Thaghut, Fir’aun, dan Kita?

Di antara jalan yang menjerumuskan manusia menjadi tuhan (palsu) adalah sikap tiranik, yaitu, meminjam Nurcholish Madjid, sikap yang selalu ingin memaksakan kehendak kepada orang lain tanpa memberi peluang kepada orang itu untuk melakukan pertimbangan bebas (dalam bahasa Al Qur’an sikap tiranik disebut thughyan, yang dari kata itu terambil kata thaghut, “si tiran”).

Untuk memahami sikap tiranik ini, Al Qur’an memberikan “teladan”, di antaranya, pada diri Fir’aun Ramses II, yaitu penguasa Mesir kuno yang menjadi salah satu obyek dakwah sekaligus lawan politik Nabi Musa, yang berkuasa sekitar tahun 1304-1237 SM, “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia itu menjalankan tirani” (Thaha/20:24; baca juga ayat 43 dan An Naaziat/79:17).

Adapun (rangkaian) sikap tiranik yang dilakukan Fir’aun adalah, pertama, mengingkari dan mendustakan kebenaran, “(Keadaan mereka) serupa dengan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah… “(AI An’fal/8:52, baca juga ayat S4). “Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu…”(AI Muzammil/ 73:16). Kedua, setelah menolak kebenaran, maka Fir’aun berusaha menciptakan “kebenaran” baru, “… Fir’aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar” (AI Mu’min/40:29). Ketiga, setelah merasa memiliki kebenaran itulah Fir’aun mengagung-agungkan dirinya sendiri, “Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar …” (AI Qashash/28:39). Pengangungan diri Fir’aun bahkan mencapai “maqam” tertinggi ketika dia menolak eksistensi Tuhan sembari mengangkat dirinya sebagai tuhan (AI Qashash/28:38). Keempat, setelah memperoleh legitimasi sebagai pemegang kebenaran dan kekuasaan, maka Fir’aun berlaku sewenang-wenang kepada rakyatnya, “… Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Yunus/10:83).

Di antara kesewenang-wenangan yang dilakukan Fir’uan adalah: 1) memecah belah rakyatnya dengan cara menindas segolongan [dan mengangkat segolongan yang lain]; 2) membunuh generasi laki-laki [potensi lawan atau oposisi politik] sembari membiarkan generasi perempuan hidup (AI Qashash/28:4). Kesewenang-wenangan yang dilakukan Fir’aun itu akhirnya membuat tatanan masyarakat menjadi rusak, “Dan Fir’aun yang memiliki bala tentara; yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri; lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu” (AI Fajr/89:10-12).

Sikap tiranik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Fir’aun, selalu bertentangan dengan sikap beriman kepada Allah, “… barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepadu buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus … ” (AI Baqarah/ 2:256).

Mengapa sikap tiranik selalu bertentangan dengan sikap beriman kepada Allah? Karena dalam sikap tiranik terselip pandangan bahwa diri sendiri pasti benar dan orang lain pasti salah. lnilah yang disebut sebagai pandangan yang memutlakkan diri sendiri. Padahal jika kita telah menyatakan beriman kepada Allah, maka salah satu konsekuensinya ialah pengakuan dan kesadaran, bahwa hanya Allah sajalah pemilik kemutlakan, sedangkan yang lain semuanya relatif. Oleh karena itu, sikap tiranik termasuk salah satu bentuk kemusyrikan.

Nah, dari kisah Fir’aun di atas, kita bisa menarik pelajaran bahwa yang disebut syirik bukan hanya sikap seseorang yang mengagung-agungkan sesuatu dari kalangan sesama makhluk, termasuk sesama manusia (kultus), tetapi syirik juga meliputi sikap mengagungkan diri sendiri kemudian menindas harkat dan martabat sesama manusia, seperti sikap para diktator dan tiran, karena pada dasamya kedua sikap itu adalah bentuk tandingan dan perlawanan terhadap kebenaran dan kekuasaan Allah yang Mutlak.

Absolutisme Pendapat

Ketika kita menyadari bahwa Allah sajalah pemilik kemutlakan sedangkan yang lain serba relatif, maka dengan sendirinya kita, sebagai yang relatif, tidak akan mampu menjangkau wujud dan hakekat Allah yang Mutlak. Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Pikirkanlah olehmu alam ciptaan-Nya dan jangan memikirkan Wujud Maha Pencipta, karena kamu tidak akan mampu memikirkan-Nya”.

Berpikir dan memahami tidak lain ialah membuat asosiasi dalam otak seseorang antara sesuatu yang belum diketahui serta yang ingin dipahami di satu pihak, dengan sesuatu yang telah diketahui serta yang ingin dipahami dalam simpanan ingatan atau pengertiannya, di pihak lain. Sedangkan apa yang kita ingat atau simpan dalam pengertian kita itu tidak lain ialah hasil penumpukan pengalaman dan pemahaman kita sebelumnya. Kita memahami sesuatu jika sesuatu itu analog, semisal atau sebanding dengan sesuatu yang sudah ada dalam simpanan pengertian kita (Pintu Pintu Menuju Tuhan, 1996:126).

Karena Allah mutlak, tidak analog dan tidak dapat diperbandingkan dengan suatu apa pun (“Tidak ada sesuatu apapun yang semisal dengan Dia” [As Syura/42:11; baca juga AI Ikhlash/112:4]), maka Allah tidak mungkin diketahui atau terjangkau oleh pengertian manusia. Kita mengetahui tentang Allah hanya berkenaan dengan beberapa sifat-Nya yang diberitakan kepada kita oleh para Nabi dan Rasul yang mendapat wahyu dari Allah sendiri.

Dengan kata lain, karena Allah yang Mutlak mustahil terjangkau oleh kita yang relatif, maka Kebenaran Mutlak pun tetap menjadi hak Allah. Artinya, sebagai penyandang sifat relatif, kita tidak bisa mengklaim sebagai orang yang mengetahui Kebenaran Mutlak secara sempurna. Oleh karena itu pemahaman, pandangan, atau tafsir kita tentang Kebenaran Mutlak tetap harus dibingkai sebagai sesuatu yang bisa benar dan juga bisa salah.

Jika kita bersikeras bahwa pemahaman kita terhadap Kebenaran Mutlak sebagai satu-satunya kebenaran dan pemahaman yang lain salah, maka pada dasarnya kita telah menjerumuskan diri kita kepada absolutisme pendapat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk lain dari sikap tiranik. Beriman kepada Allah berarti memandang diri sendiri sama dengan yang lain, dengan potensi yang sama untuk benar dan untuk salah. Maka iman membuat orang menjadi rendah hati (tawadhu’), tulus untuk menerima kebenaran orang lain dan mengakui kesalahan diri sendiri, bersedia melakukan musyawarah. Itulah modal awal untuk terhindar dari sikap tiran, diktator, totaliter, dan sebangsanya. Wallahu a’lam!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, tahun 2000

Kultus Menjelma Tuhan

Salah satu implementasi ajaran tauhid adalah adanya pandangan yang menempatkan posisi manusia pada posisi kemanusiaannya. Manusia tidak dihargai lebih rendah atau lebih tinggi dari nilai kemanusiaannya. Manusia adalah manusia. Dia bukan hewan bukan pula malaikat, apalagi tuhan.

Tetapi dalam kenyataannya, terjadi banyak penyimpangan atas pandangan proporsional tentang manusia seperti dijelaskan di atas. Salah satunya adalah terjadinya kultus individu.

Kultus individu pada dasarnya adalah bentuk mitologi terhadap manusia. Dalam mitologi, manusia diangkat (tepatnya dilempar) dari dimensi kemanusiaannya. Jika pandangan tauhid mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak terhindarkan dari kesalahan, maka mitologi mengangkatnya sebagai manusia suci, yang tak tersentuh oleh dosa. Segala ucapannya, senaif apa pun, dipandang sebagai kebenaran dan setiap langkahnya, sekonyol apa pun, adalah jejak petunjuk yang menyelamatkan.

Orang lantas memuja-mujanya. Maka, siapa yang menegur, mengoreksi, dan mengritiknya akan dianggap sebagai penghujat kebenaran dan, karena itu, harus dilawan. Inilah yang disebut sebagai kultus individu.

Islam, tentu saja, menolak segala bentuk pengkultusan terhadap manusia. Ada tiga alasan mengapa kultus barus ditolak. Pertama, kultus pada dasarnya merupakan bentuk penuhanan. Sementara yang berhak menjadi Tuhan dan dipertuhankan hanyalah Allah (Thaha/20:14).

Memang tidak semua bentuk kultus membutuhkan prosesi ritual sebagaimana orang menyembah Tuhan. Tetapi karakter­-karakter yang melekat pada setiap bentuk pengkultusan pada dasarnya, disadari atau tidak, adalah cermin dari prosesi penuhanan. Bayangkan jika seseorang dianggap tidak berdosa; segala ucapan dan perintahnya dianggap benar dan orang lain tidak berhak mengkritiknya, maka, mau tidak mau, sengaja atau tidak, orang itu akan menjadi sentral kehidupan manusia untuk selalu diperturutkan, dipentingkan, atau ditakuti dengan terpaksa atau suka rela, senang atau takut. Yang semua itu sebenamya hanya boleh terbangun dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

Kedua, Islam memandang bahwa hubungan manusia satu dengan manusia lainnya sebagai hubungan persaudaraan. Dalam bahasa lain, manusia bersifat merdeka terhadap manusia lainnya (egalitarian). Tidak boleh terbangun pola hubungan yang salah satu pihak menjajah pihak lain. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tidak boleh menjadikannya bebas menindas yang lain. Sebaliknya kekurangan-kekurangan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang tidak boleh menjadikannya menghamba pada yang lain.

Islam mengakui adanya perbedaan (pluralitas), tetapi perbedaan itu tidak justru dijadikan faktor pembeda (kaya-miskin, majikan-buruh, kulit putih-kulit hitam, penguasa-rakyat, pria perempuan), melainkan sebaliknya justru sebagai faktor pemersatu (litaarafu, baca AI Hujurat/49:13). Kemuliaan atau kehormatan seseorang atau sekelompok orang hanya dinilai oleh Allah dari sisi ketaqwaannya, yang itu bersifat non-material.

Ketiga, kultus adalah pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Jika manusia itu bisa salah, maka kultus menjadikannya suci (sebagaimana banyak pemimpin besar yang dianggap suci). Jika manusia itu sah-sah saja dikoreksi (AI Ashr/103:3), maka kultus membentenginya dari segala kritik. Jika manusia itu mati,maka kultus menjadikannya tidak mati (sebagaimana banyak kalangan menganggap Nabi Isa as masih hidup [di langit]).

Dalam konteks ini, menarik untuk kembali mengingat tarikh Islam, dalam fragmen wafatnya Nabi Muhammad SAW. Suatu peristiwa dramatis terjadi pada waktu Rasulullah SAW wafat. Seseorang membawa berita menyedihkan itu kepada Umar bin Khattab. Tetapi reaksi Umar agaknya di luar dugaan si pembawa berita. Sebab mendengar berita wafatnya Utusan Allah itu, Umar menjadi sangat marah. Dia menghunus pedangnya, dan mengancam akan merobek perut siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi SAW telah meninggal.

Untunglah Umar segera bertemu dengan Abu Bakar. Sahabat Nabi SAW yang terkenal jemih pikirannya ini menegur Umar, dan mengingatkannya bahwa sikapnya itu tidak sejalan dengan penegasan tentang hakekat Rasulullah SAW dalam Al Qur’an sendiri. Maka dibacalah oleh Abu Bakar firman AI­lah: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelunmya telah berlalu Rasul-rasu! yang lain: Apakah jika dia meninggal atau terbunuh, kamu akan berputar kembali dari kebenaran, maka dia tidak akan sedikitpun juga merugikan Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orung yang bersyukur” (Ali Imran/3:144). Bahkan Abu Bakar mengumumkan bahwa Rasulullah SAW memang telah wafat, lalu berkata: “Barang siapa menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tak akan mati”

Teguran keras Abu Bakar terhadap Umar bin Khattab seperti dicuplik dalam tarikh di atas, mengandung makna yang sangat dalam. Bahwa manusia, termasuk Rasulullah SAW, tidak boleh dikultus-mitoskan (dipertuhankan). Rasulullah SAW memang harus dicintai dan dihormati, dan diikuti tetapi kecintaan dan penghormatan itu tidak boleh sampai kepada sikap mendudukkan beliau lebih dari seorang manusia. Sementara banyak kita jumpai penegasan AI Qur’an atas sisi kemanusiaan Nabi SAW, “Kalakanlah olehmu (wahai Muhammad), sesungguhnya aku adalah seorang manusia seperti kamu semua; (hanya saja) diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu sekalian adalah Tuhan Yang Maha Esa” (AI Kahfi/18:110). Dan sisi kemanusiaan Nabi SAW, di antaranya, mati.

Jika terhadap Nabi SAW saja, yang oleh Allah kita diwajibkan untuk menjadikannya sebagai uswatun hasanah (AI Ahzab/33:21), kita tidak boleh mengkultuskan, apalagi terhadap manusia bukan nabi.

Oleh karena itu, agar kita terhindar dari proses kultus­-mengkultuskan pada sesorang (wali, kyai, ustadz, atau presiden, ketua partai, atau siapapun yang punya kharisma), maka berpeganglah pada nilai (Al Qur’an dan As Sunah [segala sabda, perilaku, dan persetujuan Nabi SAW]), dan bukan pada sosok, personal, atau individu!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No.43 Tahun ke-4, 19 Mei 2000