Puasa dan Krisis Spiritualisme

SEJARAH peradaban manusia kini berada dalam zaman modern. Secara harfiah, modern berarti baru. Namun lebih jauh, ciri modern bukan saja dalam arti kebaharuannya, melainkan lebih termaknakan pada pola hidup yang teknikalisme, di mana teknik memegang peran sentral, dan pola hidup materialisme ­suatu pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah.

Tanpa disadari, pola hidup yang demikian itu telah membuat manusia teralienasi, terasing dari kesejatian dan lingkungan sosialnya. Lebih jauh, modernisme bahkan telah melahirkan krisis spiritualisme. Diantara indikasi tercerabutnya manusia dari nilai-­nilai spiritual adalah terjadinya dekadensi moral, lunturnya nilai humanistik, dan menguatnya individualisme.

Runyamnya, dalam menghadapi krisis tersebut, manusia tidak bisa lagi berpikir jernih untuk secara sadar mengatasinya. Yang lahir justru cara berpikir dan bertindak yang serba panik dan rancu. Hal itu bisa kita lihat dari cara mereka mengatasi krisis spiritualisme itu. Mereka tidak berusaha memungut kembali elemen-elemen spiritualitas, tapi justru membenamkan dirinya lebih jauh ke dalam kubangan materialisme. Fenomena menguatnya hedonisme, menikmati hidup sepuas-puasnya sebelum datang kematian, membuktikan betapa manusia telah semakin terpuruk dalam mengatasi krisis spiritualisme.

Nuttin, seorang pakar psikologi humanistik, menyebutkan bahwa ada tiga aras kesadaran pada diri manusia. Pertama, kesadaran para aras psikobiologis. Kesadaran ini dipicu oleh pengalaman inderawi (biologis). Kesadaran untuk minum misalnya, dipacu oleh keringnya kerongkongan. Kedua, kesadaran pada aras psikososial. Kesadaran ini erat kaitannya dengan kebutuhan sosial: butuh berbagi dengan orang lain atau kebutuhan membina komunikasi sosial. Ketiga, kesadaran pada aras transendental: kesadaran adanya Tuhan, kebutuhan untuk beribadah, kesadaran adanya misteri hidup (kegaiban).

Dalam keadaan normal, ketiga aras itu mewujud menjadi satu dalam diri manusia. Artinya dalam setiap perilaku manusia selalu mengandung tiga aras kesadaran tersebut. Nikah misalnya, (harus) mengandung tiga aras kesadaran tersebut: [I] sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) [2] sebagai media membangun hubungan komunikasi sosial (menyatukan dua keluarga) [3] sebagai salah satu bentuk perwujudan ketaatan (ibadah) manusia kepada Tuhannya.

Dengan mengacu pada tiga aras kesadaran itu, maka dapat dilihat bahwa pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah (materialisme, atau dalam bentuk khususnya hedonisme) hanya merupakan pemenuhan aras kesadaran psikobiologis. Bukankah seks bebas, pengkonsumsian alkohol dan obat-obatan terlarang, atau korupsi, adalah perilaku-perilaku menyimpang yang tak mengindahkan nilai-nilai sosial, apalagi nilai-nilai transendental.

Yang lebih mencemaskan lagi, perilaku-perilaku tersebut tak jarang dijadikan sebagai pelarian atau pelampiasan dari krisis spiritualisme yang mereka alami. Inilah yang oleh Veronica Suprapti (1997) disebut sebagai hedonisme instan yakni merasakan kenikmatan puncak dengan jalan pintas.

Peran Penting Puasa

Puasa Ramadan mengajarkan kepada kita betapa pemenuhan hawa nafsu (aras kesadaran psikobiologis) harus dikendalikan. Pengendalian hawa nafsu ini sangat penting untuk menghindari kejatuhan manusia dari makhluk spiritual. Sebab, jika bandul keseimbangan spiritualisme manusia terus terseret pada ekstrem pemenuhan kebutuhan material, maka manusia tak ubahnya seperti binatang, yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk pemenuhan kebutuhan lahiriyah semata.

Identifikasi manusia sebagai binatang sesungguhnya sebuah aib besar. Ini terutama jika dikaitkan dengan “desain” Allah bahwa manusia adalah “puncak” ciptaaan-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan; Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (AI Isra/17:70; baca juga At Tiin/95:4).

Memang, manusia, seperti kita ketahui dari Al Qur’an, tercipta dari tanah (Al Hijr/15:28; Al Mukminun/23:12). Asal muasal pcnciptaan dari tanah (materi) itulah yang menimbulkan keinginan-keinginan material (biologis) yang dalam beberapa hal, keinginan-keinginan biologis itu sama dengan keinginan biologis yang dipunyai binatang (misalnya, makan-minum dan berhubungan seksual). Tetapi, tentu saja manusia tidak sama dengan binatang, termasuk jika kita kaitkan dengan asal muasal kejadian. Dalam penjelasan Al Qur’an kita dapati keterangan bahwa manusia juga mengandung unsur penciptaan dari ruh (non material): “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)­Ku, maka sujudlah kamu kepadanya” (Al Hijr/15:29; Shaad/38:72; As Sajdah/32:9).

Adanya unsur kejadian non-material (ruh) itulah yang membedakan, bahkan melebihkan atau membuat lebih, manusia dibandingkan makhluk lainnya. Karena itu pula, Allah memerintahkan makhluk lain (malaikat) untuk bersujud kepada Adam, “bapak” manusia (Al Hijr/15:29). Dengan demikian, predikat manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah bukan semata didasarkan kepada keunggulan fisik-material, melainkan justru terletak pada keunggulan non fisik-material, yang tidak dimiliki makhluk lain.

##

Di samping melatih pengendalian hawa nafsu, puasa Ramadhan juga mengasah kepekaan sosial (aras psikososial) pelakunya. Mereka dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan kebaikan sosial (sedeqah, saling tolong menolong). Mereka pun diarahkan untuk meninggalkan kejahatan-kejahatan sosial (menghardik, mencela, bertengkar).

Sebuah riwayat mengabarkan bahwa seorang wanita sedang mencaci-maki pembantunya di bulan Ramadhan. Kabar ini didengar Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasulullah lalu menegurnya, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu”. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Riwayat di atas menarik untuk kita kaji, karena Islam yang di antaranya dipraktikkan lewat ibadah puasa, sangat menghormati terbangunnya hubungan sosial yang harmonis. Sekalipun hubungan itu adalah antara majikan dengan pembantu, yang pada realitas umumnya selalu didominasi oleh sang majikan (artinya majikan bisa sekehendak hati memperlakukan pembantu).

Dalam Islam, orang yang berpuasa bukan saja diukur dari parameter fisikal (tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri), melainkan juga dinilai dari perilaku sosialnya. Bahkan puasa menjadi semacam garansi bagi pelakunya untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan.

Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela,” sabda Rasulullah SAW. Apa artinya? Ternyata Islam sangat berkepentingan untuk membangun masyarakat yang beradab.

###

Yang tak kalah pentingnya, (puasa) Ramadan juga mengajak manusia untuk memperdekat jarak hubungan transendental dengan Tuhan-nya. Shalat, dzikir, istighfar, dan doa, adalah amalan-amalan penting bagi para pelaku puasa. Dengan amalan-­amalan itu, diharapkan mereka bisa semakin meyadari pentingnya Tuhan dalam kehidupan manusia. Bahwa Tuhan selalu dekat manusia dan selalu mengawasi gerak-geriknya. “Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan” (AI Hadiid/57:4)

Semangat selalu diawasi Tuhan adalah sikap yang sangat mendasar. Sebab dengan sikap seperti itu, kita akan menjadi hamba Tuhan yang benar. Di manapun dan kapanpun berada, kita tidak akan berani melanggar perintah-larangan-Nya. Bukankah Tuhan akan selalu “memergoki” kita, di saat taat atau di saat maksiat.

Semangat selalu diawasi Tuhan betul-betul dipraktekkan dengan baik ketika kita sedang beribadah puasa, suatu ibadah yang private, sebab, siapakah yang mengetahui bahwa seseorang itu berpuasa selain Tuhan dan orang itu sendiri? Mungkin saja seseorang di siang hari nampak lesu, lemah dan tak berdaya; yakni, mempunyai tanda-tanda lahiriah bahwa dia adalah seorang yang sedang berpuasa. Namun tentu saja hal itu tidaklah merupakan jaminan bahwa dia benar-benar berpuasa, sebab mungkin saja dia melakukan sesuatu yang membatalkan puasa ketika sedang sendirian, misalnya dengan meneguk segelas air.

Dengan dekat dengan Tuhan, manusia akan selalu terkontrol, tak perlu lagi merasa teraleniasi, dan pada akhirnya akan terhindar dan terbebas dari krisis spiritualisme.

        Di sinilah peran penting (puasa) Ramadhan. Manusia beriman pasti bangga dan terharu menyambutnya. Inilah kesempatan terbaik bagi manusia modern untuk kembali pada jati dirinya sebagai makhluk spiritual.

Marhaban ya Ramadhan!

Sidojangkung, 7 September 2007

Mohammad Nurfatoni
Dimuat Majalah Muslim, Edisi September 2007

Puasa yang Memenjarakan Tuhan

Ramadan 1428 datang menghampiri kita. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kita sambut dengan semangat suka cita, Marhaban ya Ramadan! Terkandung juga semangat perubahan di dalamnya. Berubah dan berbenah ke arah yang lebih baik, seperti pesan puasa itu sendiri

Namun, di samping mengandung semangat optimisme, ada pertanyaan penting yang perlu dikemukakan, berkaitan dengan semangat perubahan itu. Benarkah puasa telah benar-benar mengubah perilaku masyarakat kita?

Bertahun-tahun Ramadan datang, namun tetap saja masyarakat kita begini-begini saja. Tingkat korupsi malah meningkat tinggi, bahkan seolah sudah mendarah daging dalam berbagai sektor masyarakat. Jumlah penduduk miskin tidak malah berkurang. Vandalisme merajalela, main serobot hak orang lain makin membabi-buta, tingkat konsumerisme yang tinggi. Pemakaian narkoba, minuman keras, perselingkuhan, dan perjudian masih tetap jalan. Pertanyaannya adalah apakah ajaran puasa yang salah salah? Atau kita salah dalam memahami dan menjalankan ibadah puasa?

Puasa Normatif

Secara normatif, puasa selama ini dianggap punya beberapa “kesaktian” dalam memperbaiki perilaku pelakunya. Pertama, puasa adalah jalan untuk pengendalian hawa nafsu. Dalam puasa kita diuji secara ekstern untuk mengendalikan keinginan-keinginan, meskipun keinginan itu sah dan halal. Dengan teori itu, kita diharapkan mampu mengendalikan keinginan-keinginan yang tidak sah dan haram: jangan makan makanan haram (babi, bangkai, darah); jangan pula makan makanan yang diperoleh dengan cara haram (mencuri, merampok, korupsi); jangan minum minuman haram (bir, arak, tuak); jangan pula menenggak barang haram (narkotik dan obat-obatan terlarang); jangan mendekati dan berbuat zina (seks pra-nikah, selingkuh)!

Tidak cukup itu saja, puasa juga dianggap sebagai jalan menuju pola hidup zuhud (bersahaja, sederhana, tidak kedonyan). Dalam puasa, kita diajari bagaimana memanfaatkan kepemilikan secara bersahaja; tidak menghambur-hamburkan dan berfoya-foya, meskipun kita sadar itu milik kita, bahkan sesuatu yang berlimpah. Kita makan cuma dua waktu (buka dan sahur, dengan rentang waktu sekitar 14 jam).

Kedua, puasa adalah jalan menuju pola hidup sosial (berbagi empati, berbagi kepedulian, berbagi kelebihan). Dengan merasakan tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang cukup panjang, kita diharapkan mampu berempati, betapa sengsaranya kawan-kawan kita yang serba kekurangan. Mereka lapar tapi tidak cukup tersedia makanan. Mereka haus, tapi tidak tersedia minuman. Puasa mengajari kita untuk perhatikan mereka yang tertindas, yang fakir-miskin, yang tergilas oleh mesin pembangunan. Maka penuhi hak-hak mereka yang selama ini kamu genggam erat-erat; bukankah dalam kelimpahan hartamu, terkandung hak-hak fakir-miskin.

Ketiga, puasa adalah jalan untuk proses berpikir dan bertindak jernih untuk kepentingan jangka panjang. Dengan bertahan untuk tidak tergoda oleh hal-hal yang menggoda selera sebelum waktunya tiba. Orang yang berpuasa pada dasarnya berlatih sekaligus memperagakan proses bersikap sistematis jangka panjang. Dengan mempertahankan kemurnian puasa melalui kalimat “inni shaimun” (sesungguhnya aku sedang berpuasa) ketika ada pihak-pihak lain yang memprovokasi untuk berbuat tercela, maka sesungguhnya kita telah memperagakan model berpikir jernih jangka panjang.

Keempat, puasa adalah jalan menuju kejujuran dan tanggungjawab. Dalam puasa sejati, kita tidak akan mencuri minum seteguk air pun, meskipun orang lain tidak tahu. Inilah peragaan penting sikap jujur dan rasa tanggungjawab kita. Bahwa jujur dan bertanggungjawab itu tidak tergantung pada pihak-¬pihak lain, melainkan sangat dipengaruhi oleh kesadaran kita sendiri sebagai makhluk yang selalu mendapat perhatian dan pengawasan Tuhan.

 

Penjara

Dalam perspektif normatif seperti diuraikan di atas, tentu puasa akan menjadi alat yang sangat ampuh untuk memperbaiki kondisi masyarakat kita yang mayoritas Muslim, dan tentu saja mayoritas juga menjalankan puasa. Tetapi faktanya, tidak seperti itu. Masyarakat kita sangat permisif, juga koruptif. Kejahatan terjadi di mana-mana. Sebutan preman bukan lagi dalam pengertian konvensional, melainkan sudah bergeser pada “preman berdasi”, juga “preman berjubah”. Pertanyaannya, mengapa puasa aktual tidak sama dengan puasa dalam ideal?

Salah satu jawabannya adalah kegagalan kita dalam memaknai pesan Rasulullah SAW berkaitan dengan puasa ini. Dalam pesan khutbahnya menyambut Ramadan, Rasulullah SAW memang memberi motivasi sangat kuat untuk berbuat kebajikan, dengan imbalan-imbalan yang istimewa. Misalnya Rasulullah SAW berpesan, “… Barang siapa melakukan salat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan 70 salat fardhu di bulan lainnya. Barang siapa memperbanyak salawat di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan yang lain ringan. Barang siapa di bulan ini membaca satu ayat Alquran, sama nilainya dengan mengkhatam Alquran pada bulan yang lain.”

Kegagalan dalam menangkap pesan itu adalah ketika kita menganggap hanya pada bulan Ramadan ini saja dianjurkan berbuat kebaikan karena pahalanya berlipat-lipat, dan dilarang menjalankan kejahatan. Sebagai akibat kegagalan memaknai pesan itu kita menjadikan bulan Ramadan sebagai “penjara” Tuhan. Seolah-olah Tuhan itu hanya ada di bulan Ramadan, sehingga kita benar-benar taat pada Tuhan. Kita berbanyak amal kebaikan dan sedapat mungkin meninggalkan keburukan di bulan ini.

Maka kita perhatikan orang berlomba-loma berbuat kebajikan di bulan Ramadan, bahkan zakat maal yang ketentuannya hanya berbunyi dikeluarkan setahun (tanpa menyebut bulan), harus pula dikeluarkan di bulan Ramadan. Masjid menjadi sangat ramai (malah bising) oleh pengeras suara orang membaca Alquran. Masjid-masjid penuh oleh jamaah salat tarawih, sebuah salat malam (tahajjud) yang sangat populer, tapi tidak populer di luar Ramadan. Jumlah peminta-minta di sekitar tempat ibadah meningkat tajam. Bahkan televisi pun sok alim di bulan Ramadan, menyajikan acara-acara yang bernuansa relijius. Sebaliknya, kejahatan sedapat mungkin dihentikan, sampai-sampai lokalisasi pelacuran dan tempat hiburan malam harus tutup khusus di bulan Ramadan.

Tentu, kebiasaan memenjarakan Tuhan pada bulan Ramadan memberi efek domino. Di luar bulan Ramadan, Tuhan pun akhirnya dipenjara pada tempat-tempat suci belaka. Bagaimana tidak disebut “memenjarakan” Tuhan, jika Tuhan hanya “digantung” di pojok masjid atau di mimbar majelis taklim! Sementara di kantor, di pasar, di pabrik, di pusat hiburan, atau di istana, Tuhan dicampakkan.

Artinya, ketika di tempat-tempat suci kita menjadi orang yang sangat santri, yang taat dan alim, tetapi ketika di kantor kita korupsi, di pasar kita melakukan kecurangan, di pusat hiburan kita mengumbar hasrat maksiat, dan di istana kita menjadi otoriter dan menindas. Jadi, meskipun kita percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kita hiraukan sama sekali di luar tempat dan waktu suci. Di tempat-waktu itu perintahnya kita tendang dan larangannya kita jebol.

Seolah-olah kita adalah sosok manusia yang tidak mengenal Tuhan, sehingga bisa bertindak bebas nilai. Dan sebaliknya, ketika kita berada di tempat-waktu suci, kita berlagak sangat akrab dengan Tuhan. Berkerudung, berpeci, memisahkan jarak dengan wanita/pria (berhijab), khusyuk, tidak (berani) mengorupsi dana masjid, tidak mabuk-mabukan di masjid (mana ada orang mabuk di masjid?), dan sebagainya.

Memenjarakan Tuhan sama artinya dengan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan, bahwa Tuhan hanya berhak mengatur kita di tempat-tempat sakral dan tidak berhak mengatur kita di tempat-tempat profan. Tuhan yang kekuasaannya mutlak hanya kita batasi pada wilayah kekuasaan spiritual. Sementara soal-soal dunia (bekerja dan bergaul) wilayah kekuasaannya kita kangkangi sendiri. (*)

Mohammad Nurfatoni

Aktivis FOSI (Forum Studi Islam) Surabaya

Dimuat Surabaya Post, 12 September 2007

Universalitas Puasa

Seorang usahawan nyaris putus asa ketika perusahaan handalannya mengalami bangkrut total. Anak-anaknya seketika menjadi liar dan menempuh cara hidup tanpa kiblat, sementara orang tua mereka belum sanggup melakukan usaha kecil-kecil karena gengsi.

 

 

Dalam keadaan kalang kabut yang demikian, ia menemui seorang ustadz untuk mendapatkan jalan keluar dari musibah yang ditanggungnya.

“Jalan keluar satu-satunya hanya berpuasa,” saran Ustadz. “Jangan berolok-olok, ustadz. Masalah saya ini masalah serius.

 

“Berpuasalah, kataku! Apa berpuasa itu kurang surius?”

 

“Apa yang bisa saya peroleh dalam kondisi lapar, lemas, dan tanpa vitalitas tubuh?”

 

 

“Ah, kamu memang suka berpikir secara liar, tidak mengikuti pola berpikir dari Rabbul ‘alamin.”

 

“Pola berpikir Rabbul ‘alamin?”

“Ya. Lihatlah sebelum dirimu. Binatang-binatang itu juga mau berpuasa demi kelestarian keturunannya. Kalau ayam-­ayammu tidak mau berpuasa saat mengerami telurnya, kamu tidak akan bisa menikmati goreng ayam dan opornya. Mereka akan punah jauh-jauh hari sebelum kau sempat nongol di sini.

Lihat pula ular itu. Budaya mereka mengeraskan struktur kulitnya, supaya tidak cedera oleh sengatan matahari dan tusukan duri-duri, berakhir dengan tidak mampu lagi melata di muka bumi. Akhirnya mereka mau juga berpuasa. Dan apa perolehan mereka? Mereka dapat menanggalkan kulit yang membelenggu dirinya selama itu, tanpa perlu gengsi­gengsian.

 

Kemudian renungkan pula fenomena ini. Bila ulat-ulat pemakan daun itu tidak berpuasa, kamu pasti tidak akan kebagian makanan. Untung mereka taat pada aturan Rabbul ‘alamin, sehingga mereka mampu menjelma menjadi kupu-­kupu. Selain bisa terbang, pekerjaan mereka berganti dengan mengawinkan bunga-bunga, menolong proses penyerbukan, dan makanan mereka madu. Asyik, kan? Asyik, kan? Asyik, kan?

(“Binatang pun Berpuasa”, Muhammad Zuhri, Suara Merdeka, 1996.)

***

Apa yang dapat dipelik dari kisah di atas? Pertama, ternyata puasa itu bersifat universal, global, atau kosmopolitan. Tidak hanya manusia yang berpuasa, binatang pun berpuasa! Ini menunjukkan bahwa puasa itu milik semua golongan, termasuk milik umat-umat terdahulu. “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan puasa atasmu sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu…” (Al Baqarah/2:183).

 

Maka sangat aneh jika ada manusia yang enggan, bahkan mengingkari, berpuasa (Ramadhan). Sebab dengan sikap seperti itu, mereka tercerabut dari pola berpikir Rabbul’alamin.

 

Kedua, ternyata berpuasa itu merupakan pengorbanan pelakunya bagi semesta alam. Seperti yang dilakoni oleh binatang di atas, demi kelestarian keturunannya, mereka rela berpuasa, yakni menahan diri untuk tidak mengumbar kebutuhan fisikalnya. Dengan berkorban seperti itu, maka pelaku puasa pada dasarnya telah menanam dua kesadaran penting.

 

Pertama, kesadaran akan kelangkaan sumberdaya alam. Dengan berpuasa, para shaimin (pelaku puasa) melatih ketahanan diri agar mampu memungut sumber daya alam seminimal mungkin bagi kebutuhan hidupnya. Sebab, mereka menyadari bahwa sumber daya alam terbatas, maka tak pantas jika dihambur-hamburkannya untuk memanjakan nafsunya. Para shoimin justru sadar bahwa sumber daya alam yang terbatas itu harus dimanfaatkan seefisien mungkin demi kelestarian hidup bersama.

 

Maka adalah aneh, jika puasa Ramadhan justru membuat anggaran belanja kita melonjak.

 

Kedua, dengan demikian, para shoimin juga menanam kesadaran akan kebersamaan hidup. Mereka tidak egois. Mereka berpikir terhadap yang lain: tentang pelestarian sumber daya; lentang masa depan generasi mendatang; tentang kelangsungan hidup bersama. Maka sungguh tidak wajar jika puasa Ramadhan tidak meninggalkan efek sosial bagi pelakunya.

 

Bagi shoimin yang sanggup ikhlas berkorban demi semestanya ini (partisipasi dalam kemenejeran Tuhan), maka akan mendapat anugerah dari Allah yang tidak disangka-sangka. Seperli ulat yang bermetamorfosis dengan puasa sehingga menjadi kupu-kupu, maka tidak saja dia bisa terbang, tapi juga bisa membantu proses penyerbukan, sekaligus mereguk madunya. Maka shoimin yang menjalankan puasa dengan penuh makna akan mencapai derajat taqwa. Dan bagi orang bertaqwa, Allah akan memberikan jalan keluar dan rizki yang tak di sangka-sangkanya (Ath Thalaq/65:2-3).

 

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif No. 17 Tahun ke-5, 24/11/2000