Kolom Mohammad Nurfatoni di Majalah YDSF

Jalan Lapar Itu Jalan Kebaikan

Foto Profil Mohammad Nurfatoni

BANYAK kajian tentang hikmah puasa. Tapi menurut saya, hikmah penting dari puasa itu adalah mempraktikkan “jalan lapar” dalam kehidupan.

Selain diajarkan via puasa wajib Ramadan, Baginda Nabi Muhammad saw juga mengajarkan jalan lapar melalui puasa sunah. Ada puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (13,14,15 bulan Qamariyah), atau puasa Daud (sehari puasa sehari berbuka).

Sebagai jalan lapar, puasa bukan sekedar berpindah jadwal makan. Tentang ini, ada sebuah kisah menarik. Seorang bocah suka mondar-mandir. Di tangan kanan menggenggam roti. Tangan kiri membawa es kelapa. Seperti ngece (Jawa, meledek), dia makan roti dan minum es itu, di hadapan orang-orang yang lagi berpuasa. Ya, puasa Ramadhan.

(Baca: Korupsi dan Religiusitas Semu)

Tentu, banyak yang kesal. Mereka ikut menelan ludah. “Ini anak, kok malah sengaja makan dan minum di hadapan para shaimin,” guman seseorang yang merasa terusik. Lalu ia tegur sang bocah. Tapi, bocah itu bukannya sadar dan berhenti memamerkan makan dan minumnya. Ia justru berucap. Ucapan yang cukup menggemparkan.

Ia berujar, “Kami lapar. Sementara perut kalian kenyang. Kami sakit tanpa ada obat. Apalagi biaya berobat. Sementara kalian terus menambah kesakitan kami. Dengan mempertontonkan kemewaan dunia di hadapan kami. Di depan mata kami yang sedang berpakaian kemiskinan. Kami menangis. Kami merintih. Adakah di antara kalian yang peduli?”

“Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja kalian menahan rasa lapar dan haus? Ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian?” lanjutnya. “Sementara, kami terus berpuasa meski bukan saatnya berpuasa. Lantaran ketiadaan makanan. Lantaran ketiadaan minuman. Kami berpuasa tanpa ujung.” Kisah di atas bisa dibaca secera lengkap dalam buku Bocah Misterius (2004), tulisan Yusuf Mansur. Sebuah kisah simbolis yang sarat makna. Sebuah otokritik bagi para shaimin yang lupa, bawah puasa sesungguhnya adalah jalan lapar.

(Baca juga: Puasa yang Memenjarakan Tuhan)

Simbol dan makna
Puasa, juga ibadah lain dalam Islam, tidak bisa dipisahkan dari dimensi: simbolik dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, sulit mengukur eksistensi dan identitas suatu ibadah. Dan sebaliknya, tanpa filosofi, ibadah bagaikan kulit tanpa isi.

Dalam dimensi simbol, yang disebut shalat adalah perpaduan antara gerak, bacaan, dan diam. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sangat sulit diukur jika seorang mengakui telah melakukan shalat, padahal ia tak melakukan perbuatan seperti itu. Sekalipun ia berdalih telah memahami dan mempraktikkan filosofi atau makna shalat dalam kehidupan. Misalnya ia mengaku tidak berbuat jahat atau kriminal (inna shalata tanha an al fakhsyai wa al munkar).

(Baca juga: Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru)

Sebaliknya dengan orang yang menjalankan shalat secara simbolik. Jika shalatnya tidak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungannya, maka akan dikelompokkan pada golongan manusia celaka (fawailul lil mushallin). Alquran mengecam orang yang melalaikan filosofi shalatnya karena tidak menyantuni orang miskin (Almaun: 1-7).

Berpuasa bukan sekedar tidak makan dan minum. Puasa mengandung filosofi. Puasa adalah gerakan menahan nafsu. Nafsu kenyang. Nafsu serakah. Kesuksesan puasa tidak sekedar diukur, sejauh mana shaimin mampu menahan makan dan minum dari subuh sampai maghrib. Di balik itu, puasa adalah jalan kebaikan.

Jika sudah mampu menahan lapar, maka seharusnya juga mampu menahan “rasa kenyang” lainnya dalam kehidupan. Seperti serakah terhadap harta benda. Agak sulit dinalar, jika ada orang Islam yang korupsi. Hampir semua sepakat, korupsi dilakukan bukan karena pelakunya tidak bisa makan.

(Baca juga: Puasa dan Kepedulian Sosial)

Para tersangka koruptor adalah orang kaya. Malah sangat kaya. Tetapi mengapa ia masih menumpuk-numpuk harta secara tidak halal? Jawabnya, ia gagal dalam jalan lapar. Gagal mempraktikkan puasa formal dalam kehidupan. Ia ingin selalu “kenyang”. Ada nafsu serakah yang membuncah. Nafsu yang belum bisa dikendalikan. Sebagaimana dikendalikannya lapar atau dahaga dalam puasa.

Batas dan penyelamat
Korupsi juga soal kesempatan. Kita yang berteriak-teriak antikorupsi mungkin belum diuji oleh kesempatan itu. Nah, puasa adalah ujian soal kesempatan itu. Dalam kesendirian, ada kesempatan “mencuri” makan dan minum. Tapi itu tidak dilakukan, karena kita menjaga puasa. Menjaga jalan lapar. Tetapi menjaga jalan lapar tidak boleh berhenti pada simbol ibadah. Jalan lapar adalah jalan kebaikan. Jalan kehidupan.

Seperti jalan lapar yang ada batas. Dalam jalan kebaikan pun ada batas. Ada rambu. Tapi rambu itu bukan membatasi. Bukan mengekang. Bukan. Justru batas itu membaikkan hidup. Seperti batas dalam wujud palang pintu pada rel kereta api. Apakah ia akan memburukkan hidup? Tidak. Palang pintu itu justru akan menyelamatkan.

(Baca juga: Maksiat Tutup di Bulan Ramadhan?)

Dalam terminologi Islam, batas disebut syariat. Ada halal, ada haram. Ada yang boleh dan ada yang tak boleh. Tanpa batas, tatanan masyarakat akan kacau. Manusia bisa seenaknya. Sekehendaknya.

Bayangkan jika seseorang boleh mengawini siapa saja! Sesukanya. Tanpa batas. Tanpa nilai. Maka bukan saja seorang lelaki akan “mengawini” sesama lelaki, lebih jauh lagi ia akan “mengawini” makhluk spesies lain. Mengerikan! Menjaga batas itulah yang diajarkan puasa, sebagai jalan lapar. Semoga! (*)

Kolom Mohammad Nurfatoni ini kali pertama dipublikasikan oleh Majalah YDSF, edisi Juni 2016

Iklan

Korupsi dan Religiusitas Semu

Santri: Pak Kyai, di bulan Ramadan kabarnya setan-setan dibelenggu.

Kyai:  Benar, sebagaimana sabda baginda Rasulullah saw, “Apabila telah masuk bulan Ramadan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan pun terbelenggu.”

Memangnya ada apa?

Santri: Kenapa masih ada yang berbuat kejahatan?

Kyai: Oh ya, ada contohnya?

Santri: Tadi kami baca berita, usai tarawih, KKP melakukan operasi tangkap tangan koruptor.

Kyai: Oh … rupanya ada yang tertinggal belum terbelenggu toh?

Santri: Maksud Pak Kyai, koruptor itu setan yang kelupaan dibelenggu? Dan kini KPK bertugas membelenggunya. Serius Pak Kyai?

Kyai: Huss ….! Koruptor kok disangka setan. Nanti dia marah.

Kenapa masih ada yang korupsi sementara setan sudah dibelenggu? Itu menjadi isyarat bahwa jangan lagi menjadikan setan sebagai kambing hitam atas perbuatan jahat manusia. Setan sudah dibelenggu pun manusia masih bisa korupsi.

Santri: Oh, begitu maksudnya.

##

Kita terkejut, lebih tepatnya kecewa. Di bulan suci, tempat manusia beriman menempuh jalan lapar dan menempa diri menjadi manusia mulia, justru dikotori oleh oknum-oknum yang melakukan kejahatan terorganisasi. Suap-menyuap. Korupsi.

Di bulan suci saja berani melakukan korupsi, apalagi di bulan lain. Begitu logika awam. Tapi ini sebuah potret. Mungkin bukan hanya korupsi, kejahatan lain pun ditengarahi meningkat di bulan ini: perampasan atau pencurian. Oleh sebab itu perumahan-perumahan sibuk memberlakukan jaga malam.

Nah, jika ditanya, siapa yang melakukan kejahatan itu, tentu akan mudah dijawab. Mayoritas pelaku kejahatan, termasuk koruptor, adalah beragama Islam disebabkan muslim adalah bagian penduduk mayoritas negeri ini.

Dan jika pertanyaan itu dilanjutkan, apakah yang melakukan korupsi itu ikut menyemarakkan Ramadan? Dengan memakai logika probabilitas, maka kemungkinan jawaban “ya”, sangat besar.

Tentu, ini sebuah ironi. Semaraknya Ramadan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesalehan. Berulang kali puasa Ramadan datang, tapi kejahatan, termasuk korupsi, cenderung meningkat. Sepertinya ada yang salah. Kok bisa berpuasa tapi korupsi juga?

Antara simbol dan esensi

Ibadah dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari dua dimensi: simbolis dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu akan menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, sulit mengukur eksistensi dan identitas suatu ibadah. Dan sebaliknya, tanpa filosofi maka ibadah itu bagaikan kulit tanpa isi. Hampa, kering.

Dalam dimensi simbol, yang disebut salat, misalnya, adalah perpaduan antara gerak, bacaan, dan diam. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sangat sulit diukur jika seseorang mengaku telah melakukan salat, padahal ia tak melakukan perbuatan seperti itu, meskipun ia berdalih telah memahami dan mempraktikkan filosofi atau esensi shalat dalam kehidupan, di antaranya salat berimplikasi pada ditinggalkannya perbuatan jahat dan kriminal (inna salata tanha an al fakhsyai wa al munkar).

Sebaliknya, orang yang menjalankan salat secara simbolis dengan tidak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungannya maka akan dikelompokkan pada golongan manusia celaka (fawailul lil musallin). Al-Quran misalnya mengecam orang yang melalaikan filosofi salatnya karena tidak menyantuni orang miskin (al-Maun/107:1-7).

Munculnya kontradiksi antara meningkatnya religiusitas di bulan Ramadan dengan tetap tingginya tindakan pelanggaran hukum menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan terhenti pada dimensi simbolis semata. Religiusitas yang nampak semarak itu, ternyata semu.

Banyak yang bisa menahan lapar (puasa simbolis), tetapi tidak bisa menahan nafsu (esensi puasa), Termasuk nafsu dalam menumpuk harta di luar koridor hukum dan nilai halal-haram.

Apalah artinya bisa menahan lapar saat puasa tetapi tidak mampu menahan nafsu serakah. Ini malah sangat berbahaya. Sebab, bukan saja makanan standar yang akan dimakan, juga “makanan” ekstrem, seperti aspal, beton bertulang, atau kayu glondongan.

Ironisnya, korupsi banyak dilakukan oleh orang-orang dengan strata sosial terhormat di masyarakat: pejabat atau wakil rakyat. Pada mereka yang terhormat itu, acapkali kita penuh harap dan angkat tangan penuh hormat. Tapi rupanya itu kehormatan palsu. (*)

Mohammad Nurfatoni
Diterbitkan kali pertama oleh koran Duta Masyarakat, 26 Juni 2015

Sabda (Raja) dan Manusia Egaliter

Seorang raja ingin sekali menjadi yang terkaya di dunia. Segala cara ditempuhnya untuk memenuhi ambisnya itu, termasuk dengan kekuatan klenik, bertapa minta pada Dewa agar diberi kekuatan sakti pada tangannya.

Dengan tangan saktinya ia membayangkan bahwa apa pun yang disentuhnya akan berubah menjadi emas, simbol kekayaan yang tiada tara. Sang Dewa akhirnya mengabulkan permintaannya.

Kembalilah sang raja ke istana untuk mewujudkan ambisinya itu; memiliki istana emas dan menjadi raja nomer satu di dunia, terkaya dan tak tertandingi oleh raja lainnya.

Begitu menginjak halaman istana, disentuhnya pagar, dan ajaib, berubah menjadi emas. Sang raja girang tiada kepalang. Nafsunya semakin melambung tinggi. Masuklah ke dalam istana, disentuhnya pilar-pilar dan seluruh isi istana: meja kursi dan perabotan lainnnya. Semuanya berubah menjadi emas. “Aku raja terkaya di dunia,” teriaknya gembira. (lebih…)

Sakit dan Gizi Ruhani

Tak ada yang berharap sakit, tapi seringkali sakit itu dibutuhkan oleh ruhani. Karena dalam sakit kita tersadar, betapa tubuh tak kuasa atas serangan penyakit, yang seringkali hanya dilakukan makhluk kecil.

Terhadap serangan makhluk super-kecil saja kita ambruk dan sakit, maka sebenarnya kita tersadar dari mana sumber kekuatan itu? Jadi nampaknya sakit itu datang sebagai semacam cambuk peringatan, “Lu jangan sok gagah deh!

Mungkin merasa sok gagah, ayu, kaya, atau kuasa, menjadi modal kesombongan, lalu kita lupakan jati diri dan bahkan kuasa Tuhan. (lebih…)

Ngaji Laku Mbecak

Saya ingin merasakan bagaimana beratnya jadi orang kecil, khususnya para tukang becak

Mbecak

:: Ilustrasi, foto oleh “Buta Warna” ::


Dua tahun saya absen bersilaturahmi pada beliau. Beberapa hari lalu alhamdulillah, saya disempatkan Allah kembali bertamu ke rumah beliau di sebuah kota di Jawa Timur.

Saya sedikit kaget saat mendapati di depan rumah terparkir becak dan dokar (tanpa kuda). Tapi saat tuan rumah tahu kedatangan kami, buru-buru beliau langsung mengajak kami masuk.

Di ruang tamu kami ngobrol sana-sini, akhirnya sampailah pada pembicaraan tentang becak yang sempat saya pikirkan di awal tadi.

Oh injih, sakniki kulo mbecak [Oh ya, sekarang saya jadi tukang becak],” penjelasan beliau pada kami soal adanya becak yang terparkir di depan.

Kami kaget dan hampir tak percaya jika beliau sekarang mbecak. Sebab kami mengenal beliau sebagai pengusaha dan (mantan) aktivis LSM. Termasuk orang yang berkecukupan dan terpandang di kota itu.

Tapi setelah mendapat penjelasan panjang lebar, kami percaya bahwa beliau benar-benar mbecak. Suka duka tukang becak akhirnya beliau ceritakan, misalnya bagaimana beratnya mengayuh (nggenjot) becak dalam rute yang panjang dengan beberapa tanjakan.

Bagaimana rasanya juga ketika mendapati ada penumpang yang membayar ongkos becak tanpa menampakkan muka (mengulurkan tangan dari pungung).

(lebih…)

Meluaskan Makna Rezeki

Apa makna rezeki? Selama ini kita memersepsikan bahwa yang disebut rezeki selalu identik dengan harta benda. Misalnya jika kita mengatakan, “Aku baru saja dapat rezeki.” Ternyata yang dimaksud rezeki dalam pernyataan di atas adalah bonus dari perusahaan.

Pemakanaan rezeki dengan harta benda, tentu tidak salah. Dalam Al Qur’an sendiri bisa kita dapati pemaknaan seperti itu.

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (An Nahl/16:71)

Tetapi benarkah rezeki selalu dalam pengertian materi, harta atau benda-benda? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak ayat berikut:

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Al Hajj/22:58).

Rezeki dalam ayat di atas, tentu sangat jauh jika diartikan materi, karena rezeki di sini berkaitan dengan orang yang telah mati syahid. Karena itu salah satu tafsir rezeki dalam ayat tersebut adalah surga (Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).

Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita juga memberi makna non-material pada rezeki, “Rabbi zidni ilma, warzukni fahma, wajalni minasshalihiin” = Ya Tuhanku, berilah aku tambahan ilmu, berilah rezeki berupa kepahaman, dan jadikanlah aku termasuk hambamu yang shaleh). Jadi, rezeki dalam doa di atas berupa kepahaman ilmu. (lebih…)

Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru

1. Puasa menurut Pak Muh (almarhum Muhammad Zuhri) adalah cara baru menangani pengelolaan semesta, setelah setahun cara-cara lama tak lagi ampuh, usang, atau lapuk.

2. Puasa berarti melakukan penjungkirbalikan (deformasi) pada semua sistem yang ada dalam tubuh, baik sistem metabolisme atau sistem psikologis.

3. Puasa menjungkirbalikkan semua keadaan. Kebiasaan makan sehari 3 kali diubah jadi 2 kali. Saat ingin makan malah dicegah. Saat malas makan malah disuruh (sahur).

4. Tubuh yang biasa disuplai kalori dari luar tiba-tiba terhenti saat sedang berpuasa. Energi keluar terus tapi kalori tidak masuk. (lebih…)