Hari ini jamaah calon haji Indonesia sudah berada di Kota Makkah, Arab Saudi. Mereka akan memenuhi panggilan Allah, menunaikan rukun Islam kelima.
Menarik untuk menghubungkan makna haji dengan konsep akhlakul karimah. Selama ini akhlakul karimah (budi pekerti luhur) sering dipahami sebagai sopan santun, unggah-ungguh, adab, atau tata krama. Tapi, saya tercengang ketika mendapatkan makna yang sangat dalam tentang akhlakul karimah.
Adalah Muhammad Zuhri (1939–2011) yang memberikan makna mendalam itu. Menurut guru hikmah yang disebut-sebut sebagai sufi revolusioner tersebut, ajaran Islam telah memiliki kriteria tersendiri tentang akhlak mulia.
Hal itu didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Juga, firman Allah dalam surah al-Qalam ayat 4: ”Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang luhur.”
Seseorang disebut berakhlakul karimah–sebagaimana teladan terbaik yang diberikan Nabi SAW–manakala berada dalam kondisi yang seimbang. Artinya, pribadi yang sanggup berdiri di antara Allah dan semestanya, di antara yang ideal dan riil, atau di antara dimensi keharusan dan dimensi kenyataan.
Pandangan Pak Muh–panggilan akrabnya–itu didasarkan pada surat al-Baqarah ayat 143, “Demikianlah telah Kami jadikan kamu suatu umat yang seimbang, supaya kamu menjadi saksi atas manusia dan Rasul (mewakili Allah) menjadi saksi atas kalian.”
Menurut Pak Muh, seorang yang berakhlak terpuji akan menyandang dua tanggung jawab sekaligus, yaitu tanggung jawab ke atas dan ke bawah. ”Ketika pribadi yang demikian menghadap kepada Allah, ia bertanggung jawab untuk menyampaikan tuntutaan dan harapan umat manusia kepada-Nya. Dan ketika berhadapan dengan manusia, dia bertanggung jawab menyampaikan pesan dan perintah Allah kepada mereka,” kata Pak Muh seperti bisa dibaca dalam buku Secawan Cinta, Pesan-Pesan Kearifan dari Lereng Muria (Barzakh Foundation, 2015, h 450).
Singkatnya, seorang berakhlak mulia itu akan menjadi wakil Allah di depan manusia dan menjadi wakil umat manusia di depan Allah.
Dua Tanggung Jawab
Sudah lazim di Tanah Air, seseorang yang akan berangkat haji mendapat ‘titipan’ doa tetangga dan sanak saudaranya. Karena diyakini doa di Tanah Suci akan dikabulkan, mengingat banyak tempat yang mustajabah di sana seperti Multazam, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, atau Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah.
Titipan doa itu sesungguhnya sebuah simbol bahwa seorang (calon) jamaah haji mempunyai tanggung jawab yang lebih besar, yakni meyampaikan tuntutan dan harapan manusia kepada Allah. Sesuai dengan makna akhlakul karimah di atas, jamaah haji bertugas menjadi wakil umat manusia di depan Allah. Sungguh tugas yang tidak main-main.
Pemaknaan seperti itu sejalan pula dengan istilah yang beredar di masyarakat bahwa ibadah haji merupakan panggilan Allah. Memang, dalam kenyataannya, tidak semua umat Islam berkesempatan menunaikan ibadah haji. Dan itu bukan sekadar persoalan biaya.
Seorang kawan pernah bercerita bahwa dia memiliki teman yang setiap tahun menunaikan umrah. Tapi, untuk berangkat haji, dia masih enggan. Katanya, belum siap. Apa maknanya? Sekali lagi, itu menegaskan keyakinan umat Islam bahwa haji adalah panggilan. Ketika Allah berkenan melayangkan undangan, terpanggillah dia. Sebaliknya jika belum mendapat undangan Allah.
Maka, bersyukurlah bagi yang dipanggil Allah untuk berangkat haji. Tetapi, itu sekaligus membawa risiko berat, bahwa mereka yang berangkat haji membawa tugas penting: menjadi duta-duta umat manusia, khususnya umat Islam, untuk menyampaikan harapan dan keinginannya di hadapan Allah.
Karena itu, seorang yang dipanggil Allah untuk menunaikan ibadah haji harus tuntas dari urusan pribadi dan keluarganya karena kini harus mewakili dan menanggung umat yang lebih luas. Pak Muh dengan indah menggambarkan bahwa haji adalah momentum berubahnya individu (dengan tanggung jawab) kecil menjadi individu (dengan tanggung jawab) besar.
Jika sebelum haji manusia hanya berputar-putar (dilambangkan dengan tawaf) melakukan rutinitas: pergi-pulang, bekerja-istirahat, tidur-bangun, dan seterusnya –yang semua itu sudah ribuan kali dilakukan sehingga membuatnya merasa nyaman dan sayang atas kenikmatan itu.
Padahal, ada hal-hal yang belum ditemukan oleh manusia ketika berjalan melingkar-lingkar antara tempat tidur dan kantor, tempat tidur dan pasar, tempat tidur dan sawah, dan sebaginya. Ada yang belum dimiliki dan perlu ditambah, yaitu nilai-nilai moral, intelektual, dan spiritual.
Sungguh berat memperoleh haji mabrur: karena harus memanivestasikan akhlakul karimah dalam kehidupan sosial: menjadi wakil manusia di hadapan Allah dan mewakili Allah di depan manusia.
Selamat jalan para calon haji. Semoga bisa menggapai haji mabur! Amin. (*)
Mohammad Nurfatoni
Opini ini kali pertama dimuat Jawa Pos 28 Juli 2017