Alam, Pertanda Allah

 

Alam diciptakan oleh Allah dengan benar (Az-Zumar/39:5), tidak dengan main-main (Al-Anbiya’/21:16; Ad-Dhuhan/44:38) tidak pula diciptakan dengan batil, palsu (Shad/38:27). Sebagai wujud yang benar (haqq), maka alam adalah juga wujud yang nyata, bukan semu, maya, atau palsu (mayapada). Dengan memahami alam seperti itu maka akan melahirkan pandagan tentang pengalaman hidup yang nyata pula, tidak camcara, yakni gaya hidup ruhbaniyyah, antidunia.

Karena diciptakan oleh Allah dengan benar, maka konsekuensi selanjutnya bahwa alam ini adalah sesuatu yang baik, harmonis, serasi, tidak mengandung cacat dan kacau (Al-Mulk/67:3), dan penuh hikmah (Ali Imran/3:191)

 

Ukuran dan Keterhinggaan
Keharmonisan alam itu terjadi karena pertama, Allah telah memberikan “petunjuk” (Thaha/20:50), “perintah” (Fush Shilat/41:11), atau “ukuran” (Al-A’la/87:2-3/; Al-Qamar/54:49; Al-A’raf/7:54). Kedua, dengan petunjuk, perintah, dan ukuran itulah alam bersikap patuh, muslim (Ali Imran/3:83). Kepasrahtotalan itu diwujudkan oleh alam dengan memuji-muji Allah (Al­Hadii/57:1; Al-Hasyr/59:1; Ash-Shafh/61:1, dan lain-lain) dan “bekerja” sesuai dengan petunjuk, perintah, atau ukuran dari Allah, yang kita kenal dengan konsep sunnatullah.


Sunnatullah dan Ilmu Pengetahuan
Sunnatullah, yang membuat alam berjalan harmonis itu dicirikan dengan tiga karakter, yaitu pasti (exact) {At-Thalaq/65:3)}; Tetap (immutable) {AI-An’am/6:115; Al-Isra’/17:77); dan objektif (tidak pandang bulu).

Karena alam sudah berjalan sesuai dengan sunnatullah, maka alam bisa “membatasi” manusia, sekaligus memberi peluang manusia untuk berhasil atau tidak dalam menjalani kehidupannya. Penguasaan IPTEK misalnya sangat ditentukan sejauh mana usaha manusia dalam memahami dan “mengikuti” sunnatullah. Karena itulah fungsi pengoptimalan akal sangat didorong oleh Islam (Ali Imran/3:190). Dengan demikian jika umat Islam ingin menguasai alam maka harus banyak melakukan proses belajar dan bercengkrama (meneliti) dengan alam. Barang siapa yang ingin berhasil dalam hidup, maka dia pun harus mampu menerapkan prinsip-prinsip sunnatullah dalam bidang kerja. (profesional adalah sunnatullah).

 


Sunnatullah dan Mukjizat

Sunnatullah tidak mengalami perubahan (Al-Furqan/25:2). Lantas bagaimana fenomena mukjizat? Apakah mukjizat dan hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan dapat dipandang sebagai persoalan yang merusak sunnatullah? Murtadha Muthahhari menjawab “tidak”. Tidak ada pengecualian dalam hukum alam, dan hal-hal yang dipandang seperti bertentangan dengan kebiasaan tidaklah merusak hukum-hukum tersebut. Kata Murtadha apabila kita perhatikan perubahan pada hukum alam, maka perubahan tersebut benar-benar merupakan akibat yang ditimbulkan oleh berubahnya syarat-syarat.

Adalah jelas bahwa suatu sunnah (hukum alam) akan berlaku pada lingkup sayarat tertentu, dan apabila syarat-syarat tersebut berubah, maka yang akan berlaku adalah sunah (hukum alam) yang lain, dan perubahan ini terikat pula oleh syarat-syarat tertentu. Mukjizat tidak dapat diartikan sebagai sesuatu yang membatalkan hukum alam. Sedangkan mengenai praktik terjadinya hal-hal yang menyalahi kebiasaan yang terjadi pada diri nabi atau seorang wali, maka syarat-syarat tersebut menjadi berubah ketika berada di tangannya karena keutamaan hubungan jiwanya… dengan kekuasaan Allah yang tak terhingga.

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat hanif, pekan ke-4 Juli 2006

Mengukur Kemuliaan

Suatu malam, seorang pria mendatangi Rasulullah Saw. yang sedang berada di Masjid Nabawi, Madinah. Selepas mengucapkan salam, pria itu berkata kepada beliau, “Aku lapar dan letih, wahai Rasul!” Mendengar ucapan tersebut, Rasulullah Saw. kemudian mengutus seseorang kepada salah seorang istri beliau untuk menanyakan apakah di rumahnya ada masakan dan makanan. Sang istri pun berkata kepada orang yang diutus oleh beliau, “Demi Allah yang mengutus Muhammad Saw. dengan kebenaran, aku hanya mempunyai air!” Kemudian, Rasulullah Saw. mengutus orang itu kepada istri-istri beliau yang lain untuk menanyakan apakah di rumah mereka ada makanan dan masakan. Ternyata, istri-istri beliau tersebut memberikan jawaban yang sama.

Menerima laporan yang demikian, beliau lantas berkata kepada orang-orang yang ada bersama beliau, “Siapa di antara kalian yang berkenan menjamu orang ini, niscaya dia akan dianugerahi rahmat oleh Allah.”

“Saya yang akan menjamunya, wahai Rasul!” jawab seorang Anshar penuh semangat. Pria Anshar itu kemudian mengajak tamunya itu ke rumahnya. Sebelum mempersilakan tamunya masuk, pria Anshar itu menemui istrinya di dalam rumah dan bertanya kepadanya, “Istriku, apakah engkau mempunyai makanan?” “Tidak, kecuali makanan untuk anak-anak kita,” jawab sang istri. “Kalau begitu, hiburlah anak-anak kita! Dengan apa saja! Lalu, apabila tamu kita masuk, kecilkanlah lentera itu dan perlihatkan kepadanya seakan kita sedang makan. Jika dia hampir makan, mendekatlah ke lentera itu dan padamkan!”

Sang tamu pun dipersilakan masuk dan makan. Seusai menikmati makanan yang ada, tamu itu memohon diri untuk berlalu.

Pada hari berikutnya, pria Anshar itu datang ke Masjid Nabawi dengan tujuan untuk mengikuti pertemuan yang dihadiri Rasulullah Saw., seperti pada hari-hari sebelumnya. Melihat pria itu, beliau tersenyum dan berkata kepadanya, “Sungguh, Allah sangat kagum terhadap apa yang telah kalian lakukan semalam. [Ahmad Rofi’ Usmani, ”Allah Sangat Kagum terhadap Kalian!”, dalam Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah, Mizan, 2005]

##

Apa yang menarik dari kisah di atas? Pertama, kemuliaan ternyata tidak terletak pada harta dan benda-benda. Kisah di atas menginformasikan betapa sederhana dan bersahajanya hidup Rasulullah saw; bahkan untuk persediaan (kelebihan) makanan pun tidak ada di rumah beliau. Sementara kita sepakat bahwa Muhammad saw adalah manusia yang paling mulia.

Tentu, jika kemuliaan terletak pada harta dan benda-benda, beliau tidak termasuk kategori manusia mulia. Kehidupan keluarga beliau sangat sederhana, jauh dari benda-benda—apalagi yang mewah—dan harta; meskipun bukan berati Rasulullah saw tidak bisa kaya. Rasulullah saw justru memilih hidup sederhana, cukup bisa mempertahankan hidup dan kehormatan keluarga.

Tapi, Muhammad saw tetaplah manusia termulia. Beliau menjadi teladan terbaik, yang namanya selalu disebut-sebut oleh milyaran manusia sepanjang masa. Ajaran yang dibawahnya menjadi tolok ukur kehidupan mulia. Ternyata, kemuliaan Rasulullah saw dibangun oleh sikap dan kepribadiannya, serta kegigihan beliau dalam memperjuangkan kebenaran.

Kedua, saling berbagi, menolong, dan membantu sesama adalah cermin dari kemuliaan diri. Inilah yang diperlihatkan oleh sahabat Anshar; yang dengan penuh semangat menyediakan dirinya untuk memberi pertolongan pada yang membutuhkan.

Ketiga, dalam memberi pertolongan dan bantuan, tidak harus menunggu saat kita berlebih dan serba kecukupan. Justru, kemulian itu tercermin dari kesadaran kita untuk rela berkorban ketika memberi pertolongan; seperti yang dicontohkan oleh sahabat Anshar di atas. Dia rela memberikan jatah makan keluarganya, karena penghormatannya pada tamu dan kemampuannya memilih dan memilah prioritas kebutuhan. Sahabat itu mampu membaca bahwa sang tamu Rasulullah saw lebih membutuhkan makanan itu; dari pada keluarganya, meskipun sesungguhnya mereka pun belum makan.

Sikap sahabat Anshar inilah yang membuat Rasulullah saw kagum terhadapnya. Semoga, kita pun mampu dikagumi oleh beliau. [*]

Menganti, 9 Nopember 2006
Mohammad Nurfatoni

Dimuat juga pada kolom “Hikmah” di http://www.cakrawala-print.com

Membaca Bencana

Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidal pula) pada dirimu, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Al Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap yang diberikannya kepada kamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al Hadiid/57:22-23)

Bagi yang beriman, Firman Allah di atas sangat penting untuk mengambil sikap dan hikmah di balik berbagai bencana yang menimpa kita, tak terkecuali gempa yang menimpa Yogjakarta dan Jawa Tengah.

Apa yang bisa kita baca dari bencana itu? Pertama, bahwa tidak ada satu pun peristiwa di alam ini yang terlepas dari kendali kekuasaan Allah.

Mulai dari penciptaan alam semesta dan segala isinya; keserasian dan keteraturan jagad raya; keindahan dan keunikan alam raya; keanekaragaman makhluk hidup; silih bergantinya siang dan malam adalah diantara tanda-tanda kekuasaannya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Al Baqarah/2:164)

Demikian pula fenomena dan peristiwa-peristiwanya, yang terjadi berulang-kali atau yang hanya terjadi sekali, ataupun bencana yang menimpa manusia dan alam semesta adalah bagian dari kekuasaan Allah.

Karena bencana ada dalam genggaman Allah, maka bencana menjadi alat yang efektif untuk mempertanyakan kembali hubungan spiritual kita dengan Allah. Jangan-jangan kita sudah tidak lagi mesra dengan-Nya, sehingga, mengutip Ebiet G. Ade, mungkin Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita …

Kedua, sebagai tanda kekuasaan Allah, bencana memiliki arti khusus bagi kaum beriman; terutama bagi yang bisa “membacanya”. Di antara bacaan lain tentang bencana itu adalah sebagai pengingat atas peristiwa besar bernama kiamat.

Masih lekat dari ingatan kita akan gempa dan gelombang Tsunami di Aceh dan kini disusul gempa Yogjakarta dan Jawa Tengah. Bencana-bencana besar di atas mengingatkan kita pada hari kiamat besar. Meskipun, tentu saja belum ada apa-apanya dibanding dengan kiamat yang sesungguhnya.

Marilah kita simak, bagaimana Al Qur’an menggambarkan datangnya kiamat itu dalam salah satu suratnya:

Apabila langit terbelah
dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan
dan apabila lautan dijadikan meluap
dan apabila kuburan-kuburan dibongkar

Selain mengingatkan akan nyatanya kedatangan kiamat besar, bencana di atas juga menyadarkan kepada kita bahwa kedatangan kiamat kecil (maut) memang tidak ada yang bisa menduga. Apakah saat bayi; remaja; dewasa; atau saat tua! Juga tidak dapat disangka datang di tempat mana? Di pegunungan! Di pantai! Di jalan raya! Di kota besar! Di pelosok pedalaman! Atau bahkan di pembaringan! Kematian datang kapan dan di mana pun ketika saatnya telah tiba.

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidal dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Al A’raf /7: 34)

Ketiga, Allah hendak menguji bagaimana reaksi dan respon kita terhadap apapun yang diberikan oleh Allah; apakah tetap bersyukur ketika mendapat kesenangan ataukah masih sabar saat mendapat musibah; atau sebaliknya apakah bergembira sampai lupa daratan ketika mendapat kesenangan atau sedih murung berselimut durja saat mendapat musibah.

Keempat, bencana itu adalah ladang pembuktiaan sejauh mana rasa solidaritas kemanusiaan kita. Masihkah kita bisa meneteskan air mata duka ketika Yogjakarta dan Jawa Tengah berlumuran darah? Masihkah terketuk hati kita untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi upaya meringankan duka mereka yang kelaparan, kedinginan, dan kesakitan?

Jika kita mampu membaca, bencana akan menjadi ladang amal kebajikan. Sebaliknya jika tidak, maka gempa di Yogjakarta dan Jawa Tengah tak punya makna apa-apa bagi pembangunan kemanusiaan kita.

Menganti, 1 Juni 2006
Mohammad Nurfatoni

(Dimuat juga di kolom “Hikmah” pada http://www.cakrawala-print.com)