Manusia: Rahib atau Manusia?

Istri ‘Utsman ibn Mazh’un bertandang ke rumah para istri Nabi SAW dan mereka ini melihatnya dalam keadaan yang buruk. Maka mereka bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi dengan engkau? Tidak ada di kalangan kaum Quraysh orang yang lebih kaya dari suamimu!” la menjawab: “Kami tidak mendapat apa-­apa dari dia. Sebab malam harinya ia beribadat, dan siang harinya ia berpuasa! “Mereka pun masuk kepada Nabi dan menceritakan hal tersebut. Maka Nabi pun menemui dia (‘Utsman bin Mazh’un), dan bersabda: “Hai ‘Utsman! Tidakkah padaku ada contoh bagimu?!” Dia menjawab: “Demi ayah-ibuku, engkau memang demikian.” Lalu Nabi bersabda: “Apakah benar engkau berpuasa setiap hari dan tidak tidur (beribadat) setiap malam?” Dia menjawab: “Aku memang melakukannya.” Nabi bersabda: “Jangan kau lakukan! Sesungguhnya matamu punya hak atas engkau, dan keluargamu punya hak atas engkau! Maka sembahyanglah dan tidurlah, puasalah dan makanlah!”

*

‘Utsman ibn Mazh’un membeli sebuah rumah, lalu ia tinggal di dalamnya (sepanjang waktu) untuk beribadat. Berita itu datang kepada Nabi SAW, maka beliau pun datang kepadanya, lalu dibawahnya ke pintu keluar rumah di mana ia tinggal, dan beliau bersabda: “Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Allah tidaklah mengutus aku dengan ajaran kerahiban” (Nabi bersabda demikian dua-tiga kali, lalu bersabda lebih lanjut), “Dan sesungguhnya sebaik-baik agama di sisi Allah ialah hanifiyat al-samhah (semangat pencarian Kebenaran yang lapang).”

**

Berita sampai kepada Nabi SAW bahwa segolongan sahabat beliau menjauhi wanita dan menghindari makan daging. Mereka berkumpul, dan kami pun bercerita tentang sikap menjauhi wanita dan makan daging itu. Maka Nabi pun memberi peringatan keras, dan bersabda: “Sesungguhnya aku tidak diutus dengan membawa ajaran kerahiban! Sesungguhnya sebaik-baik agama ialah haniffiyat al-samhah (semangat pencarian Kebenaran yang lapang).”

***

Makna apa yang terkandung pada hadis-hadis yang dikutip oleh Jamal al-Din Abu AI Faraj Abd-al-Rahman dalam kitabnya, Tablis Iblis, seperti dikutip Nurcholish Madjid dalam tulisan “Beberapa Renungan tetang Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang’? Jika boleh disimpulkan, maka hakekat terpenting yang dapat dipetik dari hadis di atas ialah bahwa Nabi SAW (agama [slam) hendak menempatkan manusia, tentu, bukan hanya Utsman ibn Mazh’un, pada posisi kemanusiaannya. Bahwa manusia itu bukan malaikat, yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan bendawi (makan, tidur, atau berhubungan seksual).

Kecenderungan pada haI-hal bendawi ini sangatlah alamiah, terutama jika dikaitkan dengan salah satu unsur pembentuk manusia yang berasal dari materi (tanah) [Al Mukminun/23:12; Al Hijr/15:28]. Unsur materi inilah yang dalam proses metabolisme tubuh (fisik) manusia membangunkan keinginan-keinginan­, bahkan kesadaran-kesadaran, bendawi manusia. Misalnya, ketika kerongkongan kering, maka timbul kesadaran untuk minum; ketika lambung kosong, maka muncul kesadaran untuk makan; ketika badan lelah maka muncul kesadaran untuk istirahat (tidur), dan seterusnya.

Oleh karena makan, minum, tidur, atau berhubungan seksual adalah hal-hal yang alamiah (“fitrah”) pada diri manusia. Sebuah penghianatan besar jika keinginan-­keinginan tersebut dikubur dalam-dalam dari sisi kehidupan manusia. Maka Nabi SAW memperingatkan dengan keras kepada Utsman ibn Mazh’un, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah tidaklah mengutus aku dengan ajaran kerahiban”.

Ajaran kerahiban (rahbaniyyahlmonastisisme), sangat ditentang oleh Islam karena kerahiban adalah bentuk pengamalan keagamaan yang tidak wajar, tidak alarm, dan tidak sejalan dengan fitrah manusia, dengan akibat pengingkaran hak kemanusiaan diri clan orang lain.

Istilah kerahiban sendiri dipakai karena dalam tradisi kerahiban (juga kependetaaan) dikenal perilaku sikap hidup menghindar dari dunia atau mengingkari pemenuhan kebutuhan alami atau biologis manusia, misalnya dengan tidak beristri, atau pada tingkat ektrem tertentu melakukan pertapaan, sebagai simbolisasi atau usaha meninggalkan hiruk-­pikuk kehidupan dunia, yang dalam pandangan mereka hanyalah sebuah penderitaan. Karena hidup di dunia adalah penderitaan, dan penderitaan lahir karena keinginan-keinginan (bendawi: bilologis dan alami), maka bunuhlah keinginan-­keinginan itu! Jangan beristri/bersuami, jangan makan-minum, jangan berdandan (berpakaian pantas), jangan bekerja!

Islam menolak keras sistem kerahiban. “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal kami tidak mewajibkan kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah …” (AI Hadiid/57:27). Nabi Muhammad SAW sendiri, meskipun, sekali lagi, seorang Nabi, yang mulia dan suci, tetap menyandang sisi kemanusian. “Hai Utsman! Tidakkah padaku ada contoh bagimu?” kata Nabi SAW, seolah menegaskan betapa seorang Nabi pun tetap bergelut dengan sisi-sisi kemanusiaan; beristri dan memberikan hak-hak istrinya; berbuka (tidak terus-menerus berpuasa), dan juga bisa tidur.

Jika Nabi saja masih seperti ilu, lantas manusia shaleh macam apa yang hendak diharapkan Utsman ibn Mazh’un; atau dengan kata lain Utsman hendak mencontoh siapa? Padahal, Nabi SAW adalah sebaik-baik teladan (AI Ahzab/33:21). Maka Nabi mengingatkan, “Sesungguhnya matamu punya hak atas engkau, dan keluargamu punya hak atas engkau! Maka sembahyanglah dan tidurlah, puasalah dan makanlah!”

Jadi manusia itu bukan malaikat, bukan pula jin. Jangan pula jadi rahib dan pendeta. Tetapi, jadilah manusia sejati. Manusia yang memiliki kecenderungan alami; manusia yang dekat pada fitrahnya!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 51 tahun ke-4, 14 Juli 2000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s