Menulis, Menulislah!

Judul tersebut, sengaja saya pilih karena mengandung dua kategori, yaitu kategori motivasi dan kategori proses. Keduanya akan menunjukkan bahwa menulis itu penting sekaligus mudah bagi Anda.

Jika berangkat dari kategori motivasi, maka “Menulis, Menulislah!”, saya maksudkan sebagai kalimat ajakan kepada Anda agar termotivasi untuk menulis. Mengapa ketrampilan menulis perlu Anda miliki? Paling tidak ada empat alasan yang bisa saya jelaskan. Pertama, dengan menulis, Anda bisa menuangkan gagasan, ide, atau nilai dengan lebih leluasa dan terkontrol. Leluasa karena Anda bisa mengeksplorasi gagasan Anda, lengkap dengan data dan kutipan pendukung.

Gagasan Anda juga terkontrol, karena sebelum tulisan Anda termuat dan tersebar, Anda bisa membaca ulang untuk bisa melakukan proses editing. Belum lagi jika tulisan Anda di-edit atau disensor oleh pihak penerbit (untuk yang terakhir sisi negatifnya jika proses sen­sor yang dilakukan terlalu mengebiri bahkan membunuh substansi tulisan). Keleluasaan dan keterkontrolan ini bisa Anda bandingkan dengan penyam­paian gagasan secara lisan, yang lebih banyak mengan­dalkan spontanitas.

Kedua, dengan tulisan, sebuah gagasan Anda menjadi lebih luas. Tentu saja, yang saya maksud tulisan dalam hal ini adalah tulisan yang disebarluaskan, baik melalui media cetak, buku, atau selebaran [kini juga internet]; bukan tulisan yang disimpan rapat-rapat di laci. Jika Anda menuliskan gagasan pada buletin ini, misalnya, paling tidak akan dibaca oleh 3.500 orang (jika berpatokan satu buletin dibaca satu orang, sesuai dengan tiras buletin ini; padahal satu buletin, biasanya dibaca lebih dari satu orang). Belum, jika Anda menulis pada media yang tirasnya mencapai ratusan ribu.

Jadi dengan hanya berada di rumah, gagasan Anda sudah dibaca ribuan, bahkan ratusan ribu orang. Anda, dengan demikian bisa mempengaruhi banyak orang cukup dengan memainkan (otak dan) jari-jari Anda di mesin tulis. Bandingkan dengan penyampaian secara lisan. Berapa energi yang harus Anda (atau panitia) keluarkan untuk memobilisasi ribuan orang dalam rangka mendengar ceramah Anda.

Ketiga, gagasan yang Anda tulis dan tersebar tersebut akan terdokumentasi cukup lama. Berapa lembaga ilmiah yang akan mendokumentasikan tulisan-tulisan Anda yang termuat di koran, majalah, jurnal, [atau internet]. Jika Anda menulis buku, berapa perpustakaan yang akan mengoleksinya. Dengan terdokumentasinya tulisan tersebut, maka gagasan Anda akan melintasi zamannya dan akan menjumpai generasi-­generasi sesudah Anda.

Tak heran jika saat ini kita masih bisa “on line-berdiskusi” dengan Imam Syafi’i, Imam Al Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah, Jamaluddin AI Afghani, Abul A’la Al Maududi, Said Hawwa, atau A. Hasan, lewat tulisan-tulisannya. Padahal, mereka telah puluhan tahun meninggalkan kita. Jadi, tulisan adalah jejak sejarah yang paling berharga.

Keempat, dengan menulis Anda bisa melakukan banyak hal. Bukankah membuat proposal, menulis laporan, menulis hak jawab di media memerlukan ketrampilan menulis?

Disamping menjadi saran sosialisasi gagasan, ide, atau nilai seperti tersebut di atas, tulisan juga mampu menjadi sarana promosi lembaga Anda. Oleh karena itn, kini banyak lembaga (sosial & bisnis) yang memiliki pener-bitan sendiri.

Dilihat dari katagori proses, “Menulis, menulislah!” mengajarkan bahwa jika Anda ingin menulls, maka menulislah. Sebab menulis tidaklah sesulit yang Anda bayangkan, asal, Anda bertekad mencobanya. Mencoba dan mencoba. Menulis dan menulis.

Lantas, bagaimana (memulai) menulis? Untuk bisa menulis Anda harus membaca. Sebab sebelum menulis, Anda perlu inspirasi, perlu data, dan, mungkin, perlu jejak gaya penulisan. Semua itu bisa Anda dapatkan dari apa-apa yang Anda baca. Jadi, menulis mensyaratkan Anda untuk rajin-­rajin membaca.

Membaca saja tidak cukup. Untuk mendapatkan topik­-topik tulisan yang tajam dan orisinil, Anda perlu melakukan perenungan. Anda mungkin perlu semacam ilham. Dan, yang tak kalah pentingnya dalam menemukan topik tulisan adalah kecerdasan untuk merespon lingkungan. Ada kejadian apa di lingkungan Anda? Anda boleh menganalisis, mengkritik, dan merekontruksi terhadap fenomena di lingkungan Anda (lingkungan lokal, nasional, atau internasional).

Setelah itu, hadapilah lembaran kertas, mesin kefik, atau komputer. Dan menulislah! Tidak sulit kan? Tentu saja, Anda perlu mencoba; perlu latihan. Banyak media [cetak] yang menanti tulisan Anda, tak terkecuali buletin yang sedang Anda baca ini.

Jadi, menulis itu memang: enak dan perlu!

Mohammad Nurfatoni
(Dimuat di Buletin Jumat HANIF, No. 49. 4 Juli 1997)

Iklan

4 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s