Mari Berpuasa Sunah (1)

Selain puasa Ramadhan yang menjadi kewajiban umat Islam, Nabi Muhammad saw juga memberi teladan dengan berbagai puasa sunah. Yang sangat populer adalah puasa sunah hari Senin dan Kamis. Ada juga puasa sunah setiap tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah. Ada puasa 6 hari di bulan Syawwal, juga puasa Arafah setiap tanggal 9 Dzulhijjah, ada lagi puasa 10 Muharram. Selain itu Nabi saw juga mereferensi puasa sunah Daud: sehari puasa, sehari berbuka. 

Apa yang menarik dari teladan puasa sunah itu? Sama seperti ibadah lainnya, ternyata selain ada yang diwajibkan (setidaknya menurut ahli fiqh), Nabi saw masih memberi teladan-teladan di luar yang wajib. Shalat lima waktu masih belum cukup bagi Nabi saw, maka “lahirlah” shalat-shalat sunah. Zakat saja tidak cukup, masih ada shadaqah sunah. Haji pun tak cukup, masih ada umrah. 

Tambahan ibadah di luar yang wajib ini sebenarnya adalah petunjuk bahwa yang wajib saja belum cukup, khususnya bagi mereka yang hendak mendaki puncak spiritual yang lebih tinggi atau menyelam samudera spiritual yang lebih dalam. Bagi mereka, ibadah wajib hanyalah sekedar menggugurkan kewajiban; sesuatu yang masih minim bagi perkembangan spiritualitas manusia, meskipun, tentu saja, bagi kebanyakan awam, menjalankan sebuah kewajiban adalah sebuah prestasi luar biasa jika dibandingkan dengan mereka yang masih sering mengingkari kewajiban. 

Anggaplah kita ini hendak mendaki puncak spiritual, maka menjalankan yang wajib saja kelihatannya belumlah cukup. Malah mungkin, jika paradigma fiqh sedikit kita abaikan; maka apa-apa yang dicontohkan oleh Nabi saw, seyogyanya kita pun mengikutinya, karena kita yakin bahwa perjalanan mengikuti jejak Nabi saw [tanpa harus memilah-milah secara fiqh: ini wajib, ini sunah] akan mengantarkan kita pada kemuliaan. Bukankah mengikuti Nabi saw adalah bukti kecintaan pada Allah [Katakanlah (Muhammad), jika engkau cinta Allah, maka ikutilah aku … (Ali Imran/3:31)] juga bukti kecintaan kita pada beliau. Dan bukankah pula beliau diutus untuk memuliakan akhlak [Al Hadits].  

Puasa dan Makhluk Sejarah

Muhammad Zuhri (Hidup Lebih Bermakna, Serambi, 2007) memberi uraian menarik tentang betapa pentingnya puasa (sunah) bagi manusia. Pertama, puasa menciptakan situasi komunikatif dengan Tuhan, sehingga memungkinkan seseorang diberi limpahan qudrah-Nya. Qudrah atau kekuatan ekstra dari Allah diperlukan oleh manusia yang super-ringkih untuk mengemban tugas yang cukup berat, yaitu mengelola semesta.  

Dalam skala personal, setiap orang mempunyai beban hidup sendiri-sendiri. Kadang beban itu terasa mendera. Maka puasa menjadi sarana yang penting untuk mengunduh kekuatan dari Allah. Dengan kekuatan itulah, seseorang akan merasa mampu mengatasi problem hidupnya. 

Kedua, puasa adalah sebuah deformasi, yaitu proses penjungkirbalikan sistem tubuh, baik sistem metabolisme maupun psikologis. Kebiasaan makan tiga kali diubah dua kali. Saat-saat seorang ingin makan justru dicegah untuk tidak makan. Saat-saat seseorang tidak berselera makan, justru disuruh makan [sahur].  

Dengan berpuasa, tubuh yang biasanya disuplai kalori dari luar tiba-tiba dihentikan. Maka energi keluar terus, tetapi kalori tidak masuk. Sebagai gantinya, sel-sel yang ada dalam daging, tulang, bahkan otak dibakar untuk menjamin tetap adanya suplai kalori. Maka, sel-sel lama dalam tubuh berguguran dan digantikan sel-sel yang baru. Yang lebih segar dan terlepas dari rekaman dosa-dosa. 

Deformasi dibutuhkan untuk menemukan cara-cara baru dalam pengelolaan terhadap semesta. Mungkin cara lama sudah usang dan lapuk sehingga tidak lagi memadai. Maka diperlukan cara-cara baru. Maka, puasa menjadi sarana untuk mendapatkan cara-cara baru di luar sistem yang telah ada. Dengan cara-cara baru itu, ada peluang untuk menyelesaikan segala problem hidup yang menimpa. 

Ketiga, puasa adalah sebuah metode untuk menghayati apa yang dihayati Allah. Dalam surat Al An’am/6: 14 Allah berfirman, “… padahal Dia memberi makan tetapi tidak makan.” Dengan berpuasa, maka manusia mencoba menghayati keadaan Tuhan, tidak makan, tetapi memberi makan, sehingga memungkinkan manusia menyandang sifat Tuhan. 

Salah satu sifat Tuhan yang hendak diperoleh manusia dengan puasanya adalah sifat baqa’ (kekal). Dengan berpuasa, maka manusia akan menjadi makhluk sejarah, yaitu makhluk yang mampu mengarungi waktu, maju terus sampai ke ujung kehidupan [yaum al-akhir]. Sebagaimana kisah Ki Ageng Selo, seorang bangsawan Jawa yang melakukan puasa selo (puasa Daud) seumur hidupnya, maka sebelas dari keturunannya berhasil menjadi Raja Mataram. 

Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa kita memerlukan puasa [tambahan] di samping puasa wajib di bulan Ramadhan. Tinggal mau pilih puasa sunah yang mana? Selamat mencoba!  

Menganti, 27 Maret 2008

Mohammad Nurfatoni

Email: sidojangkung@yahoo.co.id    

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s