Membaca Alam, Membaca Ayat

AI Qur’an adalah wahyu dari Allah. ”Tidak lain (Al Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” [An Najm/53: 4 baca juga AI An’am/6: 19]. Al Qur’an disebut sebagai ayat kauliyyah (tanda yang difirmankan).

Alam Sebagai Ayat                                                      

Selain menurunkan AI Qur’an sebagai wahyu tertulis, Allah juga berkenan menurunkan wahyu yang tak tertulis berupa alam semesta (ayat kauniyyah). Alam dan segenap fenomenanya, termasuk manusia sebagai fokusnya, adalah ayat atau pertanda dari Allah. Pertanda itu dihamparkan pada seluruh penjuru alam dan diri manusia. ‘Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami di segenap ufuk dan poda diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia adalah haq/benar’ (Fushshilat/41: 53).

Allah menyebut langit dan bumi (segala fenomena alam/materi) dan pergantian malam dan siang (segala proses di dalamnya/waktu) sebagai pertanda. ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi; silih pergantian malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi ulil albab’ (Ali Imran/3:190; tentang langit dan bumi baca juga Saba’/34: 9; Ar Ra’du/13: 2); juga air (hujan); hewan, angin dan awan (AI Baqarah/2: I64); juga diri manusia (Adz Dzariyyat/51: 20-21).

Dalam kesempatan lain, dengan nada bertanya, Allah juga mengingatkan bahwa ada pertanda pada (penciptaan) unta, langit (yang ditinggikan) dan gunung (yang ditegakkan) (AI Qhasyiah/88: 17-20]. Bahkan Allah tidak segan-segan menyebut bahwa nyamuk atau bahkan yang lebih kecil lagi sebagai pertanda (amsal = perumpamaan) (AI Baqarah/2: 26].

Membaca Pertanda

Sebagai ayat Allah, Al Qur’an harus dibaca, karena AI Qur’an adalah induk kitab yang bernilai tinggi dan banyak mengandung hikmah (AZ Zuhruf/43: 4); di dalamnya terdapat petunjuk (Al Baqarah/2: 2 & 185), penjelas dari petunjuk dan pembeda (AI Baqaroh/2: 185); pengingat (Al Hijr/15: 9; An Nahl/16:44); penyembuh (AI Isra’/17: 82).

Demikian juga alam. Sebagai ayat Allah, ia juga harus dibaca sebab alam adalah salah satu bukti kehadiran Allah. Segala sesuatu yang diciptakanrrya adalah hujjah yang berbicara tentang wujud-Nya. Memang, mata tidak dapat melihat-Nya, tetapi Dia berada di balik setiap ciptaan-Nya. ”Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menqhadap di sanalah wajah Allah. Sungguh Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (AI Baqarah/2: 115).

Sebagai salah satu pertanda-Nya, tentu Allah tidak sembarangan dalam menciptakan alam. Allah sangat serius dalam menciptakan alam. Isyarat itu bisa kita tangkap dari sepuluh prinsip (penciptaan) alam: 

  1.  Alam diciptakan Allah dengan benar/haq (Az Zumar/39: 5); tidak dengan main-main/laaibin (Al Anbiya/21: 16; Ad Dukkan/44: 38), main-main/abats (AI Mu’minun/23:115): dan tidak pula secara sia-sia/bathil (Shaad/38: 27).
  2. Keseriusan itu bisa kita lihat dalam tata kesempurnaan dan tata keharmonisan alam. ‘Yang menciptakan tujuh langti berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yanh Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (AI Mulk/67: 3-4).
  3. Kesempurnnan dan keserasian alam itu terjadi karena Allah telah memberi petunjuk Thaha/20: 50; Al A’la/87: 2-3) dan ukuran yang pasti (Al Qamar/54: 49; AI Furqan/25: 2; Ath Thalaq/65: 3). “Tidak ada keberatan apapun, pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya, (Allah) telah menetapkan yang demikian) sebagi sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku” (AI Ahzab/’33: 38).
  4. Dengan petunjuk dan ukuran Allah itulah alam menjadi patuh dan pasrah total (muslim).’Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik (dengan) suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan’ (Ali Imran/3:83).
  5. Kepasrahan-total itu diwujudkan oleh alam dengan:
    • Bertasbih dan Memuji-Nya. ‘Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada llah. Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.’ (Al Hadiid/57:1: Al Hasyr/59: 1; Ash Shaff/61: 1; Al Jumuah/62: 1) “Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah hertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (An Nur/24: 41). “Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepas halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakeras siksaan­Nya.” (Ar Ra’du/13: 1). ”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” (AI Isra’/17: 44).
    • Bekerja Mengikuti Pola Hukum Allah (Sunnatullah), yang bersifat ‘abadi’/tetap. “Demikianlah hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu ‘(Al Fath/48:48) (Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami, yang Kami utus sebelum engkau dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami.” (Al Isra’/17: 77). “Dan telah sempurna firman Tuhanmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Al An’am/6: 115). ”Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Dan telah kami tetapkan tempat peredaran bogi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandon yang tua” (Yaasin/38: 38-39). 

  6. Dengan hukum kepastian yang telah ditetapkan Allah pada alam (sunnatullah) membawa implikasi pada manusia, yaitu:   
  •  
    • Manusia mampu mengenal ‘watak”/”tabiat’ alam, sekaligus,
    •  Manusia “terbatasi” oleh alam.  

Maka, dengan sunnatullah, manusia berpeluang untuk berhasil atau tidak dalam kehidupannya, tergantung sejauhmana manusia mampu memahami dan “mengikuti” sunnatullah. Maka di sini berlaku hukum objektifitas alam. Siapapun akan memperoleh kemanfaatan alam selama in mampu ’bercengkrama’ dengan alam sesuai dengan sunnatullah-Nya. 

  • 7. Bentuk usaha manusia untuk memahami dan “mengikuti” alam adalah dengan mengerahkan dan mencurahkan akalnya. Maka alam menjadi objek pemahaman, sekaligus sumber pelajaran hanya bagi mereka yang berpikir. Dengan demikian, ilmu dan teknologi tidak lain adalah hasil usaha manusia dari memahami dan ’mengikuti’ sunnatullah. 
  • 8.Terjadinya pola hubungan antara alam sebagai ciptaan Allah (makrokosmos) dengan manusia sebagai ciptaan Allah (mikrokosmos) tak lepas dari desain Allah, yaitu:
    • Manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah (At Tiin/95: 4). Artinya, meskipun sama-sama sebagai makhluk Allah, manusia telah diberi kelebihan dibanding bagian alam yang lain. Al Qur’an menginformasikan atas kelebihan-kelebihan itu, diantarnnya kemampuan manusia untuk mengenal asma-asma (nama, simbol) [AI Baqarah/2: 31-34]. Manusia dilengkapi dengan mata dan penglihatan; pendengaran dan bahasa, akal dan pemahaman (Al Isra’/l7: 35; Al Ahqaf/46: 26: AI Hajj/22: 46). Manusia pula yang sanggup memikul amanah, yang oleh makhluk Allah lainnya pernah ditolaknya (AI Ahzab/33: 72). Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia adalah fokus dari panciptaan alam.
    •  Dengan posisinya sebagai fokus ciptaan, maka desain Allah sekaligus menempatkan bagian atau fenomena alam lainnya dengan kedudukan yang lebih rendah dari manusia. Inilah yang dimaksud, meminjam Nurcholish Madjid, sebagi doktrin taskhir. “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin … (Luqmnn/31: 20) Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi, dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah­Nya. Dan dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyanyang kepada manusia.” (AI Hajj/22: 65). Baca juga Ar Ra’du/13: 2 (matahari dan bulan); Ibrahim/14: 32-33 (kapal di laut, siang, malam: AI Nahl/16: 12, 14 (malam, siang, matahari, bulan, dan laut); Al Jatsiyah/45: 12-13 (laut, apa yang ada di langit dan bumi). 

  • 9. Desain hubungan antara manusia dengan alam seperti dijelaskan di atas, memungkinkan manusia mengambil hikmah dari tujuan diciptakannya alam:
    • Agar manusia dapat berbuat baik ”Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya…’ (Hud/11: 7; Al Kahfi/18: 7; AI Mulk/67: 2).
    • Dijadikannya alam sebagai medan amal baik manusia, karena manusia punya tugas yang amat berat di muka bumi ini, diantaranya menjadi wakil Allah (khalifah) [Al Baqarah/2: 30; Fathir/35: 39), untuk mewarisi bumi (Al Anbiya’/21: 105), dan memukmurkan bumi sebagai tempat manusia berpijak. 
  • 10. Maka, adalah di luar tujuan penciptaan alam jika dalam berinterkasi dengan alam, manusia justru mengambil pola atau desian lain, diantaranya:
    •  Mengangkat alam berikut fenomenanya dalam posisi yang lebih tinggi dnri dirinya, misalnya dengan memitoskan, mensucikan, atau mendewakan alam. Karena dengan begitu, Allah menjadi tersaingi (syirik) ”Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya (Az Zuhruf/43: 15); Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang yang mati) [Al Anbiya’/21:21] ”Dan mereka mengadakan (hubungan) nasab antara Dia (Allah) dan jin (AS Saffat/38:158)
    • Atau sebaliknya manusia ekploitatif terhadap alam. Meskipun alam telah ditundukkan oleh Allah untuk diambil kemanfaatannya oleh manusia, namun manusia tidak boleh bersikap semena-mena dan eksploitatif terhadap alam. Sebab, di samping merendahkan spiritualitas alam sebagai sesama umat (Al An’am/6:38: “Dan tidak ada seekor binatang melata pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-unat (juga) seperfi kamu …”); yang telah tunduk dan bertasbih-memuji Allah, manusia akan dirugikan sendiri oleh perbuatannya itu, yaitu terjadinya kerusakan alam (Ar Rum/30: 41) 

Iqra’, Metode Baca Ayat

Menarik ketika mengkaji, mengapa wahyu (tertulis) pertama yang diterima oleh Rasulullah saw adalah 5 ayat dari surat A1 Alaq/96. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” 

Iqra’, mengutip M. Quraish Shihab, terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.

Ayat di atas tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena AI Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi rabbik (atas nama Tuhanmu), dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Maka lqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Jadi, karena tidak disebutkan objek bacannnya, maka perintah lqra’ di atas mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Pengulangan perintah membaca dalam ayat ketiga bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas optimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismi rabbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-­itu juga. 

Maka, iqra’ adalah pintu untuk memahami ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (Al Quran dan AI Hadist sebagai penjelas oleh Rasulullah saw) maupun yang tidak tertulis (alam).  

Ilmu dan Manusia Otentik

Pembacaan terhadap ayat Allah, meniscayakan pencurahan dan pengerahan segala potensi yang diberikan Allah kepada manusia. Seperti dijelaskan Allah, bahwa, ”Dan Dialah yang mengeluarkan kami dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (AI Nahl/16: 78).

Meminjam Bruno Guiderdoni, ayat di atas memberi perunjuk pada bahwa ilmu pengetahuan dapat ditempuh dengan tiga jalan, yaitu melalui:

  1. Penelaahan kitab suci dan kepatuhan pada hukum yang diwahyukan (syariat). Dalam ayat di atas, jalan pengetahuan ini disimbolkan dengan pendengaran (al sam’ah), yaitu kelengkapan untuk menerima dan mematuhi petunjuk tekstual, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, dua sumber pengetahuan religius.
  2. Penyelidikan dunia (alam) dan perenungan terhadap keteraturan dan keajaibannya. Pada ayat di atas, jalan pengetahuan ini disimbolkon dengan pandangan (Al Bashar), yaitu kemampuan kita untuk merenungkan dan berrefleksi pada fenomena dan berhubungan sangat erat dengan pencarian pengetahuan rasional.
  3. Penyingkapan batin yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Pada ayat di atas, disimbolkan dengan hati (Al Af’idah) yaitu mata batin (Al Basyirah), yaitu kemampuan untuk mendapatkon pengetahuan langsung dari Allah, melalui penyingkapan spiritual. 

Ketiga jalan pengetahuan di atas, seharusnya saling konvergensi karena ketiganya menolong manusia untuk menemukan Tuhan. 

Jika manusia dalam menemukan pengetahuan hanya mengandalkan mata lahir (Al Sam’ah don Al Bashor), mereka tidak akan menemukan Allah di balik ayat-ayat yang termaktub pada Kitab dan terhampar di alam. ”Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja), dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akherat adalah lalai” (Ar Rum/30: 7). ”Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-­orang yang sangat angkuh di muka bumi tanpa haq. Mereka itu jika melihat setiap ayat mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak menjadikannya jalan, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menjadikannya jalan. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka terhadapnya selalu lalai” (AI A’raf/7: 46).

Dalam Ali Imran ayot 191, dijelaskan bahwa alam itu bisa menjadi tanda hanya bagi ulil albab, yaitu mereka yang mampu memfungsikan dzikir dan pikir (tafakkur). Dzikir adalah proses penyucian mata batin, sedangkan pikir adalah proses pengasahan mata lahir. Kedua potensi inilah yang mampu membawa manusia menjadi manusia otentik, yaitu manusia yang sesuai dengan watak aslinya. Dia mampu menangkap kehadiran Allah di setiap fenomena seraya menyeru, Tuhan kami, tiadalah engkau ciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau.” Sekaligus sadar bahwa dirinya adalah manusia lemah yang tak lepas dari kesalahan, maka dia berseru, ”Dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.” 

Sidojangkung, 25 September 2005

Mohammad Nurfatoni 

(Disampaikan dalam work shop materi pelatihan F1 FOSI Surabaya)

Bioteknologi: Mempertanyakan Peranan Etika

MENCERMATI film Jurassic Park, terasa melambung kem­bali harapan kita akan kemam­puan manusia dalam pengem­bangan teknologi sebagai upaya mempertinggi mutu kehidupan. Namun demi­kian, terekam pula kengerian, sekaligus bahaya, yang meng­ancam peradaban manusia.

Pertama, sekalipun fiksi, alur cerita yang dibangun dalam film ini bertolak dari kerangka ilmi­ah. Karena itulah, film ini bisa menjadi cermin tentang kea­jaiban yang mampu dihasilkan oleh manusia, dengan kemam­puan rekayasa genetikanya, be­berapa tahun mendatang. Da­lam film ini, keajaiban itu ber­wujud lahirnya kembali bina­tang purba, dinosaurus, hasil pencangkokan DNA (dioxyribose nucleid acid) darah dino­saurus dari serangga penghisap darah yang terjebak getah po­hon, menjadi fosil. Keberhasilan penciptaan kembali dinosaurus ini menjadi bukti akan keung­gulan manusia dengan teknolo­ginya.

Kedua, teknologi rekayasa ge­netika yang berhasil dikem­bangkan ternyata menyeret ma­nusia pada keruntuhan nilai-­nilai peradaban. Dinosaurus yang berhasil dibidupkan kem­bali justru menjadi momok. Di luar perhitungan, dinosaurus yang mulanya direncanakan untuk tidak berkembang biak, sehingga dalam rekayasa ini dibuat berkelamin betina se­mua, ternyata meleset. Di­temukan telur dinosaurus yang menetas di alam terbuka. Akhirnya, terjadilah kekacau-balauan. Dinosaurus yang sudah tak ter­kontrol ini mengamuk, memo­rak-porandakan semua yang ada. Dan kengerian pun men­gancam manusia.

Rekayasa Genetika, Primadona Bioteknologi

Film Jurassic Park menjadi menarik untuk didiskusikan karena di sinilah orang kembali teringat akan bioteknologi serta gambaran keuntungan dan kerugian yang menyertainya. Agar gambaran kita tentang bioteknologi menjadi proporsion­al, baiklah kita tinjau sedikit pengertian bioteknologi.

Banyak dijumpai definisi tentang bioteknologi. Namun begitu ada satu keseragaman yang dapat ditarik bahwa bioteknologi selalu berkaitan dengan kegiatan mi­kroorganisme, sistem dan proses biologi untuk menghasilkan ba­rang dan jasa.

Bioteknologi ini menjadi per­bincangan menarik terutama ke­tika dikembangkannya teknologi rekombinan DNA (deoxyribose nucleid acid). Dengan teknologi ini, manusia mampu menghasil­kan sesuatu yang sebelumnya sulit dapat dibayangkan. Ini bisa dimungkinkan karena DNA, se­bagai bahan materi genetik, mampu dimanipulasi dan direka­yasa sesuai dengan keinginan manusia.

Seperti diketahui, DNA berupa pita ganda yang saling terpilin membentuk spiral (double helix). Dengan demikian, salah satu pita molekul DNA itu dapat diibaratkan sebagai pita kaset; jika pita kaset dapat dihapus reka­mannya, mengapa pita molekul DNA yang berisi informasi gene­tik itu tidak dapat dihapus dan diganti dengan informasi keturu­nan yang lain? Di sinilah awal munculnya teknologi rekayasa genetika. Ternyata, DNA suatu organisme dapat dipergunakan untuk merekayasa DNA organis­me lain sehingga terbentuk hasil yang sama sekali baru.

Dengan rekayasa genetika, ma­nusia dapat memperoleh banyak kemudahan, misalnya dalam bi­dang kedokteran berhasil dipro­duksi insulin dari bakteri. Pada­hal, sebelumnya produksi insulin banyak bergantung pada pan­kreas hewan. Banyak lagi hasil yang menggembirakan manusia dari teknologi rekayasa genetika.

PERANAN ETIKA

Jika kita lihat satu sisi keuntu­ngan dari rekayasa genetika, maka serentak semua akan men­dukung pengembangan teknologi ini secara besar-besaran. Namun, sebagai gambaran, film Jurassic Park seakan mengisyaratkan bahwa rekayasa genetika dan bioteknobgi bagai mata berpisau dua. Satu sisi menguntungkan, namun sisi lain menjadi anca­man. Dalam film ini, dinosaurus bukan hanya dapat dihidupkan kembali sehingga memperkaya kembali penghuni bumi ini, bah­kan manusia sendiri terancam oleh kemunculannya. Rekayasa genetika sebagai teknologi bukan saja merendahkan harkat manu­sia, bahkan mengobrak-abrik ciptaan Tahan.

Lantas bagaimanakah makna etika dalam pengembangan tek­nologi? Mengutip A.W. Pratikaya, teknologi adalah kemampuan manusia untuk memanipulasi lingkungan (alam) sehingga dipe­roleh nilai tambah (added value) bagi manusia. Pengertian ini memberikan harapan bahwa se­benarnya teknologi merupakan keharusan bagi manusia. Per­soalannya adalah ketika panda­ngan kita tertuju pada dampak pisau bermata dua itu, Karena itulah, sebenarnya teknologi me­merlukan etika sebagai penun­tun dan “pengendali”. Dalam hal ini, setidak-tidaknya ada dua pandangan. Pertama, pandangan yang menganggap bahwa etika ti­dak boleh terpengaruh pada per­kembangan teknologi. Kedua, pandangan yang menganggap bahwa etika harus berkembang dan perubahannya disesuaikan dengan laju perkembangan tek­nologi.

Jelas, kedua pandangan ini sa­ma-sama belum merupakan fungsi etika itu sendiri. Pandangan pertama, jelas etika menjadi sesuatu yang kaku dan teknologi tidak akan pernah berkembang. Sebaliknya, pandangan kedua justru mengesampingkan makna etika. Dalam hal ini, etika tidak pernah punya fungsi sebagai kendali. Karena itulah, perlu pandangan alternatif. Sebuah pandangan yang menggabungkan kedua pandangan di atas, dengan dua prinsip. Pertama, etika ini mampu mengantisipasi perkem­bangan teknologi, dan kedua tetap berlandasan pada nilai idealnya. Etika alternatif inilah yang se­harusnya menjadi pijakan dalam pengembangan teknologi, khu­susnya bioteknologi.

Perkem­bangan teknologi tidak akan da­pat dihentikan. Sebab, di sam­ping perkembangan sains juga begitu pesat, teknologi itu sendiri menjadi kebutuhan manusia ka­rena hasil-hasil yang dicapai sa­ngat bermanfaat bagi peningka­tan mutu hidup manusia. Seba­liknya, agar teknologi tidak men­jadi liar, yang berimplikasi pada pelecehan martabat kemanusi­aan dan nilia-nilai Ilahiyah, maka perlu penjagaan dengan etika. Etika di sini bisa berarti kesa­daran moral manusia untuk se­nantiasa mendasari setiap tinda­kan teknologinya dengan nilai-­nilai atau kesadaran filter dalam setiap gagasan yang dicoba akan dikembangkan.

Dengan model hubungan etika dengan teknologi semacam di atas, kiranya dapat diminimal­kan terjadinya dampak teknologi. Apa yang menjadi pilihan te­knologi, bagaimana pengemban­gannya, dan apa kepentingannya. Rekayasa genetika jelas sangat memerlukan etika dalam pe­ngembangannya karena teknolo­gi ini mampu membikin sesuatu yang baru, termasuk organisme. Misalnya dalam pengembangan dinosaurus seperti yang terdapat dalam cerita fiksi-ilmiah Jurassic Park. Apa kepentingan meng­hidupkannya kembali? Bagaima­na dampak yang ditimbulkannya nanti? Dan yang penting, apakah ini tidak menyalahi hak cipta yang hanya milik Allah? Dan per­tanyaan-pertanyaan kritis lain­nya yang berfungsi sebagai kesadaran filter. Apalagi jika te­knologi ini mencoba membuat manusia, seperti yang dian­gankan terwujudnya manusia clon. Sungguh sebuah ke­galauan yang maha-dahsyat.

SUBYEKTIVASI BIOTEKNOLOGI

Persoalan mendasar berkai­tan dengan pentingnya etika sebagai penuntun dan pengen­dali bioteknologi adalah karak­ter bioteknologi itu sendiri. Pertama, bioteknologi bisa di­manfaatkan untuk membuat apa saja dan, karena itulah, karater kedua-nya, bioteknolo­gi ini sulit untuk dikendalikan. Dua karakter ini jelas mampu melahirkan kejadian-kejadian di luar dugaan, apalagi ke­cenderungan terjadinya perge­seran peran bioteknologi men­jadi begitu besar. Bioteknologi seakan menjadi variabel yang menentukan, sementara nilai kemanusiaan menjadi terabai­kan. Di sini terjadi subjektivasi bioteknologi dan objektivasi manusia. Jika ini yang terjadi, maka martabaat manusia men­jadi terancam: mereka akan terpasung oleh ciptaannya sen­diri.

Memang itu menjadi tantang­an manusia modern di era mo­dern, era perkembangan biote­knologi yang menakjubkan dan mungkin belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.

Kini semuanya berpulang pada manusia sendiri. Terus memacu penguasaan tekno­loginya tanpa kontrol etika atau sejak dini sadar untuk tidak memisahkan etika dengan iptek yang dikuasainya.

Mohammad Nurfatoni

Alumnus Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Surabaya, kini Aktivis Pusat Studi Islam Surabaya

(Dimuat Jawa Pos, 9/9/1993)

Menumbuhkembangkan Kreativitas Anak

KEMAMPUAN manakah yang menjadi pilihan orangtu­ terhadap anaknya: pandai a­taukah kreatif? Agak membi­ngungkan barangkali perta­nyaan ini. Sebab adakah perbe­daan antara keduanya? Apa­kah anak pandai itu juga krea­tif, atau anak pandai tidak mesti kreatif? Sebaliknya, pan­daikah anak yang kreatif?

 

Jika kita tinjau secara men­dasar tentu ada perbedaan an­tara keduanya. Orang pandai, kalau boleh saya pakai rumu­san Guilford, berarti berpikir konvergen. Artinya kemampu­an berpikirnya terbatas pada pengetahuan yang sempat te­rekam dalam memori otaknya. Jika menghadapi persoalan yang belum pernah dihadapi, kemampuan berpikirnya men­jadi lamban.

Hal ini berbeda dengan o­rang kreatif, yang mampu ber­pikir secara divergen, yakni kemampuan memecahkan ma­salah dengan alternatif seba­nyak mungkin.

Karena itulah, berpikir kreatif, menurut Mac­Kinnon, melibatkan tiga sya­rat: pertama, adanya respon a­tau gagasan yang baru. Kedu­a, reapon atau gagasan terse­but harus mampu memecah­kan masalah secara realistis dan ketiga, kemampuan mem­pertahankan insight yang or­sinil, menilai, dan mengem­bangkannya sebaik mungkin.

Suasana Kondusif

Sampai di sini barangkali je­las pilihan kita: anak kreatif. Namun persoalannya adalah bagaimana menjadi anak kre­atif. Coleman dan Hammen setidaknya menemukan tiga faktor yang harus dipunyai o­rang sehingga menjadi kreatif. Pertama, kemampuan kog­nitif: termasuk kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru. Kedua, sikap terbuka terhadap stimuli internal ma­upun eksternal. Ketiga, sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada din sendiri.

Agar ketiga faktor yang harus melekat pada diri orang kreatif tersebut juga dimiliki pada anak, maka perlu ditum­buhkan situasi kondusif ke arah sana. Pertama, kita tingkatkan ke­mampuan kognitif anak. Cip­takan suasana, agar anak mampu melahirkan gagasan baru. Dalam hal ini permainan yang tidak mampu menimbul­kan lahirnya gagasan baru, se­macam permainan Ular Tangga, sedapat mungkin kita ja­uhkan.

 

Sebaliknya permainan se­macam menyusun aneka ben­tuk balok harus banyak kita berikan. Atau jika mungkin, kita hindarkan anak dari per­mainan yang sudah jadi dari pabrik. Alangkah baiknya jika kita biarkan anak mencipta­kan permainannya sendiri. Bagaimana dulu ketika per­mainan ‘instan’ belum banyak menjarah anak, mobil-mobilan harus dibuat sendiri dari kulit jeruk, atau bikin tembak-tem­bakan dari kayu.

Demikian pula cara pembe­lajaran anak. Jangan dicecoki dengan pengetahuan jadi se­macam pemberlakuan hafalan yang ketat. Sebaliknya, kita harus memberikan rangsa­ngan pemikiran dengan per­soalan yang menggelitik. Pertanyaan semacam yang termuat dalam buku: Menga­pa Begini, Mengapa Begitu, adalah salah satu contoh up­aya yang mampu merangsang anak berpikir kreatif.

Kedua, harus kita tumbuh­kan minat anak terhadap per­soalan yang agak luas. Jika a­nak terpaku pada satu perma­salahan maka memori-memo­ri yang diterima otaknya sa­ngat terbatas. Kalau sudah be­gitu, maka kemampuan berpi­kir global tidak dimiliki. Ke­mampuan menjelajah persoal­an tidak ada. Dalam kaitan ini pergaulan anak terhadap bu­ku, majalah, atau sumber pe­ngetahuan lain menjadi penting artinya, termasuk kepada orang-orang kreatif lainnya.

Ketiga, beri kebebasan anak untuk berekspresi: agar memi­liki sikap percaya. diri. Orangtua dalam hal ini kadang se­ring bersikap otoriter. Anak harus mengikuti apa yang di­inginkannya, kemauan anak adalah kemauan orangtua. Termasuk dalam hal ini adalah pilihan-pilihan yang harus diambil anak. Apa­kah harus intens dengan ilmu pengetahuan alam, atau ilmu pengetahuan sosial.

Padahal kita tahu dunia anak sangat berlainan dengan dunia orangtua. Apa yang ba­ik menurut orangtua, belum tentu harus dilakukan anak. Maka tahapan perkemban­gan anak harus juga menjadi perhatian. Dalam perspektif ini juga, kemauan orangtua untuk mengikutkan les privat anaknya secara berlebihan menjadi ancaman kebebasan berpikir kreatif. Kesadaran a­nak untuk belajar, bertindak, dan bekerja, itulah yang sebe­narnya harus ditumbuhkan dengan jalan menjadi motivcasi.

Mohammad Nurfa­toni

Penulis alumnus FP MIPA IKIP Surabaya, kini aktif di Pusat Studi Islam Surabaya.

(Dimuat Surabaya Post, 1/8/1993)