Seorang “Rasul” Diutus Allah Menemui Kami *)

Sekilas tentang Kelahiran Penerbit “Kanzun Books”

dan Buku “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya”

 

 

Pendapat bahwa kerasulan belum berakhir tidaklah salah seratus persen. Buktinya beberapa pekan lalu Allah masih mengirim seorang “utusan” bernama Awang Surya kepada CV Cakrawala, perusahaan tempat saya bekerja. Rasul secara bahasa memang bermakna utusan. Dan Mas Awang, demikian kami memanggil, adalah “utusan” Allah yang secara “khusus” diperintahkan untuk membangkitkan (kembali) komitmen kami membuat divisi penerbitan.

Naskah “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan” kiriman Mas Awang, yang semula membuat saya stres–karena saya terlanjur memberi semacam janji untuk menerbitkan, sementara belum ada keputusan resmi dari manajemen untuk menerbitkannya, apalagi pengalaman di penerbitan masih minim—justru akhirnya menjadikan Kanzun Books resmi disetujui sebagai divisi penerbitan dan “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan adalah monumen terpentingnya.

Plong rasanya hati saya pada saat buku tersebut kini telah siap naik cetak dan segera siap diluncurkan. Meski perjalanan masih panjang dan harap-harap cemas masih menggelayuti pikiran kami–apakah buku itu nanti diterima pasar buku–tetapi setidaknya terbayar sudah kebimbangan itu. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaaan saya saat Mas Awang, yang telah mengirim naskah beberapa saat sebelumnya, bertanya lewat SMS dan chat YM, “Mas, bagaimana nasib naskahku?”

Antara sungkan, cemas, dan ragu, aku menjawab, “Masih proses editing, Mas.” Padahal saat itu editing belum juga dengan sungguh-sungguh saya lakukan. Naskah baru saya pritnt dari email. Saya baca sekilas. Tapi karena SMS dan chat YM terus “memburu”, mau tak mau, akhirnya naskah itu saya edit juga; di kantor, juga di rumah.

Sampai proses editing lebih separuh saya lakukan, hati ini masih gundah gulana. Bisakah naskah tersebut menjadi buku dan beredar (laris) di pasar. Jika sekedar menjadikan buku (maksudnya mencetak), itu sih sudah menjadi kerjaan harian di kantor. Tapi menerbitkan? Bagaimana mendistribusikannya? Bagaimana menjualnya? Dan mengurus ISBN-nya?

Ah, rupanya “utusan” itu kembali datang menyapa. “Mas, apa yang bisa saya bantu?” sapa Mas Awang dari Jakarta. “ISBN Mas. Bisa uruskan dari Jakata?” jawabku penuh suka. “Tolong carikan juga kontak distributor!” Secepat kilat Mas Awang bergerak. Contoh perjanjian kerjasama distribusi buku  dari dua distributor langsung saya terima. Satu lagi forward email dari distributor Buku Kita saya terima dari Mas Awang, yang isinya minta dikirim contoh cover dan resensi bukunya.

Hari itu hatiku agak lega. Ada sedikit gambaran soal distribusi buku, sesuatu yang menjadi hambatan kami selama ini. Kami memang pernah menerbitkan dua buku sekitar sepuluh tahun silam dengan bendera Media Cakrawala. Dua buku kecil tulisan Hj. Irena Handono, masing-masing berjudul Studi Kritis atas Kenaikan Isa Al Masih dan Perayaan Natal 25 Desember, antara Dogma dan Toleransi. Kedua buku itu sempat kami cetak dua kali, sebelum akhirnya dipindah oleh penulisnya ke penerbit lain.

Dua buku itu laris manis. Hanya saja waktu itu kami hanya mengandalkan direct selling lewat pengajian atau seminar yang diisi oleh penulis. Beberapa puluh memang sempat diedarkan ke toko buku Sari Agung dan Gramedia Surabaya, tapi akhirnya tak terurus juga. Jadi, kami memang mengalami hambatan distribusi. Pengalaman pahit itu pula yang terjadi pada buku ketiga terbitan kami. Buku karya M. Hidayatullah  dengan judul Cara Mudah Membaca Kitab Kuning itu sampai kini masih menumpuk di kantor kami.

Memang, dulu sang promotor penulis berjanji bahwa buku tersebut akan dijadikan buku panduan di salah satu universitas Muhammadiyah di Jatim, sampai kami memuat pula kata pengantar dari sang rektor. Tapi janji tinggal janji. Sang promotor itu lupa janjinya. Ah, sudahlah. Itu masa lalu!

Pengalaman itu sempat membuat ragu Mas Aziz, begitu saya memanggil bos Abdul Aziz, ketika kami kemukakan niat untuk kembali menerbitkan buku. Tetapi adanya titik terang distributor “temuan” Mas Awang, membuka kembali harapan itu. Saya segera minta tolong Mas Didik Nurhadi, desainer grafis kami, membuat rancangan cover dan isi buku. Setelah itu saya minta Mas Harijaya Gunawan, salah seorang marketing cetak, membuat kalkulasi harga cetak dan simulasi harga end user buku tersebut.

Rancangan cover dan semacam resensi segera saya email ke Mas Awang, untuk diteruskan pada distributor “Buku Kita” yang tempo hari memintanya. Hatiku berbunga-bunga saat Mas Awang mengabarkan bahwa judul dan cover rancangan kami itu dinilai  bagus dan menarik oleh “Buku Kita”.

Maka saya segera bertindak lebih lanjut. Saya mendesak Mas Aziz mengadakan rapat untuk membahas dan memutuskan apakah naskah Mas Awang bisa diterbitkan. Meski keputusan ada pada Mas Aziz, tapi saya sedikit mengiba (atau tepatnya, mengancam), masak saya tak boleh melakukan eksperimen?

Rapat itu dihadiri para “petinggi” CV Cakrawala. Hadir direktur, kepala keuangan, kepala produksi, dan tiga marketing cetak, serta saya sendiri. Saya undang marketing cetak karena kalau penerbitan jalan, maka akan tercipta market internal cetak yang luar biasa. Demikian juga dengan kehadiran kepala produksi, sebab kehadiran penerbitan tentu semakin membuat kawan-kawan produksi semakin sibuk, sesuatu yang telah menjadi menu harian selama ini (baca, “Senin Hari Kedua”, www.pojokhati.wordpress.com). Kehadiran kepala keuangan juga memberi isyarat betapa perputaran modal atau kondisi cashflow perusahaan akan “terganggu”. Maklum, karena sudah lazim diketahui bahwa perputaran uang di bisnis penerbitann lumayan panjang rentangnya.

Tapi alhamdulillah, akhirnya rapat memutuskan untuk menyetujui lahirnya penerbit Kanzun Books dengan terbitan perdananya “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan”. Buku ini sekaligus menjadi barometer sejauh mana prospek Kanzun Books ke depan. Jika buku tersebut sukses, maka insya Allah segera diterbitkan buku-buku lainnya. Sebab di meja kami sedang menunggu buku lainnya, diantaranya Rahasia Kata-kata Kunci Al-Qur’an, Sebuah Tafsir Tematik karya Ust. Drs. Ahmad Hariadi, M.Psi dan Tuhan yang Terpenjara, Relasi Misterius Tuhan, Agama, Manusia, dan Alam, tulisan Mohammad Nurfatoni.

Rapat itu sendiri cukup istimewa karena diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh tiga ustadz sekaligus. Mereka adalah Ustadz Abdul Aziz, SE, bos kami yang kini sangat sibuk memberi pelatihan dan ceramah tentang shalat khusuk di berbagai pelosok Indonesia, sehingga jarang sekali berkantor di markas CV. Cakrawala. Juga ustadz M. Hidayatullah, yang sesungguhnya di kantor kami jabatan resminya adalah marketing, tapi karena di luar kantor adalah seorang ustadz, maka beliau pun punya tugas khusus memimpin doa setiap pagi sebelum aktivitas kantor dimulai. Doa terakhir dari saya, yang pura-pura menjadi ustadz, ha … ha ….

Mengapa Kanzun Books kami pilih sebagai merek dagang penerbitan kami? Tak lain dan tak bukan karena kami ingin bahwa buku-buku yang kami terbitkan akan menjadi khazanah, perbendaharaan, harta, atau simpanan yang mencerahkan dan bernilai “abadi”. Nama kanzun kami ambil dari bahasa Arab, mengutip dua hadits yang kami ketahui menggunakan kata itu. Yaitu hadits qudsi yang berbunyi kuntu kanzan makhfiyyan (Aku [Allah] adalah Khazanah Tersembunyi) dan hadis yang berbunyi al qonaaatu kanzun la yafna (istiqomah itu sebagai khazanah yang tak pernah lenyap). Tambahan books di belakangnya, yang terambil dari bahasa Inggris, dimaksudkan untuk meneguhkan bahwa nama itu bergerak di bidang perbukuan.

***

Saat tulisan ini saya buat, proses percetakan buku “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kabahagiaan” sedang berlangsung. Insya Allah menjelang Ramadhan 1429 sudah beredar di toko-toko buku ternama. Doa kami, semoga Allah “mengutus” “para rasul”, yakni komunitas pembaca, pecinta ilmu, untuk membeli dan membaca buku kami. Semoga dengan itu kami bisa menularkan kebahagiaan–sebagaimana konsep kebahagiaan yang tertulis dalam buku itu–kepada Anda. Semoga Allah memberi kesuksesan, kesejahteraan, dan keberkahan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita. Amien.

Pada kesempatan ini kami sampakan ucapan terima kasih kepada Mas Awang, yang bukan saja telah mengirimkan naskah sebagai penulis, melainkan ikut menjalankan sebagian tugas penerbit yaitu mengurus ISBN, mencari kontak distributor, mengerahkan nama-nama terkenal untuk memberi pengantar dan komentar buku tersebut. Lebih dari itu, Mas Awang telah memerankan tugas dengan baik menjadi “utusan” Allah untuk membangkitkan kami.

Mas Aziz, yang telah merestui Kanzun Books, dan sekaligus telah menyetujui pembelian laptop saya, yang lebih canggih dan lebih mahal daripada laptop beliau sendiri. Dengan laptop ini saya bisa menulis dan mengedit, juga “main-main” dengan internet. Mas Harijaya, yang telah jauh hari saya minta membantu membidani kelahiran Kanzun Books, dan mungkin akan menemani saya dalam penerbitan, juga Mas Udin dan Mas Dayat yang ikut survei ke toko buku. Terima kasih juga pada Bu Yani dan stafnya Mbak Kun, yang rela akan “terbebani” lebih banyak lagi tagihan kertas, plat, dan tinta.  Juga Pak Hasan dan kawan produksi dan ekspedisi yang tak bisa saya sebut satu persatu. Mungkin nanti beban Anda akan bertambah. Pada Mas Didik, terima kasih atas desain grafis yang nyaris sempurna.

Khusus kepada istri tercinta, Siti Rodhiyah, yang di tengah proses kehamilan anak kelima, sedikit terabaikan. Maaf dan terima kasih, karena telah sudi merelakan waktu bercengkrama menguap begitu saja akibat saya sita untuk melanjutkan tugas penerbitan di rumah. Juga pada anak-anakku, Azka, Aqil, dan Faza, yang juga terabaikan, sebab saat saya di rumah masih juga menghadap laptop. Pada anak keduaku Rosyad yang lama tidak saya jenguk di SMP Plus Ar-Rahmat Bojonegoro. Maaf ya!

Pada semuanya, saya ucapkan maaf dan terima kasih. Juga pada pembaca tulisan ini, yang sekaligus  calon pembaca buku-buku terbitan Kanzun Books. Semoga Anda semua mendapat berkah dan rahmah Allah. Amien.

Sidojangkung, 17 Agustus 2008

*) Tentu, yang saya maksud “rasul” di sini bukan dalam pengertian pembawa ajaran Allah, melainkan hanyalah seorang hamba biasa, yang digerakkan oleh Allah lewat amr-Nya untuk datang kepada kami.

 

Iklan

3 komentar

  1. Alhamdulillah, ternyata buku-buku berikutnya juga telah terbit juga kan mas. Buktinya saya menemukan dan akhirnya (dg hati gembira) membeli buku “Tuhan Terpenjara” di TB. Gramedia Jl. Basuki Rahmat Sby.

    Semoga semakin banyak lagi buku yg keluar dari Kanzun Books.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s