Datang – Pergi dalam Ketiadaan

Innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun. Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya. Ayat di atas memberi petunjuk bahwa, pertama, kita pada dasarnya tidak ada, dan karena itu pula kita tidak punya apa-apa. Dalam bahasa matematika, kondisi seperti ini dilambangkan oleh bilangan nol (0)—sebuah bilangan yang secara aritmatika menunjukkan ketiadaan. Jadi, kitaLanjutkan membaca “Datang – Pergi dalam Ketiadaan”

Beri peringkat:

Hidup Penuh Kesadaran

Ketika kapal karam, sekoci itu sendiri nyaris karam. Hujan dan gemuruh ombak membuat sekoci penuh air. Mereka beradu cepat membuang air ke laut. Pagi harinya, badai reda. Di tengah laut, mereka menemukan roti yang sudah kaku dan botol kecil air ukuran seperempat. Setelah itu praktis mereka bertahan dengan menenggak air laut atau air hujan.  Lanjutkan membaca “Hidup Penuh Kesadaran”

Beri peringkat:

Mengukur Kemuliaan

Suatu malam, seorang pria mendatangi Rasulullah Saw. yang sedang berada di Masjid Nabawi, Madinah. Selepas mengucapkan salam, pria itu berkata kepada beliau, “Aku lapar dan letih, wahai Rasul!” Mendengar ucapan tersebut, Rasulullah Saw. kemudian mengutus seseorang kepada salah seorang istri beliau untuk menanyakan apakah di rumahnya ada masakan dan makanan. Sang istri pun berkata kepadaLanjutkan membaca “Mengukur Kemuliaan”

Beri peringkat: