Siapa Masyarakat Jahiliyah?

Masyarakat Arab, sebelum kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, dikenal dengan sebutan jahiliyah. Jika merujuk pada arti kata jahiliyah (yang berasal dari bahasa Arab dari kata jahala yang berarti bodoh), maka secara harfiyah bisa disimpulkan bahwa masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang bodoh.

Sebutan jahiliyah ini perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, sebab dari situlah akan terbangun pola kontruksi terhadap masyarakat Arab masa itu, yang di dalamnya adalah juga nenek moyang Nabi Muhammad SAW dan sekaligus cikal bakal masyarakat Islam. Jika masyarakat jahiliyah kita artikan sebagai masyarakat bodoh dalam pengertian primitif yang tak mengenal pengetahuan atau budaya; tentu sulit dipertanggungjawabkan, karena berdasarkan data sejarah, masyarakat Arab waktu itu juga telah memiliki nilai-nilai peradaban—sesederhana pun peradaban itu.

M. Quraish Shihab dalam Mukjizat Al Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaaan Ghaib (Mizan, 1999) menyebut beberapa pengetahuan yang dimiliki masyarakat Arab, diantaranya dalam bidang:

  1. Astronomi, tetapi terbatas pada penggunaan bintang untuk petunjuk jalan, atau mengetahui jenis musim.
  2. Meteorologi mereka gunakan untuk mengetahui cuaca dan turunnya hujan.
  3. Sedikit tentang sejarah umat sekitarnya.
  4. Pengobatan berdasarkan pengalaman.
  5. Perdukunan dan semacamnya.
  6. Bahasa dan Sastra (sering diadakan musabaqah [perlombaan] dalam menyusun syair atau petuah dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di Ka’bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat atau membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya. Dengan syair mereka mengangkat reputasi satu kaum atau seseorang dan juga sebaliknya dapat menjatuhkannya).

Sementara itu Prof. Dr. Hamka (Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional PTE LTD Singapura, 2002) mencirikan masyarakat Arab (Utara) dengan beberapa ciri:

  1. Bahasa. Bahasa banyak bercampur dengan bahasa negeri lain yang bergaul dengan mereka, terutama ketika Quraisy menjadi penjaga Mekkah. Banyak kabilah yang berdatangan berziarah ke Mekkah tiap-tiap tahun. Juga karena keperluan perniagaan, banyak orang-orang Quraisy berniaga ke luar negeri, ke Yaman, Iraq, Habsyi, Hauraan, Parsi, Hindustan. Dalam pergumulan itu terjadi penambahan perbendaharaan bahasa sehingga menjadikan bahasa Arab kaya raya.
  2. Pepatah dan Petitih. Bangsa Arab banyak sekali mempunyai amsal dan perumpamaan. Amsal dan perumpamaan itu lekas tersiar di dalam kalangan orang banyak, karena pendek, jitu, dan mudah menghafalnya.
  3. Syair.Dengan syair itulah mereka akan dapat melepaskan senak yang menggelora dari dalam jiwa raga, terutama dalam perjuangan dan pertempuran. Ahli syair mendapatkan kedudukan tertinggi di dalam kabilahnya.
  4. Ahli Pidato. Ahli pidato ini mulai mendapat perhatian ketika ahli syair sudah mulai mengharap upah dari karyanya. Ahli pidato diperlukan untuk membangkitkan semangat (perang). Berbeda dengan syair yang menggunakan bahasa yang pelik, ahli pidato cukup menggunakan kata-kata biasa, tetapi dapat menumpahkan segenap yang terasa dalam hati.
  5. Ilmu Keturunan. Di antara sekian banyak bangsa-bangsa, maka bangsa Arab itulah suatu bangsa yang sangat mementingkan menghafal pohon keturunan dari mana nenek, dari mana asal, pecahan dari siapa, keturunan siapa dan ke mana pula turun si fulan, sehingga dengan menyebutkan nama kabilah saja, sudah mudah yang lain mengetahui di keturunan ke berapa bertemu sejarah nasab mereka. Mereka perlu benar mengetahui dan memelihara itu, sebaba mereka kerap kali berperang untuk merapatkan perhubungan di antara yang seketuruanan di dalam menghadapi yang lain. Tingkat keturunan itu mereka bagi enam. Sya’ab, Kabilah, Imarah, bathn, fakhidz, dan fusailah.
  6. Cerita Pusaka (Dongeng). Bangsa Arab kuat sekali menghafal cerita pusaka nenek moyang terutama yang berhubungan dengan kisah perjuangan kaum mereka dengan kaum lain, atau kabilah dengan kabilah lain.
  7. Tenung dan Ramal.
  8. Ilmu Bintang. Bangsa Arab mengerti juga tentang keadaan bintang, meskipun sekedar untuk mengetahui musim korma berbuah atau untuk mengetahui bilamana mereka patut berangkat ke Syam atau ke Tha’if.
  9. Berkuda dan Memanah. Bangsa Arab pun terhitung satu bangsa yang tahu tuah dan celaka kuda, pandai pula memperhatikan bentuk badan dan belangnya. Mereka juga terhitung bangsa yang terpandai dalam urusan panah-memanah, karena bukan saja hidup mereka adalah memanah burung dan binatang, tetapi panah itu juga merupakan alat peperangan yang terpenting. Mereka juga pandai mempermainkan tombak dan pedang.

Meskipun memiliki pengetahuan pada beberapa bidang, namun sesungguhnya ciri lain yang melekat pada masyarakat Arab adalah masyarakat ummiyyin (jamak dari ummiy dari kata umm yang berarti ibu; jadi masyarakat ummiy berarti masyarakat yang keadaannya sama dengan keadaaan saat dia dilahirkan oleh ibu—tidak bisa baca tulis).

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Kami umat yang ummiy, kami tidak pandai menulis, tidak juga pandai berhitung. Bulan, begini, begini, dan begini.” (Beliau menggunakan jari-jari kedua tangannya untuk mengisyaratkan angka dua puluh sembilan atau tiga puluh hari). [HR. Muslim dan An Nasa’ai]

Kemampuan baca tulis sangat minim. Jumlah yang bisa baca tulis sangat terbatas. Oleh karena itu mereka mengandalkan hafalan, yang pada gilirannya menjadi tolok ukur kecerdasan dan kemampuan ilmiah seseorang.

Masyarakat Arab waktu itu juga dikenal tidak mahir berhitung. Bahkan bahasa Arab memperkenalkan apa yang dinamai wawu tsamaniyah, yaitu huruf wawu yang digandengkan dengan angka delapan), karena angka yang sempurna bagi mereka adalah tujuh sehingga bila menghitung dari satu sampai tujuh, mereka menyebutnya secara berurut, tetapi ketika sampai ke angka delapan mereka menambahkan wawu. Karena itu angka tujuh bukan saja berarti angka di atas enam dan di bawah delapan, melainkan juga berarti banyak.

Dengan demikian apakah karena minimnya kemampuan baca-tulis-hitung masyarakat Arab yang menyebabkan mereka disebut jahiliyah? Tentu tidak, karena Nabi Muhammad SAW sendiri termasuk yang tidak bisa baca-tulis.

Jahiliyah dan Perlakuan pada Wanita

Lantas, apa yang dimaksud masyarakat jahiliyah? Dalam Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah (Robbani Pres, 1998), Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfuy menjelaskan kondisi sosial masyarakat Arab yang disebut dengan jahiliyyah, diantaranya yang bisa dilihat dari hubungan antara laki-laki dengan wanita di kalangan masyarakat biasa. Dalam hal perkawinan, misalnya, dikenal 4 macam, yaitu:

  1. Seorang lelaki meminang (calon istri) kepada walinya, kemudian memberinya mahar dan menikahinya (pernikahan lazimnya sekarang).
  2. Perkawinan istibdha’ (mencari bibit unggul), yaitu apabila seorang istri sudah bersih dari haidnya, sang suami berkata kepadanya, “Pergilah kepada fulan dan mintalah bersetubuh dengannya.” Maka, sang suami menjauhinya dan tidak menyetubuhinya selama belum nyata kehamilannya dari hasil persetubuhan dengan orang tersebut. Setelah nyata kehamilannya, sang suami baru menggaulinya bila menginginkannya. Hal tersebut dilakukan karena keinginannya memiliki keturunan anak yang pandai dan berani.
  3. Sekelompok orang berjumlah kurang dari sepuluh mendatangi seorang wanita, semuanya menyetubuhinya. Apabila sudah hamil dan melahirkan anaknya, wanita tersebut mendatangi mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menolak sehingga mereka berkumpul di tempat wanita tersebut. Kemudian wanita tersebut berkata kepada mereka, “Kalian sudah mengetahui perbuatan yang telah kalian lakukan. Saya telah melahirkan seorang anak. Anak ini adalah anakmu wahai fulan (sambil menyebutkan nama salah seorang dari mereka yang dicintai).” Kemudian anak tersebut dinisbatkan kepadanya.
  4. Orang banyak berkumpul lalu mendatangi seorang wanita pelacur yang tidak pernah menolak orang yang datang kepadanya. Para pelacur itu meletakkan bendera di depan pintunya sebagai tanda bahwa siapapun yang menginginkannya boleh memasukinya. Setelah pelacur tersebut hamil dan melahirkan, mereka berkumpul di tempatnya dan mereka mengundang Qafah (orang yang bisa nengetahui persamaan anatara anak dan bapak lewat tanda-tanda yang tersembunyi). Kemudia sang Qafah tersebut menisbatkan anak pelacur tersebut kepada orang yang dia lihat (memiliki tanda persamaan dengan anak tersebut), dan orang tersebut menganggapnya sebagai anaknya, tidak boleh menolak.

Selain empat macam perkawinan di atas, ada bentuk-bentuk lain hubungan laki-laki dengan wanita yang termasuk jahiliyah misalnya dalam peperangan antarkabilah, yang menang menawan para istri dari kabilah yang kalah, dan menghalalkan kehormatannya. Sedangkan anak-anak para wanita tersebut akan menanggung aib selama hidupnya.

Dalam hal poligami, mereka melakukan tanpa batas; misalnya menawini dua wanita yang bersaudara; mengawini istri bapak mereka setelah ditalak atau ditinggal mati. Ada di antara suku Arab yang suka membunuh anak perempuannya sendiri karena malu, atau karena anak itu tidak menarik hatinya. Ada pula yang membunuh karena takut miskin.

Namun begitu, di kalangan bangsawan Arab, hubungan laki-laki dengan wanita (istri) sudah berada pada tingkat kemajuan. Seorang istri memiliki kebebasan berpikir dan berbicara dalam porsi yang cukup besar. Seorang istri dihormati dan dilindungi, dan apabila kehormatan diganggu, pedanglah yang berbicara dan darah pun tumpah.

Perlakuan buruk terhadap wanita; ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Arab melainkan juga justru sudah menjadi tradisi bangsa-bangsa yang memiliki “peradaban” besar. Di kalangan masyarakat Yunani, yang dikenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, wanita di kalangan elit ditempatkan (disekap) dalam istana-istana.

Sementara di kalangan bawah lebih menyedihkan lagi. Mereka diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga sepenuhnya berada di bawah kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Pada puncak peradaban Yunani, wanita diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual yang bebas tidak dianggap melanggar kesopanan; tempat-tempat pelacuran menjadi pusat-pusat kegiatan politik dan sastra/seni. Patung-patung wanita telanjang di negara-negara Barat adalah bukti atau sisa pandangan ini.

Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang ayah. Kekuasaan itu mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh. Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Pada zaman kaisar Constantine terjadi perubahan yaitu dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi wanita, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui oleh keluarga (suami dan istri).

Peradaban Hindu dan Cina tidak lebih baik dari peradaban-peradaban Yunani dan Romawi. Hak hidup seorang wanita yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya; istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Ini baru berakhir pada abad ke-17 M. Wanita pada masyarakat Hindu ketika itu sering dijadikan sesajen bagi apa yang mereka namakan dewa-dewa. Petuah sejarah kuno mereka mengatakan bahwa “Racun, ular, dan api tidak lebih jahat daripada wanita”. Sementara dalam petuah Cina kuno diajarkan “Anda boleh mendengar pembicaraan wanita tetapi sama sekali jangan mempercayai kebenarannya”.

Dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu. Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menanggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah yang menyebabkan adam terusir dari surga.

Dalam pandangan sementara pemuka/pengamat Nasrani ditemukan bahwa wanita adalah senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 M diselenggarakan konsili yang memperbincangkan apakah wanita mempunyai ruh atau tidak, yang akhirnya dirumuskan kesimpulan bahwa wanita tidak mempunyai ruh suci. Bahkan pada pada abad ke-6 M diselenggarakan suatu pertemuan untuk membahas apakah wanita itu manusia atau bukan manusia. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan semata-mata untuk melayani laki-laki. (M. Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an – Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, 2001)

Menjadi sangat menarik untuk ditelah adalah, jika karena tata pergaulan laki-laki dan wanita yang bebas pada masyarakat Arab yang dijadikan alas an untuk memberi cap mereka masyarakat jahiliyah, maka cap apakah yang pantas diberikan pada masyarakat non Arab yang bahkan dalam beberapa hal lebih buruk perilakunya?

Masyarakat Pengembara

Salah satu ciri masyarakat Arab adalah masyarakat pengembara. Hidupnya tidak pernah menetap (nomaden), berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cara hidup yang demikian ini meniscayakan mereka untuk hidup berkelompok (kabilah) berdasarkan pertalian darah atau keluarga. Pada kabilah itu kita akan menemukan prinsip-prinsip penting, diantaranya.

  1. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Keharusan survival, baik dari ancaman alam maupun lawan.

  2. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Tidak ada aturan yang mengingat mereka, kecuali asas kebebasan dan persamaan antara anggota-anggota kabilah atau kabilah-kabilah lain.

  3. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Menjaga kehormatan dan harga diri (muru’ah), tolong menolong, dan melindungi atas anggota kabilah dari ketidakadilan atau perlakuan buruk lainnya, sehingga mendorong munculnya prinsip lainnya, yaitu:

  4. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Perang, yang di dalamnya juga terkandung sikap sensitive dan pemberani.

(baca Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Litera AntarNusa, 2002; juga Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi – Sebuah Biografi Kritis, Risalah Gusti, 2004).

Dalam perspektif seperti di atas, maka (suka) perang tidak bisa begitu saja diartikan sebagai sikap kaum barbar, yang suka menyerang dengan logika hukum rimba, “Siapa yang kuat dialah yang menang”. Justru dari situ nampak bahwa perang adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan hidup dan menjaga harga diri. Maka, jahiliyah tidak berarti prinsip suka perang.

Sifat-sifat lain yang melekat pada masyarakat Jazirah Arab, adalah:

  1. Dermawan. Contoh-contoh dari sifat kedermawanan ini adalah sanggup menanggung denda yang cukup besar untuk mencegah tumpahnya darah dan hilangnya nyawa manusia.
  2. Menghormati Tamu. Apabila seseorang kedatangan tamu dalam situasi dingin yang mencekam dan lapar, sementara dia tidak memiliki harta selain onta yang menjadi bekal hidupnya dan keluarganya, maka onta tersebut akan disembelih untuk tamunya tersebut.
  3. Tepat janji, karena janji adalah hutang yang harus dipegang.
  4. Kuat tekat. Apabila bertekad melakukan sesuatu yang dipandang mengandung kemuliaan dan kebanggaan, mereka tidak dapat dipalingkan oleh suatu apapun.
  5. Santun, tekun, dan hatihati. Meskipun sifat ini terdominasi oleh sifat pemberani.
  6. Bersahaja ala kehidupan Badui dan tidak ternodai oleh noda-noda dan tipu daya peradaban (kemewahan, hidup stabil). Dampak dari sifat ini adalah jujur, amanah, jauh dari penipuan dan kecurangan.

(baca Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfuy, Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah, Robbani Pres, 1998)

“Agama” Masyarakat Arab

Menurut Prof Dr. Hamka, masyarakat Arab (Utara) memeluk macam-macam agama dan kepercayaan:

  1. <!–[if !supportLists]–>Ada yang berpegang pada agama Nabi Ibrahim. Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua, yang tetap memegang apa yang diterimanya dari Nabi Ibrahim itu dan tidak diubah-ubahnya dan yang memberi beberapa tambahan.
  2. <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Penyembah berhala. Penyembah berhala ini juga terbagi menjadi tiga, yaitu
    • <!–[if !supportLists]–>Yang mengakui adanya Tuhan Yang Mahas Esa, tetapi dalam penyembahan mereka menggunakan berhala sebagai perantara.
    • <!–[if !supportLists]–>Menyembah berhala karena punya pendirian bahwa berhala itu tidak berubah dengan ka’bah, sama-sama dijadikan sebagai kiblat di dalam menyembah Allah Ta’ala.
    • <!–[if !supportLists]–><!–[endif]–> Mereka yang berkata bahwa dalam tiap-tiap berhala itu ada syaitan, yang mengatur baik buruk nasib manusia. Jadi yang disembah itu syaitan, bukan berhalanya.

  3. Peyembah matahari. Mereka berkeyakinan bahwa matahari itu sebangsa malaikat. Adapun bulan dan bintang-bintang semuanya meminta cahaya darinya. Buruk dan baik nasib alam ini tergantung kepada belas kasihan matahari. Karena itulah matahari perlu disembah, dibesarkan, dan dimuliakan.
  4. Penyembah bulan. Dia disembah karena mengatur alam sebelah bawah.
  5. Dahriyin. Mereka yang tidak mengakui ada yang menjadikan alam dan tidak mengakui akan datangnya hari kiamat.
  6. Sabiah. Mereka yang menggantungkan kepercayaannya kepada perjalanan bintang dan falak, berkeyakinan bahwasanya segala sesuatu itu, geraknya dan diamnya, berjalan dan berhentinya, semua itu bertali dan berkait dengan bintang-bintang.
  7. Penyembah malaikat, karena dianggap anaka perempuan Tuhan.
  8. Zindiq.
  9. Penyembah api.
  10. Pemeluk Yahudi. Berkembang di Hejaz, terutama di Khaibar dan di antara bani Quraizah, bani Nadhir, dan bani Qainuqa’ di Medinah.
  11. Pemeluk Nasrani. Masuk dari negeri Rumawi dibawa oleh anggota pemerintahan kerajaan Ghassaan yang melawat ke sana karena berniaga. Agama ini berkembang lewat dua firkah, yaitu Nasturiah di Hirah dan Ya’qubiyah di Syam.

Jadi, apa kesimpulan tentang masyarakat jahiliyyah?

Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada masyarakat bodoh dalam pengertian tiadanya pengetahuan dan peradaban, melainkan pada nilai-nilai yang jauh dari kebenaran (fitrah, Islam). [baca Al Maidah/5:50; Al Fath/48:26]

  • Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada kurun waktu tertentu, melainkan suatu kondisi masyarakat (bandingkan perilaku sosial masyarakat Arab pra Islam dengan masyarakat modern, kini) [baca Al Ahzab/33:33]
  • Masyarakat jahiliyah tidak merujuk pada masyarakat tertentu (Arab, misalnya) tetapi juga bisa pada masyarakat lain (bandingkan, misalnya, perilaku sosial dalam hubungan laki-laki dan wanita antara masyarakat Arab, Romawi, Yunanai, India, atau Cina!)
  • Dalam pengetahuan dan peradaban, masyarakat Arab tidak bisa disebut jahiliyyah (bodoh) dalam pengertian barbar dan primitif. Justru banyak perilaku dan pengetahuan positif yang dihasilkan mereka, yang kemudian dipelihara oleh Islam, misalnya dalam penghormatan tamu, kedermawanan, tepat janji, bersahaja.
  • Yang dimaksud masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam adalah keseluruhan masyarakat (tidak hanya Arab), yang menjauhi nilai-nilai fitrah, yang sudah dibawa oleh para Rasul pembawa risalah tauhid.
  • Penyempitan makna jahiliyah hanya pada masyarakat Arab pra Islam akan menimbulkan bias bahwa agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu lahir dari nenek moyang bodoh, yang jauh dari nilai-nilai.

Sidojangkung, 4 April 2005

Disampaikan pada Kuliah Sirah Nabawi, BEST – FOSI Surabaya

Pilihan Hidup

Sebuah tulisan—lebih tepatnya peringatan—tertempel cukup mencolok di pintu masuk tempat praktek seorang dokter, di tepi jalan raya desa Boteng, Menganti, Gresik. Saya lihat peringatan itu tertempel juga di kamar periksa.

Isi peringatan itu cukup sederhana, hanya terdiri dari dua kalimat yang tersusun dalam dua baris. Baris pertama berbunyi, “Tidak menerima permintaan surat ijin sakit dalam kondisi sehat” dan baris kedua tertulis, “Tidak menerima permintaan kuitansi yang tidak sesuai dengan biaya periksa”

Surprise saya dibuatnya. Padahal sebenarnya kalimat itu biasa-biasa saja. Sesuatu yang wajar, lumrah kata orang Jawa. Lantas apa yang membuat saya surprise? Tentu bukan kalimat itu sendiri, melainkan apa di balik kalimat itu!

Ada sesuatu yang menghentak di balik kalimat itu. Sebab kalimat itu sama dengan menyodorkan sejumlah kenyataan, pertama, selama ini banyak orang yang tidak sakit tapi mendapat status “sakit” karena meminta status “sakit” pada dokter. Kedua, selama ini banyak kuitansi yang nilainya tidak sama (baca lebih tinggi) dari nilai aslinya. Ketiga, berarti ada juga dokter yang mau memberi status “sakit” dan menggelembungkan nilai kuitansi(?).

Maka, surprise bagi saya bisa berarti juga bahwa masih ada dokter yang menjaga kejujuran dan integritasnya, meski terkesan terlalu disiplin (baca kaku), padahal hanya berkaitan dengan masalah-masalah “kecil” dan orang-orang kecil!

Tapi bagi saya, dokter tersebut telah ikut membangun sebuah peradaban, karena dia mempraktekkan prinsip jujur dalam kehidupan. Kalau tidak sakit, mengapa harus berpura-pura sakit! Kalau biaya cuma Rp. 20.000 untuk apa ditulis Rp. 35.000!

Mungkin tidak banyak orang yang bisa setegas dokter itu, karena perilaku seperti itu bisa membawa risiko, setidaknya kehilangan peluang mendapat pasien lebih banyak; yang berarti juga mengurangi pendapatannya.

Pilih Mana?

Tapi itulah pilihan hidup. Sukses atau kaya dengan mengorbankan nilai? Atau hidup sederhana dengan memegang prinsip? Atau sebenarnya ada pilihan ketiga, sukses tapi tetap dalam prinsip hidup?

Terlalu banyak contoh bagaimana etika dan prinsip hidup telah kita korbankan, demi kelayakan financial. Seorang teknisi AC sebuah perusahaan dikirim untuk merawat rutin AC sebuah kantor. Dibersihkannya AC itu dari debu. Tapi giliran mengisi freon, sang teknisi AC menghadap dan berucap, “Pak, isi freonnya pakai perusahaan atau punya saya pribadi. Kalau pribadi bisa lebih murah.”

Seorang salesman (penjual, kadang salah kaprah disebut marketing) sebuah perusahaan percetakan tidak memasukkan semua pesanan cetak ke perusahaan tempat dia bernaung, sebagiannya dikerjakan sendiri.

Seorang pegawai yang bertugas melakukan pemesanan barang “menitipkan” tambahan sejumlah nilai rupiah pada harga barang yang awalnya telah disepakati sebelumnya.

Seorang pengawas memberi tahu jawaban atas soal ujian pada seorang siswa. Atau seorang siswa mencontek jawaban ketika sedang ujian.

Ah, terlalu banyak contoh yang seperti itu. Semoga masih banyak teknisi AC yang jujur dan punya integritas untuk membesarkan perusahaan tempat ia bernaung, tanpa harus mengotori dengan potong kompas untuk memperkaya diri.

Semoga masih banyak salesman yang juga tidak memotong kompas pesanan ke kantong sendiri. Semoga juga masih masih banyak bagian pemesanan yang tetap bertahan pada harga barang yang efisien tanpa harus mengambil keuntungan dari itu. Semoga masih banyak guru dan pelajar yang jujur. Dan saterusnya … dan seterusnya.

Sebab Islam mengajarkan sesuatu itu agar bernilai barakah. Apa artinya jika kita punya banyak duit namun tidak barakah karena duit itu kita peroleh dengan melanggar etika kerja? Apa artinya nilai ujian bagus jika itu hasil kebohongan? Cepat atau lambat efek dari ketidakbarakahan duit atau nilai itu akan menghantam kita.

Sementara yang barakah akan bernilai langgeng dan menentramkan. Maka pilihan hidup mestinya harus kita arahkan ke sana, meskipun ada yang harus dikorbankan. Tapi apalah arti mengorbankan materi jika pilihannya adalah yang bersifat spiritual! Semoga.

Sidojangkung, 28 Juni 2007

Dimuat di HANIF, 29 Juni 2007

Kecil tapi Raksasa, Hikmah dari Semut

Pagi itu, menjelang berangkat kerja, saya dikejutkan oleh sebuah peristiwa. Sebenarnya peristiwa itu biasa saja, apalagi sudah sering saya temukan. Tapi saat itu ada sesuatu yang lain, yang membuat saya tertegun sejenak. Saya pandangi titik di mana peristiwa itu terjadi, tepatnya di pojok pintu depan rumah saya.

Rupanya bangkai seekor belalang sedang digotong ramai-ramai oleh puluhan, mungkin ratusan, semut. Seketika pikiran saya tercenung, “Oh hebat sekali semut-semut itu!” Bagaimana tidak? Semut sekecil itu sanggup mengangat dan memindahkan bangkai belalang yang memiliki ukuran ratusan kali dari ukuran tubuhnya.

Uniknya, sekejap berkelebat pikiran berbeda; bukan lagi ketakjuban, “Ya pasti saja, wong yang menggotong bangkai itu ratusan semut.” Tapi, justru dari situ muncul ketakjuban lain, ternyata kebersamaan semut itu luar biasa! Mereka yang kecil, ringkih, dan lemah itu berubah menjadi kekuatan raksasa jika saling bekerja sama.


Kisah semut di atas menarik untuk ditelisik. Kearifan dan hikmah macam apa yang bisa kita petik dari semut, sampai-sampai Allah SWT berkenan mengabadikan semut (an-Naml) sebagai salah satu surat dalam al-Qur’an? [dalam surat itu sendiri, Allah SWT memberi informasi bagaimana reaksi semut tatkala Nabi Sulaiman as beserta para tentaranya akan menelusuri jalan di mana terdapat sekelompok semut. “Hingga apabila mereka (Sulaiman as bersama bala tentaranya) sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kamu, agar kamu tidak dibinasakan oleh Sulaiman dan tentara-tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (an-Naml/27:18)].

Pertama, betapa sesuatu yang kelihatan musykil, sulit, atau tak mungkin ternyata bisa dilakukan, menjadi sesuatu yang nyata, dan benar-benar terjadi. Bukankah fakta bahwa semut yang kecil mampu mengangkat bangkai belalang yang besar, tidak lagi sebuah hal yang ganjil?

Maka, sesuatu, sesulit apapun, bisa di-”taklukkan” jika kita mampu menemukan cara, metode, atau taktiknya, serta dibarengi dengan kemauan (bekerja) keras. Syaratnya, jika kita tidak pernah mengenal segala dalih yang menunjukkan kekerdilan diri dan pemojokkan pihak ketiga yang bernama “kambing hitam”.

Kedua, semut mengajarkan bahwa kebersamaan merupakan senjata ampuh; yang dalam banyak hal akan mampu mengurai problem-problem. Bukankah seekor semut tidak akan mampu memindahkan bangkai belalang sendirian? Sementara dengan membentuk team work, akan terbangun sinergi besar sehingga terangkatlah bangkai belalang itu!

Maka, jangan pandang dunia ini hanya berisi kita seorang! Jalinlah komunikasi, sambunglah silaturrahim, dan lakukan koordinasi. Sebab kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah sendirian; sementara problem hidup tak akan pernah sepi bagi mereka yang masih menggenggam kehidupan!

Jangan pula kita merasa bisa hidup sendirian? Bukankah untuk sekedar sesuap nasi, kita perlu melakukan kerjasama yang melibatkan banyak pihak; mulai petani, pandai besi pembuat cangkul, produsen pupuk, pabrik penggilingan padi, jasa transportasi, pabrik plastik atau karung, pabrik kompor minyak atau kompor gas, kilang pengeboran minyak atau gas, pabrik panci, dan lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu!

Sekali-kali bayangkan, bagaimana jika serangkaian kerja panjang itu kita lakukan sendirian; hanya untuk sesuap nasi. Sementara kita harus pula menyiapkan sehelai kain untuk pakaian; mendirikan rumah, dan seterusnya, yang semuanya dikerjakan sendirian!

Ketiga, kebersamaan itu meniscayakan kesiapan untuk saling berbagi. Tentu bukan hanya duka yang bi(a)sa kita bagi; suka pun harus disebarkan untuk kemaslahatan bersama. Ternyata, di samping memberi beberapa kearifan, sesungguhnya semut juga menyimpan sifat buruk. Sikap tercela semut yang tidak sepatutnya kita tiru adalah kebiasaan menimbun hasil jerih payahnya.

Sikap menumpuk kekayaan untuk sebesar-besarnya kemakmuran pribadi bukanlah sikap yang kesatria jika kita menyadari betapa sesungguhnya kita tidak pernah akan bisa kaya dan menumpuk kekayaan jika kita hidup sendirian. Di dalam kekayaan itu terpendam jasa-jasa orang miskin. Para buruh pabrik, kulih angkut, petugas kebersihan, atau pembantu rumah tangga, adalah sebagian mereka yang berjasa atas kekeyaan kita itu.

Keempat, kita tidak boleh berhenti mengagumi semut yang memberi contoh kearifan itu sebatas pandangan kaum materialisme. Bahwa di balik semut itu ada Allah SWT. Dia-lah sesungguhnya yang mengajarkan kearifan dan hikmah itu lewat simbol atau tanda berupa makhluk kecil bernama semut, cipataan-Nya itu. “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa kutu atau yang melebihinya yakni lebih rendah atau lebih besar daripada itu, yang boleh jadi diremehkan atau dianggap tidak wajar dan tepat oleh orang-orang kafir.” (Al Baqarah/2:26)

Maka, semua fenomena atau peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar tidak semestinya diremehkan atau diabaikan. Sebab, pasti ada makna-makna di baliknya. Dalam bahasa al-Qur’an disebutkan, “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta perbedaan malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berakal (ulil albab).” (Ali Imran/3:190)

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang hendak yakin, dan demikian pula dalam diri kamu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (adz-Dzariyat/51: 20-21)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, perbedaan malam dan siang, bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan (suburkan) bumi sesudah mati(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi ini segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; (Pada semua itu) sungguh terdapat tanda-tanda kaum yang berakal.” (al-Baqarah/2:164)

Wahyu di atas menjadi pedoman baku, bahwa semua yang ada di lingkungan kita (alam semesta dengan segala komponennya) adalah tanda-tanda. Maka, jangankan semut atau belalang, batu dan tetesan air pun memberikan tanda-tanda. Seperti kisah seorang sahabat bernama Ibnu Hajar (Indonesia = Putra Batu), yang terinspirasi dan termotivasi kembali untuk belajar ketika ia mampu menangkap tanda berupa air yang lembut ternyata bisa mengalahkan cadasnya batu dengan tetesannya yang berulang-ulang.

Dengan memahami bahwa semua benda, makhluk, dan peristiwa mengandung tanda-tanda, maka bukan saja kita akan menemukan kearifan ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar, lebih jauh dari itu tanda-tanda itu akan menjadi petilasan kita menuju Tuhan. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia adalah haq/benar.” (Fushshilat/41: 53)

Maka, kesadaran kita harus terbangun bahwa benda, makhluk, atau peristiwa itu tidak pernah bisa dilepaskan dari pencipta dan penggeraknya, yaitu Allah SWT (pada kajian yang lebih dalam, misalnya dalam dunia tasawuf, bahkan dikatakan bahwa di balik tanda-tanda ada [wajah] Allah). “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah Yang Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah/2: 115) Semoga! (*)

Menganti, 27 Maret 2006

(Dimuat kali pertama di kolom “Hikmah” pada http://www.cakrawala-print.com)