Siapa Aku

Saat di Bangkok, Thailand

Lahir di Banglades—bangsa Lamongan ndeso maksudnya, tepatnya desa Keduyung, kecamatan Laren—22 Januari 1969.

Kini jadi penulis amatir. Bisa sedikit menulis karena sedikit membaca pula. Waktu SD, bapakku, Ahmad Thohir (sudah meninggal 3 tahun lalu, semoga selalu disayang Allah) jika ke kota, pulangnya membawa koran—kalau tidak Surabaya Post ya Merdeka. Seringkali bapak juga membawa pinjaman majalah TEMPO dari seorang mantri kesehatan di desaku, dan aku sempatkan juga membacanya.

Mulai menulis amatir dengan mengisi majalah dinding di SMAM1 Babat, tempatku bersekolah (sekalian mondok di Pesantren Muhammadiyah Babat). Lalu saat mahasiswa—bersama Sjafril Indra Kusuma, kawan dari ITS, membidani kelahiran buletin Al Hadiid—yang isinya saat cukup keras di zaman represif pemerintah otoriter Soeharto. Sempat takut dan was-was setiap kali terbit. Tapi alhamdulillah, aman. Soeharto tak sempat baca kali!

Pertama kali menulis dapat “honor”, saat mengisi rubrik tanggapan mahasiswa di halaman opini Jawa Pos. Masih kuingat honor Rp. 60.000,- yang kuambil langsung di kantor pertama (dan kuno) Jawa Pos di kembang Jepun.

Juga artikel opini mahasiswa, saat pertama kali dibuka di Jawa Pos (9/9/1993), dengan judul “Bioteknologi: Mempertanyakan Peranan Etika”. Waktu itu Jawa Pos masih di Karah Agung. Pernah juga menulis artikel edisi Minggu berjudul “Menumbuhkembangkan Kreatifitas Anak” di Surabaya Post (1/8/1993).

Dua tulisan di atas masih sangat berkesan, bukan hanya karena tulisan-tulisan awalku yang dimuat koran, melainkan juga karena waktu itu baru saja aku menikah dengan istriku kini, Siti Rodhiyah (alumnus FPIPS IKIP Surabaya—alhamdulillah, kini kami dikarunia 3 putra dan 2 putri, masing-masing adalah Azka Izzuddin Mohammad, Rosyad Hizbussalam Mohammad, Aqil Rausanfikr Mohammad, Faza Fajrulfatkhi Mohammad, dan Zada Kanza Makhfiya Mohammad).

Apa hubungannya dengan nikah? Tentu, karena sebagai guru honorer di sekolah swasta dengan hanya mengajar 8 jam (itupun belum terpotong biaya transportasi Surabaya – Babat, tempatku mengajar), honor tulisan waktu itu lumayan bagiku yang memulai berumah tangga dari nol. Kalau tidak salah masing-masing sejumlah Rp. 150.000,- dan Rp 75.000,- (pentingnya uang itu bisa dibandingkan dengan kontrak rumah pertama-ku yang “hanya” Rp. 225.000,- setahun di sebuah gang sempit Karangrejo Surabaya).

Tapi pada akhirnya aku jadi keterusan menjadi penulis amatiran. Berbagai kolom surat pembaca di Jawa Pos, Surabaya Post, Suara Indonesia (kini Radar Surabaya), ataupun kolom Komentar TEMPO sering memuat suara-suara protesku, baik soal keredaksian maupun masalah yang sedang berkembang di masyarakat. Waktu itu aku mengenalkan diri sebagai aktivis Pusat Studi Islam Surabaya, tempatku berdakwah (sebenarnya nama populernya adalah Forum Studi Islam [FOSI].

Lucu juga, karena dari situ aku banyak menerima surat kaleng bahkan banyak diantaranya berisi ancaman bunuh.

Pasca mahasiswa, aku mengajar di sekolah swasta, di almamaterku SMAM 1 Babat  dan di SMP Arif Rahman Hakim Surabaya. Aku mengajar biologi, sesuai dengan jurusan kuliahku di IKIP Surabaya (tapi pernah lho aku mengajar olah raga di SDI Hasanuddin Surabaya. Aneh ya?).

Rupanya profesi sebagai guru (idealis!) tidak bertahan lama. Ketika itu seorang senior pengajian (Ustadz Abdul Aziz, SE) memintaku untuk menerbitkan buletin Jum’at sebagai, katakanlah, (jikal-bakal) divisi penerbitan pada perusahaan percetakan CV Cakrawala yang dirintisnya, sekaligus sebagai media dakwah.

Aku rancang sebuah buletin yang lain dari yang selama ini beredar di masjid-masjid saat shalat Jum’at. Aku beri nama Buletin Jum’at HANIF, yang berarti lurus atau meminjam Cak Nur, bermakna lapang.

Aku beri motto, Cerdas, Padat, Penuh Makna, karena tulisannya memang padat, terdiri dari dua tulisan. Tulisan di halaman 1 memuat tulisanku tentang manajemen etik (yang kemudian berkembang pada politik etik dan tasawuf etik[?]) dan tulisan halaman 2 sebagai rubrik Kata Kunci Al Qur’an, yang diasuh oleh seorang seniorku yang lain (Ustadz Drs. Ahmad Hariadi, MPsi). Rubrik ini berisi penjelasan atas makna kata atau tema dal Al Qur’an, semacam tafsir tematik.

Alhamdulillah, sejak terbit pertama kali pada Juli 1996, Buletin Jumat HANIF sampai sekarang selalu terbit (tidak pernah berhenti terbit satu kali pun), meski dalam perkembangannya, menghadirkan pula beberapa penulis tamu.

Sejarah Buletin Jum’at Hanif adalah sejarah dan pengalamanku dalam bekerja. Karena setelah menangani buletin itu, aku jadi keterusan bergumul dengan bidang advertising dan printing di CV. Cakrawala.

Selain itu, aku juga terlibat dalam penerbitan majalah dakwah Eksis. Sayang, hanya setahun lebih majalah ini eksis (jadi, tidak sesuai dengan harapan majalah itu dinamakan eksis dong?).

Kini, di samping tetap menjaga eksistensi Buletin Jumat HANIF, sebulan sekali aku menulis rutin rubrik Sorotan pada majalah Muslim, yang diterbitkan Dana Kesejahteraan Muslim (DKM) Surabaya (dan akhirnya berhenti saat majalah tersebut tidak terbit lagi).

Suatu kurun waktu, terlecut oleh motivasi senior, akhirnya aku pun mencoba lagi menulis opini di Surabaya Post. Alhamdulillah, dimuat. Kemudian menulis juga untuk rubrik opini Jawa Pos (Metropolis), dan harian Surya.

Tapi akhirnya kesibukan kerja yang membuat semangat menulis itu tenggelam lagi. Entah kapan aku tergerak untuk mencoba (kembali) menulis di media massa umum? Atau kapan aku menulis buku? (tapi kalau mau mengumpulkan tulisan dan dicetak sebagai “buku”, barangkali sudah belasan jilid yang bisa diterbitkan). [catatan, akhirnya bukuku terbit Tuhan yang Terpenjara]

Ah, … yang penting aku tetap menulis! Dan semoga aku bisa menghimpun tulisanku yang terserak—termasuk makalah diskusi—itu untuk pembaca blog ini. Semoga bermanfaat!

Iklan

52 komentar

  1. assalamualaikum,

    Pak Fathoni salam salut dan penghormatan dari saya,
    semoga saya bisa banyak belajar dari Bapak.

    wassalam

    Suka

  2. Ah, bukan kebalik. Aku yang justru mau belajar bagaimana cara mendidik anak-anak (SMP Plus Ar Rahmat), kok jadi pinter-pinter?

    Juga belajar (cara mengajar) biologi. Maklum sudah lama “murtad” dari guru.

    Salam dari Allah, juga rahmat dan barakah.

    Suka

  3. Kirim fotomu dan keluarga! Semoga semua baik-baik saja. Sebentar lagi puasa, semoga kita sampai ke sana, dan bisa berlebaran di Lamongan Kampung (Lampung)!

    Suka

  4. semoda tulisan-2nya bermanfaat dan lebih baik lagi jika yang dikupas tentang agama disertai dalil-2nya baik alqur’an maupun hadist supaya lebih mantap, sukron

    Suka

  5. maz,sampean alumni tahun berapa.ak juga mantan alumni SMA Muh 1 babat.oh iya, sampean ngajar apa, kok aku g taw.(www.ghulam_642@na.its.ac.id)

    Suka

  6. Ass,
    Alhamdulillah!! Mungkin ana baru bisa ngebuka blog dari kawan2 FOSI. Salam kenal, dari kami FOSI Palembang. Salut buat pengalaman dan perjuangannya. Smoga, kami juga bisa demikian. Info dan Mohon Do’a : Insya Alloh tanggal 21 Maret 2008, FOSI Palembang akan di deklarasikan dengan Nama “Lembaga Studi Islam Indonesia Wilayah Sumatera Selatan” Mohon Do’a dari semuanya!!

    Suka

  7. Assalamu ‘alaikum wr. wb.
    Aku salut, semoga perjalanan anda hingga kini akan dikenang oleh siapun di negeri ini. Janganlah berhenti menorehkan goresan anda. Tuangkanlah agar setiap mereka dapat menikmatinya, mengetahuinya, dll. juga agar mereka tahu, bahwa anda ada. Wassalam from Makassar.

    Suka

  8. Dear Fathoni …
    Terimakasih banyak tegur sapanya.
    Teringat masa masa dulu sebagai anak kost yang serba sulit terbatas. Pingin nya menggapai Akhirnya ketemu juga via phone dan situs internet. Selamat berjuang sahabatku. Wassamualaikum wr wb.

    Suka

  9. Assalamu’alaikum mas, mampir lagi.
    Mas, kritik dikit, kalo kita nyediain kolom comment, artinya membuka diskusi dg yg lain. Lha kalo ada yg comment di tiap artikelnya, mestinya juga dikomen balik lo mas :). Nha tuu coment saya gak dikoment lagi (di dicari islam radikal–hehe ngambek sayanya)

    Suka

  10. Ass ya akhi, salam kenal
    wah takjub dengan biografi singkatnya
    Arek FOSI ya 🙂
    Salam kenal aja, silahkan bertualang (berkunjung lebih tepatnya, heheh)di rachmawan.wordpress.com

    Suka

  11. As.Wa.Wb.
    Mas terus aja menulis di media, masyarakat perlu diberikan penyadaran bahwa sesuatu itu harus di awali dari bagaimana kita memberikan uswah bagi yang lain.Ingat musuh-musuh Islam saat ini tidak menyerang Islam secara langsung melainkan lewat kehidupan kita dalam masyarakat sehari-hari.Mereka saat ini melakukan transformasi masyarakat Indonesia melalui Fenomena yang diciptakan sehingga berpaling dari dien Islam.Terus berjuang…..BTW Pesantren mahasiswa Rausanfikr nyomot dari nama anaknya ya…he..he..he..sukses selalu semoga Allah selalu melapangkan jalan bagi kita semua…Allahu Akbar..
    Wassalam

    Suka

  12. @ Mas Imam
    Makasih komentarnya. Semoga saya masih diberi kemampuan menulis (yang lebih baik).

    Untuk Raushanfikr, kebetulan saja semangatnya sama: kecendekiawanan dan perubahan. Raushanfikr kan mengadopsi konsepnya Ali Syariati.

    Suka

  13. Assalamu’alaikum

    salam kenal pak. akhirnya saya menemukan pencerahan lewat dunia maya ini. sudah lama saya kehausan tentang keislaman, tidak tahu ke mana harus mencari.

    dulu sempat ikut kegiatan yang mengundang teman2 fosi sby. setelah kegiatan berakhir rasanya tidak ingin berpisah dengan teman2 yg berwawasan luas. namun kenyataan berkata lain, sampai merasa hampa.

    mohon maaf telah menjadikan tempat ini untuk curhat.

    wassalamu’alaikum

    Suka

  14. Mohon Maaf pak toni, senelumnya tanpa ijin telah me-link web bapak. Saya kenal FOSI dari temen2 Karang Taruna Brebek yang bikin acara dengan tim FOSI. Kemudian dari Alumni kegiatan itu ada yang mengundang FOSI lagi. Kalau tidak salah waktu itu yang mengisi pak Tukarni dll…

    Sekarang aktif di Muhammadiyah Wilayah. Kaloau ingin kajian bersama FOSI bisa kemana ya pak??? Itu pun kalau boleh ikut.

    terima kasih telah mengunjungi blog saya yang masih sederhana. Maaf, ternyata perkenalannya belum selesai. yang pake baju merah di foto reunian itu kakak saya. saya yang pake jaket. Tinggi semampai (semeter tidak sampai. hehe… kata temen2.cuma istilah pak.

    Suka

  15. Serasa familiar. Tidak sengaja search nama saya di google, koq ada disini. Ada yang tahu koordinat mas Didik Purwo FOSI Yogyakarta?

    Suka

  16. INI AKU

    kini kutahu
    kuingin menulis
    tapi ku tak tahu
    apa yang ingin kutulis

    aku gerah
    aku gusar
    namun resah
    mungkinkah kupapar

    wajah-wajah nista
    yang bangga berdiri di atas derita
    wajah-wajah memelas
    penuh sengsara dan ditindas

    di manakah aku
    bila ingin berteriak
    katakan kepadaku
    di mana kakiku dapat kupacak

    paya pasir, 22 Juli 2008

    Suka

  17. salam kenal semua.apa yg dsampaikan sguh menjadi pljaran bgi kita yg ingin mju dalam mengedepankan kemashlahatan umat.smg qt sentyasa eksis dalam gerak langkah dakwah qt.

    Suka

  18. harus banyak ngaji, dikoreksi kembali tentang keberadaan training f1, f2 dan lainnya agar supaya umat ini benar-benar mengikuti jalan yang lurus Alloh , Rosulnya, sahabatnya, tabi’in, tabiun tabi”in dan para ulama salaf

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s