Tuhan Terpenjara

Alkisah, seorang yang tidak percaya akan eksistensi Tuhan terdampar di lautan lepas; sendirian dalam tragedi perahu karam. Tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan. Pikirannya lebih tertuju kepada kematian dari pada keselamatan. Namun, tiba-­tiba dia berkata, “Tuhan, sekarang aku percaya Engkau ada. Selamatkan aku!”.

Konon pada akhirnya dia tertolong selamat. Bagaimana reaksinya? “Tuhan, Kau kutipu,” katanya dengan sombong. “Aku tidak percaya bahwa Tuhan ada. Kucapai keselamatan berkat kegigihanku,” lanjutnya.

Apa makna kisah di atas? Banyak jawaban yang bisa diberikan, misalnya bahwa sebenarnya manusia—sekalipun secara verbal tidak percaya Tuhan—masih menyimpan naluri ketuhanan, terutama jika dalam kondisi kepepet. Bisa juga dimaknai bahwa manusia memiliki potensi untuk meninggalkan Tuhan jika sedang bersuka atau dalam keadaan berdaya. Atau bisa pula dimaknai betapa manusia menyimpan sifat ganda (hipokrit); satu sisi percaya kepada Tuhan, tapi di sisi lain justru meninggalkannya. Dalam bahasa lain, inilah yang disebut dengan tindakan “memenjarakan” Tuhan.

Iman Bukan Sekedar Percaya

Beriman kepada Tuhan, tidak cukup diartikan percaya bahwa Tuhan itu ada. Kalau iman sekedar diartikan seperti itu, bisa dikatakan jika Iblis adalah makhluk yang paling beriman. Bukankah Iblis pernah langsung berdialog dengan Tuhan; jadi tidak sekedar percaya Tuhan itu ada (“dialog” iblis dengan Tuhan dalam Al Hijr/ 15:32-44).

Selain iblis, manusia yang tergolong beriman—sekali lagi jika iman berarti sekedar percaya—adalah orang musyrik. Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum musyrik); Siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka akan menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat berpaling (dari kebenaran)?”(Az Zuhruf/43:87).

Pertanyaannya, meskipun iblis dan orang musyrik itu tahu dan percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi mengapa mereka tidak disebut kaum beriman bahkan dengan tegas dikutuk Tuhan. Jawabannya adalah, meskipun mereka percaya akan adanya Tuhan, tetapi mereka tidak mempercayai Tuhan. Sebaliknya, mereka lebih mempercayai tuhan-tuhan palsu (ego atau thaghut).

Jadi, iman tidak cukup hanya percaya akan adanya Tuhan, tetapi harus pula mempercayai Tuhan itu dalam kualitas-Nya sebagai satu-satunya yang bersifat keilahian (ketuhanan), dan sama sekali tidak memandang adanya kualitas serupa kepada sesuatu apa pun yang lain. Selanjutnya, dan sebagai konsekuensinya, karena kita mempercayai Tuhan, maka kita harus bersandar sepenuhnya kepada-Nya, termasuk di dalamnya berwujud dalam bentuk ketaatan. Dia-lah tempat kita mengantungkan harapan; Dia-lah sumber kebenaran dan ketaatan. Jadi, iman di samping bermakna percaya kepada Tuhan, juga harus mengandung konsekuensi bagi kita mempercayai Tuhan dan mempercayakan diri kita sepenuhnya untuk diatur-Nya.

Tuhan Dipenjarakan

Jika orang beriman sangat ikhlas untuk “dipenjara” oleh nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan, maka orang yang sekedar percaya kepada Tuhan justru seringkali “memenjarakan” Tuhan.

Bagaimana tidak disebut “memenjarakan” Tuhan, jika Tuhan hanya “digantung” di pojok masjid, di mimbar majelis taklim, atau di bulan Ramadhan! Sementara di kantor, di pasar, di pabrik, di pusat hiburan, atau di istana, Tuhan dicampakkan. Artinya, ketika di tempat-tempat “suci” kita menjadi orang yang sangat santri, yang taat dan alim (dalam bahasa Jawa), tetapi ketika di kantor kita korupsi, di pasar kita melakukan kecurangan, di pusat hiburan kita mengumbar hasrat maksiat, dan di istana kita menjadi otoriter.

Demikian juga, kita sering hanya sangat taat kepada Tuhan ketika ada di bulan Ramadhan, sehingga sering ada dikotomi: di dalam bulan Ramadhan kita tidak berbohong, tidak maksiat (ingat ditutupnya [dikurangi jam buka] hiburan malam di bulan Ramadhan), tidak pacaran, dan sebagainya, tetapi di luar bulan Ramadhan? (logika terbaliknya, bisa!).

Jadi, meskipun kita percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kila hiraukan sama sekali di luar tempat-waktu suci. Di tempat-waktu itu perintahnya kita tendang dan larangannya kita jebol. Seolah-olah kita adalah sosok manusia yang tidak mengenal Tuhan, sehingga bisa bertindak bebas nilai. Dan sebaliknya, ketika kita berada di tempat-waktu suci, kita berlagak sangat akrab dengan Tuhan: berkerudung, berpeci, memisahkan jarak dengan wanita/pria (baca, berhijab), khusyu’, tidak (berani) mengorupsi dana masjid, tidak mabuk-mabukan di masjid (mana ada orang mabuk di masjid?), dan sebagainya.

Memenjarakan Tuhan sama artinya dengan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan, bahwa Tuhan hanya berhak mengatur kita di tempat-tempat sakral dan tidak berhak mengatur kita di tempat-tempat profan. Tuhan yang kekuasaannya mutlak hanya kita batasi pada wilayah kekuasaan spiritual. Sementara soal-soal “dunia” (bekerja dan bergaul), wilayah kekuasaannya kita kangkangi sendiri. Inikah yang disebut musyrik?

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 44 tahun ke-4, 26 Mei 2000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s