Sederhananya Puasa

Kita benar-benar berada dalam krisis ekonomi, bahkan puncak krisis ekonomi (paling tidak sampai tulisan ini diturunkan). Presiden Soeharto sendiri dalam pidato pengantar RAPBN 1998/1999 menyebut kondisi ini sebagai badai, meskipun dengan harapan (badai itu) pasti berlalu. Dipicu oleh terus melemahnya nilai rupiah terhadap US$ (saat tulisan ini dibuat, nilai tukar rupiah mencapai titik terendah Rp. 7.800/ dolar). Lalu naiknya harga barang yang mengandung komponen impor secara gila-gilaan. Bukan itu saja, barang-­barang lokal pun seakan mendapat katalis untuk melonjak naik. Buruh-buruh harus terkena PHK besar-besaran. Bahkan, tidak berhenti di situ, krisis ini pun telah melahirkan kepanikan sosial.

Bayangkan, koran-koran harus “membredel” dirinya sendiri, baik dengan cara menaikkan harga, mengurangi tiras, mengurangi halaman, bahkan siap-siap mandeg terbit. Ibu-­ibu menjadi panik oleh kenaikan susu, minyak goreng, gula, telur, daging, sabun deterjen, kacang tanah, bahkan bayam, kangkung dan garam. “Ini sih bukan susah lagi, keterlaluan,” keluh Fatimah ibu rumah tangga berumur 40 tahun, seperti dikutip Republika (Minggu, 4 Januari 1998). Kepanikan itu dengan cukup jeli juga direkam oLeh Jawa Pos (Rabu, 7 Januari 1998). Perhatikan laporannya: “Sehari setelah geger harga susu naik, suasana di sejumlah pasar swalayan Surabaya “rush”. Puluhan ibu langsung menyerbu konter-konter susu di pasar-­pasar swalayan itu. Bahkan … beberapa pengunjung sampai bertindak seperti seorang pialang saham di bursa efek.”

Kesederhanaan Puasa

Tapi kita mesti tetap mengucap alhamdulillah, apalagi puncak krisis itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebuah bulan “sederhana” yang mengajarkan kesederhanaan. Jika biasanya dalam sehari kita makan tiga kali—bahkan bisa lebih dari itu, karena tidak ada batasan waktu puasa memangkas menjadi cuma dua kali, yaitu saat sahur dan berbuka.

Jika di luar Ramadhan di antara kita masih leluasa berpesta dan mendatangi tempat-tempat hiburan, suasana religius Ramadhan akan mengeremnya, sehingga anggaran belanja kebutuhan tersier tersebut dapat dihemat. Jika tidak dalam bulan Ramadhan banyak kalangan yang mendatangi tempat-­tempat maksiat, Ramadhan akan menghentikannya, setidaknya menciptakan rasa sungkan, sehingga terjadi penghematan besar-besaran; sebab mana ada tempat maksiat yang tidak butuh biaya (besar).

Penghematan-penghematan yang saya contohkan di atas, baik yang dilakukan dengan suka rela maupun terpaksa, adalah cerminan sosok puasa. Puasa mengajarkan pengendalian hawa nafsu, sekaligus mengarahkan manusia untuk mencerahkan sisi spiritualnya.

Pengendalian hawa nafsu bermakna mengendalikan diri dari pemuasan kebutuhan material secara berlebihan. Memang kebutuhan-kebutuhan material adalah sesuatu yang inheren dalam diri manusia, karena salah satu dimensi manusia adalah dimensi fisik atau biologis, tetapi karena manusia juga berdimensi non-fisik (boleh baca berdimensi ruhani-spiritual-­psikologis), maka pemenuhan dan pemuasan kebutuhan fisik belaka akan menggelincirkan manusia menjadi setara dengan makhluk yang semata-mata berdimensi fisik. Artinya harus ada pembatasan (dalam arti positip) terhadap pemuasan kebutuhan fisik. Sebab beriringan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, manusia juga butuh pemenuhan dan pemuasan kebutuhan non fisik. Dalam hal ini puasa berfungsi sebagai penyeimbang atau penyearah pada kewajaran pemenuhan kebutuhan manusia.

Praktik Antisederhana Puasa

Sayangnya, nilai-nilai kesederhanaan yang terkandung dalam puasa seringkali tidak dipahami secara mendalam;­ sehingga muncul praktik-praktik yang kontradiksi. Menu puasa bukannya menjadi hemat-karena makan cuma dua kali ­tapi sebaliknya terjadi pemborosan-pemborosan, karena ada semacam tradisi pilih-pilih menu.

Tidak cukup itu saja, bulan Ramadhan juga menjadi ajang pemuasan konsumtivisme, karena ada tradisi memiliki barang baru dalam menyambut Idul Fitri. Tak heran jika terjadi kenaikan omset penjualan barang-barang di bulan Ramadhan.

Memang, Idul Fitri adalah hari perayaan orang-orang Is­lam yang telah “berhasil” menjalankan ibadah Ramadhan. Namun, bukan berarti perayaan itu dimeriahkan dengan kemewahan, kemegahan, dan penuh glamour. Sebab hal-hal semacam itu akan menjadi sesuatu yang kontradiktif dengan puasa itu sendiri. Bukankah puasa juga mengajari kita untuk memiliki rasa kepedulian sosial yang cukup tinggi? Bukankah puasa juga mengajari kita untuk siap mati? Bagaimana kita siap mati; bagaimana kita siap membagi kepedulian sosial; jika kita berada dalam kondisi bermegah-megahan?

Jadi untuk mampu menangkap kesederhanaan puasa dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mencontoh praktik puasa Rasulullah saw. Betapa sederhananya Rasulullah saw saat puasa, juga sederhananya Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Cara berpakaiannya. Menu dan cara makannya. Pola hidupnya. Sederhana… sederhana!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 24 Tahun ke 2, 9 Januari 1998

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s