Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru

Puasa menurut Pak Muh (almarhum Muhammad Zuhri) adalah cara baru menangani pengelolaan semesta, setelah setahun cara-cara lama tak lagi ampuh, usang, atau lapuk.

Puasa berarti melakukan penjungkirbalikan (deformasi) pada semua sistem yang ada dalam tubuh, baik sistem metabolisme atau sistem psikologis.

Puasa menjungkirbalikkan semua keadaan. Kebiasaan makan sehari 3 kali diubah jadi 2 kali. Saat ingin makan malah dicegah. Saat malas makan malah disuruh (sahur).

Tubuh yang biasa disuplai kalori dari luar tiba-tiba terhenti saat sedang berpuasa. Energi keluar terus tapi kalori tidak masuk.Lanjutkan membaca “Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru”

Tawuran Pelajar dan Keharusan Introspeksi Orang Tua

Soal tawuran antarpelajar, saya kira tanggung jawab sebenarnya tetap pada orang tua. Sekolah hanyalah “titipan” sementara.  Orang tua berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Sementara sekolah adalah tempat orang tua ‘menitipkan” anak dalam menimba ilmu.

Kenapa sekolah, karena tentu saja ada keterbatasan orang tua dalam penguasaan banyak ilmu; sementara sekolah bisa merekrut banyak guru. Berbagai disiplin ilmu bisa diajarkan di sekolah karena sekolah bisa mengundang guru dengan spesialisasi keilmuan masing-masing.

Sebagai orang tua, jujur saya sendiri merasa berat harus mengajarkan matematika, fisika, atau akuntansi. Maka saya terbantu dengan sekolah. Tapi soal karakter anak, tentu orang tua harus punya peran besar dan tak tergantikan oleh yang lain.

Nah, soal hubungan orang tua dengan nak, saya jadi teringat pesan sufistik KH Saerozi, seorang kyai dari daerah Babat, Lamongan. Pesan itu saya peroleh saat menghadiri acara Haflah Akhirussanah SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro, tanggal 17 Juni 2011.

Lanjutkan membaca “Tawuran Pelajar dan Keharusan Introspeksi Orang Tua”

Demokrasi Memilihkan, Belum Menyejahterakan

Saya mencoba menulis tentang (praktik) demokrasi, tanpa teori muluk tapi hanya dari kejujuran hati, atau keluguan, yang terdalam.

  1. Demokrasi memang telah berhasil memenangkan seorang kandidat; tapi saya tak yakin demokrasi telah memilihkan kita pemimpin terbaik.

  2. Karena demokrasi lebih mewadai popularitas dan elektabiltas; siapa yang populer dan digemari maka ia akan dikenal dan pada akhirnya ia yang dipilih.

  3. Tak terlalu penting siapa dia, rekam jejaknya, dan bagaimana visinya ketika maju bertanding dalam kompetisi sebuah jabatan.

  4. Kalaupun toh ada pemaparan visi dan program, saya rasa itu hanya bagian dari bungkus belaka. Karena sifatnya lebih teaterikal dan citra.

  5. Demokrasi seringkali hanyalah cara instan mengisi kepemimpinan yang kosong. Dia tak dengan serius menempa pemimpin secara alamiah.

  6. Maka jangan heran jika pada kesempatan pesta demokrasi khalayak mengelu-elukan seorang kandidat, tapi akhirnya cacat dalam kepemimpinannya.

  7. Tengoklah sejarah seorang kandidat yang pernah meraup di atas 60 persen lebih suara kemenangan tapi minus prestasi dalam masa kepemimpinannya.

  8. Ini karena demokrasi layaknya etalase toko, yang harus selalu tampak indah, tak penting bagaimana kualitasnya.

  9. Lebih runyam lagi jika demi keindahan itu, demokrasi mempercantik diri dengan imitasi-imitasi, sesuatu yang sepertinya bagus tapi palsu.

  10. Maka seperti barang dagangan, seorang kandidat pesta demokrasi perlu dipoles dengan strategi pemasaran atau manajemen bisnis.

  11. Maka larislah para konsultan bisnis demokrasi, para pakar marketing dan komunikasi, juga praktisi periklanan. Semua berusaha menjualnya

  12. Dan sebagai barang dagangan, kandidat tak lepas dari perhitungan untung-rugi. Maka cukong dan calo berlomba menanamkan saham.

  13. Transaksi dan tawar-menawar menjadi lumrah. Sekarang kandidat dihargai berapa dan nanti harus menghasilkan laba berapa?

  14. Istilah akad pinangan dan balik modal menjadi lumrah dalam bisnis demokrasi. Wani piro lan oleh balelan piro?

  15. Maka, demokrasi bukan saja tidak memberi jaminan terpilihnya pemimpin yang terbaik, tapi juga tak menjamin baiknya kesejahteraan rakyat.

  16. Memang sepintas pesta demokrasi memutar roda ekonomi, tapi perputaran ekonomi itu lebih hanya di sekitar pengusaha mapan.

  17. Bisnis periklanan dengan segala pendukungnya: biro iklan, media cetak, elelktronik, dan media sosial, juga percetakan dan garmen. Juga lembaga survey.

  18. Rakyat biasa seringkali hanya mendapat jatah bagian kaos atau amplop serangan fajar. Tak seberapa manfaatnya dan kesannya sangat rendah.

  19. Tentu yang menggiurkan adalah harga pinangan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh kendaraan politik. Ini bisnis besar.

  20. Sebagai bisnis demokrasi, tentu tak ada yang gratis. Semua harus balik modal. Maka kita lihat banyak pejabat produk demokrasi jatuh.

  21. Akibat jungkir balik berusaha mengembalikan modal, termasuk dengan cara-cara terlarang.

  22. Maka, jangan salahkan jika sebagian kami apatis, ragu, atau tak percaya dengan demokrasi!

Mohammad Nurfatoni
Sidojangkung, 20 September 2012

Sumber: http://chirpstory.com/li/23546