Menahan Ambisi dengan Puasa


Jika kita berkenan menjadikan bulan Ramadhan 1418 H sebagai ajang retrospeksi perjalanan setahun pada 1997—­karena bertepatannya pergantian tahun dengan awal puasa—­maka salah satu persoalan penting yang perlu kita evaluasi adalah ambisi-ambisi kita.

Ambisi sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Katakanlah sebuah cita-cita atau harapan-harapan optimisme pada masa depan. Menjadi tidak wajar jika ambisi itu melampaui batas-­batas kewajaran kita. Artinya, baik “sesuatu” yang akan kita capai maupun cara-cara pencapaiannya masih berada dalam jangkauan kemanusiaan kita. Namun apahila keduanya melebihi kapasitas-kapasitas kita, maka ambisi itu menjadi sesuatu yang “utopis”. Uniknya sesuatu “utopis” itu kemudian menjadi sama kenyataan, berkat “pengerahan segala daya upaya”, termasuk dengan menghalalkan cara atau menginjak kepala orang lain.

Kasus-kasus pelanggaran moral dan ketidakseimbangan lingkungan (hidup atau sosial) yang terjadi selama 1997 adalah “prestasi-prestasi yang dicapai oleh sikap-sikap ambisius: ada pemilu yang menumbuhkan dan menyulut sikap anarki; dari kuningisasi, kamipanye yang melahirkan mayat-mayat, proses pemilihan yang “tidak bersih” (baca curang); ada kebakaran hutan lengkap dengan asap-jelaga, yang sangat menyesakkan pernafasan sekaligus memalukan bangsa; adanya upaya penyeragarnan sepatu bagi siswa sekolah; kasus penggunaan dana Jamsostek untuk pembahasan RUUK atau kasus korupsi dan kolusi lainnya; terbongkarnya kasus aborsi (baca pembunuhan janin) massal; pelanggaran-pelangaran seksual (termasuk pesta seks); bahkan ramainya perbincangan tentang suksesi sepanjang 1997 dan gejolak mometer pada paruh kedua 1997; dan tak kalah hebatnya adalah tumbuh suhurnya isu­-isu.

Puasa Menahan Ambisi

Puasa dalam kosa kata keseharian kita mengandung makna menahan diri. Makna seperti itu juga terdapat pada kata asalnya, syiam yang berarti menahan diri dari sesutu. Dalam parktik puasa, scsungguhnya kita sudah sangat paham terhadap apa-apa yang harus kita tahan. Menahan diri untuk tidak makan, minum dan huhungan suami istri sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Juga menahan marah. Menahan untuk tidak berbohong. Menahan diri dari ucapan kotor dan tercela. Menahan diri dari perbuatan yang mengarah pada kemaksiatan.

Jika kita sarikan, semua hal-hal yang perlu kita tahan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan keinginan-keinginan hawa nafsu.

Puasa dengan segala kesempurnaan pemahaman, baik secara lahiriyah maupun maknawiyah, melatih kita untuk mampu menahan seluruh potensi ketidak-terkendaliannya hawa nafsu. Mungkin, hal-haI yang perlu kita tahan, jika kita pandang secara lahiriyah, terkesan remah. Tetapi sesungguhnya kesemuanya itu merupakan latihan-latihan yang sangat berarti dalam menahan nafsu-nafsu besar yang mengerubungi ambisi-ambisi kita.

Tahan makan dan minurn. Berarti tahan diri Anda dari amhisi “memakan” dan “meminum” sesuatu di luar jangkauan kepemilikan kita. Jangan bakar hutan jika sekedar untuk menumpuk harta yang tidak akan habis diwarisi oleh tujuh keturunan. Jangan korupsi jika belum mampu beli Mercy atau BMW. Puasalah dari korupsi. Puasalah dari ekploitasi semena­-mena. Tahan berkata bohong, artinya jangan main curang, jangan manipulasi data, jangan main rekayasa. Tahan ambisi untuk menjadi pemenang mutlak sebuah pertarungan dengan kecurangan-kecurangan. Puasalah dari vested interst.

Tahan nafsu seksual, artinya jangan lakukan hubungan suami istri sebelum dilakukan akad pernikahan. Jangan main seks bebas. Jangan demi ambisi seksual, lalu Anda halalkan segala cara pemuasannya. “Tahan marah, artinya meskipun anakrnu itu terlahir di luar pernikahan, jangan dibunuh. Engkau membunuh berarti engkau tidak mampu mengendalikan ambisi angkara murkamu yang ke seklian kalinya”. Puasalah agar tidak melakukan aborsi.

Tahan dari perhuatan tercela, artinya jangan Anda gadaikan idealisme Anda demi ambisi segebok suap-kolusi. Tahan ambisi Anda untuk rnempengaruhi kebijakan dengan cara “damai-suap” atau “damai-kolusi”. Puasalah agar tidak melakukan suap dan kolusi.

Tahan ambisi-ambisi kekuasaan yang memperkokoh status quo. Tahan ambisi-ambisi kekuasaan yang mencarut-marutkan masyarakat dengan isu dan intrik-intrlk. “Puasalah dari kekuasaan. Puasalah … puasalah … tahan … tahan ….”

Jadi, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menilai sejauhmana tingkat keberhasilan kita atau masyarakat kita dalam melaksanakan puasa, yang secara lahiriyah sangat hiruk pikuk. Lihat sejauhmana kita dan masyarakat kita mampu menahan diri. Bukan saja menahan diri dari sesuatu larangan yang kecil, juga ambisi-ambisi besar kita.

Betapa nikmat dan barakahnya puasa yang kita lakukan!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No23 Tahun ke-2, 2 Januari 1998

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s