Kesendirian, Mikraj, dan Shalat

Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca ia berguman:

Duh Gusti Allah, kepada-Mu kukeluhkan kelemahanku,
kurangnya dayaku, rendahnya diriku di mata manusia,
Oh Yang Maha Pemurah,
Kaulah Tuhan dari makhluk lemah, Kaulah Tuhanku,
ke mana Kau bimbing aku?
kepada orang jauh yang mendustakan aku?
atau kepada musuh yang kau beri kekuatan melebihiku?

Asal Kau tak murka, aku tak peduli
kemurahan-Mu kepadaku melimpah
aku berlindung kepada cahaya-Mu
yang menerangi gelap, dunia dan akherat.
janganlah kemurkaan-Mu menimpa aku
kepada-Mulah aku menghamba
sampai Engkau puas sesuai kehendak-Mu
tiada yang lebih kuat dari kuasa-Mu. (lebih…)

Iklan

Tahun Duka Cita

“Merdeka” dari pemboikotan tidak membuat Rasulullah saw serta-merta bersuka cita. Sebab selepas tiga tahun (616 –619) diboikot, Rasulullah saw kembali diuji oleh peristiwa yang sangat menyedihkan. Paman beliau Abu Thalib (80) meninggal dunia.

Tentu, meninggalnya Abu Thalib sangat berpengaruh pada Rasulullah saw, baik sebagai pribadi, kemenakannya, maupun dalam kedudukan beliau sebagai pembawa dan penyebar ajaran Islam. Hal ini bisa dipahami dengan melihat posisi Abu Thalib dalam kancah kehidupan dan perjuangan Rasulullah saw. Abu Thalib adalah semacam perisai bagi Rasulullah saw dari serangan musuh dari luar. Abu Thalib adalah penjaga keamanan dan keselamatan Rasulullah saw.

Memang—meminjam H. Fuad Hasyem—sepintas Abu Thalib telah melakukan sesuatu yang aneh. Ia membiarkan Rasulullah saw membangun masyarakat baru yang bakal menelan masyarakatnya sendiri. Abu Thalib telah membiarkan Islam tumbuh sambil pelan-pelan ia lenyap di bawah bayang-bayang ajaran tahuid yang dibawa Rasulullah saw. Dengan kata lain, Abu Thalib telah melakukan sebuah paradoks: melindungi Islam yang nantinya akan melenyapkan sistem ia sendiri.

Tetapi itulah Abu Thalib. Ia tidak punya pilihan lain. Ia tak kuasa membendung ajaran Islam; tak kuasa menghadapi Rasulullah saw, meskipun berkali-kali ia coba. Berkali-kali Abu Thalib dibujuk dan diintimidasi oleh kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw; namun terbukti ia tidak mampu melakukannya pada Rasulullah saw. Ini misalnya bisa kita lihat dari salah satu episode dilematis yang dialami Abu Thalib, seperti dikutip Muhammad H. Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 2002): Suatu saat Quraisy meminta ketegasan Abu Thalib, “Abu Thalib, engkau sebagai orang yang terhormat, terpandang di kalangan kami. Kami telah meminta supaya menghentikan kemenakanmu itu, tetapi tidak juga kau lakukan. Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek-moyang kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan mencela berhala-berhala kita—sebelum kau suruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia hingga salah satu pihak nanti binasa.”

Mendapat intimidasi semacam ini Abu Thalib berupaya untuk membujuk Rasulullah saw, “Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.” Pernyataan yang menunjukkan keraguan sekaligus kepasrahan Abu Thalib terhadap tuntutan kaummnya dan membiarkan Rasulullah saw diadili oleh kaum kafir Quraisy. Tetapi mendapati Rasulullah saw tetap tegar dengan kebenaran yang dibawanya—seperti yang terucap dari beliau, “Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku, atau aku binasa karenanya.

Abu Thalib gemetar dan terpesona mendengar jawaban Rasulullah saw itu. Namun ia bingung antara dua pilihan: menghadapi intimidasi kaumnya dan ketegaran kemenakannya itu. Tiba-tiba ia berkata, “Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!

Maka Abu Thalib dalam sejarah dikenal sebagai pembela Rasulullah saw. Karena sesungguhnya ia percaya akan kejujuran Rasulullah saw dan yakin akan kebenaran misi yang dibawanya. Tetapi ini mungkin satu misteri sikap Abu Thalib. Dari pendiriannya selama ini, ia mestinya telah memeluk Islam. Kalaupun toh tidak dilakukannya—seperti dilaporkan kebanyakan sejarawan—maka ia bagaikan jadi sasaran tembakan silang: dijauhi para pembesar Quraisy, dikagumi para pengikut Islam; tetapi disesalkan oleh kedua belah pihak.

Nah, kepergian Abu Thalib dalam posisi dan perannya seperti itu membuat Rasulullah saw sangat terpukul, karena ia kini jadi rentan, posisinya lemah, tiada lagi dukungan moril dan kekuatan.

Duka cita belum lagi hilang, kesedihan kembali datang. Khadijah pun meninggal dunia. Rasulullah saw merasa terpukul. Khadijah, adalah istri yang memberikan kasih sayang, yang menguatkan dan mendinginkan hatinya. Jika Abu Thalib adalah perisai atas serangan musuh dari luar, maka Khadijah bagaikan dinamo, yang menggerakkan kekuatan dari dalam diri Rasulullah saw.

Khadijah cermin dari sejarah panjang nan berat di awal masa-masa perjuangan Rasulullah saw. Dari seorang janda kaya terkemuka ketika dinikahi Muhammad saw, berubah menjadi seorang ibu tua yang “dimiskinkan” oleh perjuangan suaminya. Ia adalah wanita pemeluk Islam pertama yang tak pernah mencicipi kejayaan yang dibawa oleh suaminya pada dasawarsa kemudian.

Bagi Rasulullah saw, kepergian Khadijah berarti kehampaan. Sebab, Khadijah adalah pelipur ketika kegundahan datang menghadang. Tengoklah misalnya, episode ketika Rasulullah saw pertama kali menerima wahyu, seperti yang dikutip Muhammad H. Haikal: Rasulullah saw kembali dari ber-tahannuth. Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya Khadijah sambil berkata, “Selimuti aku!” Ia segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Setelah rasa ketakutan itu berangsur reda, dipandangnya istrinya dengan pandangan mata ingin mendapat kekuatan.

Khadijah, kenapa aku?” katanya. Dengan penuh kasih sayang dan ketulusan hati, Khadijah memberikan dorongan semangat. “Oh putra pamanku. Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah tidak akan mencemoohkan kau; sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka dalam kesulitan atas jalan yang benar.” Mendengar kalimat-kalimat lembut itu, Rasulullah saw merasa tenang kembali. Dipandangnya Khadijah dengan mata penuh rasa kasih.

Memang, kehadiran Khadijah sangat berarti bagi Rasulullah saw. Maka, di saat-saat kepergiannya, Rasulullah saw menunggui di tepi ranjangnya. Dengan hidup dan mati menggeletak samping-menyamping dan hanya dibatasi garis tipis seperti ini, Rasulullah saw barangkali dapat merasakan betapa besarnya nilai Khadijah, secara lebih gamblang dan tajam. Bahwa tujuan akhir kehidupan rumah tangga bukan kekayaan, karena Khadijah telah mengorbanknnya. Bukan reputasi dan keharuman nama, karena ini pun telah luntur sejak mereka diejek dan dinista kaum kafir Quraisy. Di saat-saat begini, mungkin perasaan Rasulullah saw guncang: bagaimana kalau garis tipis ini sirna dan Khadijah meninggalkannya? Tetapi Rasulullah saw sadar betul bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan umur terbatas. Tiada penyesalan karena istrinya telah memberikan segalanya. Rasululah saw menatap wajah pucat istrinya. Sekonyong-konyong pembatas hidup dan mati itu membaur. Khadijah menarik napas terakhir.

Lengkaplah duka yang menimpa Rasulullah saw. Dalam waktu sebulan, dua pilar dalam dakwahnya telah pergi meninggalkannya. Rasulullah saw sangat berduka, sehingga tahun itu disebut tahun duka cita.

Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, BEST FOSI Surabaya

Mohammad Nurfatoni

Pemboikotan, Konspirasi Quraisy

Masuk Islam-nya Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khattab semakin memperkuat posisi umat Islam di mata kaum kafir Quraisy. Ini bisa dimengerti karena posisi kedua tokoh ini sangat penting di mata Quraisy. Hamzah adalah salah satu paman Rasulullah saw, sementara Umar termasuk tokoh pemberani—dan karena itu sebelelum masuk Islam, beliau termasuk yang diharapkan Rasulullah saw masuk Islam dalam doanya.

Tak heran, misalnya, setelah Umar telah masuk Islam, kegiatan umat Islam bisa dilakukan dengan terang-terangan. Diriwayatkan dari Shuhaib bin Sinan ar-Rumi, “Ketika Umar memeluk Islam, Islam tampak, diserukan secara terang-terangan, kami mengadakan halaqah di sekitar Ka’bah, melakukan thawaf, membalas orang-orang yang berbuat keras terhadap kami, dan menolak sebagian perbuatannya.”

Meskipun begitu, konspirasi jahat kaum kafir Quraisy tidak berhenti. Jika sebelum masuk Islam-nya Hamzah dan Umar, intimidasi secara fisik menjadi andalan mereka—sehingga sebagian sahabat diperintahkan Rasulullah saw berhijrah ke Abasinia—maka kini bentuk intimidasi tidak lagi secara fisik orang per orang, melainkan lebih dahsyat lagi, yaitu dengan melakukan pemboikotan total kepada umat Islam beserta keturunan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

Kaum kafir Quraisy bersepakat untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib, kecuali Abu Lahab yang membelot kepada kaum kafir Qurasy. Mereka melakukan bolikot dengan menulis perjanjian (shahifah) yang ditulis oleh Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Nota perjanjian itu kemudian digantung di Ka’bah. Adapun isi perjanjian itu adalah:

  • Mereka tidak menikah dengan wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  • Mereka tidak menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  • Mereka tidak menjual sesuatu apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  • Mereka tidak membeli sesuatu apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam I, Darul Falah, 2004)

Mereka diboikot di Syi’ib Abu Thalib. Letaknya di kaki bukit Abu Qubays, bagian Mekkah sebelah timur. Berbentuk sebuah pelataran sempit yang dikelilingi dinding batu terjal lagi tinggi, tidak dapat dipanjat. Orang ganya dapat masuk keluar dari sebelah barat melalui celah sempit setinggi kurang dari dua meter, yang hanya dapat dilewati unta dengan susah payah (H. Fuad Hasyem, Sirah Muhammad Rasulullah Suatu Penafsiran Baru, Mizan, 1990).

Pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun, yaitu dimulai tahun ke-7 kenabian sampai tahun ke-10 kenabian. Bisa dibayangkan betapa susahnya hidup dalam keadaan seperti itu. Mereka tidak tidak bisa keluar dari tempat ini kecuali pada bulan-bulan haram.

Mereka membeli dari kafilah yang dating ke mekkah dari luar daerah, tetapi penduduk mekkah menghasut mereka agar menaikkan harga barang-barang dagangan mereka sehingga kaum Muslimin tidak dapat membelinya. Tak heran jika mereka banyak yang makan dedaunan dan kulit binatang. Tidak ada pasokan makanan, kecuali yang diselundupkan secara sembunyi-sembunyi dalam jumlah yang terbatas—,isalnya yang dilakukan Hakim bin Hizam, keponakan Khadijah. (Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah, Rabbani Press, 2002).

Anggota klan yang bukan Islam memprotes Muhammad saw, yang dianggap biang keladi dari semua penderitaan. Khadijah, istri Rasulullah saw merasakan sengsaranya hidup dalam boikot, suatu keadaan yang belum pernah dialaminya—serba kekuarangan pangan, padahal beliau adalah orang kaya.

Abu Bakar, yang dilaporkan punya uang 50.000 dirham ketika masuk Islam, ternyata hanya memiliki 4.000 dirham di saat hijrah ke Madinah. Ia memang menebus budak, tetapi jika harga budak sekitar 400 dirham per orang, sedang ia membebaskan tujuh budak, berarti cuma menghabiskan 2.800 dirham. Dalam pemboikotan inilah mungkin harta Abu Bakar terkuras (H. Fuad Hasyem, 1990).

Sekalipun begitu, semangat Rasulullah saw tak pernah lekang. Dakwah Islam tetap dilancarkan. Rasulullah saw punya peluang khusus dalam bulan-bulan suci; yaitu bulan “Muharam”, yang diharamkam kekerasan, bulan Rajab yang dihormati, bulan Dzulqa’dah bulan damai, dan bulan Dzulhijjah bulan berhaji. Di empat bulan itu Rasulullah saw bebas berkhutbah, bertemu dengan berbagai kalangan dari seluruh penjuru jazirah.

Sebenarnya tidak semua kaum kafir Quraisy bersepakat dengan nota perjanjian itu. Karena itu, setelah beberapa tahun berlalu, sebagian dari mereka bersepakat untuk membatalkan nota perjanjian itu.

Pelopornya adalah Hisyam bin Amr Rabi’ah. Mula-mula ia menemui Zuhar bin Abu Umayyah, “Hai Zubair, apakah engkau rela, kalau engkau makan makanan, mengenakan pakaian, menikahi wanita-wanita, sedang paman dari jalur ibumu seperti yang engkau ketahui tidak boleh menjual, tidak boleh membeli dari manusia, tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan putrid-putri mereka kepada manusia lain? Sungguh aku bersumpah kepada Allah, seandaimya mereka adalah paman-paman Abu Al Hakam bin Hisyam kemudian engkau ajak mereka kepada sesuatu yang engkau diajak kepadanya, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab seruanmu selama-lamanya.”

Zuhair bin Abu Umayyah berkata, “Celaka engkau Hisyam, apa yang bisa saya kerjakan? Saya hanya seorang diri. Demi Allah, jika saya didukung orang lain, saya pasti membatalkan shahifah tersebut.” Hisyam bin Amr berkata, “Ada seseorang yang mendukungmu.” Zuhair bin Abu Umayyah berkata, “Siapa?” Hisyam bin Amr berkata, “Saya.” Zuhair bin Abu Umayyah berkata, “Carilah orang ketiga!” Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, 2004).

Begitulah seterusnya pencarian dukungan itu dilakukan oleh Hisyam bin Amr sampai ketemu lima orang yaitu Hisyam bin Amr, Zubair bin Abu Umayyah, Al Muthi’im bin Adi, Al Bakhtari bin Hisyam, Zama’ah bin Al Aswad bin Muththalib. Kelima orang inilah yang akhirnya pergi ke Ka’bah berniat merobek nota perjanjian (shahifah). Setelah berdebat dengan Abu Lahab, akhirnya nota perjanjian itu benar-benar akan disobek, namun belumlah mereka melakukan, nota perjanjian itu telah dimakan rayap sehingga hanya tersisa tulisan “dengan nama-Mu ya Allah”.

Mohammad Nurfatoni
Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, FOSI Surabaya