Ambivalensi TV dan Ramadhan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempersoalkan sejumlah tayangan stasiun televisi selama Ramadhan ini. Mereka menilai beberapa tayangan tersebut menyimpang dari syiar Islam.

“Hasil pemantauan yang kami lakukan, banyak tayangan yang dirasa kurang pas untuk bulan Ramadhan,” kata Ketua MUI Amidhan di Kantor Depkominfo kemarin. Tayangan-tayangan tersebut, antara lain, mengandung unsur-unsur pornografi, kekerasan, dan mistis (Jawa Pos, 27/9/07).

Apa yang menarik dari berita di atas? Pertama, setiap Ramadhan, kita selalu diributkan oleh wacana tentang puasa yang steril dari hal-hal yang maksiat. Di samping tuntutan program siaran televisi yang “islami” seperti disampaikan MUI di atas, wacana harus-tidak ditutupnya berbagai tempat yang berkaitan dengan perilaku maksiat (lokaliosasi pelacuran, panti pijat, diskotek, night club), juga selalu mengemuka.

Salah satu alasan penghentian tayang program siaran tidak “islami” atau penutupan tempat maksiat adalah karena umat Islam berada di bulan suci Ramadhan dan kaum Muslim yang berpuasa di dalamnya harus dihormati dengan jalan menghentikan segala pergelaran perilaku maksiat.

Menarik untuk menelaah sejauh mana alasan di atas bisa kita diterima. Memang, pada saat umat Islam menunaikan ibadah di bulan Ramadhan, diperlukan suasana kondusif yang memungkinkan dijalankannya puasa dan ibadah lainnya secara khusuk. Maka segala gangguan, terutama yang berbau maksiat, harus dijaulai sejauh-jauhnya.

Tapi, ada kelemahan mendasar pada argumentasi di atas. Seolah-olah pergelaran kemaksiatan di luar bulan Ramadhan diperbolehkan, bahkan diberi ruang yang luas.

Kita, tentu, harus setuju jika program siaran televisi harus sopan dan mendidik, serta tempat-tempat digelarnya kemaksiatan ditutup di bulan Ramadhan; tetapi sekali­-kali hal itu jangan didasarkan pada Ramadhan­nya, melainkan bahwa segala bentuk kemaksiatan memang harus dijauhkan-dijauhi; tak peduli di bulan Ramadhan atau bulan-bulan yang lain. Sebab, sekali lagi jika Ramadhan dijadikan alasan penutupan itu, akan menimbulkan kerancuan berpikir: bahwa di luar bulan Ramadhan kemaksiatan menjadi halal (argumentasi seperti ini tercermin misalnya dari pernyataan “Jangan berbohong saat berpuasa Ramadhan; jadi di luar Ramadhan boleh berbohong?).

Jadi, saya setuju jika MUI mengevaluasi program siaran televisi yang penuh dengan pornografi, kekerasan dan mistis itu. Tapi mengapa harus mengambil momentum Ramadhan. Jika dalam suasana Ramadhan harus steril seperti itu, lantas bagaimana nasib puasa Ramadhan umat Islam di belahan negara-negara sekuler? Haruskan mereka menuntut wilayah mereka steril? Bisakah? Bagaimana caranya?

Kedua, soal televisi. Sudah sering kritik pedas dialamatkan pada mereka. Tapi begitulah televisi kita, sebuah bagian dari industri kalitalisme. Soal rating dan iklan menjadi capaian utama. Maka, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selalu tak berdaya. Sementara ada Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dan Undang-Undang Penyiaran, khususnya pasal 36 UU Penyiaran tentang larangan isi siaran yang bersifat fitnah, menghasut, berbohong, dan cabul.

Jadi, untuk sementara (jika tak mampu membendung dampak negatif televisi) matikan televisi, kalau bisa secara serentak. Lha kalau yang lihat televisi minim, mana ada iklan yang tayang. Tapi apa bisa hal ini dilakukan? Ah, setidaknya tirulah “Bang Jack” Deddy Mizwar, berbuat dan berbuat untuk pelan-pelan mendominasi siaran televisi yang menghibur, mendidik sambil menyindir. Meskipun akhirnya jatuh juga dalam pelukan kapitalisme!

Sidojangkung, 27 September 2007

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 59 Tahun ke 11, 28 September 2007

Iklan

Puasa dan Kepedulian Sosial

SEBUAH riwayat menceritakan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang wanita sedang mencaci-­maki pembantunya. Rasulullah saw mendengarnya. Lantas beliau menyuruh seseorang untuk menyediakan makanan dan memanggil perempuan itu. Kata beliau, “Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak herbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Hadits ini memberi pelajaran berharga pada kita, bahwa puasa tidaklah sekedar menahan makan dan

minum. Di samping mengandung ketentuan-­ketentuan fiqih, puasa juga memhawa pesan mendalam tentang akhlak dan aspek sosial. Meminjam Jalaluddin Rakhmat, itulah yang disebut pesan moral (puasa). Ketika seseorang hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi masih melakukan perbuatan tercela, maka tak lebih sekedar orang-orang yang lapar saja. Itulah yang disinyalir oleh Nabi saw, “betapa sedikitnya orang yang herpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan”.

Dalam riwayat lain. Nahi saw bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Pesan moral apa yang terkandung dalam ibadah puasa. Jika kita tengok “perilaku” puasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka paling tidak kita temukan bahwa: pertama, puasa menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Salah satu bentuk kepedulian sosial yang menjadi pesan moral puasa adalah memperhatikan dan menyantuni fakir dan miskin. Perhatian serius terhadap mereka hisa dilakukan, jika kita mampu ber-empauti terhadap kondisi mereka. Oleh karena itu, ibadah puasa mensyaratkan pelakunya untuk tidak minum dan makan mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, agar bisa merasakan dahaga dan kelaparan—suatu kondisi yang sering dialami fakir dan miskin.

Orang-crang yang tidak sanggup berpuasa, menurut AI Qur’an, diharuskan mengeluarkan fidyah buat orang-­orang miskin. Jadi, kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, paling tidak pesan moral puasa, yakni menyantuni fakir dan miskin, mampu diwujudkan. Demikian pula salah satu kifarat bagi orang yang batal puasanya karena melakukan hubungan suami istri pada siang hari, adalah membebaskan budak atau memberi makan enam puluh orang miskin. Perhatian dan santunan terhadap fakir dan miskin juga terlihat dari kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagai penutup-penyempurna ibadah puasa.

Kepedulian sosial semacam ini secara tegas disebut Nabi saw sebagai ciri mukmin. Sabda beliau “Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila sesenrang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari).

Kedua, dalam puasa, makanan halal (harta kita) pun dilarang kita makan sebelum tiba waktunya. Ini mengandung pesan bahwa sesungguhnya harta yang ada pada kita, bukanlah sepenuhnya milik kita. Sebagian di dalamnya ada hak fakir dan miskin. Kata Ali r.a. “Tidak pernah aku melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.”

Ini artinya bahwa penghasilan kita (yang tinggi), tidak boleh kita makan semuanya walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Ada kewajiban kita untuk menyantuni fakir dan miskin. Tidak diperbolehkannya memakan makanan sebelum tiba waktunya, juga menanamkan pesan kehati-hatian, jangan sembarang memakan makanan. Jangan makan makanan haram (baik haram dzatnya maupun haram cara memperolehnya). Ketika dikejar-­kejar oleh konsumtivisme (senang berfoya-foya dan berbelanja barang yang tak bermanfaat), tidak jarang kita memakan hak orang lain. Saat dikejar-kejar untuk meningkatkan status sosial, kita sering menjadi omnivora (“binatang” pemakan segala), tanpa memperhatikan halal dan haram. Kayu, aspal, dan tanah kita “makan”. Rakyat kecil pun kita caplok. Inilah sikap anti-sosial, lawan kepedulian sosial. Dan kita, pelaku puasa, pantang untuk melakukannya. Semoga!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 26 Tahun ke-1, 15 ramadahn 1417 H

Menahan Ambisi dengan Puasa


Jika kita berkenan menjadikan bulan Ramadhan 1418 H sebagai ajang retrospeksi perjalanan setahun pada 1997—­karena bertepatannya pergantian tahun dengan awal puasa—­maka salah satu persoalan penting yang perlu kita evaluasi adalah ambisi-ambisi kita.

Ambisi sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Katakanlah sebuah cita-cita atau harapan-harapan optimisme pada masa depan. Menjadi tidak wajar jika ambisi itu melampaui batas-­batas kewajaran kita. Artinya, baik “sesuatu” yang akan kita capai maupun cara-cara pencapaiannya masih berada dalam jangkauan kemanusiaan kita. Namun apahila keduanya melebihi kapasitas-kapasitas kita, maka ambisi itu menjadi sesuatu yang “utopis”. Uniknya sesuatu “utopis” itu kemudian menjadi sama kenyataan, berkat “pengerahan segala daya upaya”, termasuk dengan menghalalkan cara atau menginjak kepala orang lain.

Kasus-kasus pelanggaran moral dan ketidakseimbangan lingkungan (hidup atau sosial) yang terjadi selama 1997 adalah “prestasi-prestasi yang dicapai oleh sikap-sikap ambisius: ada pemilu yang menumbuhkan dan menyulut sikap anarki; dari kuningisasi, kamipanye yang melahirkan mayat-mayat, proses pemilihan yang “tidak bersih” (baca curang); ada kebakaran hutan lengkap dengan asap-jelaga, yang sangat menyesakkan pernafasan sekaligus memalukan bangsa; adanya upaya penyeragarnan sepatu bagi siswa sekolah; kasus penggunaan dana Jamsostek untuk pembahasan RUUK atau kasus korupsi dan kolusi lainnya; terbongkarnya kasus aborsi (baca pembunuhan janin) massal; pelanggaran-pelangaran seksual (termasuk pesta seks); bahkan ramainya perbincangan tentang suksesi sepanjang 1997 dan gejolak mometer pada paruh kedua 1997; dan tak kalah hebatnya adalah tumbuh suhurnya isu­-isu.

Puasa Menahan Ambisi

Puasa dalam kosa kata keseharian kita mengandung makna menahan diri. Makna seperti itu juga terdapat pada kata asalnya, syiam yang berarti menahan diri dari sesutu. Dalam parktik puasa, scsungguhnya kita sudah sangat paham terhadap apa-apa yang harus kita tahan. Menahan diri untuk tidak makan, minum dan huhungan suami istri sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Juga menahan marah. Menahan untuk tidak berbohong. Menahan diri dari ucapan kotor dan tercela. Menahan diri dari perbuatan yang mengarah pada kemaksiatan.

Jika kita sarikan, semua hal-hal yang perlu kita tahan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan keinginan-keinginan hawa nafsu.

Puasa dengan segala kesempurnaan pemahaman, baik secara lahiriyah maupun maknawiyah, melatih kita untuk mampu menahan seluruh potensi ketidak-terkendaliannya hawa nafsu. Mungkin, hal-haI yang perlu kita tahan, jika kita pandang secara lahiriyah, terkesan remah. Tetapi sesungguhnya kesemuanya itu merupakan latihan-latihan yang sangat berarti dalam menahan nafsu-nafsu besar yang mengerubungi ambisi-ambisi kita.

Tahan makan dan minurn. Berarti tahan diri Anda dari amhisi “memakan” dan “meminum” sesuatu di luar jangkauan kepemilikan kita. Jangan bakar hutan jika sekedar untuk menumpuk harta yang tidak akan habis diwarisi oleh tujuh keturunan. Jangan korupsi jika belum mampu beli Mercy atau BMW. Puasalah dari korupsi. Puasalah dari ekploitasi semena­-mena. Tahan berkata bohong, artinya jangan main curang, jangan manipulasi data, jangan main rekayasa. Tahan ambisi untuk menjadi pemenang mutlak sebuah pertarungan dengan kecurangan-kecurangan. Puasalah dari vested interst.

Tahan nafsu seksual, artinya jangan lakukan hubungan suami istri sebelum dilakukan akad pernikahan. Jangan main seks bebas. Jangan demi ambisi seksual, lalu Anda halalkan segala cara pemuasannya. “Tahan marah, artinya meskipun anakrnu itu terlahir di luar pernikahan, jangan dibunuh. Engkau membunuh berarti engkau tidak mampu mengendalikan ambisi angkara murkamu yang ke seklian kalinya”. Puasalah agar tidak melakukan aborsi.

Tahan dari perhuatan tercela, artinya jangan Anda gadaikan idealisme Anda demi ambisi segebok suap-kolusi. Tahan ambisi Anda untuk rnempengaruhi kebijakan dengan cara “damai-suap” atau “damai-kolusi”. Puasalah agar tidak melakukan suap dan kolusi.

Tahan ambisi-ambisi kekuasaan yang memperkokoh status quo. Tahan ambisi-ambisi kekuasaan yang mencarut-marutkan masyarakat dengan isu dan intrik-intrlk. “Puasalah dari kekuasaan. Puasalah … puasalah … tahan … tahan ….”

Jadi, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menilai sejauhmana tingkat keberhasilan kita atau masyarakat kita dalam melaksanakan puasa, yang secara lahiriyah sangat hiruk pikuk. Lihat sejauhmana kita dan masyarakat kita mampu menahan diri. Bukan saja menahan diri dari sesuatu larangan yang kecil, juga ambisi-ambisi besar kita.

Betapa nikmat dan barakahnya puasa yang kita lakukan!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No23 Tahun ke-2, 2 Januari 1998

Sederhananya Puasa

Kita benar-benar berada dalam krisis ekonomi, bahkan puncak krisis ekonomi (paling tidak sampai tulisan ini diturunkan). Presiden Soeharto sendiri dalam pidato pengantar RAPBN 1998/1999 menyebut kondisi ini sebagai badai, meskipun dengan harapan (badai itu) pasti berlalu. Dipicu oleh terus melemahnya nilai rupiah terhadap US$ (saat tulisan ini dibuat, nilai tukar rupiah mencapai titik terendah Rp. 7.800/ dolar). Lalu naiknya harga barang yang mengandung komponen impor secara gila-gilaan. Bukan itu saja, barang-­barang lokal pun seakan mendapat katalis untuk melonjak naik. Buruh-buruh harus terkena PHK besar-besaran. Bahkan, tidak berhenti di situ, krisis ini pun telah melahirkan kepanikan sosial.

Bayangkan, koran-koran harus “membredel” dirinya sendiri, baik dengan cara menaikkan harga, mengurangi tiras, mengurangi halaman, bahkan siap-siap mandeg terbit. Ibu-­ibu menjadi panik oleh kenaikan susu, minyak goreng, gula, telur, daging, sabun deterjen, kacang tanah, bahkan bayam, kangkung dan garam. “Ini sih bukan susah lagi, keterlaluan,” keluh Fatimah ibu rumah tangga berumur 40 tahun, seperti dikutip Republika (Minggu, 4 Januari 1998). Kepanikan itu dengan cukup jeli juga direkam oLeh Jawa Pos (Rabu, 7 Januari 1998). Perhatikan laporannya: “Sehari setelah geger harga susu naik, suasana di sejumlah pasar swalayan Surabaya “rush”. Puluhan ibu langsung menyerbu konter-konter susu di pasar-­pasar swalayan itu. Bahkan … beberapa pengunjung sampai bertindak seperti seorang pialang saham di bursa efek.”

Kesederhanaan Puasa

Tapi kita mesti tetap mengucap alhamdulillah, apalagi puncak krisis itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebuah bulan “sederhana” yang mengajarkan kesederhanaan. Jika biasanya dalam sehari kita makan tiga kali—bahkan bisa lebih dari itu, karena tidak ada batasan waktu puasa memangkas menjadi cuma dua kali, yaitu saat sahur dan berbuka.

Jika di luar Ramadhan di antara kita masih leluasa berpesta dan mendatangi tempat-tempat hiburan, suasana religius Ramadhan akan mengeremnya, sehingga anggaran belanja kebutuhan tersier tersebut dapat dihemat. Jika tidak dalam bulan Ramadhan banyak kalangan yang mendatangi tempat-­tempat maksiat, Ramadhan akan menghentikannya, setidaknya menciptakan rasa sungkan, sehingga terjadi penghematan besar-besaran; sebab mana ada tempat maksiat yang tidak butuh biaya (besar).

Penghematan-penghematan yang saya contohkan di atas, baik yang dilakukan dengan suka rela maupun terpaksa, adalah cerminan sosok puasa. Puasa mengajarkan pengendalian hawa nafsu, sekaligus mengarahkan manusia untuk mencerahkan sisi spiritualnya.

Pengendalian hawa nafsu bermakna mengendalikan diri dari pemuasan kebutuhan material secara berlebihan. Memang kebutuhan-kebutuhan material adalah sesuatu yang inheren dalam diri manusia, karena salah satu dimensi manusia adalah dimensi fisik atau biologis, tetapi karena manusia juga berdimensi non-fisik (boleh baca berdimensi ruhani-spiritual-­psikologis), maka pemenuhan dan pemuasan kebutuhan fisik belaka akan menggelincirkan manusia menjadi setara dengan makhluk yang semata-mata berdimensi fisik. Artinya harus ada pembatasan (dalam arti positip) terhadap pemuasan kebutuhan fisik. Sebab beriringan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, manusia juga butuh pemenuhan dan pemuasan kebutuhan non fisik. Dalam hal ini puasa berfungsi sebagai penyeimbang atau penyearah pada kewajaran pemenuhan kebutuhan manusia.

Praktik Antisederhana Puasa

Sayangnya, nilai-nilai kesederhanaan yang terkandung dalam puasa seringkali tidak dipahami secara mendalam;­ sehingga muncul praktik-praktik yang kontradiksi. Menu puasa bukannya menjadi hemat-karena makan cuma dua kali ­tapi sebaliknya terjadi pemborosan-pemborosan, karena ada semacam tradisi pilih-pilih menu.

Tidak cukup itu saja, bulan Ramadhan juga menjadi ajang pemuasan konsumtivisme, karena ada tradisi memiliki barang baru dalam menyambut Idul Fitri. Tak heran jika terjadi kenaikan omset penjualan barang-barang di bulan Ramadhan.

Memang, Idul Fitri adalah hari perayaan orang-orang Is­lam yang telah “berhasil” menjalankan ibadah Ramadhan. Namun, bukan berarti perayaan itu dimeriahkan dengan kemewahan, kemegahan, dan penuh glamour. Sebab hal-hal semacam itu akan menjadi sesuatu yang kontradiktif dengan puasa itu sendiri. Bukankah puasa juga mengajari kita untuk memiliki rasa kepedulian sosial yang cukup tinggi? Bukankah puasa juga mengajari kita untuk siap mati? Bagaimana kita siap mati; bagaimana kita siap membagi kepedulian sosial; jika kita berada dalam kondisi bermegah-megahan?

Jadi untuk mampu menangkap kesederhanaan puasa dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mencontoh praktik puasa Rasulullah saw. Betapa sederhananya Rasulullah saw saat puasa, juga sederhananya Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Cara berpakaiannya. Menu dan cara makannya. Pola hidupnya. Sederhana… sederhana!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 24 Tahun ke 2, 9 Januari 1998

Maksiat Tutup di Bulan Ramadhan?

Setiap (menjelang) Ramadhan, kita selalu diributkan dengan wacana harus-tidak ditutupnya berbagai tempat yang berkaitan dengan perilaku maksiat (lokaliosasi pelacuran, panti pijat, diskotek, night club). Dalam wacana itu kita ketemukan banyak pendapat yang pro; tetapi ada pula yang kontra.

Sepintas alasan-alasan yang dikemukakan, baik yang pro maupun yang kontra, sangat logis. Akan tetapi jika ditelaah lebih jauh, akan kita temukan kelemahan-­kelemahannya.

Dari sekian alasan yang pro terhadap penutupan itu salah satunya adalah bahwa bulan suci Ramadhan dan kaum Muslim yang berpuasa di dalamnya, harus dihormati dengan jalan menghentikan segala pergelaran perilaku maksiat.

Menarik untuk menelaah sejauh mana alasan di atas bisa kita diterima. Memang, pada saat umat Islam menunaikan ibadah di bulan Ramadhan, diperlukan suasana kondusif yang memungkinkan dijalankannya puasa dan ibadah lainnya secara khusu’. Maka segala gangguan, terutama yang berbau maksiat, harus dijaulai sejauh-jauhnya.

Ada kelemahan mendasar pada argumentasi di atas. Seolah-olah pergelaran kemaksiatan di luar bulan Ramadhan diperbolehkan, bahkan diberi ruang yang luas (argumentasi tidak logis seperti ini menimpa juga pada para penyeru penghentian serangan AS kepada Afghani­stan pada saat bulan Ramadhan; jadi, di luar bulan ini, sah-sah saja AS memborbardir Afghansitan?).

Kita, tentu, harus pro jika tempat-tempat digelarnya kemaksiatan ditutup di bulan Ramadhan; tetapi sekali-­kali penutupan itu jangan didasarkan pada Ramadhan­nya, melainkan bahwa segala bentuk kemaksiatan memang harus dijauhkan-dijauhi; tak peduli di bulan Ramadhan atau bulan-bulan yang lain. Sebab, sekali lagi jika Ramadhan dijadikan alasan penutupan itu, akan menimbulkan kerancuan berpikir: bahwa di luar bulan Ramadhan kemaksiatan menjadi halal (argumentasi seperti ini tercermin misalnya dari pernyataan “Jangan berbohong saat berpuasa Ramadhan ; jadi di luar Ramadhan boleh berbohong?).

Sementara itu, kalangan yang kontra atas penutupan tempat-tempat maksiat, agar bisa menggolkan tujuannya, mengajukan berbagai argumentasi yang kelihatan logis dan manusiawi. Akan tetapi jika kita tinjau lebih jauh, maka semuanya tidak logis dan (justru) tidak manusiawi. Pertama, argumentasi bahwa pelacuran sudah ada sepanjang sejarah manusia. Dalam ilmu logika cara berpikir ini disebut fallacy of retrospectiv determinism yaitu kerancuan berpikir yang menjadikan sesuatu yang secara historis memang selalu ada; tidak bisa dihindari dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. (Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar, Jalaluddin Rakhmat, Rosdakarya,1999). Karena pelacuran dianggap sudah ada sejak dulu, maka sia-sia saja usaha untuk memberantasnya, karena itu perlu dilokalisasi; dan tidak perlu diusik-usik, meskipun Ramadhan tiba. Jika cara berpikir seperti ini diikuti maka memang tidak perlu ada usaha-usaha pemberantasan kemiskinan, pencegahan peperangan, atau perpecahan di kalangan umat, sebab bukankah itu ada rujukan sejarahnya?

Kedua, argumentasi bahwa para pelacur atau pegawai (tepatnya pengusaha) tempat-tempat maksiat itu akan kesulitan mencari nafkah (apalagi menjelang Lebaran), jika pada Ramadhan tempat “kerja” mereka ditutup?

Argumentasi itu kelihatannya manusiawi sekali. Tetapi sesungguhnya justru menjerumuskan mereka dari sisi kemanusiannya. Sisi kemanusiaan mana yang membolehkan orang melakukan transaksi jual-beli diri (melacur).

Sedangkan dalam pandangan Islam, pelacuran (zina) adalah tindakan kriminal. Oleh karena itu pelanggarnya akan dikenai sanksi (pidana yang berat). Dalam konteks seperti ini, pelacuran hampir setara dengan tindak kriminal pembunuhan atau pencurian.

Jika para pembela pelacuran itu konsisten terhadap alasan “makan apa mereka jika tempat prostitusi ditutup” menjadi alasan kemanusiaan, maka seharusnya mereka pun harus membela para pencuri (koruptor) atau pembunuh (bayaran). Sebab jika mereka dilarang; meraka makan apa?

Bolehlah alasan ekonomi dikemukakan. Namun pembelaan terhadap pelacuran atas dasar ekonomi (makan atau perut) terlalu mengada-ada dan justru menjadi pembenaran bagi para pelacur untuk terus melacur (saya sangat menolak pelacur disebut wanita tuna susila [WTS] ataupun pekerja seks komersial [PSK]). Sementara melacur itu sendiri adalah perbuatan hina-dina dan jauh dari nilai-nilai fitrah manusia (yang berketuhanan dan pro kebenaran; karena itu pula, melacur bukanlah hak asasi). Maka agak aneh juga jika penutupan tempat maksiat itu menjadikan mereka takut tidak memperoleh bekal Lebaran (Lebaran dari hasil melacur?); sementara Lebaran memiliki semangat kembali kepada kebenaran.

Pertanyaannya, apakah memang tidak ada pekerjaan lain; sekalipun yang tidak membutuhkan ketrampilan selain dengan cara melacurkan diri! Saya kira, jika ada kemauan keras dan tidak adanya dukungan, semacam legalisasi lokalisasi pelacuran oleh pemerintah atau “provokasi” dari organisasi non pemerintah bahwa pelacuran itu sah dan merupakan hak asasi, maka masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan.

Terakhir, meskipun beberapa pemerintah kota sudah membuat keputusan untuk menutup tempat-tempat maksiat di bulan Ramadhan, tetapi jangan terlalu berharap bahwa kebijakan itu akan mendapat simpati dari umat Islam yang mau berpikir jernih. Lain persoalannya jika penutupan itu dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya, sehingga sepanjang tahun tidak ada lagi pagelaran kemaksiatan.

Mohammad Nurfatoni

Dimuat di Buletin Jumat Hanif No. 15 Tahun ke-6, 9 Nopember 2001

Puasa dan Krisis Spiritualisme

SEJARAH peradaban manusia kini berada dalam zaman modern. Secara harfiah, modern berarti baru. Namun lebih jauh, ciri modern bukan saja dalam arti kebaharuannya, melainkan lebih termaknakan pada pola hidup yang teknikalisme, di mana teknik memegang peran sentral, dan pola hidup materialisme ­suatu pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah.

Tanpa disadari, pola hidup yang demikian itu telah membuat manusia teralienasi, terasing dari kesejatian dan lingkungan sosialnya. Lebih jauh, modernisme bahkan telah melahirkan krisis spiritualisme. Diantara indikasi tercerabutnya manusia dari nilai-­nilai spiritual adalah terjadinya dekadensi moral, lunturnya nilai humanistik, dan menguatnya individualisme.

Runyamnya, dalam menghadapi krisis tersebut, manusia tidak bisa lagi berpikir jernih untuk secara sadar mengatasinya. Yang lahir justru cara berpikir dan bertindak yang serba panik dan rancu. Hal itu bisa kita lihat dari cara mereka mengatasi krisis spiritualisme itu. Mereka tidak berusaha memungut kembali elemen-elemen spiritualitas, tapi justru membenamkan dirinya lebih jauh ke dalam kubangan materialisme. Fenomena menguatnya hedonisme, menikmati hidup sepuas-puasnya sebelum datang kematian, membuktikan betapa manusia telah semakin terpuruk dalam mengatasi krisis spiritualisme.

Nuttin, seorang pakar psikologi humanistik, menyebutkan bahwa ada tiga aras kesadaran pada diri manusia. Pertama, kesadaran para aras psikobiologis. Kesadaran ini dipicu oleh pengalaman inderawi (biologis). Kesadaran untuk minum misalnya, dipacu oleh keringnya kerongkongan. Kedua, kesadaran pada aras psikososial. Kesadaran ini erat kaitannya dengan kebutuhan sosial: butuh berbagi dengan orang lain atau kebutuhan membina komunikasi sosial. Ketiga, kesadaran pada aras transendental: kesadaran adanya Tuhan, kebutuhan untuk beribadah, kesadaran adanya misteri hidup (kegaiban).

Dalam keadaan normal, ketiga aras itu mewujud menjadi satu dalam diri manusia. Artinya dalam setiap perilaku manusia selalu mengandung tiga aras kesadaran tersebut. Nikah misalnya, (harus) mengandung tiga aras kesadaran tersebut: [I] sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) [2] sebagai media membangun hubungan komunikasi sosial (menyatukan dua keluarga) [3] sebagai salah satu bentuk perwujudan ketaatan (ibadah) manusia kepada Tuhannya.

Dengan mengacu pada tiga aras kesadaran itu, maka dapat dilihat bahwa pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah (materialisme, atau dalam bentuk khususnya hedonisme) hanya merupakan pemenuhan aras kesadaran psikobiologis. Bukankah seks bebas, pengkonsumsian alkohol dan obat-obatan terlarang, atau korupsi, adalah perilaku-perilaku menyimpang yang tak mengindahkan nilai-nilai sosial, apalagi nilai-nilai transendental.

Yang lebih mencemaskan lagi, perilaku-perilaku tersebut tak jarang dijadikan sebagai pelarian atau pelampiasan dari krisis spiritualisme yang mereka alami. Inilah yang oleh Veronica Suprapti (1997) disebut sebagai hedonisme instan yakni merasakan kenikmatan puncak dengan jalan pintas.

Peran Penting Puasa

Puasa Ramadan mengajarkan kepada kita betapa pemenuhan hawa nafsu (aras kesadaran psikobiologis) harus dikendalikan. Pengendalian hawa nafsu ini sangat penting untuk menghindari kejatuhan manusia dari makhluk spiritual. Sebab, jika bandul keseimbangan spiritualisme manusia terus terseret pada ekstrem pemenuhan kebutuhan material, maka manusia tak ubahnya seperti binatang, yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk pemenuhan kebutuhan lahiriyah semata.

Identifikasi manusia sebagai binatang sesungguhnya sebuah aib besar. Ini terutama jika dikaitkan dengan “desain” Allah bahwa manusia adalah “puncak” ciptaaan-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan; Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (AI Isra/17:70; baca juga At Tiin/95:4).

Memang, manusia, seperti kita ketahui dari Al Qur’an, tercipta dari tanah (Al Hijr/15:28; Al Mukminun/23:12). Asal muasal pcnciptaan dari tanah (materi) itulah yang menimbulkan keinginan-keinginan material (biologis) yang dalam beberapa hal, keinginan-keinginan biologis itu sama dengan keinginan biologis yang dipunyai binatang (misalnya, makan-minum dan berhubungan seksual). Tetapi, tentu saja manusia tidak sama dengan binatang, termasuk jika kita kaitkan dengan asal muasal kejadian. Dalam penjelasan Al Qur’an kita dapati keterangan bahwa manusia juga mengandung unsur penciptaan dari ruh (non material): “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)­Ku, maka sujudlah kamu kepadanya” (Al Hijr/15:29; Shaad/38:72; As Sajdah/32:9).

Adanya unsur kejadian non-material (ruh) itulah yang membedakan, bahkan melebihkan atau membuat lebih, manusia dibandingkan makhluk lainnya. Karena itu pula, Allah memerintahkan makhluk lain (malaikat) untuk bersujud kepada Adam, “bapak” manusia (Al Hijr/15:29). Dengan demikian, predikat manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah bukan semata didasarkan kepada keunggulan fisik-material, melainkan justru terletak pada keunggulan non fisik-material, yang tidak dimiliki makhluk lain.

##

Di samping melatih pengendalian hawa nafsu, puasa Ramadhan juga mengasah kepekaan sosial (aras psikososial) pelakunya. Mereka dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan kebaikan sosial (sedeqah, saling tolong menolong). Mereka pun diarahkan untuk meninggalkan kejahatan-kejahatan sosial (menghardik, mencela, bertengkar).

Sebuah riwayat mengabarkan bahwa seorang wanita sedang mencaci-maki pembantunya di bulan Ramadhan. Kabar ini didengar Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasulullah lalu menegurnya, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu”. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Riwayat di atas menarik untuk kita kaji, karena Islam yang di antaranya dipraktikkan lewat ibadah puasa, sangat menghormati terbangunnya hubungan sosial yang harmonis. Sekalipun hubungan itu adalah antara majikan dengan pembantu, yang pada realitas umumnya selalu didominasi oleh sang majikan (artinya majikan bisa sekehendak hati memperlakukan pembantu).

Dalam Islam, orang yang berpuasa bukan saja diukur dari parameter fisikal (tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri), melainkan juga dinilai dari perilaku sosialnya. Bahkan puasa menjadi semacam garansi bagi pelakunya untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan.

Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela,” sabda Rasulullah SAW. Apa artinya? Ternyata Islam sangat berkepentingan untuk membangun masyarakat yang beradab.

###

Yang tak kalah pentingnya, (puasa) Ramadan juga mengajak manusia untuk memperdekat jarak hubungan transendental dengan Tuhan-nya. Shalat, dzikir, istighfar, dan doa, adalah amalan-amalan penting bagi para pelaku puasa. Dengan amalan-­amalan itu, diharapkan mereka bisa semakin meyadari pentingnya Tuhan dalam kehidupan manusia. Bahwa Tuhan selalu dekat manusia dan selalu mengawasi gerak-geriknya. “Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan” (AI Hadiid/57:4)

Semangat selalu diawasi Tuhan adalah sikap yang sangat mendasar. Sebab dengan sikap seperti itu, kita akan menjadi hamba Tuhan yang benar. Di manapun dan kapanpun berada, kita tidak akan berani melanggar perintah-larangan-Nya. Bukankah Tuhan akan selalu “memergoki” kita, di saat taat atau di saat maksiat.

Semangat selalu diawasi Tuhan betul-betul dipraktekkan dengan baik ketika kita sedang beribadah puasa, suatu ibadah yang private, sebab, siapakah yang mengetahui bahwa seseorang itu berpuasa selain Tuhan dan orang itu sendiri? Mungkin saja seseorang di siang hari nampak lesu, lemah dan tak berdaya; yakni, mempunyai tanda-tanda lahiriah bahwa dia adalah seorang yang sedang berpuasa. Namun tentu saja hal itu tidaklah merupakan jaminan bahwa dia benar-benar berpuasa, sebab mungkin saja dia melakukan sesuatu yang membatalkan puasa ketika sedang sendirian, misalnya dengan meneguk segelas air.

Dengan dekat dengan Tuhan, manusia akan selalu terkontrol, tak perlu lagi merasa teraleniasi, dan pada akhirnya akan terhindar dan terbebas dari krisis spiritualisme.

        Di sinilah peran penting (puasa) Ramadhan. Manusia beriman pasti bangga dan terharu menyambutnya. Inilah kesempatan terbaik bagi manusia modern untuk kembali pada jati dirinya sebagai makhluk spiritual.

Marhaban ya Ramadhan!

Sidojangkung, 7 September 2007

Mohammad Nurfatoni
Dimuat Majalah Muslim, Edisi September 2007

Puasa yang Memenjarakan Tuhan

Ramadan 1428 datang menghampiri kita. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kita sambut dengan semangat suka cita, Marhaban ya Ramadan! Terkandung juga semangat perubahan di dalamnya. Berubah dan berbenah ke arah yang lebih baik, seperti pesan puasa itu sendiri

Namun, di samping mengandung semangat optimisme, ada pertanyaan penting yang perlu dikemukakan, berkaitan dengan semangat perubahan itu. Benarkah puasa telah benar-benar mengubah perilaku masyarakat kita?

Bertahun-tahun Ramadan datang, namun tetap saja masyarakat kita begini-begini saja. Tingkat korupsi malah meningkat tinggi, bahkan seolah sudah mendarah daging dalam berbagai sektor masyarakat. Jumlah penduduk miskin tidak malah berkurang. Vandalisme merajalela, main serobot hak orang lain makin membabi-buta, tingkat konsumerisme yang tinggi. Pemakaian narkoba, minuman keras, perselingkuhan, dan perjudian masih tetap jalan. Pertanyaannya adalah apakah ajaran puasa yang salah salah? Atau kita salah dalam memahami dan menjalankan ibadah puasa?

Puasa Normatif

Secara normatif, puasa selama ini dianggap punya beberapa “kesaktian” dalam memperbaiki perilaku pelakunya. Pertama, puasa adalah jalan untuk pengendalian hawa nafsu. Dalam puasa kita diuji secara ekstern untuk mengendalikan keinginan-keinginan, meskipun keinginan itu sah dan halal. Dengan teori itu, kita diharapkan mampu mengendalikan keinginan-keinginan yang tidak sah dan haram: jangan makan makanan haram (babi, bangkai, darah); jangan pula makan makanan yang diperoleh dengan cara haram (mencuri, merampok, korupsi); jangan minum minuman haram (bir, arak, tuak); jangan pula menenggak barang haram (narkotik dan obat-obatan terlarang); jangan mendekati dan berbuat zina (seks pra-nikah, selingkuh)!

Tidak cukup itu saja, puasa juga dianggap sebagai jalan menuju pola hidup zuhud (bersahaja, sederhana, tidak kedonyan). Dalam puasa, kita diajari bagaimana memanfaatkan kepemilikan secara bersahaja; tidak menghambur-hamburkan dan berfoya-foya, meskipun kita sadar itu milik kita, bahkan sesuatu yang berlimpah. Kita makan cuma dua waktu (buka dan sahur, dengan rentang waktu sekitar 14 jam).

Kedua, puasa adalah jalan menuju pola hidup sosial (berbagi empati, berbagi kepedulian, berbagi kelebihan). Dengan merasakan tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang cukup panjang, kita diharapkan mampu berempati, betapa sengsaranya kawan-kawan kita yang serba kekurangan. Mereka lapar tapi tidak cukup tersedia makanan. Mereka haus, tapi tidak tersedia minuman. Puasa mengajari kita untuk perhatikan mereka yang tertindas, yang fakir-miskin, yang tergilas oleh mesin pembangunan. Maka penuhi hak-hak mereka yang selama ini kamu genggam erat-erat; bukankah dalam kelimpahan hartamu, terkandung hak-hak fakir-miskin.

Ketiga, puasa adalah jalan untuk proses berpikir dan bertindak jernih untuk kepentingan jangka panjang. Dengan bertahan untuk tidak tergoda oleh hal-hal yang menggoda selera sebelum waktunya tiba. Orang yang berpuasa pada dasarnya berlatih sekaligus memperagakan proses bersikap sistematis jangka panjang. Dengan mempertahankan kemurnian puasa melalui kalimat “inni shaimun” (sesungguhnya aku sedang berpuasa) ketika ada pihak-pihak lain yang memprovokasi untuk berbuat tercela, maka sesungguhnya kita telah memperagakan model berpikir jernih jangka panjang.

Keempat, puasa adalah jalan menuju kejujuran dan tanggungjawab. Dalam puasa sejati, kita tidak akan mencuri minum seteguk air pun, meskipun orang lain tidak tahu. Inilah peragaan penting sikap jujur dan rasa tanggungjawab kita. Bahwa jujur dan bertanggungjawab itu tidak tergantung pada pihak-¬pihak lain, melainkan sangat dipengaruhi oleh kesadaran kita sendiri sebagai makhluk yang selalu mendapat perhatian dan pengawasan Tuhan.

 

Penjara

Dalam perspektif normatif seperti diuraikan di atas, tentu puasa akan menjadi alat yang sangat ampuh untuk memperbaiki kondisi masyarakat kita yang mayoritas Muslim, dan tentu saja mayoritas juga menjalankan puasa. Tetapi faktanya, tidak seperti itu. Masyarakat kita sangat permisif, juga koruptif. Kejahatan terjadi di mana-mana. Sebutan preman bukan lagi dalam pengertian konvensional, melainkan sudah bergeser pada “preman berdasi”, juga “preman berjubah”. Pertanyaannya, mengapa puasa aktual tidak sama dengan puasa dalam ideal?

Salah satu jawabannya adalah kegagalan kita dalam memaknai pesan Rasulullah SAW berkaitan dengan puasa ini. Dalam pesan khutbahnya menyambut Ramadan, Rasulullah SAW memang memberi motivasi sangat kuat untuk berbuat kebajikan, dengan imbalan-imbalan yang istimewa. Misalnya Rasulullah SAW berpesan, “… Barang siapa melakukan salat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan 70 salat fardhu di bulan lainnya. Barang siapa memperbanyak salawat di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan yang lain ringan. Barang siapa di bulan ini membaca satu ayat Alquran, sama nilainya dengan mengkhatam Alquran pada bulan yang lain.”

Kegagalan dalam menangkap pesan itu adalah ketika kita menganggap hanya pada bulan Ramadan ini saja dianjurkan berbuat kebaikan karena pahalanya berlipat-lipat, dan dilarang menjalankan kejahatan. Sebagai akibat kegagalan memaknai pesan itu kita menjadikan bulan Ramadan sebagai “penjara” Tuhan. Seolah-olah Tuhan itu hanya ada di bulan Ramadan, sehingga kita benar-benar taat pada Tuhan. Kita berbanyak amal kebaikan dan sedapat mungkin meninggalkan keburukan di bulan ini.

Maka kita perhatikan orang berlomba-loma berbuat kebajikan di bulan Ramadan, bahkan zakat maal yang ketentuannya hanya berbunyi dikeluarkan setahun (tanpa menyebut bulan), harus pula dikeluarkan di bulan Ramadan. Masjid menjadi sangat ramai (malah bising) oleh pengeras suara orang membaca Alquran. Masjid-masjid penuh oleh jamaah salat tarawih, sebuah salat malam (tahajjud) yang sangat populer, tapi tidak populer di luar Ramadan. Jumlah peminta-minta di sekitar tempat ibadah meningkat tajam. Bahkan televisi pun sok alim di bulan Ramadan, menyajikan acara-acara yang bernuansa relijius. Sebaliknya, kejahatan sedapat mungkin dihentikan, sampai-sampai lokalisasi pelacuran dan tempat hiburan malam harus tutup khusus di bulan Ramadan.

Tentu, kebiasaan memenjarakan Tuhan pada bulan Ramadan memberi efek domino. Di luar bulan Ramadan, Tuhan pun akhirnya dipenjara pada tempat-tempat suci belaka. Bagaimana tidak disebut “memenjarakan” Tuhan, jika Tuhan hanya “digantung” di pojok masjid atau di mimbar majelis taklim! Sementara di kantor, di pasar, di pabrik, di pusat hiburan, atau di istana, Tuhan dicampakkan.

Artinya, ketika di tempat-tempat suci kita menjadi orang yang sangat santri, yang taat dan alim, tetapi ketika di kantor kita korupsi, di pasar kita melakukan kecurangan, di pusat hiburan kita mengumbar hasrat maksiat, dan di istana kita menjadi otoriter dan menindas. Jadi, meskipun kita percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kita hiraukan sama sekali di luar tempat dan waktu suci. Di tempat-waktu itu perintahnya kita tendang dan larangannya kita jebol.

Seolah-olah kita adalah sosok manusia yang tidak mengenal Tuhan, sehingga bisa bertindak bebas nilai. Dan sebaliknya, ketika kita berada di tempat-waktu suci, kita berlagak sangat akrab dengan Tuhan. Berkerudung, berpeci, memisahkan jarak dengan wanita/pria (berhijab), khusyuk, tidak (berani) mengorupsi dana masjid, tidak mabuk-mabukan di masjid (mana ada orang mabuk di masjid?), dan sebagainya.

Memenjarakan Tuhan sama artinya dengan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan, bahwa Tuhan hanya berhak mengatur kita di tempat-tempat sakral dan tidak berhak mengatur kita di tempat-tempat profan. Tuhan yang kekuasaannya mutlak hanya kita batasi pada wilayah kekuasaan spiritual. Sementara soal-soal dunia (bekerja dan bergaul) wilayah kekuasaannya kita kangkangi sendiri. (*)

Mohammad Nurfatoni

Aktivis FOSI (Forum Studi Islam) Surabaya

Dimuat Surabaya Post, 12 September 2007