Hijrahmu Rindumu

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum anshar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

Tak terbayangkan olehku
getir yang menyelimutimu
di hari-hari penuh pilu
ketika musuh-musuh memburumu

kau tawarkan iman
dijawab dengan cacian
kau bawa kedamaian
disambut dengan siksaan

pedih yang tak tertahan
menimpa sahabat sekawan
nabi dan sahabat yang terancam
hidup umat kian mencekam

dulu terboikot kerabat Quraisy
ke negeri Thaif pun terusir
di tanah kelahiran tergenjet
ruang dakwah jadi mepet

kau cari tanah perlindungan
Allah memberi jawaban
tanah Yatsrib penuh harapan
berkibar-kibar menunggu tuan

perjalanan mengendap-endap
kuatir musuh datang menyekap
padahal jarak tidaklah dekat
Mekkah – Madinah teramat penat

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum anshar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

hijrahmu adalah perjuanganmu
juga pengorbananmu
menjadi inspirasiku
selalu terindu olehku

::MN::

Selamat Tahun Baru 1436

Iklan

Bersikap Produktif terhadap Provokatif Anti-Islam Film “Innocence of Muslims”

Tuilsan ini saya adaptasi dari artikel saya soal film “Finah” yang pernah dimuat harian Surabaya Post tahun 2008. Kasusnya sama.

Sebelumnya saya mohon maaf karena dengan menulis tema ini saya ikut membantu menjadikan film ”Innocense of Muslims” semakin terkenal. Setidaknya saya menjadi oramg yang yang kesekian kalinya menulis judul film ini dan membuat Anda pembaca tulisan ini menjadi pengejanya kesekian kalinya.

Tapi saya tidak akan membahas film itu, karena terbukti banyak pemainnya yang mengaku dikibuli. Artinya film itu jauh dari syarat sinematografi. Saya hanya akan membahas relasi antara film itu dengan reaksi umat Islam, yang bagaimana seharusnya!

Saya sangat yakin bahwa Nabi Muhammad SAW, Islam, atau al-Quran tidak akan pernah luntur sedikit pun kemuliaannya gara-gara film itu. Masih ingat salah satu tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai?

(lebih…)

Pemimpin yang Tahan Banting

Sebuah Refleksi Isra Mikraj 1429 H

Peringatan Isra Mikraj kali ini sangat relevan bagi kita di tengah runtuhnya keteladan para pemimpin politik oleh berbagai skandal korupsi dan seks. Episode sejarah Isra Mikraj memberikan inspirasi keteladanan bagi pemimpin di tengah tekanan konflik dan pencapaian spiritualisme.

Dalam berbagai ulasan tentang Isra Mikraj, sangat jarang dikemukakan sisi kepemimpinan Nabi saw. Yang banyak diulas adalah sisi kontroversi, apakah Nabi saw melakukan Isra Mikraj dengan jasad dan ruhnya sekaligus, atau dengan ruhnya saja. Atau pembahasan Isra Mikraj hanya berkutat pada dimensi salat sebagai oleh-oleh Nabi saw dari perjalanan dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina lantas dilanjutkan perjalanan vertikal ke Sidrat al-Muntaha. Perjalanan semalam itu terjadi pada 27 Rajab 621 M.

Padahal, jika kita membaca sejarah lebih teliti, banyak sekali sisi kepemimpinan yang menyertai peristiwa itu. Tentu, jika kita berkenan untuk merangkai Isra Mikraj dengan peristiwa yang menyertainya, terutama peristiwa penting sebelumnya. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 2002), mencatat beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi saw sebelum perjalanan Isra Mikraj. (lebih…)

Haji, Sejarah Ibrahim yang “Mengabadi”

Pekan-pekan ini, jamaah haji Indonesia sudah kembali ke tanah air. Gelar haji, sebagaimana tradisi Indonesia, segera mereka sandang. Peci putih dan sorban menjadi sandangan khasnya. Gemerlap penyambutan dan pesta syukur segera digelar. Tamu pun berdatangan. Oleh-oleh air zamzam, kurma, dan jagung Arab segera terhidang (meski terkadang dibeli di Ampel Surabaya). Ah, semoga mereka menjadi haji mabrur!

(lebih…)

Hijrah dalam Perspektif Politik

“Dan orang-orang yang berhijrah karena dan untuk Allah, sesudah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat dan posisi yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhrtya pahala di akherat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui” (An Nahl/16:41)

Sebentar lagi kita memasuki tahun baru hijriyah. Sebagai seorang Muslim, tentu, kita merasa bangga dan bersyukur bisa menikmati tahun 1429 ini. Kebanggaan itu terutama karena penetapan tahun Hijriyah mengandung makna yang mendalam berkaitan dengan peristiwa bersejarah yang dijadikan tonggak penetapan tahun Hijriyah. (lebih…)

Mekkah sebagai Pusat Ibadah

Satu kiblat, dua Idul Adha, tiga Idul Fitri! Ya, itulah yang pernah terjadi di Indonesia. Meskipun kejadian itu telah berlalu dan tidak menimbulkan persoalan serius dalam hal kerukunan umat Islam Indonesia, tetapi tetap rnenarik untuk dicermati terutama dalam perspektif Islam sebagai kesatuan ibadah. (lebih…)

Kesendirian, Mikraj, dan Shalat

Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca ia berguman:

Duh Gusti Allah, kepada-Mu kukeluhkan kelemahanku,
kurangnya dayaku, rendahnya diriku di mata manusia,
Oh Yang Maha Pemurah,
Kaulah Tuhan dari makhluk lemah, Kaulah Tuhanku,
ke mana Kau bimbing aku?
kepada orang jauh yang mendustakan aku?
atau kepada musuh yang kau beri kekuatan melebihiku?

Asal Kau tak murka, aku tak peduli
kemurahan-Mu kepadaku melimpah
aku berlindung kepada cahaya-Mu
yang menerangi gelap, dunia dan akherat.
janganlah kemurkaan-Mu menimpa aku
kepada-Mulah aku menghamba
sampai Engkau puas sesuai kehendak-Mu
tiada yang lebih kuat dari kuasa-Mu. (lebih…)