Kesendirian, Mikraj, dan Shalat

Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca ia berguman:

Duh Gusti Allah, kepada-Mu kukeluhkan kelemahanku,
kurangnya dayaku, rendahnya diriku di mata manusia,
Oh Yang Maha Pemurah,
Kaulah Tuhan dari makhluk lemah, Kaulah Tuhanku,
ke mana Kau bimbing aku?
kepada orang jauh yang mendustakan aku?
atau kepada musuh yang kau beri kekuatan melebihiku?

Asal Kau tak murka, aku tak peduli
kemurahan-Mu kepadaku melimpah
aku berlindung kepada cahaya-Mu
yang menerangi gelap, dunia dan akherat.
janganlah kemurkaan-Mu menimpa aku
kepada-Mulah aku menghamba
sampai Engkau puas sesuai kehendak-Mu
tiada yang lebih kuat dari kuasa-Mu.

(Baca juga: Dicari, Pemimpin yang Membumi)

Lelaki itu adalah Muhammad, Rasulullah saw. Kisah ini terjadi tatkala beliau bersembunyi di sebuah kebun anggur milik Uthbah bin Rabi’ah ketika menghindari kejaran orang-orang Bani Tsaqif, atas hasutan tiga pembesar bersaudara putra Amr bin Umar yaitu Mas’ud, Abdu Yalail, dan Habib. Mereka mengejar-ngejar dan melempari Rasulullah saw ketika beliau bermaksud meminta bantuan Bani Tsaiqf dalam menghadapi orang-orang Mekkah serta menawarkan agama Islam—setelah di Mekkah tidak lagi mendapat perlindungan.

Peristiwa yang terjadi di kota Thaif itu adalah salah satu episode getir dalam pengalaman hidup Rasulullah saw. Beberapa tahun kemudian, ketika beliau ditanya oleh Aisyah, Rasulullah saw menjawab: “Hari-hari hidupku yang paling getir, adalah dulu, ketika di tengah bangsaku, nasibku bergantung pada belas kasih Abdu Yalail.”

Sebelum peristiwa Tha’if, ada beberapa rangkaian peristiwa menyedihkan yang dialami Rasulullah saw. Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim.

Kala itu kaum kafir Quraisy bersepakat untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib, kecuali Abu Lahab yang membelot kepada kaum kafir Qurasy. Mereka melakukan bolikot dengan menulis perjanjian (shahifah) yang ditulis oleh Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Nota perjanjian itu kemudian digantung di Ka’bah. Adapun isi perjanjian itu adalah:

  1. Mereka tidak menikah dengan wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  2. Mereka tidak minikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  3. Mereka tidak menjual sesuatu apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  4. Mereka tidak membeli sesuatu apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

(Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam I, Darul Falah, 2004) Mereka diboikot di Syi’ib Abu Thalib. Letaknya di kaki bukit Abu Qubays, bagian Mekkah sebelah timur. Berbentuk sebuah pelataran sempit yang dikelilingi dinding batu terjal lagi tinggi, tidak dapat dipanjat. Orang ganya dapat masuk keluar dari sebelah barat melalui celah sempit setinggi kurang dari dua meter, yang hanya dapat dilewati unta dengan susah payah (H. Fuad Hasyem, Sirah Muhammad Rasulullah Suatu Penafsiran Baru, Mizan, 1990).

Pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun, yaitu dimulai tahun ke-7 kenabian sampai tahun ke-10 kenabian. Bisa dibayangkan betapa susahnya hidup dalam keadaan seperti itu. Mereka tidak tidak bisa keluar dari tempat ini kecuali pada bulan-bulan haram. Mereka membeli dari kafilah yang dating ke mekkah dari luar daerah, tetapi penduduk mekkah menghasut mereka agar menaikkan harga barang-barang dagangan mereka sehingga kaum Muslimin tidak dapat membelinya. Tak heran jika mereka banyak yang makan dedaunan dan kulit binatang. Tidak ada pasokan makanan, kecuali yang diselundupkan secara sembunyi-sembunyi dalam jumlah yang terbatas—misalnya yang dilakukan Hakim bin Hizam, keponakan Khadijah. (Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah, Rabbani Press, 2002).

Anggota klan yang bukan Islam memprotes Muhammad saw, yang dianggap biang keladi dari semua penderitaan. Khadijah, istri Rasulullah saw merasakan sengsaranya hidup dalam boikot, suatu keadaan yang belum pernah dialaminya—serba kekuarangan pangan, padahal beliau adalah orang kaya. Abu Bakar, yang dilaporkan punya uang 50.000 dirham ketika masuk Islam, ternyata hanya memiliki 4.000 dirham di saat hijrah ke Madinah. Ia memang menebus budak, tetapi jika harga budak sekitar 400 dirham per orang, sedang ia membebaskan tujuh budak, berarti cuma menghabiskan 2.800 dirham. Dalam pemboikotan inilah mungkin harta Abu Bakar terkuras (H. Fuad Hasyem, 1990).

(Baca juga: Pemimpin yang Tahan Banting)

Sekalipun begitu, semangat Rasulullah saw tak pernah lekang. Dakwah Islam tetap dilancarkan. Rasulullah saw punya peluang khusus dalam bulan-bulan suci; yaitu bulan “Muharam”, yang diharamkam kekerasan, bulan Rajab yang dihormati, bulan Dzulqa’dah bulan damai, dan bulan Dzulhijjah bulan berhaji. Di empat bulan itu Rasulullah saw bebas berkhutbah, bertemu dengan berbagai kalangan dari seluruh penjuru jazirah.

Kedua, meninggalnya dua “pelindung” Rasulullah saw. Mereka adalah Abu Thalib; paman yang menjadi perisai dari serangan musuh, yang selalu melindungi dan menjaga beliau dari intimidasi kaum kafir Quraisy, serta Khadijah; seorang wanita mulia yang bagaikan dinamo yang menggerakkan semangat dari dalam diri Rasulullah SAW; Khadijah adalah tempat Rasulullah saw berbagi suka dan duka.

Meninggalnya Abu Thalib sangat berpengaruh pada Rasulullah saw, baik sebagai pribadi, kemenakannya, maupun dalam kedudukan beliau sebagai pembawa dan penyebar ajaran Islam. Hal ini bisa dipahami dengan melihat posisi Abu Thalib dalam kancah kehidupan dan perjuangan Rasulullah saw. Abu Thalib adalah semacam perisai bagi Rasulullah saw dari serangan musuh dari luar. Abu Thalib adalah penjaga keamanan dan keselamatan Rasulullah saw.

Memang—meminjam H. Fuad Hasyem—sepintas Abu Thalib telah melakukan sesuatu yang aneh. Ia membiarkan Rasulullah saw membangun masyarakat baru yang bakal menelan masyarakatnya sendiri. Abu Thalib telah membiarkan Islam tumbuh sambil pelan-pelan ia lenyap di bawah bayang-bayang ajaran tahuid yang dibawa Rasulullah saw. Dengan kata lain, Abu Thalib telah melakukan sebuah paradoks: melindungi Islam yang nantinya akan melenyapkan sistem ia sendiri.

Tetapi itulah Abu Thalib. Ia tidak punya pilihan lain. Ia tak kuasa membendung ajaran Islam; tak kuasa menghadapi Rasulullah saw, meskipun berkali-kali ia coba. Berkali-kali Abu Thalib dibujuk dan diintimidasi oleh kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw; namun terbukti ia tidak mampu melakukannya pada Rasulullah saw.

Ini misalnya bisa kita lihat dari salah satu episode dilematis yang dialami Abu Thalib, seperti dikutip Muhammad H. Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 2002): Suatu saat Quraisy meminta ketegasan Abu Thalib, “Abu Thalib, engkau sebagai orang yang terhormat, terpandang di kalangan kami. Kami telah meminta supaya menghentikan kemenakanmu itu, tetapi tidak juga kau lakukan. Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek-moyang kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan mencela berhala-berhala kita—sebelum kau suruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia hingga salah satu pihak nanti binasa.”

Mendapat intimidasi semacam ini Abu Thalib berupaya untuk membujuk Rasulullah saw, “Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.” Pernyataan yang menunjukkan keraguan sekaligus kepasrahan Abu Thalib terhadap tuntutan kaummnya dan membiarkan Rasulullah saw diadili oleh kaum kafir Quraisy.

Tetapi mendapati Rasulullah saw tetap tegar dengan kebenaran yang dibawanya—seperti yang terucap dari beliau, “Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku, atau aku binasa karenanya.”

Abu Thalib gemetar dan terpesona mendengar jawaban Rasulullah saw itu. Namun ia bingung antara dua pilihan: menghadapi intimidasi kaumnya dan ketegaran kemenakannya itu. Tiba-tiba ia berkata, “Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!”

Maka Abu Thalib dalam sejarah dikenal sebagai pembela Rasulullah saw. Karena sesungguhnya ia percaya akan kejujuran Rasulullah saw dan yakin akan kebenaran misi yang dibawanya. Tetapi ini mungkin satu misteri sikap Abu Thalib. Dari pendiriannya selama ini, ia mestinya telah memeluk Islam. Kalaupun toh tidak dilakukannya—seperti dilaporkan kebanyakan sejarawan—maka ia bagaikan jadi sasaran tembakan silang: dijauhi para pembesar Quraisy, dikagumi para pengikut Islam; tetapi disesalkan oleh kedua belah pihak.

Nah, kepergian Abu Thalib dalam posisi dan perannya seperti itu membuat Rasulullah saw sangat terpukul, karena ia kini jadi rentan, posisinya lemah, tiada lagi dukungan moril dan kekuatan.

Jika Abu Thalib adalah perisai atas serangan musuh dari luar, maka Khadijah bagaikan dinamo, yang menggerakkan kekuatan dari dalam diri Rasulullah saw.

Khadijah cermin dari sejarah panjang nan berat di awal masa-masa perjuangan Rasulullah saw. Dari seorang janda kaya terkemuka ketika dinikahi Muhammad saw, berubah menjadi seorang ibu tua yang “dimiskinkan” oleh perjuangan suaminya. Ia adalah wanita pemeluk Islam pertama yang tak pernah mencicipi kejayaan yang dibawa oleh suaminya pada dasawarsa kemudian.

Bagi Rasulullah saw, kepergian Khadijah berarti kehampaan. Sebab, Khadijah adalah pelipur ketika kegundahan datang menghadang. Tengoklah misalnya, episode ketika Rasulullah saw pertama kali menerima wahyu, seperti yang dikutip Muhammad H. Haikal: Rasulullah saw kembali dari ber-tahannuth. Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya Khadijah sambil berkata, “Selimuti aku!” Ia segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Setelah rasa ketakutan itu berangsur reda, dipandangnya istrinya dengan pandangan mata ingin mendapat kekuatan.

“Khadijah, kenapa aku?” katanya. Dengan penuh kasih sayang dan ketulusan hati, Khadijah memberikan dorongan semangat. “Oh putra pamanku. Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini.

Sama sekali Allah tidak akan mencemoohkan kau; sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka dalam kesulitan atas jalan yang benar.” Mendengar kalimat-kalimat lembut itu, Rasulullah saw merasa tenang kembali. Dipandangnya Khadijah dengan mata penuh rasa kasih.

Memang, kehadiran Khadijah sangat berarti bagi Rasulullah saw. Maka, di saat-saat kepergiannya, Rasulullah saw menunggui di tepi ranjangnya. Dengan hidup dan mati menggeletak samping-menyamping dan hanya dibatasi garis tipis seperti ini, Rasulullah saw barangkali dapat merasakan betapa besarnya nilai Khadijah, secara lebih gamblang dan tajam. Bahwa tujuan akhir kehidupan rumah tangga bukan kekayaan, karena Khadijah telah mengorbanknnya. Bukan reputasi dan keharuman nama, karena ini pun telah luntur sejak mereka diejek dan dinista kaum kafir Quraisy.

Di saat-saat begini, mungkin perasaan Rasulullah saw guncang: bagaimana kalau garis tipis ini sirna dan Khadijah meninggalkannya? Tetapi Rasulullah saw sadar betul bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan umur terbatas. Tiada penyesalan karena istrinya telah memberikan segalanya. Rasululah saw menatap wajah pucat istrinya. Sekonyong-konyong pembatas hidup dan mati itu membaur. Khadijah menarik napas terakhir.

Meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah dalam waktu satu bulan, tak pelak menjadi pukulan bagi Rasulullah saw, sampai-sampai tahun itu disebut tahun duka cita. Perlawanan dan penolakan orang-orang kafir semakin keras. Terutama setalah Abu Jahal yang menggantikan Abu Thalib sebagai pimpinan Bani Hasyim memakzulkan (melepaskan perlindungan) pada diri Rasulullah saw.

Maka segala penopang yang mengokohkan perjuangan Rasulullah saw tidak ada lagi. Satu per satu di-pundut oleh Allah SWT. Kini, Rasulullah saw seolah berjuang sendirian.

##

Peristiwa-peristiwa berat yang dialami oleh Rasulullah saw di atas seolah menjadi cermin bahwa dalam perjalanan hidup, ada saatnya manusia teralienasi dalam kesendirian: ketika semua mata menatap dengan tajam dan semua mulut menyemburkan aneka cibiran; ketika semua angkat tangan dan semua kaki lari seribu langkah.

Muhammad, Rasulullah saw, manusia mulia itu kini dalam kesendirian. Orang-orang terdekatnya lebih dulu meninggal dunia, sementara klannya sendiri yang dipimpin Abu Lahab, bukan saja tidak melindunginya, malah justru mengancam dan menistakannya. Ketika beliau hendak berlabuh ke tempat lain, bukan perlindungan yang didapatinya, melainkan cemoohan dan pengusiran.

Tetapi, kesendirian itu sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan, karena sebenarnya kita lahir dalam kesendirian dan mati pun dalam kesendirian. Satu-satunya yang menemani kita hanyalah Tuhan.

Betapa segala “dunia milik(ku)” memang tidak pernah langgeng. Maka, manusia harus kembali dari “dunia milik(ku)” menuju “milik-Mu”, seperti ucapan kita “Sungguh, kami ini milik Allah; yang benar-benar akan kembali kepada-Nya”.

Dalam kesadaran seperti itu Rasulullah saw bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT. Tulus dan pasrah. Rela dan ridha. Seperti Ibrahim dan Ismail as yang pasrah ketika “dunia miliknya” diminta oleh Allah SWT.

Mi’raj Menuju Allah SWT
Dalam posisi seperti itu, Allah SWT berkenan memperjalankan beliau ke langit melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Isra Mi’raj adalah perjalanan spektakuler yang pernah dilakukan manusia. Betapa tidak, Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam hari dan dalam waktu yang amat singkat dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dari Al-Aqsa, beliau naik ke langit melalui beberapa tingkat, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (takhta Allah), hingga beliau menerima wahyu langsung dari Allah SWT.

Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dalam QS Al-Isra [17] ayat pertama difirmankan, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Isra Mi’raj tidak sekadar perjalanan “hiburan” bagi Rasul. Isra Mi’raj adalah perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, seperti dikutip Azyumardi Azra, mengungkapkan bahwa Isra’ Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah saw, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. “Isra Mi’raj,” tulisnya, “Benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh dunia gaib”.

Bila perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekkah, maka Isra’ Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju Al-Khalik. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Perjalanan ini, menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf.

Mengutip Muhammad Zuhri, Peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan horizontal yang dilanjutkan dengan perjalanan vertikal yang bersifat spiritual. Dalam perjalanan horizontal ini Rasulullah saw meninggalkan rumah kini (rumah akal, hukum; Baitul Haram) menuju rumah lama (rumah qalbu, kesucian, Baitul Muqoddas), maka dalam perjalanan vertikal beliau terlempar dalam kesendirian di Sidratul-Muntaha dan tak ada mitra dialog selain Allah. Di situ beliau menemukan kata ganti Tuhan sebagai ‘Engkau’ dan Allah pun berkenan memanggilnya sebagai ‘engkau’ (Al Fatihah:5; Al Qalam: 4; Al maidah: 67).

Menurut Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting peristiwa Isra Mi’raj terjadi tatkala Rasulullah saw “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”. “Segala keselamatan untukmu wahai Nabi, juga rahmat dan barakah Allah” Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Ungkapan bersejarah ini kemudian diabadikan sebagai bacaan shalat.

Setelah disambut dengan sejuk oleh Allah, hati Rasulullah saw menjadi tenteram dan tenang. Ternyata Allah SWT bukanlah ancaman. Bahkan Allah menjamin penjamin keselamatan Nabi saw.

Sebagai pribadi berakhlak mulia, Rasulullah saw sangat menjauhi sikap egois. Beliau ingin ucapan salam dan “undangan” Allah tersebut dirasakan segenap umatnya. Beliau kembali ke bumi dengan membawa salam keselamatan dari Allah SWT lewat perintah shalat. Inilah kado spesial dari Allah SWT bagi orang-orang beriman. Dan ini sekaligus menjadi tonggak revolusi spiritual dalam Islam; bahwa setiap hamba diperkenankan langsung untuk ”menemui-Nya”: bukan saja memuja-Nya, melainkan berdialog dan meminta; mengadu dan berharap. Itu semua dilakukan tanpa perantaraan.

Seyyed Hussein Nasr dalam Muhammad Kekasih Allah (Mizan, 1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah saw saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang kita lakukan sehari-hari. “Shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman,” demikian ungkapan sebuah hadis.

Sabar dan Shalat Sebagai Senjata
Dari cuplikan episode perjuangan Rasulullah saw ini, jika kita tarik garis merahnya memberi pelajaran penting. Pertama, dalam hidup, dalam perjuangan mempertahankan hidup; lebih khusus dalam melakoni dakwah Islam, tidak pernah sepi dari berbagai ujian berat; yang bahkan ujian berat itu melemparkan kita dalam kesendirian; keterasingan; alienasi.

Kedua, kesendirian itu sendiri harus melecut kesadaran kita, bahwa kita bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tidak punya apa-apa. Yang kita punya hanya—lebih tepatnya, kita dipunyai (dimiliki)—Allah Sang Pemilik Kuasa. Maka, kembali kepada-Nya—bukan saja dalam pengertian pascakematian fisik—menjadi keniscayaan hidup (bahkan sekalipun saat manusia tidak mendapatkan pengalaman hidup secara kronologis seperti ini). Ahli hikmah dengan indah melukiskannya, “Bila kita hidup, Allah akan mati. Sebaliknya, bila kita mati, Allah akan hidup.”

Ketiga, bangunan kesadaran seperti itu bisa diraih jika sabar tetap tergenggam sebagai senjata kita. Sabar adalah konsisten dalam menempuh jalan kebenaran, meskipun penuh risiko. Keempat, kesabaran akan berbuah balasan dari Allah SWT, sebagaimana Rasulullah saw mendapatkan Isra Mi’raj yang di dalamnya terdapat perintah shalat. Dan kelima, shalat menjadi senjata untuk bangkit dan merebut kemenangan. Shalat menjadi alat kaum mukmin untuk memperoleh kekuatan dari Allah SWT.

Barangkali lima hal itulah yang terangkum dengan sangat indah dalam Al Quran, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 45-46). Wallahu a’lam bish-shawab.

Sidojangkung, 10 Januari 2006
Disampaikan sebagai materi pengantar Pelatihan Shalat Khusyuk

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s