Sabda (Raja) dan Manusia Egaliter

Seorang raja ingin sekali menjadi yang terkaya di dunia. Segala cara ditempuhnya untuk memenuhi ambisnya itu, termasuk dengan kekuatan klenik, bertapa minta pada Dewa agar diberi kekuatan sakti pada tangannya.

Dengan tangan saktinya ia membayangkan bahwa apa pun yang disentuhnya akan berubah menjadi emas, simbol kekayaan yang tiada tara. Sang Dewa akhirnya mengabulkan permintaannya.

Kembalilah sang raja ke istana untuk mewujudkan ambisinya itu; memiliki istana emas dan menjadi raja nomer satu di dunia, terkaya dan tak tertandingi oleh raja lainnya.

Begitu menginjak halaman istana, disentuhnya pagar, dan ajaib, berubah menjadi emas. Sang raja girang tiada kepalang. Nafsunya semakin melambung tinggi. Masuklah ke dalam istana, disentuhnya pilar-pilar dan seluruh isi istana: meja kursi dan perabotan lainnnya. Semuanya berubah menjadi emas. “Aku raja terkaya di dunia,” teriaknya gembira. (lebih…)

Iklan

Sakit dan Gizi Ruhani

Tak ada yang berharap sakit, tapi seringkali sakit itu dibutuhkan oleh ruhani. Karena dalam sakit kita tersadar, betapa tubuh tak kuasa atas serangan penyakit, yang seringkali hanya dilakukan makhluk kecil.

Terhadap serangan makhluk super-kecil saja kita ambruk dan sakit, maka sebenarnya kita tersadar dari mana sumber kekuatan itu? Jadi nampaknya sakit itu datang sebagai semacam cambuk peringatan, “Lu jangan sok gagah deh!

Mungkin merasa sok gagah, ayu, kaya, atau kuasa, menjadi modal kesombongan, lalu kita lupakan jati diri dan bahkan kuasa Tuhan. (lebih…)

Ngaji Laku Mbecak

Saya ingin merasakan bagaimana beratnya jadi orang kecil, khususnya para tukang becak

Mbecak

:: Ilustrasi, foto oleh “Buta Warna” ::


Dua tahun saya absen bersilaturahmi pada beliau. Beberapa hari lalu alhamdulillah, saya disempatkan Allah kembali bertamu ke rumah beliau di sebuah kota di Jawa Timur.

Saya sedikit kaget saat mendapati di depan rumah terparkir becak dan dokar (tanpa kuda). Tapi saat tuan rumah tahu kedatangan kami, buru-buru beliau langsung mengajak kami masuk.

Di ruang tamu kami ngobrol sana-sini, akhirnya sampailah pada pembicaraan tentang becak yang sempat saya pikirkan di awal tadi.

Oh injih, sakniki kulo mbecak [Oh ya, sekarang saya jadi tukang becak],” penjelasan beliau pada kami soal adanya becak yang terparkir di depan.

Kami kaget dan hampir tak percaya jika beliau sekarang mbecak. Sebab kami mengenal beliau sebagai pengusaha dan (mantan) aktivis LSM. Termasuk orang yang berkecukupan dan terpandang di kota itu.

Tapi setelah mendapat penjelasan panjang lebar, kami percaya bahwa beliau benar-benar mbecak. Suka duka tukang becak akhirnya beliau ceritakan, misalnya bagaimana beratnya mengayuh (nggenjot) becak dalam rute yang panjang dengan beberapa tanjakan.

Bagaimana rasanya juga ketika mendapati ada penumpang yang membayar ongkos becak tanpa menampakkan muka (mengulurkan tangan dari pungung).

(lebih…)

Multimakna dan Multiefek Mudik

Siapa yang pergi, pasti rindu pulang
laksana burung yang terbang ribuan kilometer
dan kembali lagi ke sarangnya

maka pulang (mudik) adalah simbol kembali ke asal mula
sebab kepulangan selalu mengingatkan pada sangkan paran (asal usul kejadian)

dan inilah sambutan Tuhan bagi yang segera pulang
— kepulangan yang tak harus menunggu kematian (fisik):
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu

dengan jiwa yang puas lagi diridhaiNya …”

(“Pulang”, Mohammad Nurfatoni)

Hari-hari ini masyarakat perkotaan sedang disibukkan oleh tradisi tahunan yang selalu mengiringi perayaan hari raya Idul Fitri, yaitu tradisi mudik atau kegiatan pulang ke kampung halaman.

Berbagai imbauan pernah disampaikan untuk menghilangkan, setidaknya mengurangi, kegiatan mudik karena beberapa alasan. Secara ekonomi kegiatan ini dianggap sebagai bagian dari pemborosan keuangan, karena adanya beban biaya transportasi dan masifnya budaya konsumerisme. Dari sisi keamanan, kegiatan mudik akan melahirkan kerawanan pada kawasan lingkungan akibat ditinggal pulang para pemudik secara bersamaan.

Akan tetapi, seperti digambarkan oleh puisi di atas, mudik ternyata sarat dengan makna. Secara spiritual, mudik atau kepulangan adalah panggilan jiwa atau fitrah manusia. Oleh karena itu, betapa pun sulit dan membutuhkan biaya ekonomi tinggi, tradisi mudik tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat kita. Dari tahun ke tahun tradisi mudik tetap berjalan, bahkan cenderung meningkat.

Dinas Perhubungan Jatim memperkirakan, jumlah pemudik di Jatim tahun ini akan mencapai 7.174.755 orang pada Lebaran kali ini, atau naik dari jumlah pemudik pada tahun sebelumnya yang sekitar 6,7 juta orang. Penghitungan jumlah pemudik itu didasarkan pada total jumlah penumpang angkutan darat (bus dan KA), penyeberangan, angkutan laut dan udara. Untuk angkutan darat jumlah kenaikan penumpang diprediksi mencapai 4 persen. Kereta api 8 persen, penyeberangan (ASDP) 5 persen, angkutan laut 10 persen dan udara 8 persen.

Makna Spiritual Mudik

Seperti kita pahami, manusia lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa (kullu mauluudin yuuladu ala al-fitrah). Lahir tanpa dosa di sini bukan berarti sama dengan kertas putih kosong, sebab kelahiran manusia membawa potensi kebenaran atau berketuhanan. Itu terjadi setelah manusia pada suatu kesempatan awal penciptaan, pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka (seraya berkata): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi.” (Al-A’raf/7:172).

Dalam perjalanan hidupnya, manusia mungkin terjerembab dalam kubangan dosa dan kesalahan, bahkan pada tingkat ekstremnya melupakan Tuhan. Posisi seperti ini tentu bertolak-belakang dengan fitrah manusia. Nah, karena kasih sayang Tuhan pada manusia tak pernah terputus, maka Tuhan menciptakan sistem pengondisian agar manusia kembali pada Tuhannya. Sistem itu tak lain dan tak bukan adalah puasa Ramadhan, sebuah sistem layaknya kawah candradimuka yang akan memproses kembali manusia pada jati dirinya.

Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka dosa-dosanya akan diampuni.” Sebagai kawah candradimuka, maka puasa Ramadhan akan mengembleng manusia agar kembali pada jati dirinya sebagai manusia yang memancarkan fitrah atau kebenaran.Inilah yang dimaksud dengan Idul Fitri. Id berarti kembali dan fitr adalah asal muasal atau kesucian.

Jadi, manusia yang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan akan kembali sebagai makhuk berketuhanan. Inilah sebenarnya makna yang hendak dibawa oleh tradisi mudik.

Multimakna dan Multiefek

Secara spiritual, mudik mengingatkan akan asal usul manusia yang berasal dari Tuhan (sangkan paran). Ketika manusia sadar bahwa mereka berasal dari Tuhan maka manusia akan berusaha dekat dengan-Nya (taqarrub ilallah). Ketika manusia dekat dengan Tuhan, maka manusia akan berusaha “menyerap” citra Tuhan dalam dirinya. Inilah yang disebut insan kamil (manusia paripurna).

Secara psikologi, mudik akan menyadarkan manusia agar tidak pongah dan sombong ketika sudah sukses di kota. Sebab mudik akan mengingatkan keotentikan diri mereka. Bahwa kita dulu orang ndeso kesa keso yang menjunjung tinggi kejujuran, tepo sliro, dan gotong royong.

Maka, dengan segala kesederhanaan dan keasliannya, desa akan menjadi cermin bagi masyarakat kota untuk melepaskan segala topeng-topeng yang mungkin selama ini memenjarakan mereka dalam jeruji kepalsuan, yang mana kepalsuan itu seringkali menjerumuskan manusia dalam kerusakan.

Secara sosiologi, mudik mengingatkan manusia pada kampung halaman yang pernah melahirkan dan membesarkannya. Ingat pada kampung halaman ini penting agar kita tidak meninggalkan keluarga besar (extended family) yang masih ada di kampung halaman. Sebab dalam kehidupan urbannya, manusia kota biasanya hidup sebagai keluarga inti (nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Mudik sangat penting sebagai wahana untuk mengumpulkan kembali keluarga besar agar bersilaturahmi dengan mbah, buyut, paman, misanan (sepupu), keponakan, dan sanak kadang lainnya. Mudik adalah reuni besar di kampung halaman.

Dalam kehidupan kota yang bersifat individualistis, keluarga besar ini penting sebagai cermin sebuah kekompakan hidup bertetangga. Dengan mengambil semangat keluarga besar di kampung, maka sekembali ke kota kita diingatkan untuk membangun keluarga besar meskipun bukan lagi terdiri dari anggota keluarga, melainkan dari para tetangga yang berbeda latarbelakangnya.

Keluarga besar ini penting dibangun di kota karena akan membentuk hubungan yang saling tolong-menolong bagi keluarga inti yang jauh dari sanak keluarga masing-masing.

Tak kalah pentingnya, mudik juga memiliki multiefek pemerataan ekonomi. Hampir seluruh sektor ekonomi akan mendapat imbas dari tradisi mudik, apakah itu transportasi, keuangan, komunikasi, atau perdagangan. Tapi sayangnya, sektor-sektor itu masih dikuasai oleh ekonomi perkotaan dan orang-orang kaya.

Bagaimana agar efek ekonomi mudik itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat pedesaan, setidaknya kerabat di kampung halaman?Ada beberapa pemikiran yang perlu dicoba-praktikkan. Pertama, para pemudik hendaknya mengubah peruntukan oleh-oleh dari kota yang biasanya berupa barang konsumtif menjadi barang produktif.

Oleh-oleh berupa makanan atau pakaian memang tetap dibutuhkan oleh penduduk desa, tetapi manfaat dari barang seperti itu hanya karikatif belaka. Ia tak akan mengubah nasib. Meski berpakaian baru dan wah, masyarakat desa yang miskin dan menganggur ya tetap seperti itu.

Di samping menjadi tani atau buruh tani biasanya masyarakat desa tetap memiliki ingon-ingon ternak, apakah ayam, bebek, kambing, atau sapi. Bagaimana jika oleh-oleh para pemudik itu dirupakan dalam bentuk uang dan dibelikan hewan ternak, yang jenisnya tergantung seberapa besar kemampuan oleh-oleh kita itu.

Kedua, jika oleh-oleh seperti disarankan di atas dianggap terlalu berat atau rawan dijual dan dirupakan keperluan konsumtif lagi, bagaimana kalau dibuat pola kerja sama bagi hasil. Artinya, pembelian ternak (atau mungkin bentuk lain sawah, tambah, kebun, tegalan) tidak murni dihibahkan melainkan di-sharing bagi hasil. Dalam konteks ini pemudik berperan sebagai investor dan masyarakat desa sebagai pengelolanya.

Dengan pola seperti ini ada tiga keuntungan, pertama, aset akan terkontrol, sebab tidak akan dijual karena bukan milik pengelola. Kedua, orang kota bisa membantu kampung halaman dengan memperluas lapangan pekerjaan orang-orang desa. Ketiga, orang kota sendiri memiliki alternatif investasi, sekaligus menjadikannya sebagai cara untuk merencanakan keuangan di masa depan, sebagaimana sering disarankan oleh para pakar perencanaan keuangan akhir-akhir ini.

Jadi, tidak ada salahnya para pemudik mengeluarkan biaya ekonomi tinggi jika memberi efek kesejahteraan pada kampung halamannya. Selamat mencoba! (*)

Mohammad Nurfatoni  artikel telah dimuat harian sore Surabaya Post, 30/9/08

Ramadan dan Religiusitas Semu

Bulan Ramadan 1429 H telah tiba. “Marhaban ya Ramadan,” begitu sapa Nabi Muhammad SAW atas kedatangan bulan suci yang sangat istimewa ini. Disebut istimewa karena di dalamnya terkandung berkah, rahmat, dan maghfirah. “Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan olehnya. Di bulan ini napas-napasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah,” kata Nabi Muhammad SAW.

Maka jangan heran jika umat Islam menyambut bulan ini dengan istimewa pula. Orang Jawa, misalnya, menyambutnya dengan saling memberi makanan pada tetangga, dengan menu utama kue apem.

Konon pemberian kue apem adalah perlambang permohonan maaf. Kata apem berasal dari bahasa Arab, dari kata afwan, yang bermakna maaf. Jadi secara filosofi, apa yang dilakukan oleh orang Jawa dengan ater-ater kue apem sudah tepat karena Nabi Muhammad SAW sendiri, mengajak umatnya untuk memasuki bulan suci Ramadan dengan memaafkan. “Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu maka bebaskanlah dengan istighfar.”

Masalahnya, sering simbolisasi pesan Ramadan seperti tradisi ‘ater-ater’ kue apem telah kehilangan makna di kemudian hari. Yang kini kita rasakan memang benar-benar sekadar saling tukar kue apem. Tidak ada nilai spiritualitas yang mengiringinya sebagaimana filosofi yang melatarbelakangi tradisi itu. Ternyata tradisi kue apem itu adalah gambaran umum atas respon masyarakat kita terhadap kehadiran bulan Ramadan. (lebih…)

Pemimpin yang Tahan Banting

Sebuah Refleksi Isra Mikraj 1429 H

Peringatan Isra Mikraj kali ini sangat relevan bagi kita di tengah runtuhnya keteladan para pemimpin politik oleh berbagai skandal korupsi dan seks. Episode sejarah Isra Mikraj memberikan inspirasi keteladanan bagi pemimpin di tengah tekanan konflik dan pencapaian spiritualisme.

Dalam berbagai ulasan tentang Isra Mikraj, sangat jarang dikemukakan sisi kepemimpinan Nabi saw. Yang banyak diulas adalah sisi kontroversi, apakah Nabi saw melakukan Isra Mikraj dengan jasad dan ruhnya sekaligus, atau dengan ruhnya saja. Atau pembahasan Isra Mikraj hanya berkutat pada dimensi salat sebagai oleh-oleh Nabi saw dari perjalanan dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina lantas dilanjutkan perjalanan vertikal ke Sidrat al-Muntaha. Perjalanan semalam itu terjadi pada 27 Rajab 621 M.

Padahal, jika kita membaca sejarah lebih teliti, banyak sekali sisi kepemimpinan yang menyertai peristiwa itu. Tentu, jika kita berkenan untuk merangkai Isra Mikraj dengan peristiwa yang menyertainya, terutama peristiwa penting sebelumnya. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 2002), mencatat beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi saw sebelum perjalanan Isra Mikraj. (lebih…)

Mencari Ikhlas di Kehampaan Diri

Apa yang dimaksud dengan ikhlas? Salah satu contoh perbuatan ikhlas yang sering dikutip adalah seorang yang sedang membuang “hajatnya” di WC. Mengapa? Dia disebut ikhlas karena tak mengharapkan apa-apa dari sesuatu yang baru saja dilepasnya. 

Itukah ikhlas? (lebih…)