sebidang lahan kosong di rumah untuk menanam pohon [keras] dan rerumputan?

Nah kalau sudah terlanjur tanahnya jadi beton semua setidaknya titipkanlah tanaman pohon di lahan kosong yang tersedia. Atau minimal harus banyak ditanam tanaman dalam pot-pot di rumah.

Pengalaman Pribadi
Di rumah saya tanam dua pohon : mangga dan jambu air. Di samping rindang, juga buahnya lumayan. Dan yang penting, efek lingkungan pohon: soal udara, tanah, dan air.

Meski rumah kecil, diusahakan tetap mempertahankan halaman. Meski halaman sempit, diusahakan sebisa mungkin ada tanaman keras.

Tapi saya masih punya utang, satu jiwa satu pohon . Dari tujuh anggota keluarga, masih utang lima pohon keras. Lainnya baru dengan tanaman bunga.

Tapi belakangan, kami tanam tiga tanaman keras: blimbing, srikaya, dan jambu air (lagi). Di lahan sisa miring belakang rumah, yang tidak sampai selebar satu meter (entah kalau pohon sudah besar, bagaimana nanti: mungkin akan disemi-bonsai).

Kami pernah merasa “berdosa” karena menebang pohon palem botol di halaman sempit depan rumah. Padahal pohon itu bersejarah. Dibawa jauh-jauh dai Tuban, sudah tertanam delapan tahun dan sudah besar sekali.

Tapi penebangan pohon itu juga karena ada rasa dosa lainnya, sebab pelepahnya pernah jatuh mengenai tetangga yang sedang duduk di bawahnya.

Saya juga pernah menyesal tidak bisa menahan kegiatan penebangan pohon nangka di rumah tetangga. Padahal, sebelumnya ribuan burung emprit tiap pagi bergemuruh meninggalkan pohon itu, dan sorenya kembali bersarang di situ.

##

Selain menanam pohon ada hal-hal kecil lain yang bernilai besar dan disarankan Nabi SAW untuk dilakukan karena pahalanya juga sampai kubur. Yaitu membuat sumur [untuk umum] dan mengalirkan sungai— rupanya ke-3 hal di atas berkaitan dengan air.

Sayangnya, sumur yang kita buat kini bersifat individual beda sekali dengan sumur zaman kakek-nenek di desa-desa dulu.

Dulu satu sumur untuk lingkungan luas, bahkan bisa satu kampung. Nah sudah saatnya kita menggali semangat sumur Zamzam sebuah sumur “keabadian” yang melepas “dahaga” berjuta manusia.

Soal sungai malah memprihatinkan, kita tidak berusaha mengalirkan atau membuat alirannya lancar seperti yang diperintahkan Nabi SAW. Dan kita tahu sendiri bagaimana akibatnya jika sungai dangkal, menyempit, bahkan menghilang. Salah satunya banjir di musim hujan.

Tapi kita malah sering menghambat — membuang sampah atau bahkan menjadikan lahan tempat tinggal atau usaha.

Selain tiga hal di atas (pohon, sumur, sungai), ada empat peninggalan lainnya yang pahalanya mengalir sampai dalam kubur, yaitu mengajarkan ilmu, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan meninggalkan keturunan yang memintakan ampun orang tua.

SELAMAT HARI POHON SEDUNIA (*)

Mohammad Nurfatoni, pecinta kehidupan.

 

Korupsi dan Religiusitas Semu

Santri: Pak Kyai, di bulan Ramadan kabarnya setan-setan dibelenggu.

Kyai:  Benar, sebagaimana sabda baginda Rasulullah saw, “Apabila telah masuk bulan Ramadan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan pun terbelenggu.”

Memangnya ada apa?

Santri: Kenapa masih ada yang berbuat kejahatan?

Kyai: Oh ya, ada contohnya?

Santri: Tadi kami baca berita, usai tarawih, KKP melakukan operasi tangkap tangan koruptor.

Kyai: Oh … rupanya ada yang tertinggal belum terbelenggu toh?

Santri: Maksud Pak Kyai, koruptor itu setan yang kelupaan dibelenggu? Dan kini KPK bertugas membelenggunya. Serius Pak Kyai?

Kyai: Huss ….! Koruptor kok disangka setan. Nanti dia marah.

Kenapa masih ada yang korupsi sementara setan sudah dibelenggu? Itu menjadi isyarat bahwa jangan lagi menjadikan setan sebagai kambing hitam atas perbuatan jahat manusia. Setan sudah dibelenggu pun manusia masih bisa korupsi.

Santri: Oh, begitu maksudnya.

##

Kita terkejut, lebih tepatnya kecewa. Di bulan suci, tempat manusia beriman menempuh jalan lapar dan menempa diri menjadi manusia mulia, justru dikotori oleh oknum-oknum yang melakukan kejahatan terorganisasi. Suap-menyuap. Korupsi.

Di bulan suci saja berani melakukan korupsi, apalagi di bulan lain. Begitu logika awam. Tapi ini sebuah potret. Mungkin bukan hanya korupsi, kejahatan lain pun ditengarahi meningkat di bulan ini: perampasan atau pencurian. Oleh sebab itu perumahan-perumahan sibuk memberlakukan jaga malam.

Nah, jika ditanya, siapa yang melakukan kejahatan itu, tentu akan mudah dijawab. Mayoritas pelaku kejahatan, termasuk koruptor, adalah beragama Islam disebabkan muslim adalah bagian penduduk mayoritas negeri ini.

Dan jika pertanyaan itu dilanjutkan, apakah yang melakukan korupsi itu ikut menyemarakkan Ramadan? Dengan memakai logika probabilitas, maka kemungkinan jawaban “ya”, sangat besar.

Tentu, ini sebuah ironi. Semaraknya Ramadan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesalehan. Berulang kali puasa Ramadan datang, tapi kejahatan, termasuk korupsi, cenderung meningkat. Sepertinya ada yang salah. Kok bisa berpuasa tapi korupsi juga?

Antara simbol dan esensi

Ibadah dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari dua dimensi: simbolis dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu akan menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, sulit mengukur eksistensi dan identitas suatu ibadah. Dan sebaliknya, tanpa filosofi maka ibadah itu bagaikan kulit tanpa isi. Hampa, kering.

Dalam dimensi simbol, yang disebut salat, misalnya, adalah perpaduan antara gerak, bacaan, dan diam. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sangat sulit diukur jika seseorang mengaku telah melakukan salat, padahal ia tak melakukan perbuatan seperti itu, meskipun ia berdalih telah memahami dan mempraktikkan filosofi atau esensi shalat dalam kehidupan, di antaranya salat berimplikasi pada ditinggalkannya perbuatan jahat dan kriminal (inna salata tanha an al fakhsyai wa al munkar).

Sebaliknya, orang yang menjalankan salat secara simbolis dengan tidak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungannya maka akan dikelompokkan pada golongan manusia celaka (fawailul lil musallin). Al-Quran misalnya mengecam orang yang melalaikan filosofi salatnya karena tidak menyantuni orang miskin (al-Maun/107:1-7).

Munculnya kontradiksi antara meningkatnya religiusitas di bulan Ramadan dengan tetap tingginya tindakan pelanggaran hukum menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan terhenti pada dimensi simbolis semata. Religiusitas yang nampak semarak itu, ternyata semu.

Banyak yang bisa menahan lapar (puasa simbolis), tetapi tidak bisa menahan nafsu (esensi puasa), Termasuk nafsu dalam menumpuk harta di luar koridor hukum dan nilai halal-haram.

Apalah artinya bisa menahan lapar saat puasa tetapi tidak mampu menahan nafsu serakah. Ini malah sangat berbahaya. Sebab, bukan saja makanan standar yang akan dimakan, juga “makanan” ekstrem, seperti aspal, beton bertulang, atau kayu glondongan.

Ironisnya, korupsi banyak dilakukan oleh orang-orang dengan strata sosial terhormat di masyarakat: pejabat atau wakil rakyat. Pada mereka yang terhormat itu, acapkali kita penuh harap dan angkat tangan penuh hormat. Tapi rupanya itu kehormatan palsu. (*)

Mohammad Nurfatoni
Diterbitkan kali pertama oleh koran Duta Masyarakat, 26 Juni 2015

IMG_3739 (2)

Membeli Kepalsuan Diri

“Seorang yang tidak pernah menipu, tidak akan pernah tertipu.” Begitulah ucapan seorang guru yang dipegang teguh oleh seorang pedagang emas di suatu kota kecil.

Ketika pada suatu hari ternyata ia tertipu oleh seorang tamu tak dikenal, ia menjadi ragu-ragu terhadap kebenaran ungkapan tersebut. “Kata mutiara yang kedengarannya masuk akal itu ternyata palsu dan menyesatkan,” putusnya di dalam hati.

Pada saat pengajian berikutnya tiba, pedagang itu langsung melaporkan kesialannya kepada guru. Sambil tersenyum guru bertanya, “Mengapa engkau membeli emas dari seseorang yang belum kau kenal?”

“Masalahnya orang tersebut sangat membutuhkan uang dan bersedia menjual murah perhiasannya,” jawab pedagang.

“O, kalau begitu engkau telah menipu diri sendiri. Mana ada emas dijual murah!” jawab guru.

Kisah di atas ditulis Muhammad Zuhri dalam buku Langit-Langit Desa (Mizan, 1993). Kisah yang sangat kontekstual dengan keadaan sekarang. Sebuah zaman yang telah dikepung oleh kepalsuan: dari merebaknya barang-barang palsu sampai jati diri palsu.

Harus diakui bahwa kepalsuan berkembang karena ditopang unsur kemalasan. Malas berpikir, juga malas berproses. Malas berpikir, seperti dalam kisah di atas, akan melahirkan penipuan diri sendiri. Seringkali kita tertipu oleh hal-hal yang permukaan, sepintas, atau instan. Seperti pedagang yang ingin meraih untung besar dengan membeli emas berharga murah. Mana ada emas murah?

Sementara itu, kemalasan dalam proses akan melahirkan kepalsuan terstruktur. Seperti nampak dalam fenomena ijazah palsu, yang sedang menjadi hot topic. Malas belajar, malas kuliah. Maka ia akan memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh kepalsuan lain: universitas abal-abal.

Ijazah palsu adalah jalan pintas memotong proses berkeringat. Jika untuk mendapatkan ijazah asli harus bekerja keras menyelesaikan studi bertahun-tahun, ijazah palsu hanya membutuhkan transaksi rupiah sekejap, nyaris tanpa proses belajar apapun. Seperti mantra pesulap: bim salabim. Ada uang, jadilah doktor, maka jadi!

Lalu kita bertanya, untuk apa gelar doktor (palsu)? Sebuah prestasi atau sekedar prestise? Jika gelar doktor itu hasil proses belajar keras, tentu gelar itu bagian dari penghargaan: sebuah prestasi. Namun, karena gelar itu didapat dengan kepalsuan, maka bisa diduga jika salah satu motifnya adalah untuk sebuah prestise atau gengsi semata.

Kita, sadar atau tidak, memang suka memakai topeng. Bukankah ijazah palsu, gelar doktor palsu, atau apapun yang palsu, yang diharapkan dengan kepalsuan itu bisa menaikkan citra, image, atau prestise; adalah sebuah topeng. Padahal, topeng lazimnya digunakan dalam pentas seni.

Tapi memang, seperti teori dramaturgi yang dikemukakan sosiolog ternama Erving Goffman, kehidupan sosial ini mirip pertunjukan drama di atas panggung, menampilkan peran-peran seperti yang dimainkan para aktor. Seperti aktor dalam drama, dalam interaksi sosial, kita akan berperan ganda, dua wajah yang berbeda, saat berada di panggung depan (front stage) dan di panggung belakang (back stage).

Saat di panggung depan, kita mati-matian tampil menjadi pribadi menarik. Penampilan yang terjaga dengan gaya bicara yang tertata, busana yang rapi-licin, dan aksesoris yang wah. Itu karena sedang tampil di hadapan penonton drama kehidupan.

Panggung depan itu bisa dalam bentuk rukun tetangga, komunitas, sosialita, lingkungan kerja, dunia politik, atau bahkan media sosial. Di depan mereka seringkali kita jadi aktor atau bertopeng. Maka dibutuhkan berbagai properti, yang seringkali properti itu adalah kepalsuan-kepalsuan yang dibeli demi menjaga citra diri itu.

Berbeda saat berada di panggung belakang. Kita akan menjadi manusia apa adanya, seperti aktor yang sedang rehat di sela pementasan. Di situ ia menjadi dirinya sendiri. Ia akan kembali berbicara sebagaimana logat asal atau bertingkah seperti kebiasaan semula. Inilah dua panggung yang seringkali saling kontradiksi. Dunia peran antagonis.

Tentu, dalam pentas drama di dunia seni, peran antagonis tidak menjadi masalah, bahkan sebuah tuntutan profesional. Persoalannya adalah apakah peran itu akan terus-menerus dimainkan dalam kehidupan sosial? Apakah kita akan selalu bertopeng dan berperan antagonis, dengan kepalsuan-kepalsuan?

Dalam antagonisme kehidupan tidak ada ketentraman, karena itu melawan hati nurani. Sementara hati nurani selalu cenderung kepada kebenaran dan peran panggung sering terbungkus kepalsuan.

Oleh karena itu, dalam Islam ada ajaran moral tentang “satunya kata dengan perbuatan”, seperti yang diajarkan al-Quran surat as- Shaff/61: 1-2: Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Besarlah dosa di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerjakan.

Jadi, topeng kepalsuan itu memang harus ditanggalkan, agar kita menjadi manusia otentik, manusia dalam kesejatian diri. [*]

*) Mohammad Nurfatoni, aktivis FOSI (Forum Studi Islam) Surabaya dan sekretaris Yayasan Bina Qalam Indonesia. Tulisan ini dipublikasikan kali pertama di harian Duta Masyarakat (5 Juni 2015) hasil kerjasama dengan Yayasan Bina Qalam Indonesia.