17 Prinsip Dasar Komunikasi

  1. Mendengar lebih sulit daripada berbicara.
  2. Berbicara lebih sering sesuai kehendak pribadi sementara mendengar kadang tidak cocok dengan kehendak pribadi.
  3. Berbicara seringkali menonjolkan ego, sedang mendengar bisa melunturkan ego.
  4. Mungkin telinga ada dua sebagai simbol bahwa mendengar harus lebih intensif dilakukan dibanding berbicara yang disimbolkan dengan satu mulut.
  5. Namun berbicara yang baik lebih kuat manfaatnya dibanding jika hanya mendengar pembicaraan.
  6. Pembicaraan yang baik berpotensi menularkan kebaikan pada banyak orang sementara kebaikan mendengar bersifat individual.
  7. Membaca lebih sulit daripada [belajar] menulis.
  8. Seperti mendengar, membaca adalah membuka ruang ego pribadi untuk dimasuki ego orang lain.
  9. Dan seperti berbicara, menulis memiliki ruang ekspresi yang hampir tak terbatas.
  10. Membaca lebih sulit karena ia membutuhkan kemampuan memahami pikiran orang lain yang sering belum teradaptasi dalam diri pembaca.
  11. Dan menulis lebih mudah karena ia menjadi lahan ekspresi pikiran-pikiran diri sendiri sang penulis.
  12. Meski lebih mudah, menulis mengemban tanggung jawab yang besar, karena menulis bukan sekedar menata huruf dan kata.
  13. Seperti berbicara, menulis tak hanya rangkaian ide bebas, ia harus memperhatikan ruang psikologis publik.
  14. Tapi membaca, seperti juga mendengar bagi pembicara, punya kontribusi besar bagi penulis; tanpa membaca, mana bisa kita menulis.
  15. Untuk berbicara kita harus mendengar dan untuk menulis kita harus membaca.
  16. Tapi pembicaraan atau tulisan yang baik tidak sekedar butuh suara fisik atau bacaan tekstual, ia butuh semacam suara atau bacaan langit.
  17. Maka kita harus mendengar sesuatu yang tak terdengar atau membaca sesuatu yang tak terbaca. (*)

Mohammad Nurfatoni

Bersikap Produktif terhadap Provokatif Anti-Islam Film “Innocence of Muslims”

Tuilsan ini saya adaptasi dari artikel saya soal film “Finah” yang pernah dimuat harian Surabaya Post tahun 2008. Kasusnya sama.

Sebelumnya saya mohon maaf karena dengan menulis tema ini saya ikut membantu menjadikan film ”Innocense of Muslims” semakin terkenal. Setidaknya saya menjadi oramg yang yang kesekian kalinya menulis judul film ini dan membuat Anda pembaca tulisan ini menjadi pengejanya kesekian kalinya.

Tapi saya tidak akan membahas film itu, karena terbukti banyak pemainnya yang mengaku dikibuli. Artinya film itu jauh dari syarat sinematografi. Saya hanya akan membahas relasi antara film itu dengan reaksi umat Islam, yang bagaimana seharusnya!

Saya sangat yakin bahwa Nabi Muhammad SAW, Islam, atau al-Quran tidak akan pernah luntur sedikit pun kemuliaannya gara-gara film itu. Masih ingat salah satu tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai?

Lanjutkan membaca “Bersikap Produktif terhadap Provokatif Anti-Islam Film “Innocence of Muslims””

Satu Hilal, Dua Idul Adha

Ada dua Idul Adha di Indonesia tahun ini. Pemerintah menetapkan 10 Dzulhijjah 1431 jatuh pada Rabu (17/11/10) dan Muhammadiyah menentapkan pada Selasa (16/11/10). Sementara Arab Saudi sendiri, tempat berlangsungnya ibadah haji, menetapkan wukuf pada Senin (15/11/10), artinya Idul Adha juga jatuh pada Selasa (16/11/10). Adanya dua Idul Adha ini, meskipun sering diklaim sebagai rahmah dari sebuah perbedaan, tetap saja menimbulkan sejumlah pertanyaan dan ketidaknyamanan dalam beribadah. Hilalnya satu, mengapa Idul Adha-nya dua kali?

Perbedaan penetapan hari raya itu tak terlepas dari perbedaan metode penetuan awal bulan. Selama ini dikenal dua metode penentuan awal bulan hijriyah, yaitu metode rukyah dan metode hisab. Kedua metode ini sama-sama didasari oleh perintah Rasulullah SAW yang berbunyi “shumu lirukyatihi wa aftiru lirukyatihi” (berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal).

Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata telanjang (rukyah bil-ain) sementara hisab menggunakan pengamatan tak langsung dengan mengandalkan hitungan ilmiah (rukyah bil-ilmi). Meski begitu, kedua metode ini tetap memakai ilmu hisab atau ilmu falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih memakai pengamatan fisik sebagai final keputusan sedangkan metode hisab tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.Lanjutkan membaca “Satu Hilal, Dua Idul Adha”