Tuhan Mengawasi Kita

Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah maha Teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan (Al Hadiid/57:4)

 

Ketika kita percaya akan eksistensi Tuhan, maka sebagai konsekuensinya, kita selalu merasa diawasi—betatapun kita tidak mampu menangkap substansi (sosok)-Nya. (lebih…)

Iklan

Menolong Tuhan

Wahai sekalian orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakan” (Muhammad/47:7)

Ungkapan menolong Tuhan, tentu terdengar ganjil di telinga kebanyakan orang. Sebab bagaimana mungkin, kita, manusia yang serba nisbi, menolong Tuhan, padahal Dia adalah Mutlak. Dan bukankah dalam doa-doa, justru kita yang memohon pertolongan Tuhan?

Tetapi, ungkapan menolong Tuhan ternyata kita dapatkan dalam AI Qur’an. “Jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakan”. Jadi, kita diharapkan menolong Tuhan, dengan balasan bahwa Tuhan akan menolong kita dan meneguhkan posisi kita.

Jadi, kalau begitu apa yang dimaksud dengan menolong Tuhan? Dalam konteks ayat di atas, maka yang dimaksud dengan menolong Tuhan itu ialah berusaha dengan penuh kesungguhan untuk melaksanakan ajaran-ajaranNya, dan sebagai bagian dari iman atau sikap menerima, mempercayai, dan memperjuangkan agama itu. Dan yang dimaksud bahwa Tuhan akan menolong kita ialah Dia akan membuat usaha melaksanakan ajaran­-ajaranNya itu mudah dan lancar, dengan dampak kebaikan yang nyata dalam hidup kita.

Balasan kebaikan karena menolong Tuhan itu dikontraskan dengan balasan keburukan karena menolak kebenaran, “Adapun mereka yang menolak (kafir), maka celakalah bagi mereka, dan Allah akan menyesatkan amal perbuatan mereka. Hal itu karena mereka benci kepada ajaran yang diturunkan Allah, maka Dia buat amal perbuatan mereka itu muspra” (Muhammad/47:8-9).

Dengan kata lain, sesungguhnya menolong Tuhan pada dasamya adalah menolong diri kita sendiri. Sebab Tuhan Yang Mutlak itu tidak butuh pertolongan dari hambanya yang lemah. sebaliknya, manusia-lah yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Berkaitan dengan dampak positip menolong Tuhan yang akhirnya kembali kepada manusia itulah, Tuhan memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjadi penolong Tuhan. “Hai orang-arang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana lsa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong Allah’… ” (Ash Shaff/61: 14).

Bagaimana penjelasan tentang menolong Tuhan sama dengan menolong diri sendiri? Pertama, Tuhan menurunkan ajaran kepada umat manusia demi kebahagiaan mereka; kedua, dengan sendirinya Tuhan “ingin” ajaran itu dilaksanakan; tapi, ketiga, hal itu terserah manusia, apakah mereka mau menerima atau tidak (Al Kahfi/18:29), sehingga manusia tidak boleh berharap Tuhan akan “turun” melaksanakan ajaranNya itu untuk manusia. Manusia harus berusaha sendiri; keempat, ajaran Tuhan itu adalah sesuatu yang alami (fitrah, natural); kelima, maka menjalankan agama yang benar itu bukanlah suatu beban, melainkan kewajaran yang mudah, karena tidak lain berarti mengikuti ketentuan-ketentuan “alami “dari Tuhan yang berlaku untuk manusia.; keenam, karena menjalankan agama itu tidak lain berarti mengikuti garis-garis kewajaran manusia sendiri, maka salah satu hasilnya adalah rasa tenteram di hati dan mantap dalam jiwa (Nurcholish Madjid, 1996).

Bagaimana penjelasan praktisnya? Jika kita ingin hidup tenteram, maka cegahlah segala kemungkaran dan kerjakan segala kebaikan. Jadi, ketentraman bisa tercapai jika masyarakat kita bebas dari minuman keras dan narkoba, perselingkuhan dan perzinaan, perampasan dan pencurian (korupsi), kekerasan dan penindasan hak asasi (anarkisme), kesewenang-wenangan politik (otoriterianisme).

Ketentraman terjadi jika masyarakat kita taat beribadah kepada Tuhan, baik secara individual maupun secara sosial (secara personal relijius [shalat, puasa, haji, zakat, nikah, dsb.]; dan secara sosial juga relijius [praktik ekonomi bebas riba, hukum waris terlaksana, hukum pidana dan perdata yang penuh dengan nilai keadilan, dsb]).

Maka, jika kita ingin menolong diri kita, membuat kehidupan kita aman tenteram, maka kita harus menolong Tuhan. Kita menolong Tuhan dengan cara memberantas segala bentuk kemungkaran dan memperluas pelaksanaan kebaikan. Dan cara yang efektif adalah pemberlakuan syariat Islam bagi kehidupan. Dalam konteks kekinian, maka menolong Tuhan adalah berusaha sekuat tenaga memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam.

Tentu, sekali lagi, kita menolong Tuhan bukan karena Tuhan butuh kita. Kita semua beriman atau kita semua kafir, tidak akan berpengaruh terhadap Tuhan. Tuhan tetap Maha Kuasa. Keimanan dan kekafiran kita tidak berpengaruh sedikit pun terhadap Tuhan.

Iman atau kafir adalah untuk kita!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif No. 48 Tahun ke-4, 23 Juli 2000

Selamat Idul Fitri 1428

karleb_n_fath.jpg

P u l a n g

siapa yang pergi, pasti rindu pulang
laksana burung yang terbang ribuan kilometer
dan kembali lagi ke sarangnya

maka pulang (mudik) adalah simbol kembali ke asal mula
sebab kepulangan selalu mengingatkan pada sangkan paran (asal usul kejadian)

dan inilah sambutan Tuhan bagi yang segera pulang
— kepulangan yang tak harus menunggu kematian (fisik):
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan jiwa yang puas lagi diridhaiNya …”

Selamat Idul Fitri 1428;

Semoga kita pulang kembali ke fitrah! Kembali ke Allah!

Sidojangkung, 27 Ramadhan 1428 H
Mohammad Nurfatoni

Maaf Memaafkan

PADA momentum Idul Fitri, khususnya di Indo­nesia, permohonan maaf telah menjadi sebuah tradisi. Lembaga-lembaga dan individu-individu, lewat berbagai media dan kesempatan, termasuk lewat iklan dan kartu lebaran, [kini email, SMS] mengungkapkan permohonan maafnya. Namun ada satu hal yang janggal dalam permohonan maaf itu. Kekhilafan apa yang menyebabkan sebuah lembaga atau seseorang menyampaikan permohonan maaf. Seringkali tidak dijelaskan. Sehingga memunculkan kesan bahwa itu sekedar basa-basi. Bayangkan Anda bertemu seseorang dan mengajak Anda bersalaman sambil mengucapkan permohonan maaf. Sementara Anda tidak merasa bersalah. Kenal pun tidak. Ini namanya mengobral maaf. Tetapi bandingkan dengan permintaan maaf yang disertai dengan pengung­kapan atas kesalahan yang telah diperbuat.

Pernah terjadi, lift di Regent Hotel, Kuala Lumpur, macet pada suatu hari. Ada tamu yang terjebak dalam lift. Banyak tamu lain yang turun-naik dengan tangga. Ternyata, ada kucing nyelonong ke dalam instalasi, kesetrum, hingga mati, dan memacetkan, sistem lift. Pihak hotel tentu saja kalang- kabut minta maaf kepada para tamu. Tetapi tidak cuma sampai di situ. Dua hari kemudian ada iklan di surat kabar. Banyak orang tertarik membaca iklan yang menyatakan duka cita atas kematian seekor kucing, sekaligus minta maaf atas kemacetan lift itu.

Permintaan maaf yang jelas dan tulus seperti ini, akan membuat seorang merasa ringan untuk memberi maaf. Bahkan tidak ada alasan untuk tidak memberi maaf. Kiat inilah yang pernah dilakukan oleh Goh Seng Kim, general manager Telecoms Singapura, seperti diceritakan Bondan Winarno dalam Seratus Kiat (1987). Dari pengalaman yang dialaminya, ternyata permintaan maaf dapat mengubah kebencian menjadi simpati. “Sikap kami dengan terus-menerus minta maaf, bukannya defensif mencari kilah dan alasan,” kata Goh Seng Kim. “telah mengubah kemarahan masyarakat menjadi kesabaran.”

Apakah ini bukan obral maaf? Telecoms meminta maaf atas keterlambatan pemesangan telepon pada calon pelanggan. Tapi di balik permintaan maaf itu, perusahaan ini bekerja ekstra-keras untuk mengejar kelemahannya. Setiap satu proyek selesai dan diberitakan di surat kabar, makin banyak surat yang datang untuk menanyakan kapan giliran mereka memperoleh telepon. Kesempatan ini justru dipergunakan dengan baik. Setiap mengawali satu proyek, Telecoms membuat upacara sederhana sambil menyampaikan maaf berhubung proyek sebesar itu tak dapat dilaksanakan sekaligus. Dan makin lama masyarakat makin bisa menerima kenyataan itu.

Adakah yang berat dari tindakan permintaan maaf. Mungkin tidak. Tetapi banyak lembaga atau individu justru enggan melakukan hal ini ketika menyadari atau ketahuan kesalahannya. Mungkin kuatir wibawanya merosot. Hal ini terlihat pada berbagai institusi masya­rakat kita. Banyak keluhan terhadap layanan publik, yang tidak mendapat tanggapan semestinya. Sekedar permohonan maaf pun sulit kita dapatkan. lni juga terjadi pada public figur kita. Jangankan mengundurkan diri, meminta maaf saja tidak akan dilakukan.

Dalam tradisi Islam, permintaan maaf menjadi syarat diterimanya taubat. Jika kesalahan itu menyangkut perkara sosial, maka syarat diterimanya taubat adalah pemberian maaf dari orang yang menjadi sasaran kesalahan kita. Di samping, tentu saja, ampunan dari Allah swt.

Para sahabat pernah bertanya kepada Ali r.a. tentang syarat-syarat taubat yang diterima. Ali menyebut enam syarat, satu diantaranya adalah mengembalikan hak manusia yang didzalimi, antara lain dengan meminta maaf.

Masyarakat konsumen adalah sasaran terbanyak atas kesalahan sebuah perusahaan penghasil produk atau jasa. Jika mereka tidak memberi maaf, karena kita tidak pernah minta maaf, maka bisa memunculkan dampak yang tidak sepele. Meninggalkan dan (sekaligus) menyebarkan “dosa-dosa” kepada yang lain.

Jadi, maaf itu penting saat salah. Tapi, bukan basa­-basi.

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 29 Tahun ke-1, 14 Pebruari 1997

Semangat Idul Fitri

Idul Fitri segera datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya kita sambut dan meriahkan hari itu dengan penuh kegembiraan, bahkan dalam beberapa kasus kita rayakan hari itu dengan pesta penuh nafsu. Agar Idul Fitri tidak sekedar menjadi rutinitas yang menjebak, maka kita perlu melakukan perenungan-perenungan mendalam untuk mendapatkan makna, semangat, atau ruh asasi Idul Fitri.

Idul Fitri dan Semangat Pembebasan

Ketika masuk pada Idul Fitri, kita diperintahkan untuk mengagung-besarkan Allah. Kita penuhi langit dengan gemuruh takbir. Kalimat-kalimat tayyibah yang berisi puji-pujian untuk Al­lah kita lantunkan. Dalam puji-pujian itu kita kembali mengikrarkan akan keagungan, ketinggian, kesucian, kebesaran, kekuasaan, dan keesaan Allah. Puji-pujian itu sekaligus menjadi cerminan pengakuan akan kekerdlilan, kerendahan, dan kelemahan kita.

Dengan tuntunan melantunkan kalimat-kalimat tayyibah tersebut, Idul Fitri menyadarkan kita untuk kembali ingat kepada Allah. “Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka (pada diri mereka sendiri)” (At-Taubah/9:67). Dengan mengingat Allah, kita menjadi ingat terhadap diri kita sendiri.

Dalam rentang perjalanan waktu selama setahun—karena kecintaan kita terhadap dunia atau karena kelelahan kita untuk mempertahankan hidup di dunia—kita menjadi lupa kepada Allah. Kita tidak pernah membesarkan Allah, sebaliknya selalu membesarkan diri kita, keluarga kita, harta kita, jabatan kita, ego kita.

Karena kita lupa kepada Allah maka Allah membuat kita lupa pada diri kita, lupa pada kemanusiaan kita. Lupa pada diri sendiri itu membuat kita kadang berubah menjadi binatang buas, yang selalu siap memakan orang lain. Kita makan rakyat dengan kekuasaan politik kita; kita makan rakyat dengan kekuasaan konglomerasi kita; kita makan rakyat dengan dolar kita (dengan menimbun atau melarikan ke luar negeri). Kita makan rakyat dengan monopoli. Kita makan rakyat dengan korupsi. Padahal pola makan-memakan rakyat yang lemah, yang tak berdaya adalah sifat kebinatangan yang hanya mengenal hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang.

Idul Fitri datang untuk membebaskan kita dari segala belenggu yang mengungkung kemanusiaan kita. Belenggu ego, belenggu harta, belenggu jabatan, belenggu ilmu, atau belenggu pangkat. Idul Fitri mengingatkan bahwa semua itu pada dasarnya tidak bermakna apa-apa. Tidak merupakan sesuatu yang besar, tidak pula sesuatu yang agung, yang kuasa, dan yang suci. Kebesaran, keagungan kesucian, dan kekuasaan mutlak, hanyalah milik Allah. Oleh karena itu sesungguhnya yang berhak mengatur, menjajah, menekan, dan memain-mainkan kita—baik dalam arti kiasan maupun sesungguhnya—hanyalah Allah. Sebaliknya hubungan kita dengan yang lain akibat relasi harta, pangkat, jabatan, atau gender seperti: penguasa-rakyat, atasan-bawahan, majikan-buruh, tuan-pembantu, pedagang-pembeli, pria-wanita adalah hubungan kemanusiaan dan menajemen belaka. Dalam relasi tersebut tidak lagi berlaku hukum tekan-menekan, mati-mematikan, kuasa-menguasai, atau hamba­t-menghambat. Sebab itu semua adalah ciri hukum rimba atau hak sewajarnya relasi Tuhan-manusia.

Idul Fitri dan Semangat Pencarian Kebenaran

Dengan terbebas dari segala belenggu anti-kemanusiaan tersebut, manusia akan menemukan jati dirinya masing-masing. Penemuan jati diri yang terpenting pada Idul Fitri adalah bahwa manusia itu makhluk (pencari) kebenaran.

Seperti kita ketahui, manusia lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa. Namun perfu dicatat, bahwa lahir tanpa dosa itu bukan berarti sama dengan kertas putih kosong, sebab sesungguhnya kelahiran manusia membawa potensi kebenaran. Itu terjadi setelah manusia pada suatu kesempatan asali penciptaan, pernah mengadakan perjanjian dengan Allah tentang ketuhanan Allah. “Dan (ingatlah) kelika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka (seraya berkata): “Bukankah aku ini Tuhanmu?”Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi.” (Al-A’raf/7:172). Pengakuan terhadap Allah adalah puncak dari seluruh kebenaran, sehingga seluruh kebenaran itu sendiri juga berasal dari Allah (AI-Baqarah/ 2:147).

Karena itu kembalinya manusia pada kesejatiannya disebut Idul Fitri (id berarti kembali, fa’tr atau fi’trah berarti kesucian, agama yang benar, atau asal kejadian). Dengan demikian, maka Idul Fitri mengajarkan manusia untuk melepaskan dirinya dari kejahiliyahan, kedunguan, ke-bego-an, atau kebodohan.

Idul Fitri mengajarkan kebenaran untuk menolak kebatilan. ldul Fitri mengajarkan kebenaran untuk menolak penipuan. Idul Fitri mengajarkan kebenaran untuk menolak pembodohan struktural. Idul Fitri mengajarkan kebenaran untuk menolak fatamorgana mayoritas (AI-An’am/6:116).

Implikasinya, ldul Fitri menuntut keberanian kita untuk menolak kebatilan, melawan penipuan, menentang manipulasi, dan memberontak pusat-pusat struktur pembodohan rakyat. Lebih jauh Idul Fitri mengajak kita untuk keluar dari sistem yang gelap menuju sistem yang jelas (AI-Baqarah/2:157). Idul Fitri, menuntut kita untuk membebaskan rakyat dari kungkungan sistem yang bobrok, sistem yang carut-marut, sistem yang tidak adil, sistem yang penuh dengan kesewenang-wenangan; sistem yang dibangun atas dasar nafsu kekuasaan, dan bukannya atas dasar kebenaran. Idul Fitri mengajak membangun sistem yang benar, sistem yang adil, sistem yang demokratis, sistem yang membuka peluang selebar-lebarnya untuk dilaksanakannya seluruh hukum kehenaran.

Selamat Idul Fitri. Pesan penting Idul Fitri: bebaskan segala belenggu anti-kemanusiaan. Suarakan selalu kebenaran!

Mohammad Nurtatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif No. 27 tahun ke-2, 30 Januari 1998