Aqil, Pernah Hilang di Tunjungan Plaza

Tiba-tiba kami tidak mendapatinya. Guru, teman, dan para wali murid tidak ada yang tahu di mana keberadaannya.

Saat itu, sedang berlangsung acara perpisahan TK Nurul Iman, Menganti, Gresik. Acara dilangsungkan di wahana permainan anak “Time Zone” Tunjungan Plaza, Surabaya. 

Aneka kegiatan seremonial berlangsung satu per satu. Dan tibalah kini giliran anak-anak untuk menikmati aneka permainan di Time Zone itu, tak terkecuali anak saya, Aqil Rasuanfikr Mohammad, yang saat itu adalah siswa kelas B. 

Sambil menunggu selesainya para siswa menikmati dunia permainan, saya pun mencari mushala untuk shalat Dhuhur. Waktu itu memang sudah lewat adzan dhuhur. Beberapa orang tua juga sudah ada yang meninggalkan tempat acara bersama anaknya. 

Saat saya tinggal shalat, istri masih menemani Aqil. Jadi saya merasa aman meninggalkannya. Namun rupanya istri menyusul ikut shalat dhuhur. Dia tinggalkan Aqil karena masih asyik bermain dengan teman-temannya.

Selesai shalat, kami sangat terkejut. Di aneka wahana permainan, tidak kami dapati Aqil. Para guru tidak ada yang tahu di mana dia. Teman-temannya juga tidak tahu. Beberapa orang tua yang masih di lokasi juga tidak tahu.

Saya mulai membayangkan anak saya hilang. Istri menangis. Kami semua sedih. Berkali-kali kami mencarinya di aneka wahana permainan. Nihil, tak ada Aqil. Toko-toko di sekitar Time Zone juga kami sisir. Nihil. 

Tiba-tiba kami punya harapan, jangan-jangan Aqil diajak oleh orang-tua temannya pulang lebih dulu. Kami pun menelpon rumah. Besar harapan kami jika Aqil sudah di rumah. Pembantu yang menerima telepon memberi kabar bahwa Aqil belum pulang. 

Kami semakin sedih. Dan rasa kehilangan anak sudah semakin memuncak. Bayangkan, anak kami hilang disebabkan oleh keteledoran orang tua. Tapi di tengah rasa bersalah itu kami kembali punya harapan. Kami menduga Aqil masih dalam perjalanan bersama orang tua temannya. Jadi wajar jika belum sampai rumah.

Maka, kami berusaha mengontak para wali murid yang sudah pulang. Satu per satu. Ternyata tidak ada yang mengajak Aqil. Kami lemas. Istri terus menangis. Tak boleh putus asa, kami kembali menyisir toko-toko yang satu lantai dengan Time Zone. Namun tetap gagal. Tak kutemukan anakku. Kami sedih dan bingung. 

Hampir saja kami menghubungi polisi. Namun tiba-tiba petugas keamanan (satpam) Tunjungan Plaza menghampiri kami. Dia menggandeng seorang anak TK. Ternyata dia adalah Aqil, anakku yang hilang. Luar biasanya bahagianya kami. 

Ceritanya , saat ditinggal shalat ternyata, Aqil mencari-cari ayah dan ibunya. Dia memang tidak tahu karena tidak kami pamiti ketika kami hendak shalat. Dia berpikir kami sudah pulang. Maka turunlah dia lewat tangga berjalan sampai di lantai bawah. Dia menangis dan mencari orang tuanya. Maka, oleh Satpam ditanya dan akhirnya Aqil di antar ke Time Zone, tempat kami berada.

Sungguh, kami tidak membayangkan Aqil sampai turun ke lantai bawah. Makanya kami tidak mencarinya di sana. Mungkin karena kami panik. Atau karena kami bepikir anak sekecil itu tak mungkin sejauh itu pergi mencari orang tuanya. Tunjungan Plaza terlalu luas dan ramai bagi anak kecil. 

Semula kami pun sempat kuatir jika anak kami hilang dibawa orang. Tapi alhamdulillah, Allah masih melindungi Aqil. Dia hanya mencari cara bagaimana menemukan orang tuanya dan bisa kembali ditemukan. Maka, tak terkira bahagianya kami berdua, guru-guru, teman-teman dan beberapa wali murid yang masih bersama kami.

Aqil Rausanfikr Mohammad (Foto Maret 2022)

Usia Emas, Semoga Prestasi Emas

Tulisan ini dibuat saat Aqil tepat berusia 17 tahun. Usia yang dianggap matang bagi seorang remaja. Maka di usia itulah, remaja dibolehkan mempunyai KTP dan mengurus SIM. Bahkan dahulu, umur 17 tahun adalah batas minimum seorang remaja boleh menonton acara khusus. Artinya inilah usia emas bagi seorang remaja, untuk mengembangkan diri.

Relevan dengan usia emas itu, hari ini pula, Aqil berangkat ke Bandung dalam rangka persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi. Bersama teman-teman lainnya yang lolos OSN tingkat kabupaten dari SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 Jombang, Aqil akan dibina selama seminggu oleh sebuah lembaga pelatih OSN “Centrion Institute”. 

Selamat menikmati prestasi dan fasilitas yang tidak semua anak seusiamu bisa mendapatkannya. Semoga menjadi bekal sukses menembus final nasional dan meraih juara. 

Selamat ulang tahun ke-17. Selamat meraih prestasi emas!

Hanya tulisan ini yang bisa ayah hadiahkan di ulang tahunmu.

Sidojangkung, 3 Maret 2013

Ayah Mohammad Nurfatoni

12 Kisah Lucu Seputar Jumatan

Jumatan adalah ibadah yang serius. Para jamaah dilarang berbicara. Mereka dituntut untuk khusyuk mendengarkan khotbah. Tapi namanya juga manusia; sesekali terjadi peristiwa lucu dalam keseriusan Jumatan. Khatib juga manusia, jamaahnya juga manusia.

Berikut beberapa kejadian lucu atau tidak lazim, yang terjadi seputar Jumatan. Cerita ini sebut saja “Anehdong Jumat”. Beberapa kisah ini penulis ikuti kejadiannya atau penulis alami sendiri. Beberapa lainnya dituturkan oleh teman (khatib).

Lanjutkan membaca “12 Kisah Lucu Seputar Jumatan”

Efek Kelahiran Aqil Rausanfikr

Dari depan: Aqil Rausanfikr Mohammad, Rosyad Hisbussalam Mohammad, dan Azka Izzuddin Mohammad. Berfoto di Desa Mangi, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban.

Untuk kali kedua, RSI Wonokromo menjadi pilihan kelahiran anak ketiga kami. Di samping dekat rumah, melahirkan di RSI terasa lebih sreg. Mengapa? Karena di rumah sakit itu kalau ada kejadian darurat penangannya lebih cepat, dan embel-embel Islam lebih menjamin nilai-nilai keyakinan kami.

Tidak ada masalah yang berarti saat istri melahirkan putranya kali ini, 3 Maret 1998. Lancar-lancar saja termasuk kepulangan pascamelahirkan. Pulang naik taksi dan diantar oleh dua sahabat istri: Heppy Prasetyo Ayu dan Sofie Giantari. Hanya malam-malam di rumah, bayi kami ini lebih rewel, sering nangis. Dan yang bisa menenangkannya ternyata gendongan. Maka seringkali tantenya, Nihayatun ikut membantu menggendongnya.

Anak ketiga kami ini juga menandai rumah (kontrakan) kami yang ketiga. Ternyata, kelahiran anak-anak selalu ditandai dengan suasana rumah baru. Tiga kali kehadiran bayi, tiga kali pula kami menempati rumah yang berbeda. Untuk kali ini, rumah kontrakan kami berdampingan dengan rumah induk dan jalannya buntu. Karena itu secara psikologis kami lebih nyaman; serasa tinggal bersama orang tua dan tanpa gangguan lalu lalang kendaraan, apalagi gangguan kriminal seperti masa bayi kedua.

Aqil Rausanfikr Mohammad

Begitu bayi kami beri nama. Pemberian nama kali ini tanpa dibarengi tradisi akikah. Karena kondisi ekonomi, dan entah kenapa tidak juga dapat kiriman dua kambing dari desa seperti dua putra kami sebelumnya.

Nama ini kami pilih sebagai sekuel nama-nama sebelumnya. Anak pertama kami beri nama ideolog (Izzuddin) , anak kedua pejuang (Hizbussalam), dan anak ketiga ini sebagai ilmuwan dan atau cendekiawan (Rausanfikr). Nanti akan kami tulis juga bahwa nama anak keempat dan kelima adalah lanjutan sekuel ini.

Aqil, berasal dari bahasa Arab yang berarti berakal. Rausanfikr saya ambil dari istilah yang dipopulerkan oleh Ali Syariati, ideolog dari Iran. Rausanfikr bermakna cendekiawan, yaitu ilmuan yang sadar akan kondisi lingkungan dan tergerak untuk membawanya dalam kebaikan.

Rausanfikr bukan ilmuan di atas menara gading yang hanya bisa merumuskan teori-teori, melainkan dia adalah juga agen perubahan. Dan Mohammad adalah nama ayahnya, nama yang selalu melekat pada nama anak-anak termasuk anak putri. Nama Mohammad kalau diruntut jauh ke belakang adalah nama nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Seorang nabi besar yang terpuji dan membawa perubahan besar dunia.

Kami berharap dengan nama-nama itu, ketiga putra kami menjadi trisula dalam membangun dan memperjuangkan peradaban Islam. 

Efek Aqil

Kelahiran anak ketiga ini, membuat mertua berusaha membantu ikut merawat anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Maka dibawalah Rosyad kecil, putra kedua kami, ke desa. Berat rasanya kami harus melepas anak, meskipun ke orang tua sendiri. Sebab prinsip kami, anak-anak adalah amanah Allah yang harus kami besarkan dalam kondisi bersama orang tuanya langsung.

Tapi keadaan dan kemauan orang tua membuat kami luluh. Maka tangisan kami pecah saat Rosyad kecil harus berpisah dengan kami. Kami tak tega melepas Rosyad kecil berpisah dengan kami, meskipun bersifat sementara, karena ternyata saat Rosyad hendak memasuki usia TK, kami “memintanya” kembali. Dan kali ini bapak mertua yang keberatan, sebeb terbaca bahwa beliau ingin mengasuhnya sampai besar dan dididik untuk menjadi penerus perjuangan beliau sebagai pemuka agama di desa.

Rosyad sendiri akhirnya kembali bersama kami. Dan niat bapak mertua menjadikannya “kiai” mungkin malah tergantikan oleh Aqil, karena secara tidak sadar; Aqil sepeningglnya abahnya KH Abdul Mukti, justru sekolah dan mesantren di SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT CIS ID 113 – Ponpes Darul Ulum Jombang, yang tentu saja lebih mendekati keinginan harapan abahnya, punya penerus kekiaiannya.

Sementara Rosyad justru (akan) menekuni ilmu terapan di Kyoto University, Jepang. Tapi Aqil sendiri menyatakan tidak berniat menjadi kiai di desa abahnya. Dia bercita-cita menjadi ekonom lulusan UI yang akan berkiprah untuk kebaikan umat dan bangsa (akhirnya kuliah di Teknik Sipil ITS Surabaya dan saat tulisan ini diunggah, dia sedang persiapan tes masuk S2 di UI).

Selamat ulang tahun ke-16, semoga cita-cita muliamu terkabul. Amien. 

Sidojangkung, 3 Maret 2014

Ayah, Mohammad Nurfatoni 

Foto keluarga tahun 2021 di Kawah Ijen, Banyuwangi. Dari kiri: penulis, Faza Fajrulfatkhi Mohammad (anak keempat), dan Aqil Rausanfikr Mohammad (anak ketiga), Zada Kanza Makhfiyah Mohammad (anak kelima, Siti Rondiyah (istri),, Rosyad Hisbussalam Mohammad (anak kedua). Anak pertama Azka Izzuddin Mohammad tidak ikut karena sudah menikah dengan Ratih Retnowati dan tinggal di Jakarta.