Desas-desus

Rizal, bukan nama sebenarnya, akhir-akhir ini terlihat rikuh dalam berkomunikasi dengan kawan-kawan sekantornya. 

Sebab hampir seluruh karyawan sekantornya, lebih-lebih yang senior, memperlihatkan sikap kurang bersahabat—sikap yang tidak dirasakannya pada pekan-pekan sebelumnya.

Ada apa gerangan? Ternyata telah berkembang desas-desus bahwa dirinya akan dipromosikan untuk menduduki salah satu jabatan manajer. Sebagai karyawan muda, dia merasa tidak enak dengan isu itu, apalagi masa kerjanya tergolong baru. Mungkinkah dia mendapat promosi?

Tidak ada isyarat atau informasi yang ia peroleh secara langsung dan jelas berkenaan dengan promosi itu. Kalau dia terlihat sering bercakap dengan pucuk pimpinan, memang dia akui. Maklum, dalam persoalan di luar kantor, Rizal adalah kawan komunikasi yang tangguh bagi pimpinan. Mereka sering berdiskusi tentang situasi politik mutakhir, atau tentang kondisi sosial masyarakat yang memprihatinkan

Kerikuban Rizal, memang bisa dimaklumi. Sebab hampir semua karyawan sekantornya merasa masgul dengan isu promosi itu. Ada perasaan cemburu. Masalahnya banyak dari mereka yang merasa lebih berhak untuk menduduki jabatan yang sejak sepekan lalu itu kosong.

Karena situasi terjadi berkepanjangan sampai pekan kedua, akhirnya Rizal merasa tertekan, stress. Gairah kerjanya menurun, produktivitasnya rendah. Demikian pula kawan-kawannya, karena merasa terlangkahi oleh karyawan yang dianggapnya masih junior

Situasi semacam ini mengakibatkan lemahnya keutuhan tim kerja (team work). Untungnya (atau malah ruginya) situasi ini belum terendus oleh pimpinan. Dalam suasana tidak sehat ini, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh keputusan pimpinan yang mengangkat Pak Didin, juga bukan nama sebenarnya, untuk mengisi jabatan tersebut.

Pengangkatan Pak Didin sekaligus menjawab desas-desus yang sempat menyesakkan dada itu.

Selesaikah masalah? Untuk mayoritas karyawan, pengangkatan Pak Didin dianggap wajar dan tidak menimbulkan kecemburuan yang berlebihan. Sebab Pak Didin tergolong karyawan senior yang memang sejak semula banyak yang memprediksikan akan menduduki jabatan tersebut.

Namun bagi Rizal, tidak sesederhana itu. Masalahnya kondisi psikologi terkucilkan oleh lingkungan kerjanya sulit pulih dalam waktu dekat. Apalagi dia sendiri sudah termakan isi desas-desus, yang bagaimanapun hati kecilnya juga berharap kebenarannya.

Buletin Jumat Hanif No. 007, 29 Rabiul Awal 1417 atau Agustus 1996

Mematikan Desas-desus

Desas-desus, isu, kabar angin, atau apalah namanya, memang punya daya rusak hebat. Bayangkan, gara-gara desas-desus yang tak jelas sumbernya, kesolidan team work bisa runtuh dalam waktu sekajap.

Ironisnya, kita, manusia, umumnya menyukai desas-desus yang berilai jahat itu. Mungkin sebabnya adalah karena desas-desus selalu berdampak menjatuhkan orang lain, yang kemudian secara tidak langsung dan secara palsu berdampak mengangkat diri kita sendiri. Celakanya, sumber desas-desus sulit sekali dilacak. Dia menyebar dari mulut ke mulut dengan mudah, bagaikan embusan angin.

Karena itu, menciptakan suasana keterbukaan di lingkungan kantor, organisasi sosial, komunitas politik, atau lingkungan apa saja, penting dilakukan. Yang juga tak kalah penting adalah mengenali dan segera metutup segala sumber desas-desus.

Hubungan antarpersonal pun perlu dipupuk sedemikian rupa agar desas-desus mati sebelum berkembang. Tegasnya, penyebar desas-desus adalah orang yang pantas dihukum. Sebab sudah banyak hal-hal sepele yang menjadi rumit hanya karena desas-desus.

Terakhir, sikap tabayun (periksa dengan teliti), dalam bahasa jurnalistik check and recheck, harus dilakukan terhadap setiap berita yang kita terima. Dengan jelas perintah ini dipaparkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujurat/49: 6)

Tegasnya, orang beriman tidak akan menyebarkan desas-desus, sebab itu adalah perilaku orang-orang fasik. (*)

Mohammad Nurfatoni

Tulisan ini kali pertama dimuat Buletin Jumat Hanif No. 007, 29 Rabiul Awal 1417 atau Agustus 1996, dengan judul Desas-desus Merugikan Team Work.

Perjalanan Menemukan Tuhan

1
perkenalanku denganmu memang dipaksakan keadaan
turun-temurun mewaris dalam garis keturunan
tak ada tanya penuh selidik apalagi pemberontakan
semua harus diterima meski akal dalam tekanan

dibilang kau ada tapi aku tak pernah berjumpa
bertahun-tahun aku mencari dalam kelana
tak ada jawab bagi jiwaku yang merana
di mana kini kau sedang berada

saling silang jawab yang pernah kudapat
katanya kau ada di atas arsy sana
di langit yang bertingkat-tingkat
duduk sendiri di singgasana

bolehkah aku bertanya
dalam kesendirian di sana
menjauh dari ciptaan
apakah kau tak kesepian

ada pula jawab, kau lebih dekat dari urat
melekat dalam tubuh yang mendekat
dan bolehkah aku bertanya lagi
apakah Kau menyatu dalam diri ini

ada lagi jawab, kau ada di mana-mana
sejauh pandang tertahan di situ kau berada
lantas aku pun bertanya juga
apakah kau menjelma semesta

2
orang-orang pada terbelalak
atas tanyaku yang dikata galak
tuhan kok ditanya-tanya
bisa kualat dibuatnya

tapi itulah dorongan jiwaku
oleh rasa rinduku padamu
bagaimana aku menyembah
sesuatu yang tak terjamah

padahal aku ingin berjumpa
dengan tuhan yang mencipta
berdialog dan bercengkrama
mengutarakan rasa cinta

3
sampai suatu waktu aku terperanjat
oleh ungkapan yang mencegat
dari uraian suatu ayat
bahwa tiada satu pun serupa dzat

bagaimana aku bisa melihat dzat
jika mataku penuh tipu muslihat
terhadap celupan bening tongkat
mataku sudah jatuh terpeleset

maka seperti musa yang berhasrat
melihat dzat secara kasat
dia pun akhirnya terjerembab
dalam ruang nisbi tanpa jawab

dzat yang tak terpagar ruang dan waktu
bagaimana tertangkap oleh yang serbasemu
maka jika ingin bertemu
tanggalkan jubah akal itu

jangan melihat dzat dengan mata akal
tapi lihatlah dia dengan mata hati
hati yang bersih penuh bekal
ikhlas dan rendah hati

4
tuhan tercinta, penuh cinta
cintanya meluas ke segala penjuru
tanpa batas bagi semua cipta
menerobos jiwa-jiwa penuh haru

maka raihlah cintanya pada yang dicinta
dia sangat pencinta para tunakuasa
yang miskin lagi dinista
tersingkir dari lingkaran tahta

kasihlah makan pada mereka
maka dia akan mencinta kita
berilah kelayakan pada mereka
maka dia akan memberkati kita

oh tuhan jika aku harus bercumbu
tak harus jauh ke langit bershaf tujuh
sebab kau ada di bumi kuberpijak
tempat segala makhluk bergerak

kau bersama mereka yang terdesak
kau bersama mereka yang terdepak
kau bersama mereka yang kesulitan
kau Tuhan bagi yang lemah dan dilemahkan

Sidojangkung, 18 Januari 2008
Mohammad Nurfatoni

Bisikan tanpa Bunyi

heran
lolongan loudspeaker dari atas mihrab
yang terhormat itu
sama sekali tak kudengar
mungkin karena terlalu keras memekak
atau karena suara itu telah menjelma rutin
yang merampas minat
atau karena aku kini benar-benar tuli

kukorek lubang kupingku jauh ke dalam
jangan-jangan ada batu yang membuntu
harus aku cukil
tapi sampai tembus lubang kuping yang satu
aku tetap tak mampu mendengar

aku kesal
kupotong kedua daun telinganku
aku tak butuh telinga lagi, gumamku

tapi aneh
tanpa kuping
justru aku mendengar berdesir-desir bisikan
jernih tanpa gema
lembut penuh wibawa

aku bertanya:
dari mana suara itu kudengar
lewat apa aku mendengar
itukah bisikan tanpa suara
tanpa aksara

Sidojangkung, 25 Pebruari 2008

Mohammad Nurfatoni