Sakit dan Gizi Rohani

Tak ada yang berharap sakit, tapi seringkali sakit itu dibutuhkan oleh rohani. Karena dalam sakit kita tersadar, betapa tubuh tak kuasa atas serangan penyakit, yang seringkali hanya dilakukan makhluk kecil.

Terhadap serangan makhluk super-kecil (mikroorganisme) saja kita ambruk dan sakit, maka sebenarnya kita tersadar dari mana sumber kekuatan itu? Jadi tampaknya sakit itu datang sebagai semacam cambuk peringatan, “Lu jangan sok gagah deh!

Mungkin merasa sok gagah, ayu, kaya, atau kuasa, menjadi modal kesombongan, lalu kita lupakan jati diri dan bahkan kuasa Tuhan.

Lanjutkan membaca “Sakit dan Gizi Rohani”

Aku Anak Stasiun Kereta Api

Oleh-oleh dari Pesantren SPMAA, Turi, Lamongan

Niat awal kami memang bersilaturahmi pada seorang kawan yang habis opname dari rumah sakit. Rupanya dia tidak langsung pulang ke rumanya di Kota Lamongan, melainkan mau recovery dulu di Pesantren SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah), sebuah pesantren yang didirikan ayahnya, almarhum Bapak Guru Mochtar, dan kini diteruskan oleh adik-adiknya.

Maka, selain menjenguk dia, akhirnya kami juga diperkenalkan lebih jauh tentang SPMAA. Dipandu oleh adiknya yang juga sebagai direktur yayasan, kami diperjalankan keliling melihat sisi-sisi pesantran yang terletak di Desa Turi, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Dalam perjalanan itu, melintas seorang santri. Entah sebagai basa-basi atau apa, kami sempat menanyakan asal santri tersebut.

“Berasal dari mana Dik?” tanyaku.

“Dari stasiun,” jawabnya singkat.

“Ah, pandai bergurau rupanya anak itu,” gumanku dalam hati.

Tapi ketika kami tegaskan lagi pertanyaan tentang asalnya, dia tetap menjawab dari stasiun kereta api.

Kami terhenyak, sebab berharap jawaban yang keluar dari mulut anak itu adalah Madiun atau Bojonegoro, atau kota dan daerah lainnya.

Lanjutkan membaca “Aku Anak Stasiun Kereta Api”

Hijrahmu Rindumu

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum anshar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

Tak terbayangkan olehku
getir yang menyelimutimu
di hari-hari penuh pilu
ketika musuh-musuh memburumu

kau tawarkan iman
dijawab dengan cacian
kau bawa kedamaian
disambut dengan siksaan

pedih yang tak tertahan
menimpa sahabat sekawan
nabi dan sahabat yang terancam
hidup umat kian mencekam

dulu terboikot kerabat Quraisy
ke negeri Thaif pun terusir
di tanah kelahiran tergenjet
ruang dakwah jadi mepet

kau cari tanah perlindungan
Allah memberi jawaban
tanah Yatsrib penuh harapan
berkibar-kibar menunggu tuan

perjalanan mengendap-endap
kuatir musuh datang menyekap
padahal jarak tidaklah dekat
Mekkah – Madinah teramat penat

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum anshar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

hijrahmu adalah perjuanganmu
juga pengorbananmu
menjadi inspirasiku
selalu terindu olehku

Selamat Tahun Baru 1436

Mohammad Nurfatoni