Islam dan Pluralitas Agama

Melalui AI Qur’an kita tahu bahwa Islam adalah (agama) kebenaran dari Tuhan (AI Baqarah/2:147); Islam adalah satu­-satunya agama yang diridai Tuhan (Ali Imran/3:19); Islam adalah agama lurus, petunjuk jalan hidup manusia (AI An’am/6:153).

 

Meskipun begitu Tuhan masih memberi hak bagi orang lain untuk tidak beriman (dalam Islam): “Dan jikalau Tuhanmu mengendaki, tenlulah beriman semua arang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya” (Yunus/10:99). Dan karena itu pula Islam hadir bukan untuk menghancurkan agama lain. Islam bahkan secara penuh menjamin kemerdekaan beragama: “Tidak ada paksaan (memasuki) agama (Islam)” (AI Baqarah/2:256) “Untukmu agamamu dan unlukku agamaku” (Al Kafirun/109:6).

 

Pesan-pesan penting AI Qur’an di alas sekaligus menunjukkan betapa Islam sangat menghargai pluralitas agama. Ajaran pluralitas Islam itu bisa disarikan sebagai berikut: (1) agama Islam adalah ajaran kebenaran (2) selain agama Islam, ada agama lain yang perlu dihormati (3) masing-masing pemeluk agama harus tetap memegang teguh ajarannya.

Ketiga ajaran pluralitas di atas, tentu saja, tidak menghendaki sikap-perilaku yang saling kontradilaif. Di antara sikap-perilaku kontradiktif yang sering terjadi adalah: (1) sikap yang menganggap semua agama sama, dalam pengertian sama­-sama bernilai benar di sisi Allah (2) memaksa pemeluk lain berpindah agama (3) menghancurkan agama lain, termasuk membunuh pemeluknya atau membakar tempat ibadahnya (4) bertukar ajaran agama layaknya bergonta-ganti baju (karena menganggap semua baju baik = semua agama sama/benar), termasuk diantaranya mengikuti ritual agama lain.

##

Dengan memahami ajaran pluralitus agama di atas maka akan terlihat bahwa fenomena-fenomena berikut ini tidaklah patut dilakukan: pertama, proyek kristenisasi yang dilakukan oleh agama Kristen terhadap pemeluk agama Islam. Fenomena ini, dalam kaitannya dalam pluralitas agama, menunjukan dua hal: (1) tidak adanya kesadaran dari elit proyek kristenisasi untuk tidak memaksa pemeluk Islam berpindah agama Kristen. Proyek kristenisasi ini terkategori memaksa karena perpindahan agama di situ bukan didasarkan pada pencarian kebenaran secara obyektif, malainkan hanya karena paksaan (iming-iming) kesejahteraan ekonomi (2) masih banyaknya pemeluk Islam yang tidak mampu berpegang teguh pada kebenaran ajaran islam, sehingga secara mudah dipaksa berpindah agama.

Kedua, masih banyaknya pejabat Muslim, dengan dalih toleransi, yang mengikuti ritual (perayaan) Natal atau adanya beberapa tokoh Muslim yang pergi ke gereja, menunjukkan bahwa mereka tidak konsisten untuk berpegang teguh terhadap ajaran agamanya sebagaimana yang dikonsepkan oleh pluralitas agama, sebab dalam fenomena tersebut ada indikasi terjadi saling tukar-menukar ibadah ritual.

 

Ketiga, upaya sistematis pemusnahan penduduk Muslim dari Maluku (Utara) yang dilakukan penduduk Kristen lewat teror, pengusiran, pembumihangusan, dan pembunuhan massal, di samping sebagai pelanggaran HAM, juga, dalam kaitan kajian ini, adalah tindakan yang sangat tidak mengindahkan sama sekali kaidah pluralitas agama yakni keharusan menerima kenyataan bahwa selain dihuni oleh penduduk yang beragama Kristen, kepulauan Maluku (Utara) juga didiami oleh penduduk Muslim), yang patut dihormati.

Dengan alasan yang sama, pembakaran gereja di Mataram atau di Yogyakarta juga tidak bisa tidak dibenarkan, sebab dengan pembakaran itu, terkandung unsur tiduk diindahkannya kaidah pluralitas agama yang berbunyi: “selain Islam, ada agama lain yang perlu dihormati”.

###

Jika kaidah-kaidah pluralitas agama seperti di atas, satu saja dilanggar oleh salah satu pemeluk agama, dan pelanggaran itu mengganggu kehormatan (pemeluk) agama lain, tentu akan terjadi disharmonisasi kehidupan bersama, bahkan sampai bentuk yang terberat sekalipun, konflik atau perang. Pelanggaran dan akibat pelanggaran terhadap kaidah pluralitas agama itu akan mengikuti hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat.

Pemaksaan kepada pemeluk agama Islam untuk berpindah ke agama Kristen lewat proyek Kristenisasi akan menimbulkan tindakan pelanggaran lain terhadap kaidah pluralitas agama, misalnya pembakaran gereja yang dianggap menjadi pusat (perencanaan) Kristenisasi. Kasus pembakaran kompleks Dolulos mungkin bisa dijelaskan dengan hukum aksi-reaksi ini. Pembakaran gereja di Mataram dan Yogyalarta, dalam konteks ini pun, tidak akan terjadi jika tidak ada upaya sistematis pemusnahan umat Islam di Maluku (Utara).

Demikianlah seterusnya yang terjadi jika terjadi pelanggaran terhadap kaidah pluralitas agama. Setiap ada pelanggaran akan memunculkan pelanggaran baru. Logiskah?

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif N0. 27 Tahun ke-4, 5 Pebruari 2000

Iklan

7 komentar

  1. mas kalau sebtas toleransi umat beragana ga jadi masalah, kita tahu paham yang muncul sekitar abad kalam, disitu ada salah satu faham taqiyah yang mengatakan bahwa sebatas melindungi jiwa kita boleh melakukan pribadatan padahal dalam hatinya adalah wong islam, jadi ga masalah bagi say untuk sebatas toleransi aja. gitu aja ko refot mas

    Suka

  2. wah spertinya mas syihab ni orang’y liberal jg ya?!mnurut saya agama mrupakan sebuah wadah relugius bagi mnusia, agama apapun itu. ktika manusia merasa dan mlai mnyadari bhwa ada ssuatu hal lain dLuar dri’y yg lbih berkuasa dan impersonal serta adikodrati maka hal itu dMnisfestasikan dan dProyeksikan dalam sebuah kyakinan personal. ketika penglaman religius trsebut terwdah dlm sbuah kmunitas mka kyakinan tsb dbri nma agma sebagai sebuah legtimasi hukum maupun eksistensi. permasalahan’y ktika kyakinan tsb mnjadi knadala atau pnyebab konflik antar manusia atw klompok. maka scra tdk lngsung dpt dkatakan bhwa mnusia terjrumus dan dprbudak oleh kyakinan’y sndiri shingga lpa bhwa mreka adlah mhluk hdup yang brakal bdi dan hdup dalam sebuah kmunitas plural sebagai mhluk sosial. bagitu mnurut saya. kalo da salah kta saya minta maap.Thnx

    Suka

  3. banyak yang ngomongin pluralitas,… dari berbagai segi.. baik negara, agama, politik..
    tapi saya bingung apa sih sebenernya arti dari pluralitas??????????????

    Suka

  4. ups.. ada yang lupa,.. tadi saya menanyakan apa sih yang dimaksud dengan pluralitas?
    kalo bicara dari segi agama..
    kenapa banyak sekali perbedaan agama?
    kenapa tuhan tidak menurunkan satu agama saja?
    walaupun manusia berusaha menjaga kerukunan antar agama, tapi…
    kalo kebanyakan agama kan manusia banyak yang bingung, malah bisa terjadi perdebatan yang kadang bisa menimbulkan kerusuhan antar agama??????????????
    terus gimana donk??

    Suka

  5. Waduh…vhie jangan ngambek dulu dunk..
    Gini lho (sok pinter mode on)
    Sejatinya Tuhan itu ya hanya menurunkan satu agama saja sejak dari awalnya. Baca tuh Qur’annya, sejak Nabi Adam, manusia sudah disuruh menuhankan satu Tuhan saja yaitu ALLAH.

    Nah, yg jadi masalah adalah manusianya yg sok pinter, sok tahu dan sok kuasa, sehingga agama yg satu itu direkayasa, ditambah-tambahi, dikurangi sana-sini, dan akhirnya terjadilah banyak agama spt sekarang ini.

    Ada juga manusia lain yg lebih sok, lalu dia bikin “agama” sendiri, bikin aturan ibadah sendiri,dll.

    Solusinya: gak ada mbak, karena memang manusia sudah kodratnya begitu (menjadi makhluk paling sok) kalopun ada solusinya barangkali ya mereka harus mau menjadi tidak sok lagi.

    Ojo adigang, ojo adigung, dadio wong sing prasojo.

    Suwun

    Suka

  6. tuk vhie yth.salam kenal semua yg ada dsini.mnrut saya ne,sungguh allah maha mengetahui apa yang diperbuat-Nya. nah allah mellaui al-quran telah menerangkan dengan jelas bahwa agama yg diridahi Allah hanyalah Islam, bukan islam dg embel2 yg lain. sekrag tergantung pd stiap indivdunya, apakah mencari kridhaan allah dalm Islam atw mncri kmurkaan allah diluar islam. n ne adalah sebuah kebebasan dari allah kepada manusia untuk memilih jln tbaik dlm hdupnya setelah allah dengan jelas memberikan gambaran dari hasil perbuatan yang akan diperbuat manusia.

    Suka

  7. Al-qur’an, sebagai wahyu Allah,dalam pandangan dan keyakinan umat Islan adalah sumber kebenaran dan mutlak benarnya. Meskipun demikian, kebenaran kebenaran mutlak itu tidak akan tampak manakala Al-qur’an tidak berinteraksi dengan realitas social, atau menurut Quroish Shihab, dibumikan: dibaca, dipahami, dan diamalkan. Ketika kebenaran mutlak itu disikapi oleh para pemeluknya dengan latar belakang cultural atau tingkat pengetahuan yang berbeda, akan muncul kebenaran-kebenaran parsial. Sehingga kebenaran yang diperoleh manusia menjadi relative. Sedangkan kebenaran mutlak hanya milik Tuhan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s