- Mendengar lebih sulit daripada berbicara.
- Berbicara lebih sering sesuai kehendak pribadi sementara mendengar kadang tidak cocok dengan kehendak pribadi.
- Berbicara seringkali menonjolkan ego, sedang mendengar bisa melunturkan ego.
- Mungkin telinga ada dua sebagai simbol bahwa mendengar harus lebih intensif dilakukan dibanding berbicara yang disimbolkan dengan satu mulut.
- Namun berbicara yang baik lebih kuat manfaatnya dibanding jika hanya mendengar pembicaraan.
- Pembicaraan yang baik berpotensi menularkan kebaikan pada banyak orang sementara kebaikan mendengar bersifat individual.
- Membaca lebih sulit daripada [belajar] menulis.
- Seperti mendengar, membaca adalah membuka ruang ego pribadi untuk dimasuki ego orang lain.
- Dan seperti berbicara, menulis memiliki ruang ekspresi yang hampir tak terbatas.
- Membaca lebih sulit karena ia membutuhkan kemampuan memahami pikiran orang lain yang sering belum teradaptasi dalam diri pembaca.
- Dan menulis lebih mudah karena ia menjadi lahan ekspresi pikiran-pikiran diri sendiri sang penulis.
- Meski lebih mudah, menulis mengemban tanggung jawab yang besar, karena menulis bukan sekedar menata huruf dan kata.
- Seperti berbicara, menulis tak hanya rangkaian ide bebas, ia harus memperhatikan ruang psikologis publik.
- Tapi membaca, seperti juga mendengar bagi pembicara, punya kontribusi besar bagi penulis; tanpa membaca, mana bisa kita menulis.
- Untuk berbicara kita harus mendengar dan untuk menulis kita harus membaca.
- Tapi pembicaraan atau tulisan yang baik tidak sekedar butuh suara fisik atau bacaan tekstual, ia butuh semacam suara atau bacaan langit.
- Maka kita harus mendengar sesuatu yang tak terdengar atau membaca sesuatu yang tak terbaca. (*)
Mohammad Nurfatoni
Reblogged this on SMP 2 SUAK TAPEH and commented:
di tunggu kunjungan balik anda http://sekolahbanyuasin.wordpress.com/
SukaSuka
Terima kasih sekolahbanyuasin
SukaSuka