Segelas Misteri Kematian

DALAM buku Indonesia X – Files, ahli forensik terkemuka Indonesia, dr Abdul Mun’im Idries SpF, menulis sejumlah kasus kematian yang mengandung misteri.

Perihal kematian Munir yang diracun arsenik, Mun’im menulis: “Pada akhirnya, kematian Munir memang masih menjadi tanda tanya. Punya urusan apa Pollycarpus menghabisi Munir? Kalau memang ia “ditugaskan”, oleh siapa? Jawabannya masih terembunyi di balik halimun misteri yang masih saja menggelayut di awang-awang negeri ini. Hingga kini.” (lebih…)

Iklan

TANAH

Di rumah, kami sisakan tanah seluas 3×2,5 m untuk jadi halaman depan, tidak boleh dipaving, dirabat, apalagi dikeramik. Juga tersisa tanah 3×3 m jadi halaman belakang.

Dengan tanah polosan itu kami masih bisa menikmati bau tanah, terutama saat terbasahi air (hujan) pascakering. Juga untuk sedikit resapan dan menanam pohon keras.

Atau barangkali beberapa jenis hewan yang biasa hidup di (dalam) tanah, masih tetap bisa menghuninya. Cacing, kaki seribu, katak, dan sebangsanya.

Lebih dari itu, tanah adalah simbol material asal usul dan tempat jasad akan kembali. Kita dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Maka, menyisakan tanah kosong menjadi pengingat asal usul dan tempat kembali jasad. Bau tanah menjadi penting dihirup!

Sidojangkung, 30 Juli 2013

Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru

1. Puasa menurut Pak Muh (almarhum Muhammad Zuhri) adalah cara baru menangani pengelolaan semesta, setelah setahun cara-cara lama tak lagi ampuh, usang, atau lapuk.

2. Puasa berarti melakukan penjungkirbalikan (deformasi) pada semua sistem yang ada dalam tubuh, baik sistem metabolisme atau sistem psikologis.

3. Puasa menjungkirbalikkan semua keadaan. Kebiasaan makan sehari 3 kali diubah jadi 2 kali. Saat ingin makan malah dicegah. Saat malas makan malah disuruh (sahur).

4. Tubuh yang biasa disuplai kalori dari luar tiba-tiba terhenti saat sedang berpuasa. Energi keluar terus tapi kalori tidak masuk. (lebih…)

Tawuran Pelajar dan Keharusan Introspeksi Orang Tua

Soal tawuran antarpelajar, saya kira tanggung jawab sebenarnya tetap pada orang tua. Sekolah hanyalah “titipan” sementara.  Orang tua berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Sementara sekolah adalah tempat orang tua ‘menitipkan” anak dalam menimba ilmu.

Kenapa sekolah, karena tentu saja ada keterbatasan orang tua dalam penguasaan banyak ilmu; sementara sekolah bisa merekrut banyak guru. Berbagai disiplin ilmu bisa diajarkan di sekolah karena sekolah bisa mengundang guru dengan spesialisasi keilmuan masing-masing.

Sebagai orang tua, jujur saya sendiri merasa berat harus mengajarkan matematika, fisika, atau akuntansi. Maka saya terbantu dengan sekolah. Tapi soal karakter anak, tentu orang tua harus punya peran besar dan tak tergantikan oleh yang lain.

Nah, soal hubungan orang tua dengan nak, saya jadi teringat pesan sufistik KH Saerozi, seorang kyai dari daerah Babat, Lamongan. Pesan itu saya peroleh saat menghadiri acara Haflah Akhirussanah SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro, tanggal 17 Juni 2011.

(lebih…)

Bersikap Produktif terhadap Provokatif Anti-Islam Film “Innocence of Muslims”

Tuilsan ini saya adaptasi dari artikel saya soal film “Finah” yang pernah dimuat harian Surabaya Post tahun 2008. Kasusnya sama.

Sebelumnya saya mohon maaf karena dengan menulis tema ini saya ikut membantu menjadikan film ”Innocense of Muslims” semakin terkenal. Setidaknya saya menjadi oramg yang yang kesekian kalinya menulis judul film ini dan membuat Anda pembaca tulisan ini menjadi pengejanya kesekian kalinya.

Tapi saya tidak akan membahas film itu, karena terbukti banyak pemainnya yang mengaku dikibuli. Artinya film itu jauh dari syarat sinematografi. Saya hanya akan membahas relasi antara film itu dengan reaksi umat Islam, yang bagaimana seharusnya!

Saya sangat yakin bahwa Nabi Muhammad SAW, Islam, atau al-Quran tidak akan pernah luntur sedikit pun kemuliaannya gara-gara film itu. Masih ingat salah satu tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai?

(lebih…)

Hamas Terinspirasi Indonesia

“Kami Cita Damai, tapi Lebih Cinta Kemerdekaan”

Oleh Mohammad Nurfatoni
Penulis buku “Tuhan yang Terpenjara”

Genjatan senjata sepihak telah berlangsung di Gaza. Sehari sebelum presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Husain Obama dilantik (20/1/09), Israel menarik mundur pasukannya ke perbatasan. Setelah itu Hamas memutuskan genjatan senjata pula. Genjatan senjata sepihak ini, meskipun dinilai positip, namun berpotensi dilanggar secara sepihak pula. Terbukti, sepuluh hari setelah genjatan senjata, saling serang kembali terjadi. Gaza kembali dibombardir Israel dengan alasan sebagai balasan atas serangan roket ke Israel. Padahal, selama hampir sebulan terjadinya serangan Israel ke Gaza, telah membukukan korban yang begitu banyak di pihak Palestina: 1330 tewas, 5500 terluka. Infrastrktur Gaza pun terkoyak. Dibutuhkan sedikitnya US$ juta 1,9 untuk merekontruksi Gaza.

Akankah perang asimetris ini akan kembali terjadi? Banyak pihak menginginkan terjadi perdamaian antara Israel dengan Palestina, khususnya Hamas. Tapi bisakah tercapai perdamaian abadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita sekilas menengok sejarah konflik Israel Palestina ini.

Negara Cangkokan
Israel bukanlah negara asli di Timur Tengah, melainkan—secara keagamaan, ras, kebudayaan, dan di atas semuanya, secara politis—adalah unsur asing, yang dicangkokkan di Timur Tengah semata-mata sebagai kemauan politik dan militer sewenang-wenang dari pihak Barat, yakni Eropa Barat dan Amerika Serikat (Fazlur Rahman, “Sikap Islam Terhadap Yudaisme” dalam Islam: antara Visi, Tradisi, dan Hegemoni Bukan Muslim, peny. Mochtar Pabiottinggi, Yayasan Obor Indonesia).

Tujuan pencangkokkan itu, menurut Roeslan Abdulgani ialah untuk memecah-belah nasionalisme Arab, dan untuk menahan kebangkitan Islam. Sebab kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang tidak hanya strategis—vital sekali, tetapi juga ekonomis—sangat penting karena kekayaan minyak di dalam tanah dan lautnya. Minyak adalah sumber energi pokok Dunia Industri Barat … (Roeslan Abdulgani, “Kata Pengantar” dalam Mereka Berani Bicara, Paul Findley, Mizan).

Mulanya, (sebagian) tanah Palestina menjadi klaim Negara Israel berkat konsensi yang diberikan oleh Inggris (Lord Balfour) sebagai penjajah negara-negara Arab, atas dukungan dana yang diberikan oleh Golongan Yahudi Zionis pada Inggris dalam Perang Dunia I melawan Jerman (Deklarasi Balfour 1917). Inilah yang dikatakan Rahman bahwa Israel, dalam kelahirannya, adalah suatu gejala kolonial dalam arti yang sesungguhnya. Dasar kelahiran Israel itulah yang salah. la diciptakan lewat kebatilan dan agresi, dan asal usul itulah yang menentukan sifatnya [Israel].

Modal “politis-yuridis” itulah yang membuat orang Yahudi yang mulanya hanya 50.000 bertambah banyak dengan kedatangan orang-orang Yahudi dari Eropa sejumlah 500.000 jiwa. Rakyat Palestina sendiri yang semula berjumlah 600.000 jiwa didesak, diintimidasi dan diteror. Ini semua terjadi pada tahun-tahun 1920-1940.

Negara Israel akhirnya berdiri tahun 1948, dan melakukan agresi lanjutan pada tahun 1967 lewat perang Arab-Israel, sehingga memiliki wilayah “jarahan” semakin luas yang meliputi Palestina, Lebanon Selatan, Dataran Tinggi Golan (Syria), dan Gurun Sinai (yang akhrinya diserahkan lewat Perjanjian Camp David).

Tindakan agresi Israel ini telah dikecam oleh berbagai pihak, tetapi berbagai resolusi DK PBB, diantaranya No. 242 dan 338, yang memerintahkan Israel keluar dari wilayah yang didudukinya itu, tidak membuahkan hasil. Kebandelan Israel ini, tentu tak lepas dari stereo¬type Amerika Serikat, negara yang oleh banyak pihak disebut dikuasai oleh lobi Yahudi. Secara langsung maupun tidak langsung, Amerika Serikat adalah pelindung Israel. Berbagai perjanjian perdamaian, selalu dilanggar oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat.

Memahami Hamas
Berlandaskan sejarah itu, kita bisa memahami mengapa Palestina, khususnya Hamas, bersikeras menolak perdamaian dengan Israel. Sebab dengan melakukan perdamaian, bukan saja mengakui negara (palsu) Israel, melainkan pada prakteknya semakin menguntungkan Israel. Oleh karena itu populer sebuah slogan di kalangan Hamas “Dengan perdamaian kita tak mendapat apa-apa tetapi dengan perang kita mendapat Gaza.” Dalam imajinasi saya, Hamas terinspirasi slogan Indonesia dalam mengusuir penjajahan: “Kami Cita Damai, tapi Lebih Cinta Kemerdekaan.”

Jika pun diadakan perdamaian maka tuntutan Hamas adalah dikembalikan seluruh tanah Palestina dari jajahan Israel. Bukan seperti sekarang, Palestina hanya mendapat secuil dari tanahnya sendiri: Tepi Barat dan Jalur Gaza, sementara Israel masih ongkang-ongkang dengan enaknya di sebagian besar tanah rampasan itu. Dalam konsep Hamas, hanya ada satu negara di tanah itu: Palestina dengan penduduk asli Palestina, dan mengakomodasi penduduk Yahudi sebagai warga negara.

Israel tentu saja tetap menginginkan seluruh tanah jajahannya (kembali) dalam genggamannya. Oleh karena itu di samping melanggar berbagai resolusi PBB, Israel juga kerap kali melakukan serangan guna mendapatkan kembali Tepi Barat dan Jalur Gaza. Bukan saja melalui militer, melainkan juga melalui pembangunan pemukiman Yahudi dan pembelian tanah Palestina.

Sementara itu Al Fatah, langsung atau tidak langsung, setuju dengan konsepsi seperti sekarang ini, di mana sebagian tanah Palestina dikembalikan sedangkan sebagian lagi menjadi hak Israel. Konsepsi dua negara inilah yang sebagian besar diinginkan oleh negara-negara lain, termasuk negara-negara Arab dalam hubungan Palestina Israel. Mungkin hanya Iran, Syuriah, Libya (dan Indonesia?) yang menginginkan Israel lenyap dari peta dunia.

Obamaforia
Penarikan militer Israel ke perbatasan, tentu saja disambut Hamas sebagai kemenangannya. Mungkin, Israel dianggap melarikan diri. Memang dalam perspektif perang, Israel gagal mancapai tujuan perangnnya yaitu melumpuhkan kekuatan Hamas. Alih-alih melumpuhkan Hamas, Israel justru melakukan pembantaian warga sipil, yang kemudian menuai reaksi negatip dunia. Hampir seluruh dunia mengutuknya, dan menganggap Israel sebagai penjahat perang.

Tapi, ada yang mengaitkan penarikan pasukan Israel dari Gaza sehari sebelum pelantikan Obama, karena ada kaitannya dengan Obama. Yusuf Kalla bahkan menyebut kewibawaan Obama sebagai faktornya. Benarkah?
Beberapa hari sebelum genjatan sepihak, menlu Israel dan AS menandatangani perjanjian, yang berisi kerjasama kedua negara dalam “melucuti” kekuatan senjata Hamas, di antaranya pencegahan berlangsungnya pasokan senjata pada Hamas. Jadi, memang faktor AS tetap berjalan dalam genjatan senjata itu. Tapi apakah faktor Obama berperan?

Memang, dalam berbagai penyataan saat kampanye, Obama menjanjikan perubahan, di antaranya dalam politik luar negeri yang lebih mengedepankan dialog, khususnya dengan dunia Islam. Termasuk penarikan pasukan AS dari Irak dan penutupan penjara Guantanamo. Maka dunia berharap pada Obama. Bukan saja karena janji perubahaan itu, melainkan Obama kali ini adalah pengecualian (calon) presiden AS. Dia berasal dari ras kulit hitam, sebuah ras yang dalam beberapa puluh tahun sebelumnya menjadi warga kelas sekian di AS. Maka Obama menjadi harapan perubahan itu, apalagi presiden yang akan digantikannya, Geroge W. Bush dikenal dengan pendekatan perang. Maka eforia terpilihnya Obama terjadi hampir di seluruh dunia. Obamaforia begitu kira-kira.

Tapi, tiga pekan penyerbuan Israel ke Gaza berjalan, Obama diam seribu bahasa. Waktu itu alasan yang berkembang karena Obama baru presiden terpilih dan belum presiden resmi AS. Tapi saat pidato pelantikannya yang dihadiri 2 jutaan manusia dan ditonton jutaan lainnya di dunia, Obama sama sekali tidak menyebut Gaza dan berempati pada ribuan korban agresi Israel. Tentu membuat pesimis akan janji perubahan yang diusungnya, terutama dalam penyelesaian masalah Palestina.

Tapi, memang untuk apa berharap pada Obama. Dia bukan presiden Kenya, tempat leluhurnya. Apalagi presiden Indonesia, negera berpenduduk Muslim terbesar dunia, tempat dia pernah 4 tahun bersekolah dasar. Obama adalah presiden AS, negara yang memposisikan dirinya sebagai negara adidaya tunggal dan negara yang sangat dipenggaruhi lobi Yahudi. Jadi, mungkin setali tiga uang. Sama saja. Jika beda, hanya gaya yang berubah!

Sebenarnya, harapan adalah pada persatuan negara-negara Islam atau Arab. Tapi, karena mayoritas mereka adalah cecunguk AS, maka harapan itu juga menjadi sia-sia. Lihatlah Mesir yang sangat takut membuka perbatasan untuk masuknya bantuan kemanusiaan. Lihat juga Saudi Arabia dan negara Arab lainnya yang, jangankan menekan Israel dan AS, untuk memberikan bantuan dana pasca-kehancuran Gaza saja bingung dan takutnya bukan main!

Di tengah pesimitis itu, kemudian kita “dihibur” oleh perang mulut antara PM Turki Recep Tayyib Erdogan dan Presiden Israel Shimon Peres dalam KTT ekonomi di Davos Swiss, yang berakhir dengan walk out-nya Erdogan. Turki, yang dikenal dekat dengan Barat dan Israel, kini kelihatannya mulai muak pada Isarel.

Memang, kita butuh orang semacam Khadafi, Erdogan, dan Ahmadinejad, atau Hugo Chavez dan Evo Morales. Nah, bagaimana SBY dan para calon presiden Indonesia, lebih beranikah? [*]

Sidojangkung, 1 Pebruari 2009.

 Dimuat majalah MUSLIM edisi Pebruari 2009

Multimakna dan Multiefek Mudik

Siapa yang pergi, pasti rindu pulang
laksana burung yang terbang ribuan kilometer
dan kembali lagi ke sarangnya

maka pulang (mudik) adalah simbol kembali ke asal mula
sebab kepulangan selalu mengingatkan pada sangkan paran (asal usul kejadian)

dan inilah sambutan Tuhan bagi yang segera pulang
— kepulangan yang tak harus menunggu kematian (fisik):
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu

dengan jiwa yang puas lagi diridhaiNya …”

(“Pulang”, Mohammad Nurfatoni)

Hari-hari ini masyarakat perkotaan sedang disibukkan oleh tradisi tahunan yang selalu mengiringi perayaan hari raya Idul Fitri, yaitu tradisi mudik atau kegiatan pulang ke kampung halaman.

Berbagai imbauan pernah disampaikan untuk menghilangkan, setidaknya mengurangi, kegiatan mudik karena beberapa alasan. Secara ekonomi kegiatan ini dianggap sebagai bagian dari pemborosan keuangan, karena adanya beban biaya transportasi dan masifnya budaya konsumerisme. Dari sisi keamanan, kegiatan mudik akan melahirkan kerawanan pada kawasan lingkungan akibat ditinggal pulang para pemudik secara bersamaan.

Akan tetapi, seperti digambarkan oleh puisi di atas, mudik ternyata sarat dengan makna. Secara spiritual, mudik atau kepulangan adalah panggilan jiwa atau fitrah manusia. Oleh karena itu, betapa pun sulit dan membutuhkan biaya ekonomi tinggi, tradisi mudik tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat kita. Dari tahun ke tahun tradisi mudik tetap berjalan, bahkan cenderung meningkat.

Dinas Perhubungan Jatim memperkirakan, jumlah pemudik di Jatim tahun ini akan mencapai 7.174.755 orang pada Lebaran kali ini, atau naik dari jumlah pemudik pada tahun sebelumnya yang sekitar 6,7 juta orang. Penghitungan jumlah pemudik itu didasarkan pada total jumlah penumpang angkutan darat (bus dan KA), penyeberangan, angkutan laut dan udara. Untuk angkutan darat jumlah kenaikan penumpang diprediksi mencapai 4 persen. Kereta api 8 persen, penyeberangan (ASDP) 5 persen, angkutan laut 10 persen dan udara 8 persen.

Makna Spiritual Mudik

Seperti kita pahami, manusia lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa (kullu mauluudin yuuladu ala al-fitrah). Lahir tanpa dosa di sini bukan berarti sama dengan kertas putih kosong, sebab kelahiran manusia membawa potensi kebenaran atau berketuhanan. Itu terjadi setelah manusia pada suatu kesempatan awal penciptaan, pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka (seraya berkata): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi.” (Al-A’raf/7:172).

Dalam perjalanan hidupnya, manusia mungkin terjerembab dalam kubangan dosa dan kesalahan, bahkan pada tingkat ekstremnya melupakan Tuhan. Posisi seperti ini tentu bertolak-belakang dengan fitrah manusia. Nah, karena kasih sayang Tuhan pada manusia tak pernah terputus, maka Tuhan menciptakan sistem pengondisian agar manusia kembali pada Tuhannya. Sistem itu tak lain dan tak bukan adalah puasa Ramadhan, sebuah sistem layaknya kawah candradimuka yang akan memproses kembali manusia pada jati dirinya.

Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka dosa-dosanya akan diampuni.” Sebagai kawah candradimuka, maka puasa Ramadhan akan mengembleng manusia agar kembali pada jati dirinya sebagai manusia yang memancarkan fitrah atau kebenaran.Inilah yang dimaksud dengan Idul Fitri. Id berarti kembali dan fitr adalah asal muasal atau kesucian.

Jadi, manusia yang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan akan kembali sebagai makhuk berketuhanan. Inilah sebenarnya makna yang hendak dibawa oleh tradisi mudik.

Multimakna dan Multiefek

Secara spiritual, mudik mengingatkan akan asal usul manusia yang berasal dari Tuhan (sangkan paran). Ketika manusia sadar bahwa mereka berasal dari Tuhan maka manusia akan berusaha dekat dengan-Nya (taqarrub ilallah). Ketika manusia dekat dengan Tuhan, maka manusia akan berusaha “menyerap” citra Tuhan dalam dirinya. Inilah yang disebut insan kamil (manusia paripurna).

Secara psikologi, mudik akan menyadarkan manusia agar tidak pongah dan sombong ketika sudah sukses di kota. Sebab mudik akan mengingatkan keotentikan diri mereka. Bahwa kita dulu orang ndeso kesa keso yang menjunjung tinggi kejujuran, tepo sliro, dan gotong royong.

Maka, dengan segala kesederhanaan dan keasliannya, desa akan menjadi cermin bagi masyarakat kota untuk melepaskan segala topeng-topeng yang mungkin selama ini memenjarakan mereka dalam jeruji kepalsuan, yang mana kepalsuan itu seringkali menjerumuskan manusia dalam kerusakan.

Secara sosiologi, mudik mengingatkan manusia pada kampung halaman yang pernah melahirkan dan membesarkannya. Ingat pada kampung halaman ini penting agar kita tidak meninggalkan keluarga besar (extended family) yang masih ada di kampung halaman. Sebab dalam kehidupan urbannya, manusia kota biasanya hidup sebagai keluarga inti (nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Mudik sangat penting sebagai wahana untuk mengumpulkan kembali keluarga besar agar bersilaturahmi dengan mbah, buyut, paman, misanan (sepupu), keponakan, dan sanak kadang lainnya. Mudik adalah reuni besar di kampung halaman.

Dalam kehidupan kota yang bersifat individualistis, keluarga besar ini penting sebagai cermin sebuah kekompakan hidup bertetangga. Dengan mengambil semangat keluarga besar di kampung, maka sekembali ke kota kita diingatkan untuk membangun keluarga besar meskipun bukan lagi terdiri dari anggota keluarga, melainkan dari para tetangga yang berbeda latarbelakangnya.

Keluarga besar ini penting dibangun di kota karena akan membentuk hubungan yang saling tolong-menolong bagi keluarga inti yang jauh dari sanak keluarga masing-masing.

Tak kalah pentingnya, mudik juga memiliki multiefek pemerataan ekonomi. Hampir seluruh sektor ekonomi akan mendapat imbas dari tradisi mudik, apakah itu transportasi, keuangan, komunikasi, atau perdagangan. Tapi sayangnya, sektor-sektor itu masih dikuasai oleh ekonomi perkotaan dan orang-orang kaya.

Bagaimana agar efek ekonomi mudik itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat pedesaan, setidaknya kerabat di kampung halaman?Ada beberapa pemikiran yang perlu dicoba-praktikkan. Pertama, para pemudik hendaknya mengubah peruntukan oleh-oleh dari kota yang biasanya berupa barang konsumtif menjadi barang produktif.

Oleh-oleh berupa makanan atau pakaian memang tetap dibutuhkan oleh penduduk desa, tetapi manfaat dari barang seperti itu hanya karikatif belaka. Ia tak akan mengubah nasib. Meski berpakaian baru dan wah, masyarakat desa yang miskin dan menganggur ya tetap seperti itu.

Di samping menjadi tani atau buruh tani biasanya masyarakat desa tetap memiliki ingon-ingon ternak, apakah ayam, bebek, kambing, atau sapi. Bagaimana jika oleh-oleh para pemudik itu dirupakan dalam bentuk uang dan dibelikan hewan ternak, yang jenisnya tergantung seberapa besar kemampuan oleh-oleh kita itu.

Kedua, jika oleh-oleh seperti disarankan di atas dianggap terlalu berat atau rawan dijual dan dirupakan keperluan konsumtif lagi, bagaimana kalau dibuat pola kerja sama bagi hasil. Artinya, pembelian ternak (atau mungkin bentuk lain sawah, tambah, kebun, tegalan) tidak murni dihibahkan melainkan di-sharing bagi hasil. Dalam konteks ini pemudik berperan sebagai investor dan masyarakat desa sebagai pengelolanya.

Dengan pola seperti ini ada tiga keuntungan, pertama, aset akan terkontrol, sebab tidak akan dijual karena bukan milik pengelola. Kedua, orang kota bisa membantu kampung halaman dengan memperluas lapangan pekerjaan orang-orang desa. Ketiga, orang kota sendiri memiliki alternatif investasi, sekaligus menjadikannya sebagai cara untuk merencanakan keuangan di masa depan, sebagaimana sering disarankan oleh para pakar perencanaan keuangan akhir-akhir ini.

Jadi, tidak ada salahnya para pemudik mengeluarkan biaya ekonomi tinggi jika memberi efek kesejahteraan pada kampung halamannya. Selamat mencoba! (*)

Mohammad Nurfatoni  artikel telah dimuat harian sore Surabaya Post, 30/9/08