Anti-Tuhan (Palsu)

Meskipun secara empiris orang atheis tidak bisa dilepaskan dari proses dan praktik pemberhalaan tuhan-tuhan palsu (misalnya dalam bentuk ajaran atau pemimpin), tetapi dalam tataran deklarasi mereka tetap tidak mengakui keberadaan Tuhan. Landasan penolakan itu, setidaknya, bisa dibaca dari jalan pikiran materialisme yang menjadi pijakannya. Salah satu jalan pikiran yang bisa ditangkap itu misalnya bahwa sesuatu yang di luar materi itu tidak ada; karena Tuhan itu bukan materi dan secara empiris tidak bisa dibuktikan keberadaannya, maka Tuhan itu tidak ada.

Pandangan seperti ini, tentu, tidak bisa pertanggungjawabkan. Ada banyak argumentasi yang bisa mematahkannya. Pertama, tidak semua yang bukan materi tidak ada. Elektron misalnya, secara material tidak dapat dipahami, namun, melalui berbagai efeknya, elektron bisa diketahui secara lebih sempurna dari pada sepotong kayu.

Kedua, tidak logis jika Tuhan itu harus berupa materi, sebab materi itu sendiri adalah ciptaannya. Jika Tuhan harus berupa materi atau harus bisa dibuktikan secara materiil-empiris, maka “status” ketuhanannya patut dipertanyakan; Tuhan kok sama dengan ciptaannya?

Ketiga, sebagai wujud ciptaannya, manusia memiliki sejumlah keterbatasan, yang secara kategoris harus berbeda dengan penciptanya. Dalam keterbatasan-keterbutasan itulah manusia “terhijab” untuk bisa melihat “sosok” Tuhan. Jadi, Tuhan itu tidak bisa dibuktikan secara empiris bukan karena Tuhan itu tidak ada, melainkan karena manusia memiliki dunia yang berbeda dengan dunia Tuhan. Atau dengan kata lain, keterbatasan-keterbatasan manusia-lah yang menyebabkan dia tidak mampu menjangkau Tuhan yang serba tak terbatas.

Tentu saja, kesalahan cara pandang tentang Tuhan tidak saja terjadi seperti yang terlihat dari cara pandang materialisme (orang atheis) seperti di atas, melainkan juga dapat terjadi pada ajaran atau orang lain. Kesalahan ilu terutama terjadi jika Tuhan ditempatkan dalam dimensi manusia (atau alam) yang serba terbatas, nisbi, atau relatif. Masuk dalam kategori ini adalah jika kita memiliki gambaran tentang Tuhan, yang kemudian kita anggap sebagai hakikat Tuhan itu sendiri.

Tuhan tidak mungkin bisa dibandingkan dengan apapun; demikian juga, Tuhan tidak dapat diasosiasikan dengan apapun sebab Tuhan adalah Wujud Mutlak yang mengatasi dan jauh berbeda dengan persepsi manusia. Sementara pada dasarnya pembandingan dan pengasosiasian itu selalu didasarkan pada pengalaman keseharian manusia, sesuatu yang pernah dilihat atau didengarnya. Padahal sesuatu yang pernah dilihat dan didengar manusia tidak akan pernah keluar dari dimensi manusia, yang serba nisbi. Jadi, tidak mungkin Tuhan dibandingkan atau digambarkan dengan perbandingan atau gambaran yang serba terbatas.

Dengan demikian, setiap usaha penggambaran Tuhan akan selalu berakhir sia-sia karena pasti mengalami kegagalan dan kesalahan. Dan jika tetap dipaksakan, maka yang akan diketemukan adalah Tuhan palsu, berhala.

Pemaksanaan “penggambaran” Tuhan, baik dalam bentuk visual, atau sekedar khayal, inilah yang melahirkan persepsi tentang Tuhan yang berbeda-beda, yang melahirkan tuhan-tuhan (palsu); dan kemudian (atau malah didahului) oleh kelahiran agama-agama (palsu). Ada ajaran yang memahamkan Tuhan begitu rupa sehingga penyembahan kepadanya berada dalam nalar kemustahilan. Ini bisa kita lihat misalnya, pada konsep mitologi alam. Alam, atau bagian alam, yang secara “desain” Tuhan diletakkan setingkat di bawah posisi manusia, justru diangkat oleh manusia pada derajat yang lebih tinggi, sebagai tuhan. Maka muncullah Dewa Surya (tuhan matahari), Dewa Agni (tuhan api), Dewa Ganesha, atau Dewa Airlangga. Lucunya, banyak diantaranya yang kemudian divisualisasikan dalam bentuk pantung, dan kemudian disembah-sembah. Inilah yang pada hakekatnya disebut berhala.

Meminjam Nurcholish Madjid, setiap berhala adalah buatan diri kita sendiri yang menguasai dan membelenggu kebebasan asasi manusia sebagai makhluk tertinggi. Maka penyembahan berhala adalah jenis alineasi, yaitu situasi ketika orang tidak lagi dapat menguasai buatannya tangannya sendiri, atau ditundukkan eleh perbuatannya sendiri.

Konsep tentang Tuhan yang “hanya” mengikuti imajinasi kita sendiri adalah juga berhala, karena imajinasi atau khayal itupun adalah buatan kita sendiri, sesuai dengan keinginan kita sendiri. Inilah yang dimaksudkan dalam Al Qur’an bahwa diantara manusia ada yang mengangkat keinginannya sendiri, pandangan subjektifnya sendiri sebagai Tuhannya (AI Furqan/25:43). Di antara sikap keseharian dari orang yang mengangkat keinginanya sebagai Tuhan ialah pemenuhan segala keinginan bendawinya jauh di atas pemenuhan terhadap keinginan Tuhan; atau bahkan sikap-sikap pemutlakan pendapat sendiri dan anggapan bahwa diri sendiri adalah yang paling benar adalah bentuk pengangkatan keinginan sendiri sebagai Tuhan.

Oleh karena itu para nabi dan rasul diutus untuk membebaskan manusia dari segala berhala yang dapat membelenggunya, sembari menetapkan Allah sebagai Tuhan bagi kehidupannya. Laa ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah).

Jadi, anti-Tuhan palsu. Wallahu alam!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 39 Tahun ke-4, 21 April 2000

Iklan