Mari Berpuasa Sunah (2)

Rasakan dan rasakan perolehan dari puasa sunah, terutama puasa sunah yang rutinitasnya tinggi seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud. Insya Allah banyak yang bisa kita dapatkan dari puasa sunah tersebut. Pertama, meminjam bahasa kawan-kawan pelatihan shalat khusyu’, kita akan merasa nyambung [sillatun] dengan Allah. Tentu, karena capaian spiritual seseorang berbeda-beda dan sangat subyektif, maka perasaan nyambung pun tidak bisa di-gebyah-uyah [generalisasi], apalagi menjadi patokan baku. Yang jelas, perasaan dekat dengan Allah lebih terasa jika kita sedang berpuasa. 

Bahkan dalam salah satu hadits, ditunjukkan bahwa satu dari tiga doa yang tak terhijab di sisi Allah adalah doa orang yang berpuasa sebelum ia berbuka [disamping pemimpin adil dan orang yang teraniaya]. 

Mengapa bisa demikian? Dengan “menyandera” dalam masa tertentu terhadap kebutuhan fisikal, ruhani kita akan mencapai peningkatan “kualitas”nya. Maka ruhani manusia, yang merupakan “manifestasi” dari ruh Allah  [seperti difirmankanNya: ”… Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya …” (As Sajadah/32: 9)], akan kembali dekat dan bermesraan dengan Sang Asal. Ketika ruh dan ruh sedang bersatu, masih adakah hijab!

 

Dengan bahasa sederhana, ketika makanan jasmani kita kurangi dan makanan ruhani kita tingkatkan kadarnya, dalam bahasan ini adalah dengan puasa sunah, maka akan terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan ruhani yang lebih optimal. Dengan demikian citra diri manusia sebagai persenyawaan sempurna antara unsur material dan non-material [ruhani] tetap terjaga.

Sebab, selama ini mungkin pertumbuhan dan perkembangan jasmani kita lebih sehat dan cepat dari pada pertumbuhan dan perkembangan ruhani kita, karena suplai energi jasmani selalu terpenuhi sepanjang hayat, namun tidak demikian dengan suplai energi ruhani, yang seringkali terhambat, setidaknya tersendat-sendat [misalnya hanya satu bulan Ramadhan dalam setahun].

Nah, puasa sunah adalah adalah salah satu cara untuk meningkatkan suplai energi ruhani sepanjang tahun yang sangat unik, karena dalam waktu bersamaan ia justru menghambat suplai energi jasmani, sepanjang tahun pula, sesuai ritme puasa sunah yang kita pilih. Inilah barangkali makna lain dari sifat puasa yang deformatif.

Kedua, dalam pertumbuhan dan perkembangan ruhani yang optimal kita akan mengunduh capaian-capaian lainnya. Kejernihan hati [juga pikiran] adalah capaian penting dari puasa sunah. Bagaimana bisa terjadi? Secara normatif kita dapati informasinya dari kutipan lengkap surat As Sajadah ayat 8-9, “Kemudian Dia menjadikan keturunannnya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Dalam pemahaman subyektif saya, ayat di atas memberi petunjuk bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan berfungsi [dengan baik] setelah bekerjanya ruhani kita. Dalam pembahasan ini kita tidak berbicara pendengaran, penglihatan atau hati yang fisikal, karena dalam surat Al A’raf/7: ayat 179 ditunjukkan oleh Allah bahwa ada fenomena orang-orang yang tidak mampu mendengar dengan telinganya [meski tidak tuli] dan tak mampu melihat dengan matanya [meski tidak buta], dan tidak mampu memahami dengan hatinya.

Yang saya pahami dari ayat di atas adalah pendengaran yang lebih peka, penglihatan yang lebih tajam, dan hati yang lebih jernih. Kesemuanya itu tidak dalam pengertian fisikal murni melainkan lebih pada pengertian spiritual.  Maka, puasa [sunah], akan membawa pada kepekaan, ketajaman, dan kejernihan karena ia telah menumbuhkembangkan ruhani kita. Sementara ruhani yang sehat akan mampu mengoptimalkan kepekaan respon kita pada hal-hal di luar diri kita. Pada kesempatan ini ijinkan saya mengutip puisi yang berhubungan dengan pembahasan tentang kepekaan respon ruhani tersebut. 

Bisikan Tanpa Bunyi 

Heran, lolongan loudspeaker dari atas mihrab yang terhormat itu

sama sekali tak kudengar

mungkin karena terlalu keras memekak

atau karena suara itu telah menjelma rutin yang merampas minat

atau karena aku kini benar-benar tuli 

kukorek lubang kupingku jauh ke dalam

jangan-jangan ada batu yang membuntu

harus aku cukil

tapi sampai tembus lubang kuping yang satu

aku tetap tak mampu mendengar

aku kesal

kupotong kedua daun telinganku

aku tak butuh telinga lagi, gumamku 

tapi aneh

tanpa kuping

justru aku mendengar berdesir-desir bisikan

jernih tanpa gema

lembut penuh wibawa 

aku bertanya:

dari mana suara itu kudengar

lewat apa aku mendengar

itukah bisikan tanpa suara

bisikan  tanpa aksara

 [Nfath, 25022008]  

Akhir  kalimat, semoga kita termotivasi untuk menjalankan puasa sunah, dan semoga kita menjadi dekat dengan Allah sekaligus mendapat bimbingan dan petunjukNya lewat kejernihan ruhani kita.  

Namun jika dalam puasa sunah yang kita jalankan itu kita belum merasakan apa-apa, tidak usah bingung, terus dan teruslah berpuasa sunah, karena pada dasarnya niat puasa sunah kita bukan untuk apa-apa dan siapa-siapa melainkan karena dan untuk Allah semata. Sebuah hadits qudsi memberitahukan, “Setiap amal untuk bani Adam, kecuali puasa. Sungguh puasa itu untuk-Ku dan aku yang membalasanya.” (HR Bukhhori). 

Sidojangkung, 30 Maret 2008

Mohammad Nurfatoni

Iklan

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s