Kolom Mohammad Nurfatoni di Majalah YDSF

Jalan Lapar Itu Jalan Kebaikan

Foto Profil Mohammad Nurfatoni

BANYAK kajian tentang hikmah puasa. Tapi menurut saya, hikmah penting dari puasa itu adalah mempraktikkan “jalan lapar” dalam kehidupan.

Selain diajarkan via puasa wajib Ramadan, Baginda Nabi Muhammad saw juga mengajarkan jalan lapar melalui puasa sunah. Ada puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (13,14,15 bulan Qamariyah), atau puasa Daud (sehari puasa sehari berbuka).

Sebagai jalan lapar, puasa bukan sekedar berpindah jadwal makan. Tentang ini, ada sebuah kisah menarik. Seorang bocah suka mondar-mandir. Di tangan kanan menggenggam roti. Tangan kiri membawa es kelapa. Seperti ngece (Jawa, meledek), dia makan roti dan minum es itu, di hadapan orang-orang yang lagi berpuasa. Ya, puasa Ramadhan.

(Baca: Korupsi dan Religiusitas Semu)

Tentu, banyak yang kesal. Mereka ikut menelan ludah. “Ini anak, kok malah sengaja makan dan minum di hadapan para shaimin,” guman seseorang yang merasa terusik. Lalu ia tegur sang bocah. Tapi, bocah itu bukannya sadar dan berhenti memamerkan makan dan minumnya. Ia justru berucap. Ucapan yang cukup menggemparkan.

Ia berujar, “Kami lapar. Sementara perut kalian kenyang. Kami sakit tanpa ada obat. Apalagi biaya berobat. Sementara kalian terus menambah kesakitan kami. Dengan mempertontonkan kemewaan dunia di hadapan kami. Di depan mata kami yang sedang berpakaian kemiskinan. Kami menangis. Kami merintih. Adakah di antara kalian yang peduli?”

“Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja kalian menahan rasa lapar dan haus? Ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian?” lanjutnya. “Sementara, kami terus berpuasa meski bukan saatnya berpuasa. Lantaran ketiadaan makanan. Lantaran ketiadaan minuman. Kami berpuasa tanpa ujung.” Kisah di atas bisa dibaca secera lengkap dalam buku Bocah Misterius (2004), tulisan Yusuf Mansur. Sebuah kisah simbolis yang sarat makna. Sebuah otokritik bagi para shaimin yang lupa, bawah puasa sesungguhnya adalah jalan lapar.

(Baca juga: Puasa yang Memenjarakan Tuhan)

Simbol dan makna
Puasa, juga ibadah lain dalam Islam, tidak bisa dipisahkan dari dimensi: simbolik dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, sulit mengukur eksistensi dan identitas suatu ibadah. Dan sebaliknya, tanpa filosofi, ibadah bagaikan kulit tanpa isi.

Dalam dimensi simbol, yang disebut shalat adalah perpaduan antara gerak, bacaan, dan diam. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sangat sulit diukur jika seorang mengakui telah melakukan shalat, padahal ia tak melakukan perbuatan seperti itu. Sekalipun ia berdalih telah memahami dan mempraktikkan filosofi atau makna shalat dalam kehidupan. Misalnya ia mengaku tidak berbuat jahat atau kriminal (inna shalata tanha an al fakhsyai wa al munkar).

(Baca juga: Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru)

Sebaliknya dengan orang yang menjalankan shalat secara simbolik. Jika shalatnya tidak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungannya, maka akan dikelompokkan pada golongan manusia celaka (fawailul lil mushallin). Alquran mengecam orang yang melalaikan filosofi shalatnya karena tidak menyantuni orang miskin (Almaun: 1-7).

Berpuasa bukan sekedar tidak makan dan minum. Puasa mengandung filosofi. Puasa adalah gerakan menahan nafsu. Nafsu kenyang. Nafsu serakah. Kesuksesan puasa tidak sekedar diukur, sejauh mana shaimin mampu menahan makan dan minum dari subuh sampai maghrib. Di balik itu, puasa adalah jalan kebaikan.

Jika sudah mampu menahan lapar, maka seharusnya juga mampu menahan “rasa kenyang” lainnya dalam kehidupan. Seperti serakah terhadap harta benda. Agak sulit dinalar, jika ada orang Islam yang korupsi. Hampir semua sepakat, korupsi dilakukan bukan karena pelakunya tidak bisa makan.

(Baca juga: Puasa dan Kepedulian Sosial)

Para tersangka koruptor adalah orang kaya. Malah sangat kaya. Tetapi mengapa ia masih menumpuk-numpuk harta secara tidak halal? Jawabnya, ia gagal dalam jalan lapar. Gagal mempraktikkan puasa formal dalam kehidupan. Ia ingin selalu “kenyang”. Ada nafsu serakah yang membuncah. Nafsu yang belum bisa dikendalikan. Sebagaimana dikendalikannya lapar atau dahaga dalam puasa.

Batas dan penyelamat
Korupsi juga soal kesempatan. Kita yang berteriak-teriak antikorupsi mungkin belum diuji oleh kesempatan itu. Nah, puasa adalah ujian soal kesempatan itu. Dalam kesendirian, ada kesempatan “mencuri” makan dan minum. Tapi itu tidak dilakukan, karena kita menjaga puasa. Menjaga jalan lapar. Tetapi menjaga jalan lapar tidak boleh berhenti pada simbol ibadah. Jalan lapar adalah jalan kebaikan. Jalan kehidupan.

Seperti jalan lapar yang ada batas. Dalam jalan kebaikan pun ada batas. Ada rambu. Tapi rambu itu bukan membatasi. Bukan mengekang. Bukan. Justru batas itu membaikkan hidup. Seperti batas dalam wujud palang pintu pada rel kereta api. Apakah ia akan memburukkan hidup? Tidak. Palang pintu itu justru akan menyelamatkan.

(Baca juga: Maksiat Tutup di Bulan Ramadhan?)

Dalam terminologi Islam, batas disebut syariat. Ada halal, ada haram. Ada yang boleh dan ada yang tak boleh. Tanpa batas, tatanan masyarakat akan kacau. Manusia bisa seenaknya. Sekehendaknya.

Bayangkan jika seseorang boleh mengawini siapa saja! Sesukanya. Tanpa batas. Tanpa nilai. Maka bukan saja seorang lelaki akan “mengawini” sesama lelaki, lebih jauh lagi ia akan “mengawini” makhluk spesies lain. Mengerikan! Menjaga batas itulah yang diajarkan puasa, sebagai jalan lapar. Semoga! (*)

Kolom Mohammad Nurfatoni ini kali pertama dipublikasikan oleh Majalah YDSF, edisi Juni 2016

Iklan

Korupsi dan Religiusitas Semu

Santri: Pak Kyai, di bulan Ramadan kabarnya setan-setan dibelenggu.

Kyai:  Benar, sebagaimana sabda baginda Rasulullah saw, “Apabila telah masuk bulan Ramadan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan pun terbelenggu.”

Memangnya ada apa?

Santri: Kenapa masih ada yang berbuat kejahatan?

Kyai: Oh ya, ada contohnya?

Santri: Tadi kami baca berita, usai tarawih, KKP melakukan operasi tangkap tangan koruptor.

Kyai: Oh … rupanya ada yang tertinggal belum terbelenggu toh?

Santri: Maksud Pak Kyai, koruptor itu setan yang kelupaan dibelenggu? Dan kini KPK bertugas membelenggunya. Serius Pak Kyai?

Kyai: Huss ….! Koruptor kok disangka setan. Nanti dia marah.

Kenapa masih ada yang korupsi sementara setan sudah dibelenggu? Itu menjadi isyarat bahwa jangan lagi menjadikan setan sebagai kambing hitam atas perbuatan jahat manusia. Setan sudah dibelenggu pun manusia masih bisa korupsi.

Santri: Oh, begitu maksudnya.

##

Kita terkejut, lebih tepatnya kecewa. Di bulan suci, tempat manusia beriman menempuh jalan lapar dan menempa diri menjadi manusia mulia, justru dikotori oleh oknum-oknum yang melakukan kejahatan terorganisasi. Suap-menyuap. Korupsi.

Di bulan suci saja berani melakukan korupsi, apalagi di bulan lain. Begitu logika awam. Tapi ini sebuah potret. Mungkin bukan hanya korupsi, kejahatan lain pun ditengarahi meningkat di bulan ini: perampasan atau pencurian. Oleh sebab itu perumahan-perumahan sibuk memberlakukan jaga malam.

Nah, jika ditanya, siapa yang melakukan kejahatan itu, tentu akan mudah dijawab. Mayoritas pelaku kejahatan, termasuk koruptor, adalah beragama Islam disebabkan muslim adalah bagian penduduk mayoritas negeri ini.

Dan jika pertanyaan itu dilanjutkan, apakah yang melakukan korupsi itu ikut menyemarakkan Ramadan? Dengan memakai logika probabilitas, maka kemungkinan jawaban “ya”, sangat besar.

Tentu, ini sebuah ironi. Semaraknya Ramadan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesalehan. Berulang kali puasa Ramadan datang, tapi kejahatan, termasuk korupsi, cenderung meningkat. Sepertinya ada yang salah. Kok bisa berpuasa tapi korupsi juga?

Antara simbol dan esensi

Ibadah dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari dua dimensi: simbolis dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu akan menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, sulit mengukur eksistensi dan identitas suatu ibadah. Dan sebaliknya, tanpa filosofi maka ibadah itu bagaikan kulit tanpa isi. Hampa, kering.

Dalam dimensi simbol, yang disebut salat, misalnya, adalah perpaduan antara gerak, bacaan, dan diam. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sangat sulit diukur jika seseorang mengaku telah melakukan salat, padahal ia tak melakukan perbuatan seperti itu, meskipun ia berdalih telah memahami dan mempraktikkan filosofi atau esensi shalat dalam kehidupan, di antaranya salat berimplikasi pada ditinggalkannya perbuatan jahat dan kriminal (inna salata tanha an al fakhsyai wa al munkar).

Sebaliknya, orang yang menjalankan salat secara simbolis dengan tidak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungannya maka akan dikelompokkan pada golongan manusia celaka (fawailul lil musallin). Al-Quran misalnya mengecam orang yang melalaikan filosofi salatnya karena tidak menyantuni orang miskin (al-Maun/107:1-7).

Munculnya kontradiksi antara meningkatnya religiusitas di bulan Ramadan dengan tetap tingginya tindakan pelanggaran hukum menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan terhenti pada dimensi simbolis semata. Religiusitas yang nampak semarak itu, ternyata semu.

Banyak yang bisa menahan lapar (puasa simbolis), tetapi tidak bisa menahan nafsu (esensi puasa), Termasuk nafsu dalam menumpuk harta di luar koridor hukum dan nilai halal-haram.

Apalah artinya bisa menahan lapar saat puasa tetapi tidak mampu menahan nafsu serakah. Ini malah sangat berbahaya. Sebab, bukan saja makanan standar yang akan dimakan, juga “makanan” ekstrem, seperti aspal, beton bertulang, atau kayu glondongan.

Ironisnya, korupsi banyak dilakukan oleh orang-orang dengan strata sosial terhormat di masyarakat: pejabat atau wakil rakyat. Pada mereka yang terhormat itu, acapkali kita penuh harap dan angkat tangan penuh hormat. Tapi rupanya itu kehormatan palsu. (*)

Mohammad Nurfatoni
Diterbitkan kali pertama oleh koran Duta Masyarakat, 26 Juni 2015

Puasa Bicara Teror

Ramadan 1430 H kali ini umat Islam Indonesia dihadapkan pada tantangan yang berat, terutama berkaitan dengan ramainya kembali isu terorisme yang telah menimbulkan prasangka-prasangka pada sesama umat.

Di antara faktor penyumbang lahirnya prasangka-prasangka kepada umat Islam akibat terorisme itu adalah informasi yang tidak transparan atau tidak benar, di samping pandangan para pengamat yang seringkali asal bunyi.

Bagaimana kita menjalankan puasa Ramadan di tengah tantangan seperti itu? Tentu kita harus menjalankan puasa kali ini dengan lebih baik dan memaknainya lebih dalam lagi dibanding tahun sebelumnya. Seperti harapan Nabi Muhammad SAW bahwa seseorang harus memaknai masa kininya lebih baik dari masa lampaunya. ”Man kana yaumuhu khairum min amsyihi fahuwa rabihun” Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia beruntung.

Dengan kata lain jika kualitas puasa kali ini sama atau bahkan lebih jelek dari tahun kemarin, maka ”jalan lapar” yang kita tempuh menjadi kurang bermakna bahkan bisa dikategorikan merugi.

Nah, bagaimana agar puasa kita kali ini lebih bermakna dibanding sebelumnya? Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin merumuskan tiga tingkatan puasa. Pertama, puasanya orang awam yaitu puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan syahwat birahi.

Kedua, puasanya orang khusus, yaitu puasanya orang-orang saleh, yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa seperti menjaga pandangan, lisan, dan pendengaran atau menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci dan sebagainya.

Ketiga, puasa orang khusus lebih dari khusus, yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total.

Dengan memakai kerangka teori puasa Al Ghazali di atas, setidaknya kita memiliki parameter terhadap ada tidaknya peningkatan kualitas puasa kita dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Apakah selama ini kita masih terfiksasi pada puasa level 1 (awam, syariat), atau sudah meningkat pada level 2 (inderawi, tarikat), atau berada pada level 3 (hati, makrifat)?

Puasa Anti-teror, Kritik Internal

Tulisan ini tidak akan membahas tentang puasa level 1, di samping karena telah banyak dibahas di berbagai kesempatan, juga kurang relevan jika dimaksudkan untuk memberi pemahaman yang lebih meningkat terhadap makna puasa. Oleh karena itu setidaknya kita harus mengelaborasi puasa level 2.

Menarik untuk mengutip sebuah riwayat. Seorang wanita sedang mencaci-maki pembantunya di bulan Ramadan. Kabar ini didengar Nabi SAW. Beliau lalu mengutus seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Nabi SAW bersabda, “Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Nabi SAW lalu menegurnya, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Riwayat di atas menarik untuk kita kaji, karena beberapa hal. Pertama, Islam yang di antaranya dipraktikkan lewat ibadah puasa, sangat menghormati terbangunnya hubungan sosial yang harmonis. Sekalipun hubungan itu adalah antara majikan dengan pembantu, yang pada realitas umumnya selalu didominasi oleh sang majikan (artinya majikan bisa sekehendak hati memperlakukan pembantu).

Dalam Islam, orang yang berpuasa bukan saja diukur dari parameter fisikal (tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri), melainkan juga dinilai dari perilaku sosialnya. Bahkan puasa menjadi semacam garansi bagi pelakunya untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan.

“Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela,” sabda Nabi SAW. Apa artinya? Ternyata Islam sangat berkepentingan untuk membangun masyarakat yang beradab.

Kedua, dengan prinsip seperti itu, tentu menjadi tanda tanya besar ketika muncul tuduhan dari pihak-pihak lain, bahwa umat Islam atau setidaknya kelompok umat Islam dikait-kaitkan dengan berbagai tindakan teror, menakut-nakuti, merusak, dan membunuh manusia tanpa landasan syara’. Jangankan berbuat seperti itu, mencaci-maki pembantu saja sangat dibenci oleh Islam. Oleh karena itu menjadi tanda tanya besar jika umat Islam menjadi tertuduh dalam kejahatan terorisme?

Puasa Bicara, Kritik Eksternal

Kesalahan fatal pemberitaan bahwa Noordin M. Top yang terbunuh dalam aksi pengepungan di rumah Muh. Zahri di Desa Beji, Kec. Kedu, Kab. Temanggung beberapa waktu lalu, tentu harus menjadi introspeksi bersama bagi pihak kepolisian, media massa, dan pengamat. Bahwa kejujuran informasi harus dipraktikkan dengan baik. Mereka tidak boleh memberi informasi kepada masyarakat yang terkesan asal bunyi.

Di sinilah relevansi puasa bicara (atau melaporkan) bagi kita, terutama bagi mereka yang memiliki otoritas bersuara pada masyarakat luas.

Pertama, puasa bicara bermakna lebih dari sekadar menahan lidah untuk tidak menggunjingkan orang, mencaci maki, menghujat dan menghujat balik, mengeluarkan kata-kata kotor. Puasa bicara meniscayakan kita hanya berbicara yang perlu-perlu saja atau yang betul-betul bermanfaat. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam,” pesan Nabi SAW.

Kedua, puasa bicara juga mengandung pengertian jangan bicara atau melaporkan tentang sesuatu yang tidak kita pahami, atau malah dengan data yang tidak akurat. Jangan bicara hanya sekadar ingin menimbulkan kesan bahwa kita orang pintar dan sok menjadi pengamat.

Betapa komentar-komentar para pengamat kita beberapa waktu yang lalu telah berhasil membuat masyarakat kita resah, gelisah, dan pusing. Mereka membuat banyak orang tidak tenang, menderita. Padahal menurut Nabi SAW, “Orang lslam ialah orang yang [membuat] orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.“

Betapa berbahayanya pembicaraan atau pemberitaan yang didasarkan pada hal-hal yang tidak benar. Bukankah isu, intrik, dan informasi tak akurat telah banyak memakan korban, seperti salah tangkap? Inilah teguran keras Allah atas pemberitaan bohong. “Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya ringan saja. Padahal di sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.’” (An-Nur/24:15-16).

Mari kita berpuasa bicara. Mari puasa bicara yang saling memojokkan dan saling menuduh. Betapa tenang dan damai jika udara kita bersih dari pembicaraan-pemberitaan yang tidak berguna, bohong, dan menyakitkan? Dan jangan sampai pembicaraan dan pemberitaan kita menjadi teror baru. Semoga!

Mohammad Nurfatoni

Penulis adalah aktivis Forum Studi Islam Surabaya dan pendiri Pojokkatahatiku Institute

Artikel ini telah dimuat harian Surabaya Post 22/8/09

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=df8db2b0cd357a89d5e723c746d1e21b&jenis=d645920e395fedad7bbbed0eca3fe2e0

Puasa dan Krisis Spiritualisme

SEJARAH peradaban manusia kini berada dalam zaman modern. Secara harfiah, modern berarti baru. Namun lebih jauh, ciri modern bukan saja dalam arti kebaharuannya, melainkan lebih termaknakan pada pola hidup yang teknikalisme, di mana teknik memegang peran sentral, dan pola hidup materialisme ­suatu pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah.

Tanpa disadari, pola hidup yang demikian itu telah membuat manusia teralienasi, terasing dari kesejatian dan lingkungan sosialnya. Lebih jauh, modernisme bahkan telah melahirkan krisis spiritualisme. Diantara indikasi tercerabutnya manusia dari nilai-­nilai spiritual adalah terjadinya dekadensi moral, lunturnya nilai humanistik, dan menguatnya individualisme.

Runyamnya, dalam menghadapi krisis tersebut, manusia tidak bisa lagi berpikir jernih untuk secara sadar mengatasinya. Yang lahir justru cara berpikir dan bertindak yang serba panik dan rancu. Hal itu bisa kita lihat dari cara mereka mengatasi krisis spiritualisme itu. Mereka tidak berusaha memungut kembali elemen-elemen spiritualitas, tapi justru membenamkan dirinya lebih jauh ke dalam kubangan materialisme. Fenomena menguatnya hedonisme, menikmati hidup sepuas-puasnya sebelum datang kematian, membuktikan betapa manusia telah semakin terpuruk dalam mengatasi krisis spiritualisme.

Nuttin, seorang pakar psikologi humanistik, menyebutkan bahwa ada tiga aras kesadaran pada diri manusia. Pertama, kesadaran para aras psikobiologis. Kesadaran ini dipicu oleh pengalaman inderawi (biologis). Kesadaran untuk minum misalnya, dipacu oleh keringnya kerongkongan. Kedua, kesadaran pada aras psikososial. Kesadaran ini erat kaitannya dengan kebutuhan sosial: butuh berbagi dengan orang lain atau kebutuhan membina komunikasi sosial. Ketiga, kesadaran pada aras transendental: kesadaran adanya Tuhan, kebutuhan untuk beribadah, kesadaran adanya misteri hidup (kegaiban).

Dalam keadaan normal, ketiga aras itu mewujud menjadi satu dalam diri manusia. Artinya dalam setiap perilaku manusia selalu mengandung tiga aras kesadaran tersebut. Nikah misalnya, (harus) mengandung tiga aras kesadaran tersebut: [I] sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) [2] sebagai media membangun hubungan komunikasi sosial (menyatukan dua keluarga) [3] sebagai salah satu bentuk perwujudan ketaatan (ibadah) manusia kepada Tuhannya.

Dengan mengacu pada tiga aras kesadaran itu, maka dapat dilihat bahwa pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi pada kenikmatan lahiriyah (materialisme, atau dalam bentuk khususnya hedonisme) hanya merupakan pemenuhan aras kesadaran psikobiologis. Bukankah seks bebas, pengkonsumsian alkohol dan obat-obatan terlarang, atau korupsi, adalah perilaku-perilaku menyimpang yang tak mengindahkan nilai-nilai sosial, apalagi nilai-nilai transendental.

Yang lebih mencemaskan lagi, perilaku-perilaku tersebut tak jarang dijadikan sebagai pelarian atau pelampiasan dari krisis spiritualisme yang mereka alami. Inilah yang oleh Veronica Suprapti (1997) disebut sebagai hedonisme instan yakni merasakan kenikmatan puncak dengan jalan pintas.

Peran Penting Puasa

Puasa Ramadan mengajarkan kepada kita betapa pemenuhan hawa nafsu (aras kesadaran psikobiologis) harus dikendalikan. Pengendalian hawa nafsu ini sangat penting untuk menghindari kejatuhan manusia dari makhluk spiritual. Sebab, jika bandul keseimbangan spiritualisme manusia terus terseret pada ekstrem pemenuhan kebutuhan material, maka manusia tak ubahnya seperti binatang, yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk pemenuhan kebutuhan lahiriyah semata.

Identifikasi manusia sebagai binatang sesungguhnya sebuah aib besar. Ini terutama jika dikaitkan dengan “desain” Allah bahwa manusia adalah “puncak” ciptaaan-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan; Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (AI Isra/17:70; baca juga At Tiin/95:4).

Memang, manusia, seperti kita ketahui dari Al Qur’an, tercipta dari tanah (Al Hijr/15:28; Al Mukminun/23:12). Asal muasal pcnciptaan dari tanah (materi) itulah yang menimbulkan keinginan-keinginan material (biologis) yang dalam beberapa hal, keinginan-keinginan biologis itu sama dengan keinginan biologis yang dipunyai binatang (misalnya, makan-minum dan berhubungan seksual). Tetapi, tentu saja manusia tidak sama dengan binatang, termasuk jika kita kaitkan dengan asal muasal kejadian. Dalam penjelasan Al Qur’an kita dapati keterangan bahwa manusia juga mengandung unsur penciptaan dari ruh (non material): “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)­Ku, maka sujudlah kamu kepadanya” (Al Hijr/15:29; Shaad/38:72; As Sajdah/32:9).

Adanya unsur kejadian non-material (ruh) itulah yang membedakan, bahkan melebihkan atau membuat lebih, manusia dibandingkan makhluk lainnya. Karena itu pula, Allah memerintahkan makhluk lain (malaikat) untuk bersujud kepada Adam, “bapak” manusia (Al Hijr/15:29). Dengan demikian, predikat manusia sebagai “puncak” ciptaan Allah bukan semata didasarkan kepada keunggulan fisik-material, melainkan justru terletak pada keunggulan non fisik-material, yang tidak dimiliki makhluk lain.

##

Di samping melatih pengendalian hawa nafsu, puasa Ramadhan juga mengasah kepekaan sosial (aras psikososial) pelakunya. Mereka dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan kebaikan sosial (sedeqah, saling tolong menolong). Mereka pun diarahkan untuk meninggalkan kejahatan-kejahatan sosial (menghardik, mencela, bertengkar).

Sebuah riwayat mengabarkan bahwa seorang wanita sedang mencaci-maki pembantunya di bulan Ramadhan. Kabar ini didengar Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasulullah lalu menegurnya, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu”. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Riwayat di atas menarik untuk kita kaji, karena Islam yang di antaranya dipraktikkan lewat ibadah puasa, sangat menghormati terbangunnya hubungan sosial yang harmonis. Sekalipun hubungan itu adalah antara majikan dengan pembantu, yang pada realitas umumnya selalu didominasi oleh sang majikan (artinya majikan bisa sekehendak hati memperlakukan pembantu).

Dalam Islam, orang yang berpuasa bukan saja diukur dari parameter fisikal (tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri), melainkan juga dinilai dari perilaku sosialnya. Bahkan puasa menjadi semacam garansi bagi pelakunya untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan.

Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela,” sabda Rasulullah SAW. Apa artinya? Ternyata Islam sangat berkepentingan untuk membangun masyarakat yang beradab.

###

Yang tak kalah pentingnya, (puasa) Ramadan juga mengajak manusia untuk memperdekat jarak hubungan transendental dengan Tuhan-nya. Shalat, dzikir, istighfar, dan doa, adalah amalan-amalan penting bagi para pelaku puasa. Dengan amalan-­amalan itu, diharapkan mereka bisa semakin meyadari pentingnya Tuhan dalam kehidupan manusia. Bahwa Tuhan selalu dekat manusia dan selalu mengawasi gerak-geriknya. “Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan” (AI Hadiid/57:4)

Semangat selalu diawasi Tuhan adalah sikap yang sangat mendasar. Sebab dengan sikap seperti itu, kita akan menjadi hamba Tuhan yang benar. Di manapun dan kapanpun berada, kita tidak akan berani melanggar perintah-larangan-Nya. Bukankah Tuhan akan selalu “memergoki” kita, di saat taat atau di saat maksiat.

Semangat selalu diawasi Tuhan betul-betul dipraktekkan dengan baik ketika kita sedang beribadah puasa, suatu ibadah yang private, sebab, siapakah yang mengetahui bahwa seseorang itu berpuasa selain Tuhan dan orang itu sendiri? Mungkin saja seseorang di siang hari nampak lesu, lemah dan tak berdaya; yakni, mempunyai tanda-tanda lahiriah bahwa dia adalah seorang yang sedang berpuasa. Namun tentu saja hal itu tidaklah merupakan jaminan bahwa dia benar-benar berpuasa, sebab mungkin saja dia melakukan sesuatu yang membatalkan puasa ketika sedang sendirian, misalnya dengan meneguk segelas air.

Dengan dekat dengan Tuhan, manusia akan selalu terkontrol, tak perlu lagi merasa teraleniasi, dan pada akhirnya akan terhindar dan terbebas dari krisis spiritualisme.

        Di sinilah peran penting (puasa) Ramadhan. Manusia beriman pasti bangga dan terharu menyambutnya. Inilah kesempatan terbaik bagi manusia modern untuk kembali pada jati dirinya sebagai makhluk spiritual.

Marhaban ya Ramadhan!

Sidojangkung, 7 September 2007

Mohammad Nurfatoni
Dimuat Majalah Muslim, Edisi September 2007