Binatang Manusia?

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunannya untuk mendengar; mereka rnempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar: Mereka itu sebagai binatang ternak (an’am), bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al a’raf/7: 179).

Menarik sekali ketika kita membaca peringatan Allah sebagaimana tersebut pada ayat di atas! Bahwa ada manusia (juga jin) yang disebut Allah sebagai binatang (an’am), bahkan lebih rendah lagi dari binatang.

Sebagai bagian dari manusia, mungkin ada perasaan tidak enak, ketika kita (manusia) disebut sabagai binatang. Tetapi, karena yang menyebut adalah Tuhan, maka itulah kebenaran yang mesti kita imani. Tetapi yang patutuntuk kita pertanyakan adalah bagaimana sampai terjadi fenomena manusia sebagai binatang?

Terperosok dari Puncak Kemuliaan

Identifikasi manusia sebagai binatang sesungguhnya sebuah aib besar. Ini terutama jika dikaitkan dengan “desain” Allah bahwa manusia adalah “puncak” ciptaaan-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan; Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan ntereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (AI Isra/17:70; baca juga At Tiin/95:4).

Berkaitan dengan penempatan manusia sebagai makhluk terhormat itu, Allah telah merendahkan (menundukkan) alam semesta, yang termasuk di dalamnya adalah binatang: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin”(Luqman/31:20; baca juga AI Jatsiyah/45: 13).

Dengan memahami posisi manusia sebagai makhluk terbaik itu, maka fenomena manusia sebagai binatang adalah sebuah kemerosotan yang luar biasa. Itulah keterperosokan manusia dari puncak kemuliaan menuju jurang kehinaan. Persis seperti penggambaran Allah dalam surat At Tiin 4-5: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”.

Kembali pada pertanyaan di atas, bagaimana sampai terjadi fenomena manusia sebagai binatang? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya jika kita kembali kepada pemahaman asal muasal penciptaan manusia.

Manusia, seperti kita ketahui dari AI Qur’an, tercipta dari tanah (Al Hijr/15:28; baca juga Al Mukminun/23:12). Asal muasal pcnciptaan dari tanah (materi) itulah yang menimbulkan keinginan-keinginan material (biologis) yang daslam beberapa hal, keinginan-keinginan biologis itu sama dengan keinginan biologis yang dipunyai binatang (misalnya, makan-minum dan berhubungan seksual). Tetapi, tentu saja manusia tidak sama dengan binatang, termasuk jika kita kaitkan dengan asal muasal kejadian. Dalam penjelasan Al Qur’an kita dapati keterangan bahwa manusia juga mengandung unsur penciptaan dari ruh (non material): “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)­Ku, maka sujudlah kamu kepadanya” (AI Hijr/15:29; baca juga Shaad/38:72). “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu perdengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (As Sajdah/32:9).

Adanya unsur kejadian non-material (ruh) itulah yang membedakan, bahkan melebihkan atau membuat lebih, manusia dibandingkan makhluk lainnya. Karena itu pula, Allah memerintahkan makhluk lain (malaikat) untuk bersujud kepada Adam, “bapak” manusia (Al Hijr/15:29). Dengan demikian, predikat manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah bukan semata didasarkan kepada keunggulan fisik-material, melainkan justru terletak pada keunggulan non fisik-material, yang tidak dimiliki makhluk lain.

Oleh karena itu, menarik untuk kembali menelaah surat At A’raf/7:179 dan surat Sajdah/32:9 di atas. Dijelaskan bahwa setelah diberi ruh oleh Allah, manusia memiliki kemampuan untuk mendengar, melihat, dan af’idah (hati). Tentu saja, mendengar, melihat, dan memahami dengan hati yang dimaksud bukan dalam pengertian fisik melainkan lebih pada non-fisik. Lebih tegas hal ini terungkap dari surat AI A’raf/7:179: “… mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar… “.

Ketika manusia mampu memahami dengan hatinya, melihat dengan matanya, dan mendengar dengan telinganya, maka manusia akan menemui kesempurnaannya sebagai manusia terhormat. Tetapi, kebanyakan manusia tidak mampu melakukan itu. Yang justru terjadi adalah manusia sekedar memanfaatkan potensi fisiknya untuk semata-mata memenuhi kebutuhan biologisnya. Jika ini yang terjadi, maka tak ubahnya manusia itu seperti binatang; yang dalam melihat fenomena sekelilingnya tanpa harus mempertimbangkan nilai-nilai. Padahal, a’fidah (hati), a’yunun (mata), dan udzunun (telinga) adalah alat penilai terhadap fenomena-fenomena.

Oleh karena itu di kalangan manusia dikenal perbuatan baik atau buruk, makanan halal atau haram, perkataan pantas atau arogan. Pada manusia dibedakan antara zina dengan nikah, bekerja dengan mencuri (korupsi), menasehati dengan mencela. Sedang pada binatang hal-hal seperti itu tidak dikenal. Semua persetubuhan adalah “halal”, tidak ada konsep perkosaan, perselingkuhan, atau seks pra nikah; semua makanan adalah “halal”, tidak dikenal hasil curian atau rampokan; semua perbuatan adalah pantas (bertelanjang pantas, yang kuat menerkam yang lemah pantas, bermesraan jantan-betina pantas, bersuara apa saja pantas).

Jika ada (banyak) manusia yang menganggap bertelanjang (semi, setengah, apalagi bulat), bersetubuh tanpa nikah, atau menindas yang lemah sebagai hal-hal yang wajar, maka bukankah ini tak ubahnya binatang (binatang manusia?) Bahkan lebih hina dari binatang! Bukankah binatang melakukan itu tanpa perangkat akal, sedangkan manusia melakukannya dengan potensi akal?

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 52 Tahun ke-4, 21 Juli 2000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s