Menolong Tuhan

Wahai sekalian orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakan” (Muhammad/47:7)

Ungkapan menolong Tuhan, tentu terdengar ganjil di telinga kebanyakan orang. Sebab bagaimana mungkin, kita, manusia yang serba nisbi, menolong Tuhan, padahal Dia adalah Mutlak. Dan bukankah dalam doa-doa, justru kita yang memohon pertolongan Tuhan?

Tetapi, ungkapan menolong Tuhan ternyata kita dapatkan dalam AI Qur’an. “Jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakan”. Jadi, kita diharapkan menolong Tuhan, dengan balasan bahwa Tuhan akan menolong kita dan meneguhkan posisi kita.

Jadi, kalau begitu apa yang dimaksud dengan menolong Tuhan? Dalam konteks ayat di atas, maka yang dimaksud dengan menolong Tuhan itu ialah berusaha dengan penuh kesungguhan untuk melaksanakan ajaran-ajaranNya, dan sebagai bagian dari iman atau sikap menerima, mempercayai, dan memperjuangkan agama itu. Dan yang dimaksud bahwa Tuhan akan menolong kita ialah Dia akan membuat usaha melaksanakan ajaran­-ajaranNya itu mudah dan lancar, dengan dampak kebaikan yang nyata dalam hidup kita.

Balasan kebaikan karena menolong Tuhan itu dikontraskan dengan balasan keburukan karena menolak kebenaran, “Adapun mereka yang menolak (kafir), maka celakalah bagi mereka, dan Allah akan menyesatkan amal perbuatan mereka. Hal itu karena mereka benci kepada ajaran yang diturunkan Allah, maka Dia buat amal perbuatan mereka itu muspra” (Muhammad/47:8-9).

Dengan kata lain, sesungguhnya menolong Tuhan pada dasamya adalah menolong diri kita sendiri. Sebab Tuhan Yang Mutlak itu tidak butuh pertolongan dari hambanya yang lemah. sebaliknya, manusia-lah yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Berkaitan dengan dampak positip menolong Tuhan yang akhirnya kembali kepada manusia itulah, Tuhan memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjadi penolong Tuhan. “Hai orang-arang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana lsa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong Allah’… ” (Ash Shaff/61: 14).

Bagaimana penjelasan tentang menolong Tuhan sama dengan menolong diri sendiri? Pertama, Tuhan menurunkan ajaran kepada umat manusia demi kebahagiaan mereka; kedua, dengan sendirinya Tuhan “ingin” ajaran itu dilaksanakan; tapi, ketiga, hal itu terserah manusia, apakah mereka mau menerima atau tidak (Al Kahfi/18:29), sehingga manusia tidak boleh berharap Tuhan akan “turun” melaksanakan ajaranNya itu untuk manusia. Manusia harus berusaha sendiri; keempat, ajaran Tuhan itu adalah sesuatu yang alami (fitrah, natural); kelima, maka menjalankan agama yang benar itu bukanlah suatu beban, melainkan kewajaran yang mudah, karena tidak lain berarti mengikuti ketentuan-ketentuan “alami “dari Tuhan yang berlaku untuk manusia.; keenam, karena menjalankan agama itu tidak lain berarti mengikuti garis-garis kewajaran manusia sendiri, maka salah satu hasilnya adalah rasa tenteram di hati dan mantap dalam jiwa (Nurcholish Madjid, 1996).

Bagaimana penjelasan praktisnya? Jika kita ingin hidup tenteram, maka cegahlah segala kemungkaran dan kerjakan segala kebaikan. Jadi, ketentraman bisa tercapai jika masyarakat kita bebas dari minuman keras dan narkoba, perselingkuhan dan perzinaan, perampasan dan pencurian (korupsi), kekerasan dan penindasan hak asasi (anarkisme), kesewenang-wenangan politik (otoriterianisme).

Ketentraman terjadi jika masyarakat kita taat beribadah kepada Tuhan, baik secara individual maupun secara sosial (secara personal relijius [shalat, puasa, haji, zakat, nikah, dsb.]; dan secara sosial juga relijius [praktik ekonomi bebas riba, hukum waris terlaksana, hukum pidana dan perdata yang penuh dengan nilai keadilan, dsb]).

Maka, jika kita ingin menolong diri kita, membuat kehidupan kita aman tenteram, maka kita harus menolong Tuhan. Kita menolong Tuhan dengan cara memberantas segala bentuk kemungkaran dan memperluas pelaksanaan kebaikan. Dan cara yang efektif adalah pemberlakuan syariat Islam bagi kehidupan. Dalam konteks kekinian, maka menolong Tuhan adalah berusaha sekuat tenaga memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam.

Tentu, sekali lagi, kita menolong Tuhan bukan karena Tuhan butuh kita. Kita semua beriman atau kita semua kafir, tidak akan berpengaruh terhadap Tuhan. Tuhan tetap Maha Kuasa. Keimanan dan kekafiran kita tidak berpengaruh sedikit pun terhadap Tuhan.

Iman atau kafir adalah untuk kita!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif No. 48 Tahun ke-4, 23 Juli 2000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s