Tolak Hubungan Indonesia-Israel

Pemerintah Republik Indonesia akhirnya memutuskan untuk menunda rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel, sebagaimana dikemukakan Menlu Alwi Shihab kepada Ketua Komisi I DPR RI, 18 Nopember 1999. Hal tersebut tentu sangat melegakan. Artinya protes keras dan keberatan yang dilancarkan berbagai kalangan umat Islam masih didengar oleh pemerintah.

Namun begitu, kita tetap harus waspada bahwa suatu saat—bahkan dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama—hubungan itu tetap akan dijalin. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa rencana pembukaan hubungan dagang itu tidak dalam kategori dihapus, melainkan hanya ditunda. Itupun tidak dipastikan batas waktu penundaannya. Sementara dalam beberapa kesempatan, Presiden Abdurrahman Wahid (selanj utnya disebut Gus Dur) dan Menlu Alwi Shihab secara tersirat maupun tersurat masih berambisi untuk mewujudkan pembukaan hubungan dagang dengan Israel.

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa Gus Dur, dengan corong utama Menlu Alwi Shihab, bersemangat untuk melakukan hubungan dagang dengan Israel (bahkan sebelumnya Gus Dur melontarkan hubungan diplomatik); sementara di kalangan umat Islam sendiri terjadi penolakan yang cukup keras atas rencana itu? Oleh karena itu patut pula diperjelas dalam perbincangan kita, mengapa segala rencana pembukaan hubungan dengan Israel ditolak keras umat Islam?

DARI TEOLOGIS SAMPAI PRAGMATIS
Sejauh ini, ada tiga argumentasi yang secara eksplisit dijadikan landasan rencana pembukaan hubungan dagang antara Indonesia dengan Israel oleh pemerintah Gus Dur? Pertama, secara teologis-ideologis tidak ada larangan yang menyangkut dilakukannya hubungan muamalat (dagang) dengan Israel, negara Yahudi itu. Gus Dur justru mengkritik balik para penentang rencana hubungan dagang Indonesia-Israel, karena mereka tidak mengkritik hubungan Indone­sia dengan negara-negara komunis semacam Sovyet, RRC, dan Korea Utara. Dalam pandangan Gus Dur, negara Israel itu masih beragama (Yahudi), artinya masih bertuhan. Dalam logika Gus Dur, bukankah itu lebih terhormat dibandingkan dengan negara yang tidak beragama (komunis) yang tidak mengakui Tuhan.

Kedua, dalam perspektif ekonomi, hubungan dagang dengan Israel sangat penting bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Hal ini didasarkan pada beberapa argumentasi (1) Lobi Israel yang kuat bisa mendorong mulusnya investasi asing untuk Indonesia, terutama dari negara negara Barat. (2) Hubungan dagang dengan Israel yang selama ini dilakukan melalui pihak ketiga, tidak terlalu memberi keuntungan bagi Indonesia (karena sebagian keuntungan diperoleh pihak ketiga) dibanding jika Indonesia melakukan hubungan dagang secara langsung. (3) Israel dipandang sebagai pusat agrobisnis. (4) Adanya pelebaran (potensi) pasar bagi produk Indone­sia ke Israel. (5) Hubungan dagang dengan Israel adalah hal yang lumrah, toh negara-negara Arab (Islam), yang selama ini selalu berhadapan konfrontatif dengan Israel sudah melakukan hubungan dengan Israel. “Orang-orang Arab di Mesir, Jordan, Maroko, bahkan Aljazair, juga Mauritania, semua memiliki hubungan, malahan lebih tinggi dari hubungan dagang. Ada hubungan diplomatik. Mereka meraih keuntungan-keuntungan itu,” kata Alwi Shihab.

Ketiga, secara politis dengan dilakukannya hubungan (dagang) dengan Israel, Indonesia lebih bisa membuka jalur komunikasi sehingga bisa lebih memainkan peran penting dalam penyelesaian masalah Palestina. Selama ini peran Indonesia terhadap penyelesaian Palestina dianggap kurang optimal karena adanya kendala komunikasi. Asumsinya, bagaimana bisa melakukan proses penyelesaian terhadap dua pihak yang bersengketa jika salah satu pihak tidak pernah diajak berhubungan oleh Indonesia. “Selama ini kalau kita mau bicara tentang palestina, orang-orang Israel tidak mau terima. Karena apa? Hubungan saja tida ada,” kata Alwi Shihab. Dengan secara intensif melakukan hubungan (dagang) dengan Israel, Indonesia berharap bisa melobi Israel untuk penyelesaian Palestina.

ARGUMENTASI KONTRA HUBUNGAN DENGAN ISRAEL
Berbagai argumentasi yang dijadikan landasan hubungan dagang dengan Israel tersebut, tentu saja, ditentang habis-habisan. Sebab, argumentasi-argumentasi tersebut sangat lemah dan membuka peluang untuk diperdebatkan, terutama karena sifatnya yang spekulatif, tidak logis, dan tendensius.

Pertama, penolakan hubungan dagang dengan Israel bukanlah yang seperti Gus Dur tuduhkan. Jika dibaca dari reaksi Gus Dur sebagaimana diungkapkan dalam acara silaturrahmi nasional Keluarga Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Istana Negara (Kamis,4/11/ 99), seolah-olah penolakan atas hubungan dagang dengan Israel semata-mata didasari oleh persoalan eksklusifitas Islam berhadapan vis a vis dengan Yahudi. Memang, ada nuansa agama dalam penolakan tersebut, tetapi bukan dalam pengertian Islam berhadapan vis a vis dengan Yahudi, melainkan karena tanah Palestina (di dalamnya ada Masjid A1 Aqsa, salah satu tempat suci umat Islam dan pernah menjadi kiblat serta mayoritas masyarakatnya yang Muslim), telah dirampas oleh bangsa Israel yang beragama Yahudi.

Dalam konteks ini, tentu tidak relevan membandingkan Israel di satu pihak dengan Sovyet, RRC, dan Korea Utara di pihak lain dalam hubungannya Islam versus Yahudi dan Islam versus komunis (antituhan). Kenyataannya, umat Islam memang tidak mempersoalkan hubungan dengan negara lain dalam perspektif Islam versus non-Islam. Yang dipersoalkan umat Islam adalah ketika ada negara lain yang menginjak-injak hak dan martabat umat Islam, di belahan dunia manapun, termasuk ketika Muslim Bosnia Herzegovina diinjak-injak martabatnya oleh Serbia yang beragama Katholik (Ortodhok) itu.

Dengan demikian ditolaknya hubungan dengan Israel tidak ada sangkut-pautnya dengan eksklusifitas atau ketertutupan Islam karena tidak berkenan membuka hubungan dengan negara lain yang berbeda ideologi. Umat Islam menyadari betul bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, yang harus memberi rahmat bagi keseluruhan komponen dunia (alam). Tentu saja dengan pemahaman bahwa sifat rahmatan lil alamin itu tidak kontra-produktif dengan kesejahteraan dan kedaulatan umat Islam sendiri. Artinya, bisa saja Islam itu berbaik-baik dengan Israel, Jika kedaulatan dan harkat-martabat umat Islam—khususnya Palestina—tidak diinjak-injak oleh Israel. Sangat lucu jika dengan alasan rahmatan lil alamin, lantas umat Islam merahmati Israel (berbaik-baik, dengan berhubungan dagang) sambil menari di atas penderitaan Muslim Palestina. Persoalannya, bisakah Yahudi Israel itu mau menunjukkan sikap pershabatan sejati dengan Dunia Islam?

Kedua, keuntungan-keuntungan ekonomi yang bakal diraih jika berhubungan dagang dengan Israel adalah spekulasi, bahkan ilusi belaka. “Negara-negara yang melakukan hubungan dengan dagang dengan Israel terbukti tidak bisa menarik investor negeri Yahudi itu ke negara yang bersangkutan,” sanggah Riza Sihbudi. “Turki yang berhubungan dagang dengan Israel sampai kini gagal mengangkat ekonominya yang terpuruk. Tragisnya Turki juga masih ditolak [menjadi anggota Uni] Eropa,” sambungnya (Tekad, No.2/Th.28-14/11/99).

Jika dilihat dari kacamata pasar yang dimiliki Israel pun sangat tidak menguntungkan Indonesia, sebaliknya justru hubungan dagang itu memberi keuntungan yang besar kepada Is­rael, terutama karena jumlah penduduk Israel yang tidak lebih dari enam juta jiwa sangat tidak memadai untuk sebuah hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan 200 juta penduduk Indonesia.

Mengenai alasari Israel sebagai pusat agrobisnis juga patut dipertanyakan. “Kenapa harus melihat agrobisnis sampai ke Israel,” kata Riza Sihbudi. “Untuk urusan agrobisnis seharusnya Indonesia menoleh Thailand yang cukup sukses mengembangkan sektor agrobisnisnya,” lanjutnya. Apalagi ternyata terdapat perbedaan iklim antara Indonesia (yang beriklim tropis) dengan Israel yang beriklim (sub tropis), sehingga prospek agrobisnis kedua belah pihak sangat diragukan.

Ketiga, inilah yang lucu. Di satu pihak Alwi Shihab mengakui kekuatan lobi Israel (sampai terkenal istilah “Lobi Yahudi”), tapi di satu sisi dia berharap mampu melobi Israel dalam penyelesaian Palestina. Bagaimana mungkin Indonesia yang sangat lemah diplomasi politik luar negerinya itu mampu menandingi kehebatan lobi Israel (ingat diplomasi Indonesia tentang Timor Timor yang tidak membuahkan hasil!). Amerika Serikat saja, negara adidaya itu, ternyata termakan oleh lobi Yahudi.

ANALISIS-ANALISIS LAIN
Jadi, sangat mentah dan lemah alasan-alasan yang dikemukanan pemerintah, baik oleh Gus Dur maupun Alwi Shihab, berkaitan dengan rencana pembukaan hubungan dagang itu. dari sinilah kemudian berkembang analisis-analisis, bahkan sampai tahap tertentu berupa dugaan-­dugaan, di balik ambisi Gus Dur dan Alwi Shihab dalam membuka hubungan dengan Israel.

Pertama, ambisi itu berkaitan dengan upaya kedua sosok tersebut untuk menunjukkan konsistensi mereka sebagai seorang pluralis, inklusif, dan toleran terhadap pemeluk agama lain. Sebelum menjadi presiden, Gus Dur sudah seringkali melakukan tindakan yang kontroversi berkaitan dengan Israel. Pada Nopember 1994, bersama Habib Hirzin dan Djohan Effendi [dan Nasir Tamara?], Gus Dur datang dalam konferensi agama-agama yang diselenggarakan oleh Pemerintah Israel. Kepergian mereka waktu itu mendapat protes keras di dalam negeri. Mesti mendapat reaksi keras, Gus Dur dengan enteng tetap konsisten dengan sikapnya. “Indonesia perlu memikirkan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel,” katanya. Gus Dur juga termasuk aktivis yang giat di Shimon Peres Peace Center.

Kedua, Gus Dur masih memakai pola lama dalam pendekatan politiknya. Artinya, untuk mengalihkan perhatian dari problem-problem dalam negeri yang krusial, Gus Dur menciptakan isu yang bisa menguras energi dan perhatian umat. Dalam perspektif ini, Gus Dur dianggap membuang-buang energi dengan melakukan test case, sejauh mana resistensi umat Islam sekarang terhadap persoalan sensitif Israel, sekaligus untuk mengalihkan perhatian dari proses reformasi yang menjadi tuntutan banyak pihak.

Ketiga, Gus Dur telah masuk dalam perangkap konspirasi besar Barat dalam memperkukuh dominasinya terhadap Dunia Islam. Terutama dalam konteks ini adalah posisi strategis Indone­sia yang berpenduduk Muslim besar. Dengan berhasil dirayunya Indonesia untuk mengakui eksistensi Israel dalam bentuk hubungan yang dibangun, Israel mendapatkan keuntungan politis yang cukup besar. Bukan tidak mungkin, tindakan Indonesia itu akan menjadi contoh Negara-­negara lain yang selama ini masih menentang hubungan dengan Israel. Sementara itu, dapat dilihat jika keuntungan yang diperoleh Israel lewat konspirasi itu akan membawa implikasi yang signifikan bagi negera-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Sebab, seperti yang akan kita bahas, Israel adalah negara cangkokan Barat di Timur Tengah.

 

Di samping menimbulkan analisis yang berbau “syu’udhan” (“buruk sangka”), rencana pembukaan hubungan dagang Indonesia dengan Israel juga menimbulkan analisis yang berbau “khusnudhan” (“baik sangka”). Diantara analisis tersebut diantaranya adalah taktik Gus Dur untuk melecut kepedulian negara-negara Timur Tengah untuk membantu perbaikan Indonesia. Sebab selama ini hubungan dagang dengan Timur Tengah tidak sebaik yang diharapkan Indone­sia. Investasi modal negara-negara Timur Tengah juga tidak sebesar yang diharapkan Indonesia.

ALASAN FUNDAMENTAL PENOLAKAN HUBUNGAN DENGAN ISRAEL
Terlepas dari berbagai alasan yang berkembang, baik yang dikemukakan Gus Dur dan Alwi Shihab di satu pihak, maupun alasan para penentanganya di pihak lain, segala upaya membuka hubungan dengan Israel memang patut ditentang. Alasan penentangan itu terutama pada eksistensi Negara (palsu) Israel dan sikap politik-agresinya terhadap hak, kedaulatan, dan martabat Dunia Islam, khususnya di Palestina.

Untuk menjelaskan alasan ini, saya akan kemukakan beberapa sisi penting berkaitan dengan sejarah Negara (palsu) Israel dan bentuk­bentuk agresinya. Israel bukanlah negara yang asli di Timur Tengah, melainkan—secara keagamaan, ras, kebudayaan, di atas semuanya secara politis—adalah unsur asing, yang dicangkokkan di Timur Tengah semata-mata sebagai kemauan politik dan militer sewenang-wenang dari pihak Barat, yakni Eropa Barat dan Amerika Serikat (Fazlur Rahman, “Sikap Islam Terhadap Yudaisme” dalam Islam: antara Visi, Tradisi, dan Hegemoni Bukan Muslim, peny. Mochtar Pabiottinggi, Yayasan Obor Indonesia).

Tujuan pencangkokkan itu, menurut Roeslan Abdulgani ialah untuk memecah-belah nasionalisme Arab, dan untuk menahan kebangkitan Islam. Sebab kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang tidak hanya strategis—vital sekali, tetapi juga ekonomis—sangat penting karena kekayaan minyak di dalam tanah dan lautnya. Minyak adalah sumber energi pokok Dunia Industri Barat … (Roeslan Abdulgani, “Kata Pengantar” dalam Mereka Berani Bicara, Paul Findley, Mizan).

Mulanya, (sebagian) Tanah Palestina menjadi klaim Negara Israel berkat konsensi yang diberikan oleh Inggris (Lord Balfour) sebagai penjajah negara-negara Arab, atas dukungan dana yang diberikan oleh Golongan Yahudi Zionis pada Inggris dalam Perang Dunia I melawan Jerman (Deklarasi Balfour 1917). Inilah yang dikatakan Rahman bahwa Israel, dalam kelahirannya, adalah suatu gejala kolonial dalam arti yang sesungguhnya. Dasar kelahiran Israel itulah yang salah. la diciptakan lewat kebatilan dan agresi, dan asal usul itulah yang menentukan sifatnya [Israel].

Modal “politis-yuridis” itulah yang membuat orang Yahudi yang mulanya hanya 50.000 bertambah banyak dengan kedatangan orang-orang Yahudi dari Eropa sejumlah 500.000 jiwa. Rakyat Palestina sendiri yang semula berjumlah 600.000 jiwa didesak, diintimidasi dan diteror. Ini semua terjadi pada tahun-tahun 1920-1940 (Roeslan, ibid.)

Negara Israel akhirnya berdiri tahun 1948, dan melakukan agresi lanjutan pada tahun 1967 lewat perang Arab-Israel, sehingga memiliki wilayah “jarahan” semakin luas yang meliputi Palestina, Lebanon Selatan, Dataran Tinggi Golan (Syria), dan Gurun Sinai (yang akhrinya diserahkan lewat Perjanjian Camp David).

Tindakan agresi Israel ini telah dikecam oleh berbagai pihak, tetapi berbagai resolusi DK PBB, diantaranya No. 242 dan 338, yang memerintahkan Israel keluar dari wilayah yang didudukinya itu, tidak membuahkan hasil. Kebandelan Israel ini, tentu tak lepas dari stereo­type Amerika Serikat, negara yang oleh banyak pihak disebut sebagai mbah-nya Israel. Secara langsung maupun tidak langsung, Amerika Serikat adalah pelindung Israel. Berbagai perjanjian perdamaian PLO-Israel, selalu dilanggar oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Negara Palestina yang semestinya berdiri 4 Mei 1999 ditolak pendeklarasiannya oleh Israel dan Amerika Serikat. Padahal, sesuai dengan perjanjian Oslo 1993, tanggal 4 Mei 1999 adalah batas akhir pemerintahan otonomi Palestina (“Daftar Penghianatan Israel”, Abadi, No. 1/Th.II, 8-14/11/99).

Dari poin-poin penting yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembukaan hubungan dagang—atau hubungan apa pun—pada dasarnya mengandung tiga konsekuensi. Pertama, pengakuan eksistensi Negara (palsu) Israel, yang lahir dari sejarah panjang kolonialisme dan agresi. Kedua, menyetujui bentuk penjajahan yang dilakukan Israel terhadap, khususnya, Palestina. Padahal, dalam pergaulan dunia, segela penjajahan sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Apalagi secara eksplisit Indonesia juga menolak segala bentuk penjejahan, kaena tidak sesuai dengan perikemanuisaan dan perikeadilan. Ketiga, penghianatan terhadap perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh Palestina, terutama dalam hubungan ukhuwah islamiyah karena Palestina adalah salah satu bagian dari Dunia Islam.

Dengan argumentasi-argumentasi seperti itu, maka segala bentuk hubungan dengan Israel harus ditentang, sampai kedaulatan dan martabat umat Islam yang dirampas oleh Israel dikembalikan. Ini pula yang dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika melihat kenyataan penghianatan orang-orang Yahudi dalam beberapa perang besar antara kaum Muslimin Madinah melawan kaum kafir Mekkah. Seperti diketahui dalam tiga kali peperangan besar yang terj adi antara kaum Muslimin dengan orang-orang Mekkah, golongan Yahudi beserta “golongan munafik” membantu orang-orang Mekkah, secara aktif maupun pasif (padahal sesuai dengan Piagam Madinah, jika terjadi penyerangan, seluruh penduduk Madinah, termasuk kaum Yahudi, wajib membelanya). Inilah yang menimbulkan permusuhan dan mengakibatkan diusirnya kelompok-kelompok Yahudi serta tewasnya sebagian dari mereka.

Jadi, sesungguhnya sikap politik Yahudi-lah yang menjadi pemicu kerenggangan-keretakan hubungan Islam dengan Yahudi. Baik yang terjadi pada permulaan sejarah Islam, maupun dalam sejak berdirinya Negara (palsu) Israel.

Mohammad Nurfatoni, Ketua FOSI Surabaya
Disampaikan pada Diskusi “Menolak Hubangan Dagang dengan Israel”,
yang diselenggarakan oleh Remas Masjid Nurul Iman Simo Gunung
di Masjid Muhajirin Dukuh Kupang Surabaya, 28/11/1999.

Iklan

8 komentar

  1. setelah gue baca, lebih banyak alasan politik religiusnya deh, dibandingkan alasan militer dan ekonomi. kayaknya si penulis memang kurang bahan dan bahkan tidak punya ide sama sekali tentang kemungkinan kerja sama dalam bidang militer dan ekonomi antara indonesia denga israel.

    begitu gue lihat latar belakangnya, kenapa source data dia begitu dangkal, gue langsung paham, kenapa bisa begitu. ini dia penulisnya

    Mohammad Nurfatoni, Ketua FOSI Surabaya
    Disampaikan pada Diskusi “Menolak Hubangan Dagang dengan Israel”,
    yang diselenggarakan oleh Remas Masjid Nurul Iman Simo Gunung
    di Masjid Muhajirin Dukuh Kupang Surabaya, 28/11/1999.

    Suka

  2. Makasih, komentarnya.
    Kenapa memang dengan latar belakang penulis?

    Saya sebenarnya pingin, papabonbon memberi tanggapan yang ilmiah, dan bukan sekedar secara subjektif memvonis tanpa argumentasi dan data tandingan; apalagi hanya melihat latar belakang!

    Suka

  3. nggak berbobot & amat sangat kekanak2kan cerita di atas
    asal muasal islam adalah yg tak lain arab,pun mesir yg mempunyai universitas asas islam yg sangat kental membuka hub.diplomatik dengan israel,mengapa kita harus ragu..??! toh kita juga punya naluri,rasio,pertimbangan serta tindakan kalo 2 israel ingin bermaksud jahat pada indonesia. negara manapun termasuk israel juga berpikir matang2 kalo harus bersengketa dengan indonesia. buat apa kita meragukan hubungan baik indonesia-israel semua ada positif & negatif

    Suka

  4. Bagus untuk menjadi bahan kajian.Melihat komentar2 diatas saya sih gak kaget karena itu menunjukkan betapa Program F4 Zionis telah berhasil merasuk dalam kehidupan sosial budaya kita. AS dan Eropa mengalami the lost generation banyak orang2 yg sudah meninggalkan keyakinan pada Sang Pencipta semua lebih percaya pada dunia materialistik.Semoga Allah memberikan keberkahan atas sekalian alam ini dan kita dihindarkan dari azab NYA.

    Suka

  5. saya mendukung penolakan atas hubungan dalam bentuk apapun dengan israel, secara kenegaraan pun tidak layak hal itu (hubungan) dilakukan. Pembukaan UUD 1945 menyatakan: “kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”. Kita ketahui bersama bahwa Israel adalah penjajah dan penyebab duka nestapa yang dialami rakyat palestina hingga sekarang dan belum berakhir dan bahkan tidak ada niatan untuk mengakhiri penjajahan tersebut. Jelas sudah, bahwa menyetujui Hubungan dengan Israel sama dengan mengkhianati cita-cita kemerdekaan RI, UUD 1945, Para pahlawan yang merebut kemerdekaan ini dari tangan penjajah, Para founding father, dan yang paling utama adalah kita telah berkhianat kepada Allah, Tuhan yang maha kuasa.

    (ijinkan saya meng-copy artikel Saudara untuk blog saya)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s