Benarkah Indonesia Merdeka?

Benarkah Indonesia Merdeka? Sebuah pertanyaan nakal! Bagaimana tidak, sebab Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan pada Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahuan Jepang, atau 17 Ramadan 1365 Tahun Hijriah dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Muhammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat.

Setiap tahunnya bangsa Indonesia secara gegap gempita merayakannya dengan berbagai kegiatan, dari yang berbentuk seremonial sampai yang bersifat hura-hura. Semuanya hendak menegaskan bahwa Indonesia telah merdeka. Maka teriakan “Merdeka!” yang digelorakan jaman dulu, masih menggema sampai sekarang.

Indonesia memang telah merdeka. Tentu saja jika kemerdekaan itu ditafsirkan secara konvensional, yakni lepas secara fomalistik-fisikal dari cengkeraman penjajahan bangsa lain—dalam konteks ini adalah bangsa Belanda dan Jepang. Atas semua itu, kita patut bersyukur.

Tapi benarkah Indonesia, kini, benar-benar telah merdeka? Maka untuk itu, marilah kita renungkan beberapa peristiwa penting ini!

Pertama, mengapa bisa diizinkan negara lain menggunakan wilayah Indonesia untuk latihan militer? Dalam perjanjian kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) antara RI dan Singapura ditandatangani di Bali, 27 April 2007 disebutkan bahwa Singapura diberi hak untuk melakukan latihan militer di Indonesia dalam wilayah laut dan udara tertentu dan dalam waktu tertentu pula. Sebaliknya Indonesia mendapat kompensasi untuk melakukan kerjasama ekstradisi.

Jika perjanjian itu berhasil dirativikasi oleh parlemen, maka ini menjadi bukti terinjaknya kedaulatan Indonesia. Jika kemerdekaan diartikan sebagai hengkangnya kekuatan militer asing, maka Indonesia belumlah merdeka. Dengan kata lain, Singapura, negara kecil itu, telah “menundukkan” wilayah teritorial Indonesia. Jadi, Indonesia ternyata masih dijajah Singapura!

Kedua, politik luar negeri Indonesia masih yang tunduk pada kepentingan negara lain, terutama Amerika Serikat, menunjukkan bahwa politik bebas aktif yang sering dikumandangkan belum benar-benar dijalankan. Ini artinya dalam menentukan kebijakan luar negeri, Indonesia belum merdeka.

Tunduknya Indonesia pada AS (juga Australia) dalam perang global melawan terorisme adalah contoh telanjang belum merdekanya dari kekuatan asing. Selama ini dikesankan bahwa perang melawan terorisme itu adalah untuk kepentingan bersama. Tapi, diakui atau tidak dalang utamanya adalah AS. Maka perang melawan terorisme menjadi perang buta terhadap kelompok-kelompok Islam, dan ini adalah sebuah agenda strategis AS.

Contoh lain yang cukup relevan adalah persetujuan Indonesia pada keputusan DK-PBB yang mengeluarkan resolusi 1747 yang berisi sanksi atas program nuklir damai Iran.

Sebagai anggota tidak tetap DK PBB, seharusnya Indonesia berani melakukan “perlawanan”, sekecil apapun, terhadap hegemoni negara-negara besar yang selama ini bersikap semena-mena dengan hak vetonya, sementara keputusan itu selalu dirasakan tidak adil, terutama untuk negara dunia ketiga, dan lebih khusus lagi adalah negara-negara Islam seperti Irak, Iran, Libya, atau Palestina.

Ketiga, penguasaan sumber daya alam oleh perusahaan-perusahaan asing di Indonesia adalah jawaban yang lugas betapa kini pun Indonesia belum merdeka. PT Freeport Indonesia, PT Newmont, atau PT Exxon Mobil adalah beberapa contoh kukuhnya kepentingan asing dalam pengerukan sumber daya alam Indonesia. Persis seperti jaman penjajahan dulu! Belum lagi penjualan saham-saham BUMN telekomunikasi Indonesia yang kini sebagian dikuasai pihak asing, seperti PT. Indosat atau PT. Telkomsel sebagai anak perusahaan PT. Telkom.

Keempat, kini budaya-peradaban masyarakat Indonesia tak bisa dibedakan lagi dengan masyarakat dunia, khususnya dunia Barat. Pola hidup import bukan saja melanda selera makanan masyarkat Indonesia, melainkan juga keseluruhan pola hidup (keluarga, tidur, pakaian, juga seks). Dengan ciri kebebasan, Barat telah menjajah peradaban masyarakat Indonesia. Maka semua serba bebas: pergaulan bebas, seks bebas, pakaian bebas, makanan bebas dan sebagainya? Bukankah ini penjajahan juga!

Jika secara wilayah, ekonomi, politik, dan budaya-peradaban sudah tidak lagi mencerminkan independensi Indonesia, maka masih pantaskah teriakan “Merdeka!” dikumandangkan dengan lantang? Apa artinya merdeka dari kolonialisme klasik jika masuk pada sarang neo-kolonialisme?

Maka, perlu dikaji masih relevankah nasionalisme, kini? Di tengah-tengah saling ketergantungan (interdependensi) antar-masyarakat dunia, terutama berkat teknologi informasi dan perdagangan bebas? Masih relevankah membicarakan identitas bangsa di tengah ketidakberdayaan membendung pengaruh global?

Masih pantaskah kita berteriak jati diri bangsa, sedang dalam waktu bersamaan kita sedang makan, minum, berpakaian, atau mengendarai mobil merek global?

Sidojangkung, 17 Agustus 2007

Mohammad Nurfatoni

Dimuat majalah Muslim, edisi Agustus 2007

Iklan

SARA

Sekalipun diindikasikan berbau ‘permainan’ politik tingkat tinggi, kasus-kasus konflik dan pertentangan yang berbau agama semacam kasus Ketapang dan Kupang [juga Ambon dan Poso] menunjukkan masih rentannya sentimen keagaman pada masyarakat kita.

Ini sangat ironis dengan berbagai wajah yang ingin diwujudkan oleh pira elit agama. Dalam berbagai kesempatan, kita melihat beberapa tokoh penting dari berbagai agama duduk bersama membuat pernyataan seputar perlunya kerukunan umat beragama. Juga kita lihat berbagai atraksi doa bersama dari berbagai ritual doa keagamaan yang berbeda. Ada juga tokoh agama tertentu yang mencoba “cair” dengan simbol-simbol agama lain. Kita juga mendengar beberapa organisasi massa dan partai politik yang menghindari simbol-simbol agama demi menjauhi cap eksklusifitas pri­mordial keagamaan.

Selain itu, pada tataran konseptual, juga lahir tafsir bahwa agama-­agama itu lebih sebagai sebuah keyakinan dari pada formalisme kelembagaan. Ada juga tafsir bahwa agama-agama itu pada hakekatnya sama, setidaknya memiliki titik-titik temu tertentu. Lantas untuk apa melestarikan konflik antaragama? Mungkin itu pertanyaan yang hendak dijawabnya. Oleh karena itu jika ditarik benang merahnya, tafsir-tafsir tersebut menyimpan ambisi menghilangkan eksklusifitas agama.

Upaya para elit agama tersebut, seolah ingin memperlihatkan adanya kerukunan permanen dalam pluralisme agama. Keyakinan boleh berbeda, tapi semangat persatuan dan kesatuan harus tetap terjaga. Jangan terjebak pada formalisme agama tertentu. Jangan sampai kelembagaan agama mengalahkan semangat inklusifisme dan pluarlisme. Kira-kira begitulah ambisi para elit agama.

Tapi di tingkat massa, pernyataan dan perlilaku elit agama tersebut sulit dipahami; bahkan terlihat saling kontradiktif. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan analitis. Pertama, apakah terjadi kesenjangan yang sangat jauh antara elit agama dengan massa (umat). Elit bilang rukun, umat malah saling gempur.

Kedua, apakah kesenjangan itu disebabkan karena tidak samanya motivasi yang mendorong perilaku kontradiktif tersebut? Elit demi kepentingan politik, umat demi jihad. Ketiga, apakah ini bukan bentuk radikalisasi umat atas perilaku elit agama yang dianggap nyleneh? Tokoh Muslim ke gereja; tokoh agama lain ke masjid (?). Umat menjadi sesak dadanya. “Apa-apaan ini?” gurutunya.

Keempat, atau ini dendam laten akibat penyebaran agama yang dirancang elit agama tertentu tanpa memperhatikan etika? Kita lihat misalnya, eksploitasi krisis dengan proyek: “Makan Siang dari Tuhan?”

Dari berbagai pertanyaan di atas, kita perlu kembali merenungkan beberapa hal. Pertama, perlunya redefinisi SARA, khususnya tentang unsur agama. Selama ini kita beranggapan bahwa simbol-simbol agama selalu mengandung unsur pertentangan. Dengan dalih itu kita membangun ideologi SARA, dengan tema: sebisanya mengubur dalam-dalam simbol-simbol agama.

Simbol-simbol agama, tentu saja beserta hakekat yang terkandung di dalamnya, kita samarkan atau kita ganti dengan sesuatu yang abstrak, misalnya Pancasila. Maka pernah terjadi pemberangusan asas aguma oleh asas Pancasila. Pernah pula terjadi pelarangan berbusana agama (jilbab) bagi pelajar. Sampai-sampai terjadi agama phobia. Kita takut menunjukkan identitas keagamaan kita. Dan ini masih berlanjut sampai sekarang, terbukti dengan banyaknya tuduhan primordial dan sektarian terhadap orang atau kelempok yang menonjolkan identitas agamanya. Bahkan lebih jauh dituduh fundamentafis dan eksterm [atau teroris].

Kedua, tidak relevan lagi memaksakan suatu pemikiran persamaan agama (agama-agama itu sama). Secara subjektif, para pemeluk agarna itu berhak meyakini agamanya yang benar, dan agama lain salah. Meskipun begitu perlu dikembangkan ruang terbuka untuk mengembangkan sikap dan kajian pada tataran objektif. Dengan sikap objektif kita harus menerima bahwa ada realitas agama lain selain agama yang kita anut. Meskipun begutu, sah-sah saja, bahkan kalau perlu dikembangkan, kajian objektiF tentang kebenaran agama. Sebab, logika saja sudah membenarkan bahwa tidak masuk akal jika agama-agama yang ada ini sama (dan benar semua). Logika ini perlu dipertajam dengan pertanyaan: benarnya semua agama, apakah menunjukkan tuhan itu banyak? Atau jika dibalik: tuhan itu satu, tapi menurunkan banyak agama? Rasa-rasanya tidak masuk akal kedua pertanyaan ini. Toh pada realitasnya, konsep dan ajaran agama-agama beda dan bertolak belakang satu dengan lainnya.

Ketiga, perlunya dilakukan redefinisi tentang konsep toleransi. Selama ini banyak diajarkan sikap toleransi yang salah. Demi toleransi kita ‘wajib’ membenarkan agama lain lewat ucapan selamat atau menghadiri ritus­-ritusnya. Menteri Agama yang beragama Islam memberi sambutan tentang Hari Raya Waisak. Presiden yang beragama Islam menghadiri Perayaan Natal.

Toleransi itu artinya sikap menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang memeluk agama lain (meskipun agama itu salah). Mereka tetap berhak untuk itu dan kita tidak berhak mengganggunya (selama mereka tidak mengganggu kita). Dengan sikap toleransi seperti ini, misalnya, agama saya (Islam) menggembangkan bangunan rahmatan lil alamin.

Jadi agama itu bukan unsur SARA dalam pengertian sebagai sumber konflik dan pertentangan, jika kita mau berpikir dan bersikap objektif, tidak mengada-ada.

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 18 Tahun ke-3 4 Nopember 1998

Manusia sebagai Tuhan?

Sekalipun manusia adalah “puncak” ciptaan Allah, tetapi sesungguhnya manusia tidak diperkenankan untuk memposisikan dirinya lebih jauh dari itu. Diantara perilaku manusia yang telah menyimpang dari desain itu adalah sikap eksploitasi manusia terhadap alam. Sebab, betapa pun alam ini memang benar berkedudukan lebih rendah dari manusia, namun pada dasarnya seluruh alam dan manusia adalah sama­sama ciptaan Allah. Relevan dengan ini ialah penegasan Al­lah dalam surat Al An’am/6:38, “Tidaklah seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak pula seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya itu melainkan umat-umat seperti kamu juga“.

Ketidakbolehan manusia melakukan eksploitasi terhadap alam bukan saja karena alam sama-sama ciptaan Allah, melainkan juga karena alam adalah makhluk Allah yang selalu bertasbih, “Seluruh langit yang tujuh dan bumi bcrtasbih memuji-Nya, dan juga makhluk hidup di dalamnya. Dan tiada sesuatu apa pun kecuali bertasbih memuji-Nya, tapi kamu (manusia) tidak mengerti tasbih mereka” (AI Isra’/17:44).

Oleh karena itu, sekalipun manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah, dan sekalipun alam dibuat lebih rendah (taskhir) agar manusia bisa memanfaatkannya, namun hubungan manusia terhadap alam harus disertai sikap rendah hati yang sewajarnya, dengan melihat alam sebagai sumber ajaran dan pelajaran antuk menerapkan sikap tunduk kepada Allah. Manusia harus menyertai alam sekitarnya dalam bertasbih memuji Allah, antara lain dengan memelihara alam itu dan menumbuhkannya ke arah yang lebih baik (islah), dan bukannya melakukan perusakan dan kerusakan di bumi (fasad fi al-ardh: Ar Rum/30:41).

Manusia Tuhan, Tuhan Manusia

Penyimpangan lain terhadap desain Tuhan bahwa manusia adalah “puncak” ciptaan-Nya adalah ketika manusia menjadikan dirinya atau menjadikan manusia lain sebagai Tuhannya.

Beberapa sikap dan sosok yang pernah dan mungkin terjadi dalam hubungannya manusia sebagai Tuhan adalah, pertama, penguasa mempertuhankan dirinya atau rakyat mempertuhankan penguasanya. Bukti fenomenal yang berkaitan dengan ini misalnya bisa kita lihat dari sejarah penuhanan Fir’aun. Seperti kita ketahui, sejarah penuhanan Fir’aun terjadi oleh dua hal, (1) keinginan Fir’aun sendiri untuk dipertuhan rakyatnya. Dan berkata Fir’aun: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku …(AI Qashash/28:38). (2) keinginan rakyat, baik terpaksa atau sengaja. Penuhanan dari rakyat ini terjadi karena mereka tunduk tanpa reserve kepada Fir’aun, sekalipun Fir’aun amoral, korup, dan menindas.

Tentu saja, proyek penuhanan seperti Fir’aun ini bisa saja terjadi pada penguasa lain, meskipun mungkin penguasa itu tidak berani secara eksplisit menyebut dirinya sebagai Tuhan seperti yang dilakukan Fir’aun. Faktor utama penyebab terjadinya penuhanan penguasa adalah ketika penguasa membangun kemutlakan-kemutlakan: kekuasaannya menindas, kepemimpinannya otoriter, kata-katanya adalah sabdo pandito ratu; sementara rakyat serba takut: takut berbicara, takut berpendapat, takut berbeda, takut berbuat, takut mengkritik, takut hidup di luar kekuasaan penguasa.

Kedua, manusia mempertuhankan sosok terdekatnya. Proyek penuhanan seperti ini terjadi jika manusia menjadikan sosok-sosok itu lebih dari segala-galanya dibandingkan dengan Allah, misalnya dalam hal kecintaan. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan [dalam ketuhanan]; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah..:” (Al Baqarah/2:165).

Siapa saja sosok-sosok manusia yang berpeluang dipertuhankan manusia itu, Allah menjelaskannya dalam Al Furqan/9:24, “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya …“. Jadi menurut Al Qur’an siapa saja bisa kita pertuhankan jika mereka lebih kita cintai, kita pentingkan, kita takuti sehingga mereka mengalahkan kecintaan, kepentingan, dan ketakutan kita kepada Allah.

Sementara orang yang benar tauhidnya, pasti akan “menempatkan” Allah di atas segala-galanya; tidak saja menyembah-Nya dalam ritual, melainkan juga menuruti segala perintahnya, meninggalkan segala larangannya. Itulah yang disebut tunduk-pasrah kepada Allah (islam).

Jadi, orang yang bertuhan secara benar akan bersama-­sama dengan alam raya bertasbih kepada-Nya!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 41 Tahun ke-4, 5 Mei 2000

Orang Bertuhan Alam?

Menurut desain Allah, manusia adalah “puncak” ciptaan­Nya (At Tiin/95:4). Desain yang demikian itu menempatkan seluruh alam berada dalam martabat yang lebih rendah daripada manusia.

Direndahkannya (bukan dihinakan) kedudukan alam di bawah manusia ini dalam Islam dikenal dengan konsep taskhir (dari kata-kata sakhkhara, merendahkan atau menundukkan), Dan Dia (Allah) merendahkan bagi kamu semua apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; seluruhnya dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi mereka yang berpikir (AI Jatsiyah/43:13).

Konsep taskhir ini, seperti dijelaskan oleh ayat di atas, mengandung “tanda-tanda”, artinya ada maksud-maksud tertentu yang diinginkan oleh Allah untuk ditangkap manusia. Di antara maksud yang bisa kita ungkap adalah, pertama, agar alam bisa dimanfaatkan oleh manusia. Tanpa ditundukkan oleh Allah, tentu manusia akan mengalami kesulitan untuk memanfaatkannya. Jadi, dengan kata lain, agar bisa dimanfaatkan oleh manusia maka alam terlebih dulu dijinakkan oleh Allah. Sinar matahari misalnya, yang dari asalnya bersuhu sangat tinggi bisa sampai ke bumi dalam suhu yang sesuai dengan kehidupan manusia karena telah dijinakkan oleh Allah dengan berbagai lapisan bumi.

Kedua, dengan membuat alam ini lebih rendah daripada manusia, maka alam ini menjadi obyek yang terbuka bagi manusia. Diantara obyek yang dimaksud adalah alam sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Manusia bisa “memungut” ilmu pengetahuan dari alam karena Allah telah membuat keserasian, keharmonisan, dan ketertiban pada diri alam. Itulah yang disebut dengan sunnatullah [hukum (Allah di) alam]. Ilmu tentang gaya grafitasi bumi misalnya bisa diketemukan Isaac Newton akibat pola keserasian alam yang terjadi berulang-ulang; bahwa setiap benda akan jatuh ke bawah (bumi). Oleh karena itu sangat tepat penggunaan nama alam bagi jagad raya ciptaan Allah ini. Nama alam itu sendiri berasal dari bahasa Arab “alam” yang satu akar kata dengan “ilmu (ilm, pengetahuan) dan “alamat” (alamoh, pertanda).

Ketiga, dalam kaitan satu akar kata dengat “alamat” (pertanda), kita juga bisa menangkap bahwa ditundukkannya alam bagi manusia mengandung maksud bahwa alam ini adalah alamat atau pertanda bagi manusia amok lebih mengenal, dekat, dan tunduk kepada Allah. Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi (jagad raya) pastilah terdapat ayat-­ayat bagi mereka yang berakal budi. Yaitu mereka yang selalu ingat kepada Allah, baik pada saat berdiri, saat duduk, maupun saat berada pada lambung-lambung mereka (berbaring), lagi pula memikirkan kejadian seluruh langit dan bumi ini, (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciplakan ini seraya secara batil. Maha Suci Engkau. Maka lindungilah kami dari azab neraka” (Ali Imran/3:191).

Dengan memahami konsep taskhir tersebut, akan terlihat bahwa manusia yang paling tolol adalah mereka yang mengangkat alam dan gejala alam ke tingkat yang lebih tinggi dari semestinya menurut desain Allah, dalam bentuk mitologi terhadap alam. Seperti kita ketahui, mitologi terhadap alam akan melahirkan sikap pemujaan dan pendewaan terhadap alam. Inilah yang disebut dengan syirik. Padahal, dalam desain Allah, alam berkedudukan lebih rendah di bawah manusia. Manusia tidak pantas takut, untuk kemudian tunduk, kepada alam.

Ketololan manusia dalam hubungannya dengan alam, tidak saja terlihat dalam bentuk mitologi alam secara tradisional misalnya yang terekspresi lewat pemujaan-mistis pada alam dan gejala alam, melainkan juga terlihat dalam praktik perburuan manusia secara mambabi buta terhadap materi (kebendaan). Sebab dalam posisi seperti itu, pada dasarnya manusia telah diperbudak oleh alam (materi). Manusia yang seharusnya mengendalikan alam justru dikendalikan oleh alam. Inilah yang dimaksud tentang fenomena manusia telah mendewa-tuhankan materi (alam), yaitu menjadikan materi sebagai segala-galanya. Bagaimana bisa dinalar oleh akal sehat, jika manusia yang seharusnya berkedudukan terhormat harus menjadi budak materi.

Perilaku manusia yang mempertuhankan alam ini akan menjauhkan manusia darijati dirinya sebagai manusia, dan pada gilirannya akan menjauhkan dirinya dari Tuhannya. Hal ini terjadi karena manusia akan menghalalkan segala cara; tidak lagi peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan. Lihatlah sosok-sosok mereka seperti ini; politisi yang “memakan” kesetiaaan kawan sendiri, pengusaha yang “memakan” hak-hak buruhnya, pemborong yang “memakan” anggaran aspal, penguasa yang “memakan” penderitaan rakyat, pers yang “memakan” dukungan pembacanya.

Perilaku-perilaku seperti itu, tentu, sangat berbeda dengan perilaku manusia yang melihat kedudukan alam secara proporsional. Mereka akan alam sesuai dengan asas kewajaran, tidak mendewa-dewakan, tidak memitoskan, cerdik pandai karena termotivasi untuk memahami sunatullah, semakin dekat kepada Allah sebagai pencipta alam sambil berucap rabbana ma khalaqta haada bathilan subhanaka (Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini semua secara sia-sia. Maha Suci Engkau!).

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 40 Tahun ke-4, 28 April 2000

Siapakah Tuhan?

Meskipun secara eksistensial manusia sadar dan mengakui adanya Tuhan, namun secara substansial manusia tidak mungkin mengetahui sosok Tuhan. Relevan dengan ini, adalah kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Ibrahim, seperti yang terekam dalam Al An’am/6:75-79: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkan) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inikah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tetkala matahari itu tenggelam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan“.

Kisah di atas memberikan pelajaran, betapa sesungguhnya manusia telah memiliki kesadaran terdalam terhadap eksistensi Tuhan. Tetapi, ketika manusia mencoba untuk “memperjelas” siapa (substansi) Tuhan, seperti Ibrahim yang mengira bintang, bulan, dan matahari sebagai Tuhan-maka pasti akan menemui kegagalan. Oleh karena itu, penjelasan yang bisa diterima adalah bahwa manusia tidak akan pernah tahu siapa Tuhan itu, jika hanya berdasarkan logika dan perasaannya sendiri, sebagaimana logika dan perasaan Ibrahim yang pernah menganggap matahari sebagai Tuhan karena matahari itu besar dan mampu menerangi jagat bumi. Jika manusia tetap memaksa untuk menemukan Tuhan dengan akalnya, maka pasti Tuhan yang ditemukannya itu palsu. Dalam bahasa lain, barangsiapa merasa mengetahui Tuhan, maka sesungguhnya justru pertanda bahwa ia tidak tahu apa-apa. Kata lbn Arabi dalam sebuah syair: “Barangsiapa mengaku ia tahu Allah bergaul dengan dirinya, dan ia tidak lari (dari pengakuan itu), maka itu tanda ia tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang tahu Allah kecuali Allah sendiri, maka waspadalah, sebab yang sadar di antara kamu tentulah tidak seperti yang alpa …”

Lantas bagaimana manusia mengenal Tuhan? Jawabannya, adalah ketika Tuhan sendiri yang memperkenalkan diriNya kepada manusia. Di sinilah kita akan memahami fungsi malaikat, wahyu, dan rasul. Pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan: siapa Dia; apa mauNya; bagaimana cipatanNya; apa yang diperbolehkannya; atau apa yang dilarangnya; hanya dapat dicari jawabannya lewat informasi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Inilah yang dimaksud dengan (fungsi) wahyu; yang wahyu itu disampaikan oleh Tuhan melalui malaikat (Jibril) kepada rasul untuk kemudian diteruskan kepada segenap manusia. Tentang siapa Dia, misalnya, Tuhan telah memberikan informasi dalam AI Qur’an: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Thaha/20:24); “Katakanlah; Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada suatupun yang setara dengan Dia” (AI Ikhlash/112:1-4). “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinnya? Allah mengatahui apa­-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (AI Baqarah/2:255).

Jadi, pengetahuan manusia tentang Tuhan hanyalah sebatas pada perkenalan Tuhan yang diinformasikan melalui wahyuNya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Karena wahyu adalah jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhannya, maka otentisitas wahyu sangat diperlukan. Otentisitas wahyu ini menjadi penting terutama karena banyak sekali informasi yang dianggap sebagai wahyu, sementara antarinformasi itu terjadi kontradiksi. Maka pertanyaannya adalah benarkah suatu wahyu itu benar-­benar datang dari Tuhan, bukan fantasi dan keinginan terselubung manusia atau kiriman setan? Dalam kaitan wahyu ini pula, orsinalitas rasul dan nabi juga menjadi penting. Benarkah seorang itu benar-benar rasul atau nabi, ataukah orang yang mengaku-ngaku sebagai penerima wahyu.

Di sinilah pentingnya dilakukan studi (kritis) tentang ajaran suatu agama. Jadi, iman bukan sekedar warisan nenek moyang!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 46 Tahun ke-4, 9 Juni 2000

Banyak Baca …

Banyak baca, banyak lupa … kwok … kwok. Sedikat baca, sedikit lupa … kwok … kwok. Tidak baca, tidak lupa … kwok … kwok

Kalimat di atas saya cuplik dari iklan layanan masyarakat yang pernah dimuat harian Kompas sekitar tahun 1997, persembahan Ammirati Puris Lintas bekerja sama dengan Kompas dan Reprindo Warna Indah. Pemuatan iklan tersebut dimaksudkan sebagai salah satu upaya kampanye peningkatan minat membaca. Anda kaget! Lbo kok ganjil? Apa tidak salah bunyi iklan itu? Banyak baca kok malah banyak lupa; sedikit baca sedikit lupa; tidak baca tidak lupa! Apa ini tidak kontra-produktif dengan maksud kampanye itu? Ini sih pengembosan minat baca!

Tapi.., ojo kagetan, ojo gumunan. Kalimat di atas sebenarnya adalah milik Si Katak. Dalam ilustrasi iklan tersebut, kalimat itu memang disuarakan oleh Si Katak dalam tempurung; katak yang nihil wawasan, karena malas membaca. “Ngapain susah-susah membaca jlka membaca itu justru membuang-buang enerji: harus mencerna dan mengingat-ingat. Lebih baik tidak membaca. Dengan tidak membaca kan tidak ada yang barns diingat. Jadi aku menjadi satu-satunya makhluk yang tidak pernah lupa. Tapi wawasanku sudah seluas angkasa … kwok … kwok,” begitulah kira-kira argumentasi-kerdilnya. Ternyata Si Katak bisa juga lupa (pura-pura lupa?) bahwa angkasa yang dimaksud hanyalah sebatok tempurung. Ya, katak dalam tempurung.

Kita bukan katak. Tapi sebenarnya kita disindir habis-habisan oleh Si Katak dalam iklan itu. Bagaimana tidak? Bagi kita, membaca belum menjadi kebutuhan penting. Indikasinya? Kita masih suka menonton (televisi) dari pada membaca. Berapa jam waktu yang kita luangkan untuk menonton televisi dan berapa jam untuk membaca? Dalam sebuah penelitian, terbukti bahwa rata-rata waktu tonton televisi masyarakat kita sekitar 3 jam sehari. Nah, berapa jam waktu kita untuk membaca? Untuk hal ini kita patut bercermin pada Bung Hatta! Beliau “menganggarkan” waktu 3 jam di malam hari dan 6 jam di siang hari (paska dinas) untuk membaca (dan menulis). Tak heran, saat-saat karyanya dikumpulkan dan diterbitkan kembali, tak kurang dari 6.000 halaman buku berukuran 18 cm x 26 cm dibutuhkan, sehingga harus dicetak secara berangkai dalam 10 jilid (Kompas, 13/12/98).

Mungkin Anda bertanya, bukankah televisi juga menyajikan berita dan informasi? Memang betul, tapi dibanding dengan buku (atau bahan bacaan lainnya), televisi mengandung sejumlah kelemahan. Pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (Catatan Kang Jalal. Bandung: Mizan,1997, h.10-12) memberikan beberapa argumentasi. Pertama, televisi adalah sebuah kegiatan yang orientasinya betul-betul bisnis. Karena itu informasi dalam televisi akan cenderung disajikan dalam bentuk-bentuk yang menarik, tidak terlalu sulit, sederhana, dan mengandung unsur human interest. Oleh karena itu, kedua, TV hanya memberikan informasi sekilas, instant. Karena sekilas, tidak mungkin televisi memberikan presentasi yang mendalam tentang sesuatu hal. Televisi tidak akan memberikan informasi secara mendalam sehingga kita bisa melakukan refleksi.

Disamping itu, menonton adalah kegiatan yang bersifat pasif, cenderung enjoy, dan tidak membangun unsur konseptual. Menonton hampir tidak membutuhkan proses “berfikir”. Menonton hanya mendapatkan hiburan. Berbeda dengan menonton, membaca dapat memantapkan kemampuan pemikiran konseptual yang tercermin dari kegiatan merumuskan kata atau ungkapan yang mewakili gejala dalam kenyataan hidup.

[Mantan] Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsono [kini Menhan] (Republika, 17/8/98) memasukkan membaca sebagai salah satu dari delapan kompetensi dasar, tentu, menonton tidak termasuk di dalamnya, yang patut dimantapkan pada setiap jenjang pendidikan dan kegiatan kebudayaan. Lebih lanjut, kata Juwono, membaca perlu digiatkan untuk “mengimbangi” meluasnya pengaruh media massa dengar pandang (audio visual, semacam televisi).

Indikasi lain? Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara introspektif oleh iklan layanan masyarakat lain, persembahan Komunika Advertising dan Reprindo berikut ini! Bagaimana dengan daftar belanja Anda? Adakah tertulis satu judul buku? Bagaimana akhirnya? Beli, tidak, beli, tidak, beli, ti …, atau tetap menjadi daftar belanja yang akan dibeli. “Bahkan mungkin tidak sama sekali?”

Memang, agak sulit menemukan keluarga yang memang betul-betul menjadikan buku sebagai sesuatu yang wajib belanja seperti kebutuhan lainnya. Jangankan buku, untuk koran saja (yang lebih ngepop) tingkat konsumsi kita masih dibawah standar UNESCO. Data terakhir, sebelum era krisis (yang membuat penerbitan cetak menurunkan [turun] tirasnya atau sebelum era refomasi yang memberikan kemudahan penerbitan media cetak sehingga bermunculan koran-koran baru [juga majalah dan tabloid], tiras koran di Indonesia baru mencapai 4,7 juta untuk 200 juta penduduk. Padahal seharusnya-sesuai dengan standar UNESCO, tiras itu harus mencapai 20 juta ekslempar (10 persen dari jumlah penduduk).

Mengapa bisa begini? Hanya karena soal harga! Ya, sebagian besar alasannya seperti itu, khususnya di era krisis ini. Tapi menurut saya, tidak selamanya benar. Hipotesis saya, karena minat baca masyarakat kita rendah sekali! Buku dan berlangganan koran memang mahal. Tapi berapa pengeluaran Anda untuk hal-hal yang sekunder bahkan tersier, atau bahkan sesuatu yang kontra-produktif. Rokok, misalnya (bagi yang merokok); berapa pengeluaran Anda setiap bulan untuk rokok? Berapa anggaran jajan Anda di luar rumah, di kafe misalnya? Berapa anggaran ibu-ibu untuk belanja pernik-pernik rumah yang, bagi saya, sangat artifisial; guci atau piring antik misalnya? Maka berpulang kepada kita, apakah kita memang berbakat menjadi Si Katak dalam tempurung; yang hanya karena kurang wawasan, melakukan kesalahan komunikasi timbal balik. Apakah kita akan berpikir dan berkomunikasi seperti ini, bahwa: pi + pa = cangklong (ini iklan persembahan Fortune Indonesia yang juga dimuat Kompas) Membacalah demi kelancaran komunikasi timbal balik!

Kita memang harus membaca. Karena sesungguhnya, setiap kata yang kita baca, bermakna lebih dari sekedar kata-kata. Dengan membaca kita tahu lebih banyak dan “melihat” lebih banyak hal. Banyak baca, banyak tawa. Banyak tangis. Banyak senyum. Banyak ketertegunan. Banyak keterpanaan. Membaca membuka mata hati, memperluas wawasan.

Jadi, banyak baca …!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 8, Tahun ke-3, 25 September 1998

Thaghut, Fir’aun, dan Kita?

Di antara jalan yang menjerumuskan manusia menjadi tuhan (palsu) adalah sikap tiranik, yaitu, meminjam Nurcholish Madjid, sikap yang selalu ingin memaksakan kehendak kepada orang lain tanpa memberi peluang kepada orang itu untuk melakukan pertimbangan bebas (dalam bahasa Al Qur’an sikap tiranik disebut thughyan, yang dari kata itu terambil kata thaghut, “si tiran”).

Untuk memahami sikap tiranik ini, Al Qur’an memberikan “teladan”, di antaranya, pada diri Fir’aun Ramses II, yaitu penguasa Mesir kuno yang menjadi salah satu obyek dakwah sekaligus lawan politik Nabi Musa, yang berkuasa sekitar tahun 1304-1237 SM, “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia itu menjalankan tirani” (Thaha/20:24; baca juga ayat 43 dan An Naaziat/79:17).

Adapun (rangkaian) sikap tiranik yang dilakukan Fir’aun adalah, pertama, mengingkari dan mendustakan kebenaran, “(Keadaan mereka) serupa dengan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah… “(AI An’fal/8:52, baca juga ayat S4). “Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu…”(AI Muzammil/ 73:16). Kedua, setelah menolak kebenaran, maka Fir’aun berusaha menciptakan “kebenaran” baru, “… Fir’aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar” (AI Mu’min/40:29). Ketiga, setelah merasa memiliki kebenaran itulah Fir’aun mengagung-agungkan dirinya sendiri, “Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar …” (AI Qashash/28:39). Pengangungan diri Fir’aun bahkan mencapai “maqam” tertinggi ketika dia menolak eksistensi Tuhan sembari mengangkat dirinya sebagai tuhan (AI Qashash/28:38). Keempat, setelah memperoleh legitimasi sebagai pemegang kebenaran dan kekuasaan, maka Fir’aun berlaku sewenang-wenang kepada rakyatnya, “… Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Yunus/10:83).

Di antara kesewenang-wenangan yang dilakukan Fir’uan adalah: 1) memecah belah rakyatnya dengan cara menindas segolongan [dan mengangkat segolongan yang lain]; 2) membunuh generasi laki-laki [potensi lawan atau oposisi politik] sembari membiarkan generasi perempuan hidup (AI Qashash/28:4). Kesewenang-wenangan yang dilakukan Fir’aun itu akhirnya membuat tatanan masyarakat menjadi rusak, “Dan Fir’aun yang memiliki bala tentara; yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri; lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu” (AI Fajr/89:10-12).

Sikap tiranik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Fir’aun, selalu bertentangan dengan sikap beriman kepada Allah, “… barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepadu buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus … ” (AI Baqarah/ 2:256).

Mengapa sikap tiranik selalu bertentangan dengan sikap beriman kepada Allah? Karena dalam sikap tiranik terselip pandangan bahwa diri sendiri pasti benar dan orang lain pasti salah. lnilah yang disebut sebagai pandangan yang memutlakkan diri sendiri. Padahal jika kita telah menyatakan beriman kepada Allah, maka salah satu konsekuensinya ialah pengakuan dan kesadaran, bahwa hanya Allah sajalah pemilik kemutlakan, sedangkan yang lain semuanya relatif. Oleh karena itu, sikap tiranik termasuk salah satu bentuk kemusyrikan.

Nah, dari kisah Fir’aun di atas, kita bisa menarik pelajaran bahwa yang disebut syirik bukan hanya sikap seseorang yang mengagung-agungkan sesuatu dari kalangan sesama makhluk, termasuk sesama manusia (kultus), tetapi syirik juga meliputi sikap mengagungkan diri sendiri kemudian menindas harkat dan martabat sesama manusia, seperti sikap para diktator dan tiran, karena pada dasamya kedua sikap itu adalah bentuk tandingan dan perlawanan terhadap kebenaran dan kekuasaan Allah yang Mutlak.

Absolutisme Pendapat

Ketika kita menyadari bahwa Allah sajalah pemilik kemutlakan sedangkan yang lain serba relatif, maka dengan sendirinya kita, sebagai yang relatif, tidak akan mampu menjangkau wujud dan hakekat Allah yang Mutlak. Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Pikirkanlah olehmu alam ciptaan-Nya dan jangan memikirkan Wujud Maha Pencipta, karena kamu tidak akan mampu memikirkan-Nya”.

Berpikir dan memahami tidak lain ialah membuat asosiasi dalam otak seseorang antara sesuatu yang belum diketahui serta yang ingin dipahami di satu pihak, dengan sesuatu yang telah diketahui serta yang ingin dipahami dalam simpanan ingatan atau pengertiannya, di pihak lain. Sedangkan apa yang kita ingat atau simpan dalam pengertian kita itu tidak lain ialah hasil penumpukan pengalaman dan pemahaman kita sebelumnya. Kita memahami sesuatu jika sesuatu itu analog, semisal atau sebanding dengan sesuatu yang sudah ada dalam simpanan pengertian kita (Pintu Pintu Menuju Tuhan, 1996:126).

Karena Allah mutlak, tidak analog dan tidak dapat diperbandingkan dengan suatu apa pun (“Tidak ada sesuatu apapun yang semisal dengan Dia” [As Syura/42:11; baca juga AI Ikhlash/112:4]), maka Allah tidak mungkin diketahui atau terjangkau oleh pengertian manusia. Kita mengetahui tentang Allah hanya berkenaan dengan beberapa sifat-Nya yang diberitakan kepada kita oleh para Nabi dan Rasul yang mendapat wahyu dari Allah sendiri.

Dengan kata lain, karena Allah yang Mutlak mustahil terjangkau oleh kita yang relatif, maka Kebenaran Mutlak pun tetap menjadi hak Allah. Artinya, sebagai penyandang sifat relatif, kita tidak bisa mengklaim sebagai orang yang mengetahui Kebenaran Mutlak secara sempurna. Oleh karena itu pemahaman, pandangan, atau tafsir kita tentang Kebenaran Mutlak tetap harus dibingkai sebagai sesuatu yang bisa benar dan juga bisa salah.

Jika kita bersikeras bahwa pemahaman kita terhadap Kebenaran Mutlak sebagai satu-satunya kebenaran dan pemahaman yang lain salah, maka pada dasarnya kita telah menjerumuskan diri kita kepada absolutisme pendapat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk lain dari sikap tiranik. Beriman kepada Allah berarti memandang diri sendiri sama dengan yang lain, dengan potensi yang sama untuk benar dan untuk salah. Maka iman membuat orang menjadi rendah hati (tawadhu’), tulus untuk menerima kebenaran orang lain dan mengakui kesalahan diri sendiri, bersedia melakukan musyawarah. Itulah modal awal untuk terhindar dari sikap tiran, diktator, totaliter, dan sebangsanya. Wallahu a’lam!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, tahun 2000