Satu Tuhan Satu Agama

Dalam forum Dialog antariman di Hotel Sahid Jaya, Alwi Shihab mengatakan bahwa banyaknya agama di dunia ini merupakan kehendak Allah semata, seperti tersirat dalam surat Al Hajj/22:40: “… kalau tidak karena perlindungan Allah kepada manusia antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain, niscaya sudah diruntuhkan biara-biara, gereja-gereja, sinagog-­sinagog, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah …”. Tujuan penciptaan agama yang beragam itu, kata Alwi seraya mengutip surat Al Maidah/5:48 [Jika Allah mengendaki maka akan menjadikan umat ini satu ….] agar manusia bebas berlomba-lomba dalam kebaikan sesuai ajaran dan jalan terang (syirat atau manhaj) yang mereka pegang, dan dari situlah Allah bisa mencatat siapa saja manusia terbaik di atas dunia ini (Tekad, 8-14 Nopember 1999).

Pernyataan Alwi Shihab tersebut, tentu saja aneh. Pertama, jika benar semua agama itu ciptaan Tuhan, mengapa ajaran-ajaran agama itu berbeda bahkan bertentangan. Misalnya, ajaran Katolik melarang keras perceraian sementara Islam membolehkannya. Ada konsep kasta-kasta di Hindu, sementara Islam mengajarkan kesederajatan. Lebih aneh lagi ketika Tuhan berbicara tentang dirinya pada berbagai agama yang diciptakannya itu dalam wujud yang berbeda-beda. Pada Hindu Tuhan berwajah Trimurti, pada Kristen Trinitas, dan pada Islam Tuhan itu Ahad. Betapa Tuhan sangat hipokrit! Tuhan punya banyak muka?

Kedua, bukankah secara akademis, telah disepakati adanya dua penggolongan agama, yaitu agama samawi (langit), agama yang diturunkan Tuhan, dan agama tabiy (ardhi/bumi), agama ciptaan manusia (budaya). Dalam kategori ini, Yahudi, Nasrani, dan Islam masuk kelompok agama langit, sedangkan selebihnya Hindu, Budha, Konghucu, dan sebagainya adalah agama bumi. Jadi jelaslah bahwa tidak semua agama berasal dari Tuhan.

Jika yang dimaksud agama-agama oleh Alwi Shihab, adalah tiga agama langit di atas, tentu perlu penjelasan yang utuh. Bukankah dua diantara agama-agama itu telah mengalami perubahan radikal lewat proses campur tangan manusia. Jika demikian masihkah dapat dikatakan sebagai agama ciptaan Tuhan? Di sinilah letak keanehan pendapat yang mengatakan bahwa agama-agama yang ada di dunia ini semua berasal dari Tuhan. Lantas bagaimana sebenarnya? Yang logis adalah Tuhan Esa hanya menurunkan satu agama. Dan agama itu adalah agama yang mengajarkan tauhid.

Dan 25 Rasul yang diutus Allah, tidak ada satu pun yang mengajarkan konsep ketuhanan selain konsep tauhid. Ini dapat kita lihat misalnya dari seruan mereka: “Hai kaumku, mengabdilah kalian hanya kepada Allah, (sebab) tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia!” [Nuh: Al A’raf/7:59; Hud: Al A’raf/7: 66, Hud/11:50; Shaleh: Al A’raf/7:73, Hud/11:61; Syu’aib: Al A’raf: 65, Hud/11:841. Seruan seeupa juga dilakukan Isa (Ali Imran/3:50-51).

Ajaran para rasul yang hanya menuhankan Allah itu, di kesempatan lain disebut sebagai ajaran Islam. Maka berkali-kali Allah menegaskan bahwa para rasul itu adalah seorang muslim [Ibrahlm (Ali Imran/3:67, AI An’am/6:121-123), Ismail, Ishaq, Ya’kub (A1 Baqarah/2:130-135), Isa dan pengikut setianya (Ali Imran/3:52, A1 Maidah/5:111)].

Dengan demikian menjadi jelas bahwa dari zaman ke zaman Allah hanya menurunkan satu agama, yaitu agama tauhid. Agama tauhid itu memiliki ciri utama ketundukan dan kepasrahan hanya kepada Allah, Tuhan Esa. Oleh karena itu agama itu disebut Islam (dari kata aslama, menyerahkan diri).

Agama tauhid ini secara estafet diturunkan dari satu rasul ke rasul lainnya; ditutup dan disempurnakan saat kerasulan Nabi Muhammad saw (Al Ahzab/33:4G). Jika pada kerasulan sebelum Muhammad saw, agama ini bersifat lokal (misalnya Hud bagi kaum Ad, Shaleh bagi kaum Samud, Luth untuk kaum Madyan, Musa untuk bani Israel [Bani Israel/17:2]), karena itu mungkin sekali punya nama lokal, misalnya Nasrani [berasal dari kata Nazareth, nama tempat asal kelahiran Isa], maka setelah kerasulan Muhammad saw, agama Islam bersifat universal (An Saba’/34:28) dan bahkan rahmatanlilalamin (Al Anbiya’/21:107).

Diantara masa-masa itu, agama tauhid (Islam) pernah diselewengkan oleh umatnya, diantaranya di era Yahudi (Al Maidah/5:41, An Nisa/4:46) dan Nasrani. Penyelewengan terberat adalah perubahan konsep ketuhanan monoteisme menjadi politeisme. Atas penyelewengan ini, Al Qur’an memberikan koreksi; misalnya surat AI Maidah/5: 72-75 adalah bantahan terhadap ajaran Trinitas. Jadi sebenarnya telah tamatlah Islam era Yahudi atau Nasrani setelah diutusnya Muhammad saw.

Jadi, memang Yahudi, Nasrani, dan Islam sebenarnya adalah agama-agama Allah. Tapi tiga itu bukan tiga melainkan satu yakni keseluruhan ajaran tauhid yang secara estafet dibawa rasul-rasul. Dan ingat, bukan Yahudi atau Nasrani yang sekarang.

Meskipun Allah menurunkan Islam sebagai satu-satunya agama, tetapi Allah tidak “ngotot” agar seluruh manusia memeluk Islam (AI Baqarah/’2:256), sekalipun dengan kekuasaan mutlaknya, Allah mampu melakukan itu (Al Maidah/5:48). Ternyata Allah justru memberi kebebasan kepada manusia untuk berkreasi “menciptakan” agama, bahkan Tuhan, baru [apakah ini yang disebut kehendak Allah oleh Alwi Shihab; memang secara hakiki semua yang terjadi, termasuk perbuatan manusia, adalah kehendak Allah; jadi Allah juga berkuasa berkehendak untuk melindungi tempat ibadah agama-agama]. Agama-agama ciptaan manusia itu diberi hak hidup, dan pemeluknya juga bebas menjalankan segala ritualnya. Hanya saja agama Allah tidak boleh disamarkan atau dicampur-adukkan dengan agama ciptaan manusia. Itulah pesan penting surat Al Kafirun/109:1-6.

Islam, dengan demikian, menghargai sepenuhnya keberadaan agama-agama lain sekaligus siap “berkompetisi” secara fair untuk membuktikan mana yang terbaik. Persoalannya, adakah yang lebih baik dari ciptaan Allah.

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif No. 28 Tahun ke-3, 12 Pebruari 1999

Islam dan Pluralitas Agama

Melalui AI Qur’an kita tahu bahwa Islam adalah (agama) kebenaran dari Tuhan (AI Baqarah/2:147); Islam adalah satu­-satunya agama yang diridai Tuhan (Ali Imran/3:19); Islam adalah agama lurus, petunjuk jalan hidup manusia (AI An’am/6:153).

 

Meskipun begitu Tuhan masih memberi hak bagi orang lain untuk tidak beriman (dalam Islam): “Dan jikalau Tuhanmu mengendaki, tenlulah beriman semua arang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya” (Yunus/10:99). Dan karena itu pula Islam hadir bukan untuk menghancurkan agama lain. Islam bahkan secara penuh menjamin kemerdekaan beragama: “Tidak ada paksaan (memasuki) agama (Islam)” (AI Baqarah/2:256) “Untukmu agamamu dan unlukku agamaku” (Al Kafirun/109:6).

 

Pesan-pesan penting AI Qur’an di alas sekaligus menunjukkan betapa Islam sangat menghargai pluralitas agama. Ajaran pluralitas Islam itu bisa disarikan sebagai berikut: (1) agama Islam adalah ajaran kebenaran (2) selain agama Islam, ada agama lain yang perlu dihormati (3) masing-masing pemeluk agama harus tetap memegang teguh ajarannya.

Ketiga ajaran pluralitas di atas, tentu saja, tidak menghendaki sikap-perilaku yang saling kontradilaif. Di antara sikap-perilaku kontradiktif yang sering terjadi adalah: (1) sikap yang menganggap semua agama sama, dalam pengertian sama­-sama bernilai benar di sisi Allah (2) memaksa pemeluk lain berpindah agama (3) menghancurkan agama lain, termasuk membunuh pemeluknya atau membakar tempat ibadahnya (4) bertukar ajaran agama layaknya bergonta-ganti baju (karena menganggap semua baju baik = semua agama sama/benar), termasuk diantaranya mengikuti ritual agama lain.

##

Dengan memahami ajaran pluralitus agama di atas maka akan terlihat bahwa fenomena-fenomena berikut ini tidaklah patut dilakukan: pertama, proyek kristenisasi yang dilakukan oleh agama Kristen terhadap pemeluk agama Islam. Fenomena ini, dalam kaitannya dalam pluralitas agama, menunjukan dua hal: (1) tidak adanya kesadaran dari elit proyek kristenisasi untuk tidak memaksa pemeluk Islam berpindah agama Kristen. Proyek kristenisasi ini terkategori memaksa karena perpindahan agama di situ bukan didasarkan pada pencarian kebenaran secara obyektif, malainkan hanya karena paksaan (iming-iming) kesejahteraan ekonomi (2) masih banyaknya pemeluk Islam yang tidak mampu berpegang teguh pada kebenaran ajaran islam, sehingga secara mudah dipaksa berpindah agama.

Kedua, masih banyaknya pejabat Muslim, dengan dalih toleransi, yang mengikuti ritual (perayaan) Natal atau adanya beberapa tokoh Muslim yang pergi ke gereja, menunjukkan bahwa mereka tidak konsisten untuk berpegang teguh terhadap ajaran agamanya sebagaimana yang dikonsepkan oleh pluralitas agama, sebab dalam fenomena tersebut ada indikasi terjadi saling tukar-menukar ibadah ritual.

 

Ketiga, upaya sistematis pemusnahan penduduk Muslim dari Maluku (Utara) yang dilakukan penduduk Kristen lewat teror, pengusiran, pembumihangusan, dan pembunuhan massal, di samping sebagai pelanggaran HAM, juga, dalam kaitan kajian ini, adalah tindakan yang sangat tidak mengindahkan sama sekali kaidah pluralitas agama yakni keharusan menerima kenyataan bahwa selain dihuni oleh penduduk yang beragama Kristen, kepulauan Maluku (Utara) juga didiami oleh penduduk Muslim), yang patut dihormati.

Dengan alasan yang sama, pembakaran gereja di Mataram atau di Yogyakarta juga tidak bisa tidak dibenarkan, sebab dengan pembakaran itu, terkandung unsur tiduk diindahkannya kaidah pluralitas agama yang berbunyi: “selain Islam, ada agama lain yang perlu dihormati”.

###

Jika kaidah-kaidah pluralitas agama seperti di atas, satu saja dilanggar oleh salah satu pemeluk agama, dan pelanggaran itu mengganggu kehormatan (pemeluk) agama lain, tentu akan terjadi disharmonisasi kehidupan bersama, bahkan sampai bentuk yang terberat sekalipun, konflik atau perang. Pelanggaran dan akibat pelanggaran terhadap kaidah pluralitas agama itu akan mengikuti hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat.

Pemaksaan kepada pemeluk agama Islam untuk berpindah ke agama Kristen lewat proyek Kristenisasi akan menimbulkan tindakan pelanggaran lain terhadap kaidah pluralitas agama, misalnya pembakaran gereja yang dianggap menjadi pusat (perencanaan) Kristenisasi. Kasus pembakaran kompleks Dolulos mungkin bisa dijelaskan dengan hukum aksi-reaksi ini. Pembakaran gereja di Mataram dan Yogyalarta, dalam konteks ini pun, tidak akan terjadi jika tidak ada upaya sistematis pemusnahan umat Islam di Maluku (Utara).

Demikianlah seterusnya yang terjadi jika terjadi pelanggaran terhadap kaidah pluralitas agama. Setiap ada pelanggaran akan memunculkan pelanggaran baru. Logiskah?

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif N0. 27 Tahun ke-4, 5 Pebruari 2000

Agama Sumber Konflik?

Rasasanya, tidak ada yang bisa membedung agresifitas (pemeluk) agama-agama. Berbagai kerusuhan yang silih berganti (Ketapang, Kupang, dan Ambon [juga Poso]), menunjukkan akan hal itu. Meskipun diduga kuat bahwa pertentangan antar­pemeluk agama (Islam-Kristen) itu hanyalah, meminjam Koordinator Badan Pekerja Kontras Munir (Adil, 3-9 Pebruari 1999)­ wilayah tempur bagi pertarungan para elit politik di Jakarta, tetapi sesungguhnya secara empirik harus kita akui bahwa agama memiliki peran dominan di dalamnya.

Jika kita berkenan melongok sejarah dan melihat konflik antar­agama di wilayah negara lain, maka akan kita dapati kenyataan yang sama. Sejarah Perang Salib adalah potret pertentangan panjang antar-pemeluk agama (Islam-Kristen). Juga Perang Bosnia (Katolik-­Islam); Pertentangan Panjang Palestian-Israel (Islam-Yahudi); Irlandia (Katolik-Protestan); India (Hindu-Islam); Srilangka (Hindu-Budha); Burma (Budha-Islam), Sudan (Islam-Kristen); dan sebagainya adalah daftar panjang tentang konflik yang sangat kental nuansa agamanya.

Tidak salah jika dikatakan bahwa unsur-unsur lain (politik kekuasaan atau kriminal) dalam konflik antar-agama, hanyalah sekedar pemicu; sentimen agama-lah yang sesungguhnya berbicara.

Kita lihat, mengapa konflik kecil yang melibatkan Yoppy dengan Usman, dan kemudian, pemuda Batumerah dengan pemuda Mardika-menjadi besar? Tidak lain karena Yoppy, juga pemuda Mardika, beragama Kristen sedangkan Usman beragama Islam­ juga pemuda Batumerah (kronologi Tregedi Ambon silahkan baca Abadi 8 Januari – 3 Pebruari 1999, juga Tekad 1-7 Pebruari 1999). Provokator atau apalah namanya, tidak akan mampu membesarkan kasus kecil itu, jika Yoppy bertengkar, misalnya, dengan Johanes yang sama-sama Kristen.

Provokator baru bisa menciptakan kerusuhan besar karena kecerdikannya memainkan sentimen agama, dengan berbagai isu yang menyangkut kehormatan agama (gereja dibakar, misalnya). Ketika itulah agresifitas pemeluk agama menemui puncaknya. Seperti yang dialami pemuda Ambon, 1 Syawal 1419 H yang lalu: “Jawa, Bugis, Makasar, dan Buton biadab! Hablsi orang lslam!” Mereka lalu meluluh-lantahkan segala sesuatu yang dianggap (milik) orang Islam: nyawa, rumah (isinya), pertokoan, kendaraan termasuk becak, masjid dan fasilitas pendidikan (mereka tidak membakar, setidak-tidaknya mecoba membakar, pertokoan yang pemiliknya orang Cina).

Lantas dengan demikian apakah para pemeluk agama yang salah dalam menafsirkan ajaran agama sehingga membangkitkan semangat konflik? Ataukah malah agama itu yang justru mengajarkan konflik?

Secara normatif agama-agama menyatakan bahwa ajarannya tidak mengandung unsur konflik. Seruannya adalah damai dan sejahtera. Konflik baru “halal” jika keadaan terpaksa yaitu saat menghadapi tekanan dan perlawanan musuh.

Atas dasar itu, maka tidak banyak yang berani mengangkat (ajaran) agama sebagai faktor pemicu konflik. Tuduhan kemudian dialihkan kepada varian-varian lain di luar agama, misalnya (kepentingan) politik, (kesenjangan) ekonomi, (pertentangan) suku­-ras, dan sebaginya. Jika toh masih dikaitkan dengan agama biasanya hanya sebatas pada pemeluknya (biasanya tuduhan berbunyi: kekerdilan pemeluk dalam memahami ajaran agama).

Tetapi, sekali lagi, secara empirik kita selalu diperlihatkan bahwa banyak konflik yang mengandung sentimen agama, apapun alasannya, menyerang atau mempertahankan diri dari serangan. Oleh karena itu, secara jujur harus kita akui bahwa agama adalah salah satu sumber konflik sebagaimana juga paham hidup yang lain; apakah itu komunisme, kapitalisme, atau nasionalisme (negara bangsa). Tidak ada paham atau ajaran, bahkan komunitas, yang steril dari unsur konflik. Kita lihat konflik di era Perang Dingin; bukankah itu representasi dari konflik komunisme (atau sosialisme) dengan kapitalisme? Jauh sebelumnya, kapitalisme (imperialisme) telah menancapkan kaki-kaki konfliknya di berbagai belahan dunia. Kita tengok pula konflik Irak-Iran; bukankah itu adalah cermin konflik nasionalisme? Demikian juga konfrontasi tempo dulu antara Indonesia dengan Malaysia; bukankah ini konflik antar-(negara bangsa) Indonesia dengan (negara bangsa) Malaysia?

Jadi tidak ada jika kemudian kita menolak adanya unsur konflik dari agama. Sama tidak adilnya dengan menutup realitas bahwa di luar agama masih banyak sumber konflik. Yang kemudian menjadi pertanyaan besar adalah, mengapa agama yang selama ini selalu diidentikan dengan kedamaian dan kesejahteraan juga (harus) memilki wajah konflik? Tidak mudah menjawabnya. Tetapi beberapa pertanyaan berikut perlu mendapat perenungan mendalam! Pertama, benarkah Tuhan menurunkan banyak agama (dan semuanya benar)? Kedua, tidakkah realistis dan logis bahwa Tuhan itu hanya menurunkan satu agama sebagai pembawa kebenarannya? Ketiga, dibenarkan tidak pemeluk sebuah agama (yang benar tadi) menghancurkan pemeluk agama lain (yang salah)? Keempat bolehkah pemeluk sebuah agama (yang benar tadi) membela agamanya dari segala gangguan?

Tentu, pertanyaan-pertanyaan di atas, sulit dijawab jika kita tidak mengkaji agama-agama secara benar; dalam arti melalui pencarian yang didasari oleh objektivitas, bukan lewat pemahaman doktriner yang turun-temurun. Sementara jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting bagi eliminasi kontlik yang bersumber dari agama.

Adalah tugas kita, bagaimana agar potensi konflik dalam agama itu tidak sempat benar-benar menjadi konflik! Perlu dikembangkan sikap toleransi yang benar. Misalnya kita punya konsep toleransi seperti ini: “Boleh kamu hidup dengan agama kamu (yang salah itu) dan biarkan kami hidup dengan agama kami (yang benar ini) [QS AI Kaafirun]. Jika itu kamu langgar, maka kami siap berkonflik dengan kamu. Dan itu adalah bagian dari kebenaran. Sedangkan kebenaran lebih tinggi nilainya dari kedamaian.”

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif N0. 27 Tahun ke-3, 5 Pebruari 1999