Sebuah Refleksi Isra Mikraj 1429 H

Peringatan Isra Mikraj kali ini sangat relevan bagi kita di tengah runtuhnya keteladan para pemimpin politik oleh berbagai skandal korupsi dan seks. Episode sejarah Isra Mikraj memberikan inspirasi keteladanan bagi pemimpin di tengah tekanan konflik dan pencapaian spiritualisme.

Dalam berbagai ulasan tentang Isra Mikraj, sangat jarang dikemukakan sisi kepemimpinan Nabi saw. Yang banyak diulas adalah sisi kontroversi, apakah Nabi saw melakukan Isra Mikraj dengan jasad dan ruhnya sekaligus, atau dengan ruhnya saja. Atau pembahasan Isra Mikraj hanya berkutat pada dimensi salat sebagai oleh-oleh Nabi saw dari perjalanan dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina lantas dilanjutkan perjalanan vertikal ke Sidrat al-Muntaha. Perjalanan semalam itu terjadi pada 27 Rajab 621 M.

Padahal, jika kita membaca sejarah lebih teliti, banyak sekali sisi kepemimpinan yang menyertai peristiwa itu. Tentu, jika kita berkenan untuk merangkai Isra Mikraj dengan peristiwa yang menyertainya, terutama peristiwa penting sebelumnya. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Litera AntarNusa, 2002), mencatat beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi saw sebelum perjalanan Isra Mikraj.

Pertama, pemboikotan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap beliau bersama umat Islam dan Bani Hasyim. Pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun (dimulai tahun ke-7 kenabian). Dalam kurun itu Nabi saw bersama-sama kaumnya diisolasi di sebuah bukit dan diembargo secara ekonomi dan budaya.

Dari peristiwa pemboikotan tersebut ternyata kita bisa menemukan sebuah teladan agung kepemimpinan beliau. Rupanya Nabi saw dan keluarganya adalah teladan seorang pemimpin yang tetap setia bersama umat (baca rakyat), dalam kondisi tersulit sekali pun.

Sejarah mencatat, Nabi saw sampai makan dedaunan dan sang istri, Khadijah, yang saudagar kaya itu bisnisnya tentu ikut terkena dampak boikot. Teladan seperti ini penting untuk dipungut di tengah lunturnya kesetiaan dan kebersamaan pemimpin kita terhadap rakyatnya. Sebab yang sering terjadi adalah pemimpin meminta kesetiaan rakyat.

Di tengah krisis multidimensi, pemimpin bukannya berempati pada rakyat, melainkan justru diam-diam mengambil hak rakyat demi kemakmuran diri dan kroninya. Berbagai kasus korupsi yang menimpa pejabat kita belakangan ini adalah contoh yang sangat telanjang!

Kedua, setelah bebas dari pemboikotan, Nabi saw kembali diuji dengan kehilangan dua orang bemper. Yaitu meninggalnya Abu Thalib, paman dapat menjaga dari gangguan kafir Quraisy, dan Khadijah, istri tercinta yang bagaikan dinamo penggerak semangat perjuangannya. Meninggalnya dua tokoh utama itu menjadikan tekanan politik kafir Quraisy semakin kuat sehingga memilih mengungsi ke kota Taif ditemani anak angkatnya, Zaid bin Haritsah.

Di Taif ternyata Nabi saw bukan hanya ditolak tapi juga mendapat kekerasan fisik. Sampai-sampai Nabi saw mengadu kepada Allah dengan untaian kalimat kepasrahan penuh keharuan, yang kemudian dikenal dengan doa Taif. Ketika malaikat menawarkan untuk menghancurkan kota Taif, Nabi saw sangat keberatan dan menolaknya.

Kata kunci dari peristiwa di atas adalah perlunya pengorbanan dari seorang pemimpin untuk rakyatnya. Seorang pemimpin dituntut untuk tetap berjuang di garda depan, meskipun harus sendirian karena ditinggal pendukung utamanya. Seorang pemimpin juga dituntut memiliki jiwa besar, sekalipun kepada musuhnya. Kini, rasanya sulit kita temukan pemimpin yang siap berkorban seperti itu.

Yang banyak kita dapati justru pemimpin yang siap mengorbankan rakyatnya, demi merebut dan mempertahankan kekuasaannya. Sama sulitnya saat kita mencari pemimpin yang siap berlapang dada jika mengalami kekalahan dari seteru politiknya, atau pemimpin yang mampu memaafkan lawan politiknya yang gagal dan kalah.

Berbagai konflik yang melanda partai politik, ormas, atau berbagai pilkada di tanah air tidak bisa dilepaskan dari tiadanya sikap lapang dada dari para elit. Masing-masing elit bertahan pada ego pribadinya, sehingga membuat sulit dilakukan dialog dan kompromi. Akibatnya rakyat yang menjadi korban.

Kembali ke Bumi

Dari berbagai tempaan hidup yang mengiringi perjuangannya, pada akhirnya seorang pemimpin akan menemukan keberhasilan. Sebuah keberhasilan yang tidak diukur berdasarkan paramater materialistis, misalnya seberapa banyak harta yang dikumpulkannya, melainkan berdasarkan nilai-nilai spiritualitas.

Itulah yang dialami oleh Nabi saw dalam peristiwa Isra Mi’raj, sebagai perjalanan spiritual penting beliau. Dalam perjalanan horisontal yang dilanjutkan perjalanan vertikal itulah terjadi ‘perjumpaan’ Nabi saw dengan Tuhannya. Dalam khazanah sufistik, ‘perjumpaan’ dengan Tuhan adalah puncak capaian spiritualitas seorang hamba.

Tapi uniknya, Nabi saw tidak mau tenggelam dalam egoisme spiritual. Beliau tetap menjadi pemimpin yang membumi. Pemimpin yang tidak rela jika berhasil dan mencapai kebahagiaan sendiri tanpa menyebarkannya kepada umat. Karena itu, Nabi saw kembali ke bumi membawa capaian Mikraj dalam bentuk ibadah salat, yang beliau sebut dengan ash shalatu mikraj al mukminin (salat itu Mikraj-nya orang beriman, metode perjumpaan hamba dengan Tuhannya).

Ungkapan seperti itu sebenarnya menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membumi, bukan agama elistis. Dan Nabi saw adalah teladan pemimpin yang membumi, yang jauh dari sikap individualistis. Bukan seorang Muslim yang baik jika ia mencapai kenikmatan dalam ibadah kemudian melupakan problem masyarakatnya.

Karena itu keberhasilan ibadah tetap diukur sejauhmana dampak positip yang dibawanya bagi kehidupan bermasyarakat. Maka, salat yang benar adalah salat yang memberi dampak kehidupan berkualitas, yang jauh dari perilaku jahat dan kriminal (inna shalata tanha an al fakhsa’ wa al munkar).

Dalam konteks ini, bukanlah seorang pemimpin yang baik jika ia mampu meraih kesuksesan kemudian melupakan rakyatnya. Seorang pemimpin adalah pemegang amanah khalifatullah fil ardh (wakil Tuhan di bumi), yang mengemban tugas memakmurkan rakyatnya, dan bukan sebaliknya memperalat rakyat untuk kesejahteraan pribadinya.

Meminjam Muhammad Zuhri (Mencari Nama Allah yang Keseratus, Serambi, 2007), seorang pemimpin dikatakan berakhlak mulia jika ia mampu memerankan dua fungsi sekaligus secara sinergis, yaitu saat menghadap Tuhan ia akan mengadukan segala nasib rakyatnya dan ketika di hadapan rakyatnya, ia akan menyampaikan pesan-pesan kebenaran Tuhan. Dengan kata lain, pemimpin harus memberi teladan yang baik berpegang pada prinsip kebenaran, yang dengan itu ia akan dipercaya oleh rakyat untuk memimpin.

Pudarnya kewibawaan para pemimpin kita, salah satunya disebabkan oleh hilangnya keteladanan mereka. Antara kebijakan di atas kertas dengan realitas seringkali berbeda. Suatu saat pemimpin berbicara tentang pemerintahan yang bersih, tetapi ternyata di kemudian hari terbukti justru ia yang terjerat kasus korupsi. Seorang pemimpin mengajak rakyat hidup sederhana, namun di lain kesempatan justru ia memberi contoh hidup mewah, misalnya dengan menggelar pesta yang wah!

Maka, di tengah hiruk pikuk pemilihan pemimpin politik dalam Pilkada, Pemilu dan Pilpres 2009, semoga kita menemukan pemimpin-pemimpin ber-akhlak karimah, yang sanggup mengambil teladan universal kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Pemimpin yang demikian inilah yang dinanti-nanti kehadirannya oleh rakyat Indonesia. (*)

Mohammad Nurfatoni, aktivis FOSI Surabaya

Artikel ini telah dimuat di harian sore Surabaya Post, 31 Juli 2008.

Bisa diklik di http://surabayapost.info/kolom.php?id=79939&klom=Opini&kolomid=5

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s