Resensi Buku Saya oleh suarasurabaya.net

19 September 2008, 16:02:56, Laporan Noer Soetantini

Tuhan yang Terpenjara

suarasurabaya.net| Judul buku : Tuhan yang Terpenjara
Penulis : Mohammad Nurfatoni
Penerbit : Kanzun Books
Tebal : 156 halaman

Tuhan yang terpenjara, menunjukkan adanya relasi yang tidak benar antara manusia dan Tuhan. Sebagai Sang Pencipta, mestinya Tuhan yang berhak ‘memenjara’ ciptaan-Nya. Artinya, Tuhan-lah sebenarnya yang menjadi subyek dalam kehidupan ini. Dia berhak mengatur ciptaan-Nya dengan seperangkat sistem nilai, baik yang berupa hukum kauniyyah (hukum alam, yang tidak tertulis) maupun kauliyyah (hukum sosial yang tertulis).

Namun yang terjadi justru, manusia sebagai satu diantara ciptaan-Nya, malah ‘memenjarakan’ Tuhan. Memenjarakan di sini tidak dalam pengertian fisik melainkan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan yakni persoalan-persoalan sacral atau pada tempat-tempat suci saja. Di luar wilayah itu, menjadi wewenang manusia. (Penulis)

Sinopsis :

Jika orang beriman, dia akan sangat ikhlas ‘dipenjara’ oleh nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan, maka orang sekadar percaya kepada Tuhan yang justru ‘memenjarakan’ Tuhan. Buku ini akan mengajak Anda menjelajah ke ruang logika dan spiritual dengan topik-topik menarik , antara lain , Anti Tuhan (palsu), Kultus Menjelma Tuhan, Tuhan Sang Pengintai, Tuhan kok Ditolong.

Misalnya dalam paparan Tuhan kok Ditolong, mungkin membaca sekilas muncul di benak kita, Tuhan kok ditolong! Bagaimana mungkin, kita manusia yang serba nisbi, menolong Tuhan, wujud yang Mutlak itu. Sementara dalam doa-doa, justru kita yang berharap pertolongan Tuhan?

Penulis mencoba menjelaskan bahwa ungkapan menolong Tuhan ternyata kita dapatkan dalam Al-Quran yakni “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakanmu” (Muhammad 47:7). Atau dalam ayat lain, “Sesungguhnya, Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya”. (Al-Haj 22:40).

Yang dimaksud menolong Tuhan dalam konteks ayat di atas yakni manusia berusaha dengan penuh kesungguhan untuk melaksanakan ajaran-ajaran-Nya. Kalau ini dilaksanakan Tuhan akan kita dimana Dia akan membuat mudah usaha melaksanakan ajaran-ajaran-Nya dengan dampak kebaikan dalam hidup kita, halaman 46.

Deskripsi :
Buku ini sangat menarik bagi siapa yang ingin mendalami tentang keimanan. Pasalnya, penulis menyajikan topik-topik menarik dalam bahasa yang mudah kita pahami. Setiap topik yang dipaparkan, langsung dijelaskan sehingga tidak terkesan penulis menceramahi pembaca.

Dengan membaca buku ini, kita akan menjadi tahu apakah kita masuk kumpulan orang-orang yang ‘memenjarakan’ Tuhan atau sebaliknya. Kalau ingin tahu, simak buku yang memberikan pemahaman yang segar tentang Islam. Apalagi di bulan Ramadhan ini, hal yang positif dan dianjurkan untuk meningkatkan pemahaman kita soal Islam.

Versi asli bisa diklik di http://www.suarasurabaya.net/v05/resensibuku/

?id=ce01d46a25537e5148fa365506c29d9c200856688

Tuhan Terpenjara

Alkisah, seorang yang tidak percaya akan eksistensi Tuhan terdampar di lautan lepas; sendirian dalam tragedi perahu karam. Tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan. Pikirannya lebih tertuju kepada kematian dari pada keselamatan. Namun, tiba-­tiba dia berkata, “Tuhan, sekarang aku percaya Engkau ada. Selamatkan aku!”.

(lebih…)

Tuhan Mengawasi Kita

Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah maha Teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan (Al Hadiid/57:4)

 

Ketika kita percaya akan eksistensi Tuhan, maka sebagai konsekuensinya, kita selalu merasa diawasi—betatapun kita tidak mampu menangkap substansi (sosok)-Nya. (lebih…)

Menolong Tuhan

Wahai sekalian orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakan” (Muhammad/47:7)

Ungkapan menolong Tuhan, tentu terdengar ganjil di telinga kebanyakan orang. Sebab bagaimana mungkin, kita, manusia yang serba nisbi, menolong Tuhan, padahal Dia adalah Mutlak. Dan bukankah dalam doa-doa, justru kita yang memohon pertolongan Tuhan?

Tetapi, ungkapan menolong Tuhan ternyata kita dapatkan dalam AI Qur’an. “Jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakan”. Jadi, kita diharapkan menolong Tuhan, dengan balasan bahwa Tuhan akan menolong kita dan meneguhkan posisi kita.

Jadi, kalau begitu apa yang dimaksud dengan menolong Tuhan? Dalam konteks ayat di atas, maka yang dimaksud dengan menolong Tuhan itu ialah berusaha dengan penuh kesungguhan untuk melaksanakan ajaran-ajaranNya, dan sebagai bagian dari iman atau sikap menerima, mempercayai, dan memperjuangkan agama itu. Dan yang dimaksud bahwa Tuhan akan menolong kita ialah Dia akan membuat usaha melaksanakan ajaran­-ajaranNya itu mudah dan lancar, dengan dampak kebaikan yang nyata dalam hidup kita.

Balasan kebaikan karena menolong Tuhan itu dikontraskan dengan balasan keburukan karena menolak kebenaran, “Adapun mereka yang menolak (kafir), maka celakalah bagi mereka, dan Allah akan menyesatkan amal perbuatan mereka. Hal itu karena mereka benci kepada ajaran yang diturunkan Allah, maka Dia buat amal perbuatan mereka itu muspra” (Muhammad/47:8-9).

Dengan kata lain, sesungguhnya menolong Tuhan pada dasamya adalah menolong diri kita sendiri. Sebab Tuhan Yang Mutlak itu tidak butuh pertolongan dari hambanya yang lemah. sebaliknya, manusia-lah yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Berkaitan dengan dampak positip menolong Tuhan yang akhirnya kembali kepada manusia itulah, Tuhan memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjadi penolong Tuhan. “Hai orang-arang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana lsa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong Allah’… ” (Ash Shaff/61: 14).

Bagaimana penjelasan tentang menolong Tuhan sama dengan menolong diri sendiri? Pertama, Tuhan menurunkan ajaran kepada umat manusia demi kebahagiaan mereka; kedua, dengan sendirinya Tuhan “ingin” ajaran itu dilaksanakan; tapi, ketiga, hal itu terserah manusia, apakah mereka mau menerima atau tidak (Al Kahfi/18:29), sehingga manusia tidak boleh berharap Tuhan akan “turun” melaksanakan ajaranNya itu untuk manusia. Manusia harus berusaha sendiri; keempat, ajaran Tuhan itu adalah sesuatu yang alami (fitrah, natural); kelima, maka menjalankan agama yang benar itu bukanlah suatu beban, melainkan kewajaran yang mudah, karena tidak lain berarti mengikuti ketentuan-ketentuan “alami “dari Tuhan yang berlaku untuk manusia.; keenam, karena menjalankan agama itu tidak lain berarti mengikuti garis-garis kewajaran manusia sendiri, maka salah satu hasilnya adalah rasa tenteram di hati dan mantap dalam jiwa (Nurcholish Madjid, 1996).

Bagaimana penjelasan praktisnya? Jika kita ingin hidup tenteram, maka cegahlah segala kemungkaran dan kerjakan segala kebaikan. Jadi, ketentraman bisa tercapai jika masyarakat kita bebas dari minuman keras dan narkoba, perselingkuhan dan perzinaan, perampasan dan pencurian (korupsi), kekerasan dan penindasan hak asasi (anarkisme), kesewenang-wenangan politik (otoriterianisme).

Ketentraman terjadi jika masyarakat kita taat beribadah kepada Tuhan, baik secara individual maupun secara sosial (secara personal relijius [shalat, puasa, haji, zakat, nikah, dsb.]; dan secara sosial juga relijius [praktik ekonomi bebas riba, hukum waris terlaksana, hukum pidana dan perdata yang penuh dengan nilai keadilan, dsb]).

Maka, jika kita ingin menolong diri kita, membuat kehidupan kita aman tenteram, maka kita harus menolong Tuhan. Kita menolong Tuhan dengan cara memberantas segala bentuk kemungkaran dan memperluas pelaksanaan kebaikan. Dan cara yang efektif adalah pemberlakuan syariat Islam bagi kehidupan. Dalam konteks kekinian, maka menolong Tuhan adalah berusaha sekuat tenaga memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam.

Tentu, sekali lagi, kita menolong Tuhan bukan karena Tuhan butuh kita. Kita semua beriman atau kita semua kafir, tidak akan berpengaruh terhadap Tuhan. Tuhan tetap Maha Kuasa. Keimanan dan kekafiran kita tidak berpengaruh sedikit pun terhadap Tuhan.

Iman atau kafir adalah untuk kita!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif No. 48 Tahun ke-4, 23 Juli 2000

Puasa yang Memenjarakan Tuhan

Ramadan 1428 datang menghampiri kita. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kita sambut dengan semangat suka cita, Marhaban ya Ramadan! Terkandung juga semangat perubahan di dalamnya. Berubah dan berbenah ke arah yang lebih baik, seperti pesan puasa itu sendiri

Namun, di samping mengandung semangat optimisme, ada pertanyaan penting yang perlu dikemukakan, berkaitan dengan semangat perubahan itu. Benarkah puasa telah benar-benar mengubah perilaku masyarakat kita?

Bertahun-tahun Ramadan datang, namun tetap saja masyarakat kita begini-begini saja. Tingkat korupsi malah meningkat tinggi, bahkan seolah sudah mendarah daging dalam berbagai sektor masyarakat. Jumlah penduduk miskin tidak malah berkurang. Vandalisme merajalela, main serobot hak orang lain makin membabi-buta, tingkat konsumerisme yang tinggi. Pemakaian narkoba, minuman keras, perselingkuhan, dan perjudian masih tetap jalan. Pertanyaannya adalah apakah ajaran puasa yang salah salah? Atau kita salah dalam memahami dan menjalankan ibadah puasa?

Puasa Normatif

Secara normatif, puasa selama ini dianggap punya beberapa “kesaktian” dalam memperbaiki perilaku pelakunya. Pertama, puasa adalah jalan untuk pengendalian hawa nafsu. Dalam puasa kita diuji secara ekstern untuk mengendalikan keinginan-keinginan, meskipun keinginan itu sah dan halal. Dengan teori itu, kita diharapkan mampu mengendalikan keinginan-keinginan yang tidak sah dan haram: jangan makan makanan haram (babi, bangkai, darah); jangan pula makan makanan yang diperoleh dengan cara haram (mencuri, merampok, korupsi); jangan minum minuman haram (bir, arak, tuak); jangan pula menenggak barang haram (narkotik dan obat-obatan terlarang); jangan mendekati dan berbuat zina (seks pra-nikah, selingkuh)!

Tidak cukup itu saja, puasa juga dianggap sebagai jalan menuju pola hidup zuhud (bersahaja, sederhana, tidak kedonyan). Dalam puasa, kita diajari bagaimana memanfaatkan kepemilikan secara bersahaja; tidak menghambur-hamburkan dan berfoya-foya, meskipun kita sadar itu milik kita, bahkan sesuatu yang berlimpah. Kita makan cuma dua waktu (buka dan sahur, dengan rentang waktu sekitar 14 jam).

Kedua, puasa adalah jalan menuju pola hidup sosial (berbagi empati, berbagi kepedulian, berbagi kelebihan). Dengan merasakan tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang cukup panjang, kita diharapkan mampu berempati, betapa sengsaranya kawan-kawan kita yang serba kekurangan. Mereka lapar tapi tidak cukup tersedia makanan. Mereka haus, tapi tidak tersedia minuman. Puasa mengajari kita untuk perhatikan mereka yang tertindas, yang fakir-miskin, yang tergilas oleh mesin pembangunan. Maka penuhi hak-hak mereka yang selama ini kamu genggam erat-erat; bukankah dalam kelimpahan hartamu, terkandung hak-hak fakir-miskin.

Ketiga, puasa adalah jalan untuk proses berpikir dan bertindak jernih untuk kepentingan jangka panjang. Dengan bertahan untuk tidak tergoda oleh hal-hal yang menggoda selera sebelum waktunya tiba. Orang yang berpuasa pada dasarnya berlatih sekaligus memperagakan proses bersikap sistematis jangka panjang. Dengan mempertahankan kemurnian puasa melalui kalimat “inni shaimun” (sesungguhnya aku sedang berpuasa) ketika ada pihak-pihak lain yang memprovokasi untuk berbuat tercela, maka sesungguhnya kita telah memperagakan model berpikir jernih jangka panjang.

Keempat, puasa adalah jalan menuju kejujuran dan tanggungjawab. Dalam puasa sejati, kita tidak akan mencuri minum seteguk air pun, meskipun orang lain tidak tahu. Inilah peragaan penting sikap jujur dan rasa tanggungjawab kita. Bahwa jujur dan bertanggungjawab itu tidak tergantung pada pihak-¬pihak lain, melainkan sangat dipengaruhi oleh kesadaran kita sendiri sebagai makhluk yang selalu mendapat perhatian dan pengawasan Tuhan.

 

Penjara

Dalam perspektif normatif seperti diuraikan di atas, tentu puasa akan menjadi alat yang sangat ampuh untuk memperbaiki kondisi masyarakat kita yang mayoritas Muslim, dan tentu saja mayoritas juga menjalankan puasa. Tetapi faktanya, tidak seperti itu. Masyarakat kita sangat permisif, juga koruptif. Kejahatan terjadi di mana-mana. Sebutan preman bukan lagi dalam pengertian konvensional, melainkan sudah bergeser pada “preman berdasi”, juga “preman berjubah”. Pertanyaannya, mengapa puasa aktual tidak sama dengan puasa dalam ideal?

Salah satu jawabannya adalah kegagalan kita dalam memaknai pesan Rasulullah SAW berkaitan dengan puasa ini. Dalam pesan khutbahnya menyambut Ramadan, Rasulullah SAW memang memberi motivasi sangat kuat untuk berbuat kebajikan, dengan imbalan-imbalan yang istimewa. Misalnya Rasulullah SAW berpesan, “… Barang siapa melakukan salat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan 70 salat fardhu di bulan lainnya. Barang siapa memperbanyak salawat di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan yang lain ringan. Barang siapa di bulan ini membaca satu ayat Alquran, sama nilainya dengan mengkhatam Alquran pada bulan yang lain.”

Kegagalan dalam menangkap pesan itu adalah ketika kita menganggap hanya pada bulan Ramadan ini saja dianjurkan berbuat kebaikan karena pahalanya berlipat-lipat, dan dilarang menjalankan kejahatan. Sebagai akibat kegagalan memaknai pesan itu kita menjadikan bulan Ramadan sebagai “penjara” Tuhan. Seolah-olah Tuhan itu hanya ada di bulan Ramadan, sehingga kita benar-benar taat pada Tuhan. Kita berbanyak amal kebaikan dan sedapat mungkin meninggalkan keburukan di bulan ini.

Maka kita perhatikan orang berlomba-loma berbuat kebajikan di bulan Ramadan, bahkan zakat maal yang ketentuannya hanya berbunyi dikeluarkan setahun (tanpa menyebut bulan), harus pula dikeluarkan di bulan Ramadan. Masjid menjadi sangat ramai (malah bising) oleh pengeras suara orang membaca Alquran. Masjid-masjid penuh oleh jamaah salat tarawih, sebuah salat malam (tahajjud) yang sangat populer, tapi tidak populer di luar Ramadan. Jumlah peminta-minta di sekitar tempat ibadah meningkat tajam. Bahkan televisi pun sok alim di bulan Ramadan, menyajikan acara-acara yang bernuansa relijius. Sebaliknya, kejahatan sedapat mungkin dihentikan, sampai-sampai lokalisasi pelacuran dan tempat hiburan malam harus tutup khusus di bulan Ramadan.

Tentu, kebiasaan memenjarakan Tuhan pada bulan Ramadan memberi efek domino. Di luar bulan Ramadan, Tuhan pun akhirnya dipenjara pada tempat-tempat suci belaka. Bagaimana tidak disebut “memenjarakan” Tuhan, jika Tuhan hanya “digantung” di pojok masjid atau di mimbar majelis taklim! Sementara di kantor, di pasar, di pabrik, di pusat hiburan, atau di istana, Tuhan dicampakkan.

Artinya, ketika di tempat-tempat suci kita menjadi orang yang sangat santri, yang taat dan alim, tetapi ketika di kantor kita korupsi, di pasar kita melakukan kecurangan, di pusat hiburan kita mengumbar hasrat maksiat, dan di istana kita menjadi otoriter dan menindas. Jadi, meskipun kita percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kita hiraukan sama sekali di luar tempat dan waktu suci. Di tempat-waktu itu perintahnya kita tendang dan larangannya kita jebol.

Seolah-olah kita adalah sosok manusia yang tidak mengenal Tuhan, sehingga bisa bertindak bebas nilai. Dan sebaliknya, ketika kita berada di tempat-waktu suci, kita berlagak sangat akrab dengan Tuhan. Berkerudung, berpeci, memisahkan jarak dengan wanita/pria (berhijab), khusyuk, tidak (berani) mengorupsi dana masjid, tidak mabuk-mabukan di masjid (mana ada orang mabuk di masjid?), dan sebagainya.

Memenjarakan Tuhan sama artinya dengan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan, bahwa Tuhan hanya berhak mengatur kita di tempat-tempat sakral dan tidak berhak mengatur kita di tempat-tempat profan. Tuhan yang kekuasaannya mutlak hanya kita batasi pada wilayah kekuasaan spiritual. Sementara soal-soal dunia (bekerja dan bergaul) wilayah kekuasaannya kita kangkangi sendiri. (*)

Mohammad Nurfatoni

Aktivis FOSI (Forum Studi Islam) Surabaya

Dimuat Surabaya Post, 12 September 2007

Manusia sebagai Tuhan?

Sekalipun manusia adalah “puncak” ciptaan Allah, tetapi sesungguhnya manusia tidak diperkenankan untuk memposisikan dirinya lebih jauh dari itu. Diantara perilaku manusia yang telah menyimpang dari desain itu adalah sikap eksploitasi manusia terhadap alam. Sebab, betapa pun alam ini memang benar berkedudukan lebih rendah dari manusia, namun pada dasarnya seluruh alam dan manusia adalah sama­sama ciptaan Allah. Relevan dengan ini ialah penegasan Al­lah dalam surat Al An’am/6:38, “Tidaklah seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak pula seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya itu melainkan umat-umat seperti kamu juga“.

Ketidakbolehan manusia melakukan eksploitasi terhadap alam bukan saja karena alam sama-sama ciptaan Allah, melainkan juga karena alam adalah makhluk Allah yang selalu bertasbih, “Seluruh langit yang tujuh dan bumi bcrtasbih memuji-Nya, dan juga makhluk hidup di dalamnya. Dan tiada sesuatu apa pun kecuali bertasbih memuji-Nya, tapi kamu (manusia) tidak mengerti tasbih mereka” (AI Isra’/17:44).

Oleh karena itu, sekalipun manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah, dan sekalipun alam dibuat lebih rendah (taskhir) agar manusia bisa memanfaatkannya, namun hubungan manusia terhadap alam harus disertai sikap rendah hati yang sewajarnya, dengan melihat alam sebagai sumber ajaran dan pelajaran antuk menerapkan sikap tunduk kepada Allah. Manusia harus menyertai alam sekitarnya dalam bertasbih memuji Allah, antara lain dengan memelihara alam itu dan menumbuhkannya ke arah yang lebih baik (islah), dan bukannya melakukan perusakan dan kerusakan di bumi (fasad fi al-ardh: Ar Rum/30:41).

Manusia Tuhan, Tuhan Manusia

Penyimpangan lain terhadap desain Tuhan bahwa manusia adalah “puncak” ciptaan-Nya adalah ketika manusia menjadikan dirinya atau menjadikan manusia lain sebagai Tuhannya.

Beberapa sikap dan sosok yang pernah dan mungkin terjadi dalam hubungannya manusia sebagai Tuhan adalah, pertama, penguasa mempertuhankan dirinya atau rakyat mempertuhankan penguasanya. Bukti fenomenal yang berkaitan dengan ini misalnya bisa kita lihat dari sejarah penuhanan Fir’aun. Seperti kita ketahui, sejarah penuhanan Fir’aun terjadi oleh dua hal, (1) keinginan Fir’aun sendiri untuk dipertuhan rakyatnya. Dan berkata Fir’aun: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku …(AI Qashash/28:38). (2) keinginan rakyat, baik terpaksa atau sengaja. Penuhanan dari rakyat ini terjadi karena mereka tunduk tanpa reserve kepada Fir’aun, sekalipun Fir’aun amoral, korup, dan menindas.

Tentu saja, proyek penuhanan seperti Fir’aun ini bisa saja terjadi pada penguasa lain, meskipun mungkin penguasa itu tidak berani secara eksplisit menyebut dirinya sebagai Tuhan seperti yang dilakukan Fir’aun. Faktor utama penyebab terjadinya penuhanan penguasa adalah ketika penguasa membangun kemutlakan-kemutlakan: kekuasaannya menindas, kepemimpinannya otoriter, kata-katanya adalah sabdo pandito ratu; sementara rakyat serba takut: takut berbicara, takut berpendapat, takut berbeda, takut berbuat, takut mengkritik, takut hidup di luar kekuasaan penguasa.

Kedua, manusia mempertuhankan sosok terdekatnya. Proyek penuhanan seperti ini terjadi jika manusia menjadikan sosok-sosok itu lebih dari segala-galanya dibandingkan dengan Allah, misalnya dalam hal kecintaan. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan [dalam ketuhanan]; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah..:” (Al Baqarah/2:165).

Siapa saja sosok-sosok manusia yang berpeluang dipertuhankan manusia itu, Allah menjelaskannya dalam Al Furqan/9:24, “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya …“. Jadi menurut Al Qur’an siapa saja bisa kita pertuhankan jika mereka lebih kita cintai, kita pentingkan, kita takuti sehingga mereka mengalahkan kecintaan, kepentingan, dan ketakutan kita kepada Allah.

Sementara orang yang benar tauhidnya, pasti akan “menempatkan” Allah di atas segala-galanya; tidak saja menyembah-Nya dalam ritual, melainkan juga menuruti segala perintahnya, meninggalkan segala larangannya. Itulah yang disebut tunduk-pasrah kepada Allah (islam).

Jadi, orang yang bertuhan secara benar akan bersama-­sama dengan alam raya bertasbih kepada-Nya!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 41 Tahun ke-4, 5 Mei 2000

Orang Bertuhan Alam?

Menurut desain Allah, manusia adalah “puncak” ciptaan­Nya (At Tiin/95:4). Desain yang demikian itu menempatkan seluruh alam berada dalam martabat yang lebih rendah daripada manusia.

Direndahkannya (bukan dihinakan) kedudukan alam di bawah manusia ini dalam Islam dikenal dengan konsep taskhir (dari kata-kata sakhkhara, merendahkan atau menundukkan), Dan Dia (Allah) merendahkan bagi kamu semua apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; seluruhnya dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi mereka yang berpikir (AI Jatsiyah/43:13).

Konsep taskhir ini, seperti dijelaskan oleh ayat di atas, mengandung “tanda-tanda”, artinya ada maksud-maksud tertentu yang diinginkan oleh Allah untuk ditangkap manusia. Di antara maksud yang bisa kita ungkap adalah, pertama, agar alam bisa dimanfaatkan oleh manusia. Tanpa ditundukkan oleh Allah, tentu manusia akan mengalami kesulitan untuk memanfaatkannya. Jadi, dengan kata lain, agar bisa dimanfaatkan oleh manusia maka alam terlebih dulu dijinakkan oleh Allah. Sinar matahari misalnya, yang dari asalnya bersuhu sangat tinggi bisa sampai ke bumi dalam suhu yang sesuai dengan kehidupan manusia karena telah dijinakkan oleh Allah dengan berbagai lapisan bumi.

Kedua, dengan membuat alam ini lebih rendah daripada manusia, maka alam ini menjadi obyek yang terbuka bagi manusia. Diantara obyek yang dimaksud adalah alam sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Manusia bisa “memungut” ilmu pengetahuan dari alam karena Allah telah membuat keserasian, keharmonisan, dan ketertiban pada diri alam. Itulah yang disebut dengan sunnatullah [hukum (Allah di) alam]. Ilmu tentang gaya grafitasi bumi misalnya bisa diketemukan Isaac Newton akibat pola keserasian alam yang terjadi berulang-ulang; bahwa setiap benda akan jatuh ke bawah (bumi). Oleh karena itu sangat tepat penggunaan nama alam bagi jagad raya ciptaan Allah ini. Nama alam itu sendiri berasal dari bahasa Arab “alam” yang satu akar kata dengan “ilmu (ilm, pengetahuan) dan “alamat” (alamoh, pertanda).

Ketiga, dalam kaitan satu akar kata dengat “alamat” (pertanda), kita juga bisa menangkap bahwa ditundukkannya alam bagi manusia mengandung maksud bahwa alam ini adalah alamat atau pertanda bagi manusia amok lebih mengenal, dekat, dan tunduk kepada Allah. Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi (jagad raya) pastilah terdapat ayat-­ayat bagi mereka yang berakal budi. Yaitu mereka yang selalu ingat kepada Allah, baik pada saat berdiri, saat duduk, maupun saat berada pada lambung-lambung mereka (berbaring), lagi pula memikirkan kejadian seluruh langit dan bumi ini, (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciplakan ini seraya secara batil. Maha Suci Engkau. Maka lindungilah kami dari azab neraka” (Ali Imran/3:191).

Dengan memahami konsep taskhir tersebut, akan terlihat bahwa manusia yang paling tolol adalah mereka yang mengangkat alam dan gejala alam ke tingkat yang lebih tinggi dari semestinya menurut desain Allah, dalam bentuk mitologi terhadap alam. Seperti kita ketahui, mitologi terhadap alam akan melahirkan sikap pemujaan dan pendewaan terhadap alam. Inilah yang disebut dengan syirik. Padahal, dalam desain Allah, alam berkedudukan lebih rendah di bawah manusia. Manusia tidak pantas takut, untuk kemudian tunduk, kepada alam.

Ketololan manusia dalam hubungannya dengan alam, tidak saja terlihat dalam bentuk mitologi alam secara tradisional misalnya yang terekspresi lewat pemujaan-mistis pada alam dan gejala alam, melainkan juga terlihat dalam praktik perburuan manusia secara mambabi buta terhadap materi (kebendaan). Sebab dalam posisi seperti itu, pada dasarnya manusia telah diperbudak oleh alam (materi). Manusia yang seharusnya mengendalikan alam justru dikendalikan oleh alam. Inilah yang dimaksud tentang fenomena manusia telah mendewa-tuhankan materi (alam), yaitu menjadikan materi sebagai segala-galanya. Bagaimana bisa dinalar oleh akal sehat, jika manusia yang seharusnya berkedudukan terhormat harus menjadi budak materi.

Perilaku manusia yang mempertuhankan alam ini akan menjauhkan manusia darijati dirinya sebagai manusia, dan pada gilirannya akan menjauhkan dirinya dari Tuhannya. Hal ini terjadi karena manusia akan menghalalkan segala cara; tidak lagi peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan. Lihatlah sosok-sosok mereka seperti ini; politisi yang “memakan” kesetiaaan kawan sendiri, pengusaha yang “memakan” hak-hak buruhnya, pemborong yang “memakan” anggaran aspal, penguasa yang “memakan” penderitaan rakyat, pers yang “memakan” dukungan pembacanya.

Perilaku-perilaku seperti itu, tentu, sangat berbeda dengan perilaku manusia yang melihat kedudukan alam secara proporsional. Mereka akan alam sesuai dengan asas kewajaran, tidak mendewa-dewakan, tidak memitoskan, cerdik pandai karena termotivasi untuk memahami sunatullah, semakin dekat kepada Allah sebagai pencipta alam sambil berucap rabbana ma khalaqta haada bathilan subhanaka (Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini semua secara sia-sia. Maha Suci Engkau!).

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 40 Tahun ke-4, 28 April 2000