Menahan Ambisi dengan Puasa

Jika kita berkenan menjadikan bulan Ramadhan 1418 H sebagai ajang retrospeksi perjalanan setahun pada 1997—­karena bertepatannya pergantian tahun dengan awal puasa—­maka salah satu persoalan penting yang perlu kita evaluasi adalah ambisi-ambisi kita. Ambisi sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Katakanlah sebuah cita-cita atau harapan-harapan optimisme pada masa depan. Menjadi tidak wajar jika ambisi itu melampaui batas-­batasLanjutkan membaca “Menahan Ambisi dengan Puasa”

Beri peringkat:

Sederhananya Puasa

Kita benar-benar berada dalam krisis ekonomi, bahkan puncak krisis ekonomi (paling tidak sampai tulisan ini diturunkan). Presiden Soeharto sendiri dalam pidato pengantar RAPBN 1998/1999 menyebut kondisi ini sebagai badai, meskipun dengan harapan (badai itu) pasti berlalu. Dipicu oleh terus melemahnya nilai rupiah terhadap US$ (saat tulisan ini dibuat, nilai tukar rupiah mencapai titik terendah Rp.Lanjutkan membaca “Sederhananya Puasa”

Beri peringkat:

Maksiat Tutup di Bulan Ramadhan?

Setiap (menjelang) Ramadhan, kita selalu diributkan dengan wacana harus-tidak ditutupnya berbagai tempat yang berkaitan dengan perilaku maksiat (lokaliosasi pelacuran, panti pijat, diskotek, night club). Dalam wacana itu kita ketemukan banyak pendapat yang pro; tetapi ada pula yang kontra. Sepintas alasan-alasan yang dikemukakan, baik yang pro maupun yang kontra, sangat logis. Akan tetapi jika ditelaah lebihLanjutkan membaca “Maksiat Tutup di Bulan Ramadhan?”

Beri peringkat: