“Saya terus berdoa dan menyebut nama Tuhan.” Mufti Mubarok, salah satu dari 148 penumpang Boeing 737-300 Adam Air yang yang mengalami insiden saat pendaratan di Bandara Juanda Surabaya, Rabu (21/2/07); seperti dikutip Jawa Pos (22/2/07). Kepanikan, juga pasrah. Dua kata yang mendominasi ruang psikologis para penumpang pesawat yang akhirnya ”selamat” tersebut. Kita sebut ”selamat”, karena pesawat tidakLanjutkan membaca “Ketika Bayangan Kematian Begitu Dekat”
Arsip Penulis:M Nurfatoni
Musibah Tak Berarti Penderitaan
Seorang jamaah masjid sedang gundah hatinya. Wajahnya tersungut kecut. Tergambar perasaan kecewa dan tertekan dari dirinya. Apa gerangan yang membuatnya begitu terpukul? Ternyata sangat sepele; sandalnya hilang! Padahal sebelum peristiwa itu terjadi, dia tidak pernah merasakan penderitaan batin seperti ketika sandalnya hilang itu. Namun, tiba-tiba ia tertegun sesaat. Dilihatnya seorang yang berwajah berseri-seri, memancarkan kebahagiaanLanjutkan membaca “Musibah Tak Berarti Penderitaan”
Kesendirian, Mikraj, dan Shalat
Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca ia berguman: Duh Gusti Allah, kepada-Mu kukeluhkan kelemahanku, kurangnya dayaku, rendahnya diriku di mata manusia, Oh Yang Maha Pemurah, Kaulah Tuhan dari makhluk lemah, Kaulah Tuhanku, ke manaLanjutkan membaca “Kesendirian, Mikraj, dan Shalat”