Melihat Tuhan di Akuarium

tuhan, izinkan aku bertanya kepadamu
apakah aku dan kamu semisal ikan dalam samudera air
ke arah mana saja ikan berenang
ia temukan air

apakah itu analog dari firmanmu:
ke mana saja engkau menghadap,
engkau akan menatap wajah tuhan

kamu bilang dekat
bahkan lebih dekat dari urat
memang aku melihat ikan dan air sangat dekat
bahkan melekat
berjarak tanpa antara

itukah makna petunjukmu:
tuhan bersama kamu
di mana pun kamu berada

tapi tuhan
mengapa aku tak melihatmu
benarkah ikan juga tak melihat air
itukah maksud bahwa kamu adalah
khazanah tersembunyi?

Sidojangkung, 17 Pebruari 2008

Mohammad Nurfatoni

Guru, Tuhan di Mana?

Guru, di mana aku bisa bertemu Tuhanku?
di langit bersaf tujuh?
di altar penyembelihan hewan kurban?
di mihrab-mihrab masjid yang berlantai pualam?
pada bangunan kubus tua peninggalan Ibrahim itu?
atau pada padang makrifat yang membisu?

Guru, di mana aku bisa bertemu Tuhanku?
pada jamuan malam para pemuja harta?
pada pojok penderitaan kaumku?
pada perut kosong yang papa?
atau pada jiwaku yang membeku?
pada ragaku yang membiru?
di mana, Guru, ke mana?

Jawab Guru

Anda akan ketemu Allah, ketika tiada satu nilai pun di jagat raya ini dapat kau tegakkan di dalam kehidupanmu.

Maksudnya, Guru?

Tak ada nilai dalam ruang dan waktu ini yang bisa kau analogikan (kau sejajarkan) dengan momen jumpa Tuhan.

Jadi, Guru, apakah kita harus lepas dari ruang dan waktu?

Pokoknya tak bisa diumpamakan, tak bisa ditanya di mana dan kapan, hanya bisa dihayati oleh orang yang mendapat ridha-Nya.

Terima kasih, Guru.

Mlangi, 20 Desember 2007

Mohammad Nurfatoni

Puisi hasil dialog antara guru Pak Muh (Muhammad Zuhdi) dengan ‘muridnya’ lewat SMS ini kali pertama dimuat harian sore Surabaya Post, Ahad 27 Januari 2008.

Tuhan: Kau dan Aku

benarkah aku untukmu
beribadah untuk kamu
berderma demi engkau
berjuang karena ikhlas padamu

ah .. aku beribadah demi pahala
bukankah aku berharap surga
ah .. aku beribadah karena tak mau siksa
bukankah aku takut neraka

aku berderma untuk kamu?
bukan, tapi karena aku juga butuh balasan serupa
aku berderma demi kamu?
bukan, tapi karena aku berharap hartaku berlipat ganda

aku berjuang untuk kamu?
bukan, tapi karena aku berharap ada juga yang menolongku
aku berjuang demi kamu?
bukan, tapi hanya demi ambisi bahwa inilah eksistensiku

mana yang untuk kamu
semua untuk aku
apa yang demi kamu
segalanya demi aku

akukah yang berkuasa
bukankah semua untukku
akukah tempat tujuan
bukankah segalanya kutahan

kamu tuhan
aku pun tuhan
berjejer sejajar
ah.. aku memang kurang ajar!

Mohammad Nurfatoni

Kali pertama diterbitkan di Sidojangkung Pebruari 2008, dengan judul “Akukah Tuhan Itu?”