Logika Kekuasaan Alas Tlogo

Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono mengatakan, efek tembakan pantulan dan tembakan langsung yang diarahkan pada sasaran, sama-sama mematikan. “Peluru yang ditembakkan ke tanah bahkan lempung sekalipun, akan tetap memantul dan efeknya sama dengan tembakan langsung,” katanya dalam demo tembakan menggunakan senapan serbu (SS) 1 dengan peluru berkaliber 5,56 mm di Markas Brigif-2 Marinir Cilandak di Jakarta, Jumat (8/6/07).

Pernyataan di atas disampaikan oleh Nono Sampono menanggapi hasil investigasi beberapa tim—diantaranya Komnas HAM dan dan Tim Advokasi PKB—yang terjun ke Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan, yang membeberkan data bahwa pasukan marinir melepaskan tembakan langsung pada warga Alas Tlogo sehingga menewaskan 4 warga yaitu Siti Khotijah (luka di kepala dan mengandung 5 bulan), Mistin (luka dada), Rohman (luka kepala) dan Sutam (luka di kepala) dan melukai sejumlah orang termasuk bocah usia 3 tahun, Khoirul Anwar (anak alamarhumah Mistin).

Sebelumnya, dalam keterangan pers setelah kejadian (Rabu 30/5/07), Komandan Korps Marinir (Dankormar), Mayjen TNI Syafzen Noerdin (sebelum diganti Nono Sampono) menyatakan bahwa penembakan yang dilakukan anggotanya hingga menyebabkan empat orang warga tewas dalam rangka membela diri. Menurut Safzen, saat penyerangan itu, anggotanya memberikan tembakan peringatan beberapa kali ke udara. Namun tidak digubris. Malah ada yang mengomando agar terus maju dengan mengatakan bahwa yang ditembakkan oleh Marinir adalah peluru hampa. “Karena terus menyerang, anggota saya menembak ke tanah dengan harapan kepulan debunya diketahui oleh warga bahwa peluru itu beneran, bukan hampa. Tapi mereka terus menyerang. Kemungkinan pantulan peluru itu yang terkena warga karena lokasi di situ memang berbatu-batu,” tuturnya.

Di samping silang pendapat tentang arah tembakan, kita dengar pula dua versi yang berbeda tentang mengapa Korp Marinir harus menembak warga. ”Peristiwa itu adalah pelanggaran, sehingga harus diusut tuntas,” kata Ketua Komnas HAM, Abdul Hakim Garuda Nusantara, usai meninjau tempat terjadinya bentrokan, Jumat (1/6/07). Boleh saja, ujar dia, Dankormar Marinir mengatakan penembakan itu terpaksa dilakukan karena membela diri atau peluru memantul. ”Silakan saja, tapi masyarakat bisa memberi kesaksian berbeda.”

Samad (53), kepala Dusun Alastlogo (Rabu, 5/6.07), memberikan testimoni di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya. Ayah dari korban tewas Mistin itu mengaku sempat mendengar adanya tiga kali perintah menembak menjelang insiden yang merenggut nyawa empat warga pada 30 Mei lalu oleh berondongan senjata anggota Marinir.

”Saya mendengar perintah tembakan itu, karena saya saat itu memang melakukan negosiasi dengan anggota Marinir dengan jarak sekitar 15 meter dari warga (yang menjadi sasaran tembak),” ungkap Samad dalam testimoninya.

Sebelumnya Dankormar, Mayjen TNI Syafzen Noerdin menyatakankan bahwa penembakan yang dilakukan anggotanya dalam rangka membela diri.
“Waktu itu anggota kami betul-betul terdesak, sedangkan warga mengejar anggota Marinir menggunakan celurit dan lemparan batu. Tembakan itu dilakukan, karena betul-betul membahayakan,” katanya.

Logika Aneh

Kita masih menunggu bagaimana hasil akhir dari silang sengketa pendapat dan bagaimana proses hukum akan berlangsung. Namun begitu, ada beberapa hal yang harus kita kritisi pernyataan-pernyataan tentara.

Pertama, tentang logika Dankormar Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono yang bersikukuh bahwa yang terjadi adalah tembakan pantulan. Dalam pembuktian yang dilakukan di Cilandak, dikatakan bahwa tembakan di tanah maupun batu semuanya memantul dan mengenai sasaran. Pertanyaannya adalah, apakah bukti teknis di Cilandak itu otomatis menjadi bukti hukum bahwa yang terjadi di Alas Tlogo adalah juga tembakan pantulan? Sementara kesaksian dan bukti-bukti menujukkan terjadinya penembakan langsung.

Yang lebih aneh lagi, jika antara tembakan pantulan dan tembakan langsung sama-sama memiliki efek mematikan, mengapa tembakan pantulan itu tetap dilakukan? Tentu dalam logika ini kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan penembakan itu sama: membunuh warga. Ibaratnya seperti main karambol, terserah mau pakai teknis langsung atau ngeban (pantulan), yang penting sama-sama bisa memasukan buah karambol.

Jadi di samping berbeda dengan keterangan awal bahwa tembakan pantulan adalah dalam rangka menunjukkan bahwa senjata itu benar-benar berisi peluru tajam sehingga warga takut, pembuktian secara teknis efek tembakan pantulan di Cilandak sama sekali tak ada artinya untuk meringankan hukum.

Kedua, yang lebih mendasar lagi adalah pengguanan senjata oleh Korp Marinir dalam menghadapi protes para petani. Apakah para petani di Pasuruan itu adalah para pemberontak yang mau menyungkurkan NKRI? Ataukah mereka itu melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh tentara Angkatan Laut Malaysia yang memasuki wilayah perairan Indonesia beberapa tahun lalu? Atau mereka adalah penerbang F16 milik Angkata Udara AS yang pernah melintasi udara Indonesia? Apakah mereka tentara sekutu yang mau merebut kembali jajahan Indonesia?

Sementara terhadap kesalahan angkatan perang negara lain saja yang bisa dilakukan diplomasi politik, mengapa terhadap rakyatnya sendiri langsung ditembak. Padahal sebenarnya senjata tentara bukan diperuntukan untuk fungsi keamanan melainkan untuk fungsi pertahanan.

Oleh karena itu, logika penembakan pada warga Alas Tlogo sebagai upaya membela diri Korp Marinir sama sekali tidak masuk akal dan karena itu tidak dapat diterima. Sebab menghadapi rakyat dengan senjata saja adalah sebuah kesalahan tersendiri, apalagi sampai membunuhnya.

Tapi mengapa para petinggi tentara tetap mencoba membela diri seakan tidak pernah salah? Perhatikan, di tengah-tengah sorotan atas penembakan yang dilakukan pada rakyat belum tuntas terurai, mereka malah balik melaporakan terhadap apa yang disebut penganiayaan oleh warga Alas Tlogo. Seolah 4 nyawa sebanding dengan lecet dan sedikit memar di tubuh kekarnya. Mereka yang mestinya profesional, malah terlihat seperti anak cengeng. Tapi, itulah soalnya. Tentara punya kekuasaan—tidak sekedar laras panjang. Mungkin ini pula dasar kisah panjang sengketa tanah di Pasuruan itu, juga di tempat lain.

Maka jangan salahkan jika ada pikiran nakal, seperti yang dilontarkan oleh Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir di Tempo (4/6/07). “Perlukah kita tentara?” tulisnya. “… saya tahu bahwa tentara berfungsi untuk mempertahankan Republik, tapi jangan-jangan kita dan tentara kita tak jelas benar apa saja dari Republik yang harus dipertahankan, dan dari siapa ia harus dipertahankan. Seingat saya, selama Indonesia berdiri, belum ada usaha yang terus-menerus untuk merebut wilayah Indonesia. Masa depan juga tampaknya aman; perang perebutan teritorial telah jadi amat mahal dan ruwet, dan tampaknya di dunia sekitar kita tak ada orang gila, juga orang Singapura, yang ingin melakukannya. …Tapi saya tahu, tentara memang dipertahankan dalam sejarah, karena sejarah dibangun dari bayangan kemungkinan yang terburuk.”

Ah, apakah sambil menanti kemungkinan terburuk itu, persenjataan tentara boleh dimanfaatkan untuk membunuh rakyatnya? Wallahu a’lam.

Sidojangkung, 9 Juni 2007

(dimuat di majalah Muslim, edisi 6, Juni 2007)

Iklan

Seri 1001 Islamiphobia

Selasa 20 Maret 2007, sekitar pukul 18.30 WIB, sejumlah personil Detasemen Khusus 88 Anti Teroris Mabes Polri menyergap sekelompok orang yang diduga merupakan teroris di depan Toko Bangunan Alam Jaya, Jl Ringroad Utara, RT 9 No 14, Dusun Karangnongko, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY.

Satu orang tewas dalam penyergapan itu dan satu lainnya luka-luka. Sedangkan tiga tersangka lainnya langsung dibawa oleh Densus 88. Berdasarkan informasi di lapangan, kelima tersangka yang disergap Densus tersebut merupakan anggota pelaku teroris kelompok Abu Dujana. Abu Dujana sendiri diduga merupakan pelaku pengeboman Hotel JW Marriot dan Kedubes Australia yang terjadi beberapa tahun lalu.

Setelah peristiwa di atas, beruntun terjadi penangkapan lanjutan. Pada 21 dan 26 Maret 2007 di Surabaya Tim Densus 88 menangkap dua orang yang dituduh sebagai bagian dari jaringan teroris dengan sewenang-wenang tanpa melalui prosedur. Di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dilaporkan empat warga hilang oleh keluarganya. Satu di antara mereka adalah dr Rudi Satriawan, seorang dokter di RS Kustati, sebuah rumah sakit milik yayasan Islam di kota Surakarta.

#

Rabu 21 Maret 2007 pukul 08.00 WIB, Tamsil Linrung, anggota Komisi IV DPR dari F-PKS dicekal tidak boleh ke luar negeri karena dianggap teroris. Pencekalan tersebut dilakukan oleh Kedutaan Besar Kanada.

Pembatalan keberangkatan Tamsil hanya sesaat sebelum dia menaiki pesawat Cathay Pacific Airways yang akan membawanya ke Kanada bersama 11 anggota DPR lainnya yang tergabung dalam pansus RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil. Tamsil dilarang naik pesawat oleh petugas keamanan bandara yang mendapat instruksi dari Kedubes AS.

##

Sabtu 24 Maret 2007, Dewan Keamanan (DK) PBB menjatuhkan sanksi bagi Iran melalui Resolusi 1747. Rancangan resolusi yang dirumuskan Inggris, Prancis, dan Jerman itu disepakati secara bulat oleh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia, di markas PBB, New York.

Resolusi ini memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 adalah larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran. Isi resolusi juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran.

###

Adakah makna di balik data-data di atas? Adakah keterkaitan antarperistiwa-peristiwa di atas?

Tidak sulit untuk menjawab dua pertanyaan di atas. Tentu, jika kita mengetahui kata kuncinya. Kata kunci pertama adalah teroris. Ketiga peristiwa di atas mencuat karena dihubung-hubungkan dengan terorisme.

Abu Dujana, dan mereka yang ditangkap karena dikaitkan dengan nama ini, disebut sebagai pelaku teroris dan bagian dari jaringan Nurdin M. Top—nama yang dianggap sebagai gembong teroris karena dituduh sebagai pelaku berbagai rangkaian teror bom di Tanah Air.

Sementara itu dalam klarifikasinya, Tamsil menduga ada tiga hal yang menyebabkan Kedutaan Besar Kanada membatalkan visanya ke luar negeri, dengan mendapatkan informasinya di internet. Pertama, Tamsil dianggap ditahan di Filipina tahun 2002 karena dituduh membawa bahan peledak.

Tuduhan lain yang dialamatkan ke Tamsil terkait dengan jaringan Jemaah Islamiah. Selain itu, sebagai ketua Komite Penanggulangan Krisis (Kompak), ia dianggap melakukan tindakan kekerasan di Sulawesi.

Sedangkan soal nuklir Iran? Berkali-kali Iran menjelaskan bahwa program pengkayaan uraniumnya adalah untuk proyek perdamaian. Tapi dunia Barat, tetap berprasangka buruk bahwa program nuklir Iran adalah untuk senjata. Dalam perspektif Amerika Serikat, senjata bagi dunia Islam, adalah untuk mendukung terorisme. Sementara As membiarkan negaranya sendiri dan Israel, juga India dan Inggris mengembangkan (senjata) nuklir.

AS dan Islamiphobia

Kata kunci kedua yang bisa menjelaskan keterkaitan ketiga peristiwa di atas adalah Amerika Serikat. Sejak peristiwa 11 September 2001, AS di bawah presiden George W. Bush menggalang kekuatan dunia, tak terkecuali Indonesia, untuk memerangi terorisme. Dalam konteks ini kita melihat bahwa segala isu tentang terorisme tidak jauh dari AS.

Maka kita menempatkan posisi Detasemen Khusus 88 Anti Teroris tidak lepas dari isu global terorisme itu. Secara simbolis kita bisa mengkaitkan posisi itu dengan ”ide” Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abubakar Ba’asyir, yang mengusulkan nama Detasemen Khusus yang sebelumnya bernama Densus 88 menjadi Densus 5.000. “Nama 88 apa itu? Itu kan 88 orang yang mati di Bali, kenapa tidak dibikin Densus 5.000, yakni 3.000 orang Islam mati di Ambon dan 2.000 mati di Poso,” katanya.

Demikian juga pencekalan Tamsil Linrung. Pencekalan ini tidak berdasar. Berkali-kali Tamsil menjelaskan. “Hal tersebut sudah clear, saya dinyatakan tidak bersalah di pengadilan Filipina,” ujarnya. “Itu semua alasan lama, tidak `up to date. Bahkan, BIN (Badan Intelijen Negara) era Hendropriyono dan Syamsir Siregar menyatakan saya clear,” katanya. Buktinya, kata Tamsil, dirinya bisa bepergian ke luar negeri pascaperistiwa di Filipina. Negara yang pernah ia kunjungi pascaperistiwa itu antara lain Singapura, Malaysia dan Filipina sendiri

Bagaimana dengan sanksi Dewan Keamaan PBB terhadap Iran, termasuk keputusan RI untuk ikut menyetujui penjatuhan sanksi tersebut? Semua itu tak lepas dari pesan sponsor AS.

Kata kunci selanjutnya adalah Islamiphobia (ketakutan pada Islam), Rupanya George W. Bush, terobsesi tesis tentang perang peradaban yang diperkenalkan Samuel Huntington dalam bukunya yang berpengaruh The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996). Huntington melihat bahwa sumber utama konflik dalam dunia baru bukanlah ideologi, politik atau ekonomi, tetapi budaya. Budaya dalam manifestasi yang lebih luas adalah peradaban, suatu unsur yang membentuk pola kohesi, disintegrasi dan konflik.

Meskipun ia mengidentifikasi sembilan peradaban kontemporer, namun hanya dua peradaban yang menjadi favorit pembahasannya yakni Barat dan Islam. Bagi Huntington, tantangan para pengambil keputusan di Barat adalah bagaimana membuat Barat semakin kuat dan menjaga peradaban lain agar tetap terkontrol, terutama Islam.

Maka, jangan heran jika AS menganggap kekuatan Islam menjadi ancaman. Lihatlah: yang diburu oleh Densus 88 mayoritas adalah para pejuang “alumni” Afghanistan, Moro Filipina atau Ambon dan Poso. Tamsil Linrung sebelum bergabung pada PKS adalah aktivis Muslim yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Demikian juga Iran, negara Islam paling gigih yang menentang AS dan Israel, selain Irak sebelum dihancurkan AS.

Jadi tidak mustahil tiga peristiwa beruntut yang berkaitan dengan terorisme, Islam dan AS di atas adalah pra-skenario AS untuk menghantam kekuatan dunia Islam yang kesekian kalinya (sebut saja seri 1001); menyusul (dugaan rekayasa) peristiwa 11 September, Bom Bali 1 & 2, penangkapan aktivis-aktivis Muslim, serta pencaplokan negara Islam seperti Afghanistan dan Irak.

Tentu, yang sangat disayangkan adalah kepatuhan pemerintah Indonesia (sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim) dalam melayani agenda dan kepentingan AS itu! Waallahu a’lam.

Menganti, 28 Maret 2007

(dimuat di majalah Muslim, Edisi 4, April 2007)

Bencana di Sekitar Kita

Setiap hendak menulis tema ini, keraguan selalu menyelimuti.Maka, gagal dan gagal lagi. Dead line terlewati. Suara redaktur dari ujung telepon kembali mengingatkan, “Kapan Mas, tulisan di-email?”

Saya diam. Ini salah saya. Garis mati telah terlewati. Itu artinya saya telah merugikan orang banyak. Jadwal penerbitan jadi kacau. Tentu pembaca kecewa!

Tapi inilah kesulitan saya. Selalu muncul pertanyaan, jangan-jangan setelah tulisan rampung dibuat, lantas naik cetak dan beredar ke pembaca, data-data yang saya tampilkan tidak aktual lagi. Sementara kolom yang memuat tulisan ini bernama “sorotan”, yang mengharuskan aktualisasi tema dan data yang diangkat.

Memang, ini bukan soal tema fluktuasi nilai rupiah di jaman krisis ekonomi. Setiap jam, mungkin menit, selalu berubah. Tapi siapa berani mengatakan bahwa bencana [di Indonesia] adalah sesuatu yang statis, terjadi dan berhenti dalam tempo panjang.

Mula-mula tulisan ini hendak dibuat saat kapal motor Senopati Nusantara tenggelam dan menewaskan ratusan jiwa, akhir Desember 2006. Tapi saat proses evakuasi dan pencarian korban hilang belum berakhir, sebuah bencana kembali menguncang, pesawat Boeing 737-400 Adam Air jurusan Surabaya-Menado jatuh dari langit Sulawesi, Januari lalu. Awak pesawat dan 85 penumpang tak bisa ditemukan. Tewas, tapi entah dimana kuburnya?

Saya jadi gamang menulis. Jangan-jangan …

Ah … ternyata peristiwa langka terjadi. Bencana banjir mengurung Jakarta, awal Pebruari 2007. Bagaimana bisa terjadi, Jakarta, sebuah indikator kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi dengan cepat dilanda air bah yang kemudian mengubah ibukota Republik Indonesia jadi sebuah dusun abad ke-17 yang rapuh?

Berhentikah bencana? Tiba-tiba Boeing 737-300 Adam Air mengalami insiden saat pendaratan di Bandara Juanda Surabaya, 21 Pebruari.Sebanyak 148 penumpang mengalami guncangan psikologis. Esoknya kapal motor penumpangLevina 1 terbakar di Selat Sunda. Jatuh puluhan kurban jiwa. Ratusan yang terpukul jiwanya.

Berhentikah? Ternyata obyek yang sama menyebabkan bencana susulan: dua wartawan televisi dan dua anggota Puslabfor Polri, meninggal saat melakukan kegiatan olah TKP KMP Levina 1.

Berhentikah bencana?

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama lima hari terakhir mengakibatkan longsor di sejumlah tempat. Puluhan orang meninggal dan terkubur hidup-hidup.

Sekali lagi, berhentikah bencana … dan siapkah tulisan dibuat?

Sampai di sini, keraguan saya tepiskan. Di samping karena tidak mau mengecewakan pembaca terlalu lama, terselip harapan semoga bencana tidak lagi beruntun terjadi, menambah daftar duka bencana di Indonesia.

Sejak gelompang Tsunami yang menelan ratusan ribu penduduk dan memorak-porandakan infrastruktur Aceh, akhir 2004.

Juga gempa di Jogjakarta Mei 2005. Gempa Pangandaran Jawa Barat. Banjir susul menyusul. Kereta saling-tabrak, anjlok dan terguling. Angin dan badai yang menyapu. Mobil, bis, truck, sepeda motor, penarik sepeda ontel, penyeberang jalan, yang saling serobot dan berdarah-darah.

Flu burung yang menakutkan. Wabah demam berdarah. Dan yang tak kalah dasyatnya: semburan “abadi” sumur gas Lapindo di Porong, Sidoarjo. Korban jiwa, harta benda, ruang publik, dan harga diri tergerus panasnya Lumpur. Entah sampai kapan ..?

Kuasa Ilahi

Bencana datang, siapa salah?Mungkin inilah jawaban kita: penyebab bencana saling silang. Pertautan antara fenomena alam dan manusia: teknologinya, juga keteledorannya. Layaknya sebuah irisan dalam himpunan matematika.

Seperti banjir Jakarta. Ada hujan deras, ada kerakusan manusia. Hutan Puncak Bogor ditebas, juga resapan-resapan Jakarta dibeton.Ada pula tangan birokrasi yang bisa mengapuskan rencana pembangunan sebuah taman dan menjadikannya sebuah mall terbesar di Indonesia!

Tapi bagaimana menjelaskan keteledoran manusia dalam gelombang besar Tsunami Aceh? Juga bagaimana dengan bangunan-bangunan kokoh di negara bagian Alabama, Amerika Serikat, hancur oleh Tornado. Demikian pula badai Katrina yang memorakporandakan kawasan New Orleans, di negara bagian Louisiana? Sebuah human error?

Maka irisan antara alam dan manusia tidak pernah cukup untuk menjawab apa dan siapa di balik setiap bencana! Bencana, seperti kuasa ciptaan Tuhan lainnya adalah ayat atau tanda-tanda.

Penciptaan alam semesta dan segala isinya; keserasian dan keteraturan jagad raya; keindahan dan keunikan alam raya; keanekaragaman makhluk hidup; silih bergantinya siang dan malam; adalah di antara tanda-tanda kekuasaannya (Al Baqarah/2:164).

Demikian pula fenomena dan peristiwa-peristiwanya, yang terjadi berulang-kali atau yang hanya terjadi sekali, ataupun bencana yang menimpa manusia dan alam semesta adalah bagian dari kekuasaan Allah : “Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidal pula) pada dirimu, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Al Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap yang diberikannya kepada kamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al Hadiid/57:22-23; baca juga Al An’am/6: 65).

Jadi, bencana adalah bagian dari kuasa Ilahi. Kita tak punya kuasa menolaknya. Juga menyebabkannya. Apa pun peran alam dan manusia dalam irisan penyebab bencana, hanyalah bagian semesta himpunan dari kuasa Ilahi.

Kita hanya bisa mengambil hikmah dan pelajaran: harus semakin arif terhadap alam. Juga disiplin berperilaku. Sembari tetap sadar, bahwa kuasa Ilahi meliputi segala sesuatu. Maka, tunduk dan pasrah pada Ilahi adalah hikmah terbesar dari sebuah bencana.

Tapi tidak cukup dengan itu, sebab kuasa Ilahi bukan hanya berlaku untuk bencana. Senang, tenteram, aman, selamat, sehat, bahagia, adalah juga kuasa Ilahi.Bukan seperti ketika melihat oarng mati tergilas tronton, lalu kita berucap, “Ini takdir Allah!” Sementara saat kita ketiban rizki mobil Jaguar kita menyombongkan diri, “Inilah bukti kesuksesanku!”

Rizki, kecukupan dan kemewahan adalah juga bagian kuasa Ilahi. Mungkin ini yang malah sering tidak kita sadari. Kita merasa bahwa semua kesuksesan adalah bagian dari kuasa kita, dan bukan takdir Tuhan!

Apakah sikap ini yang membuat Allah mencambuk kita dengan bencana? Wallahu a’lam!

Mohammad Nurfatoni

Menganti, 6 Maret 2007

[Dimuat pertama kali di Majalah Muslim, Edisi 3 Maret 2007]

Irak, Nestapa Tak Berujung

Sebanyak 3200 serdadu Amerika Serikat telah tiba di Baghdad pertengahan Januari 2007. Mereka merupakan rombongan pertama dari 21.500 pasukan tambahan yang dikirim ke Baghdad, melengkapi 137.000 serdadu yang masih bertahan di Irak.

Kebijakan penambahan pasukan perang ini oleh George W. Bush dimaksudkan sebagai formulasi strategi baru untuk penyelesaian Irak yang terus bergolak sejak keputusan invasi ke Irak Maret 2003. Bahkan Bush menyebut formulasi ini sebagai “misi yang jelas, spesifik dan akan tercapai”.

Tepatkah, atau benarkah formulasi Bush itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya kita me-review kembali alasan yang melandasi keputusan pendudukan Bush ke Irak.

Pertama, Irak menyimpan senjata pemusnah massal; kedua, karena Irak atau Presiden Saddam Hussein mempunyai jaringan resmi dengan Al Qaeda, dan ketiga keinginan Bush untuk menegakkan demokrasi ala Amerika di Irak.

Mengutip M. Amien Rais, alasan yang dikemukakan Bush di atas ternyata bertumpu pada dua kebohongan dan satu ilusi bodoh. Sebab, sampai saat ini tidak pernah terbukti bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah dan memiliki hubungan dengan Al Qaedah. Inilah kebohongan besar Bush. Sedangkan ilusi bodoh itu adalah membayangkan demokrasi ala Amerika dapat ditegakkan di Irak lewat pendudukan militer.

Kini dua kebohongan berat dan ilusi bodoh itu telah membawa kehancuran total bagi Irak. Eksodus pengungsi Irak adalah yang terbesar sepanjang sejarah Timur Tengah. Menurut UNHCR, sekitar 1,7 juta orang menjadi pengungsi dalam negeri, sedangkan sekitar 2 juta orang lainnya mengungsi ke Suriah, Jordania, Mesir, dan Lebanon.

ParaPara pengungsi yang berjumlah sekitar 3,7 juta orang itu hidup secara mengenaskan. Demikian juga 22 juta rakyat Irak yang belum mengungsi dibalut dengan rasa takut, bahkan selalu waswas disambar maut akibat keganasan perang saudara antara kaum Sunni dan kaum Syiah. Perang saudara yang diciptakan dan diprovokasi oleh politik imperialisme Bush.

Para epidemiolog Universitas Johns Hopkins dengan dibantu sejawat mereka di Irak, lewat teknik cluster sampling, berkesimpulan bahwa pendudukan militer Amerika Serikat (AS) itu telah menelan korban 655.000 rakyat Irak. Sekitar 600.000 mati akibat keganasan perang, sedangkan sisanya karena penyakit dan musibah yang lain.

Bukan itu saja! Laporan The UN’s International Leadership menunjukkan 84 persen lembaga pendidikan tinggi telah hangus, hancur, atau dijarah. Museum-museum arkeologi, tempat-tempat bersejarah, berbagai perpustakaan dan arsip telah banyak musnah. Para akademisi, wartawan, profesional, dan tokoh-tokoh masyarakat serta para dokter yang dibutuhkan justru dibunuh atau dianiaya.

Fakta-fakta di atas bukan saja menunjukkan bahwa pendudukan militer Amerika dan sekutunya tidak akan pernah menghasilkan sistem demokrasi seperti yang diinginkan Bush, melainkan justru menjadikan Irak sebagai “neraka dunia”.

##

Kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini, benarkah formulasi Bush dengan menambah pasukan perang sebagai penyelesaian konflik Irak yang berkepanjangan?

Tidak sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pada akhir Januari 2007, dua bom meledak di distrik New Baghdad, menewaskan sedikitnya 15 orang dan mencederai 50 orang. Dilaporkan pula terjadi penculikan terhadap 8 orang pegawai perusahaan komputer di Baghdad.

Satu fakta ini saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa penambahan pasukan perang Amerika bukanlah solusi yang cerdas, justru ia akan menjadi “minyak perang” yang memperbesar dan memperlama kobaran api pertikaian. Maka nestapa rakyat “bekas negeri 1001 malam” ini tak akan pernah berujung.

Sementara di pihak Amerika sendiri biaya imperialisme Bush di Irak mulai mengguncang ekonomi AS. Sampai akhir tahun 2006, Pemerintah Amerika telah mengeluarkan sekitar 400 miliar dollar AS. Jika biaya pengobatan, pemulihan, dan uang kompensasi bagi puluhan ribu serdadu dan lain sebagainya ikut dihitung, biaya perang dan pendudukan Irak itu melampaui 1 triliun dollar AS.

Di samping itu, sejumlah serdadu Amerika yang tewas sudah melampaui angka 3.000 orang, yang luka-luka 25.000, dan 10.000 di antaranya luka berat, invalid, dan sebagainya

Lantas apa yang dicari Bush?

Melihat penderitaan yang demikian memuncak yang dialami oleh para korban perang Irak itu, banyak yang mengatakan bahwa Bush telah menghadirkan sebuah holocaust di awal abad ke-21. Sejumlah tokoh Pentagon bahkan mengatakan ada kemiripan antara Bush dan Caligula, kaisar Romawi ketiga. Mirip karena keduanya arogan, narcisis, dan melakukan petualangan militer yang menggoyahkan sendi-sendi peradaban demi kebesaran kosong tanpa makna.

Maka, bila Saddam digantung karena bertanggung jawab atas kematian 148 orang Kurdi, kira-kira apa yang seharusnya diterapkan Bush dan sekutunya yang telah menghancurkan kemanusiaan dan peradaban di Irak?

(Mohammad Nurfatoni, dari berbagai sumber)

[dimuat di Majalah Muslim, Edisi 2, Pebruari 2007]