Memeluk Laut Terbakar Api

aku memeluk laut biru
mencengkeram dan mengangkangi
tapi aneh aku terbakar api

kulitku mengelupas
ototku hitam legam arang
rontok menjadi abu kelabu

aku berderai-derai
jantungku melesat menohok matahari
hatiku menukik membelah bumi

otakku semburat menghambur angin
darahku muncrat mengelap debu
tulangku terurai menerjang badai

kini jiwaku bebas tak bertepi
lepas menumpas riuhnya sepi
aku berkelana melintas batas dimensi

Sidojangkung, 20 Maret 2008

Mohammad Nurfatoni

Puisi ini kali pertama diterbitkan di pojokhati 3 Juni 2011

Haji dan Meluasnya Tanggung Jawab Sosial

Hari ini jamaah calon haji Indonesia sudah berada di Kota Makkah, Arab Saudi. Mereka akan memenuhi panggilan Allah, menunaikan rukun Islam kelima.

Menarik untuk menghubungkan makna haji dengan konsep akhlakul karimah. Selama ini akhlakul karimah (budi pekerti luhur) sering dipahami sebagai sopan santun, unggah-ungguh, adab, atau tata krama. Tapi, saya tercengang ketika mendapatkan makna yang sangat dalam tentang akhlakul karimah

Adalah Muhammad Zuhri (1939–2011) yang memberikan makna mendalam itu. Menurut guru hikmah yang disebut-sebut sebagai sufi revolusioner tersebut, ajaran Islam telah memiliki kriteria tersendiri tentang akhlak mulia.

Hal itu didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Juga, firman Allah dalam surah al-Qalam ayat 4: ”Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang luhur.”

Seseorang disebut berakhlakul karimah–sebagaimana teladan terbaik yang diberikan Nabi SAW–manakala berada dalam kondisi yang seimbang. Artinya, pribadi yang sanggup berdiri di antara Allah dan semestanya, di antara yang ideal dan riil, atau di antara dimensi keharusan dan dimensi kenyataan.

Pandangan Pak Muh–panggilan akrabnya–itu didasarkan pada surat al-Baqarah ayat 143, “Demikianlah telah Kami jadikan kamu suatu umat yang seimbang, supaya kamu menjadi saksi atas manusia dan Rasul (mewakili Allah) menjadi saksi atas kalian.”

Menurut Pak Muh, seorang yang berakhlak terpuji akan menyandang dua tanggung jawab sekaligus, yaitu tanggung jawab ke atas dan ke bawah. ”Ketika pribadi yang demikian menghadap kepada Allah, ia bertanggung jawab untuk menyampaikan tuntutaan dan harapan umat manusia kepada-Nya. Dan ketika berhadapan dengan manusia, dia bertanggung jawab menyampaikan pesan dan perintah Allah kepada mereka,” kata Pak Muh seperti bisa dibaca dalam buku Secawan Cinta, Pesan-Pesan Kearifan dari Lereng Muria (Barzakh Foundation, 2015, h 450).

Singkatnya, seorang berakhlak mulia itu akan menjadi wakil Allah di depan manusia dan menjadi wakil umat manusia di depan Allah.

Jamaah haji sedang melakukan thawaf tahun 2017 ( Video Mohammad Nurfatoni)

Dua Tanggung Jawab

Sudah lazim di Tanah Air, seseorang yang akan berangkat haji mendapat ‘titipan’ doa tetangga dan sanak saudaranya. Karena diyakini doa di Tanah Suci akan dikabulkan, mengingat banyak tempat yang mustajabah di sana seperti Multazam, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, atau Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah.

Titipan doa itu sesungguhnya sebuah simbol bahwa seorang (calon) jamaah haji mempunyai tanggung jawab yang lebih besar, yakni meyampaikan tuntutan dan harapan manusia kepada Allah. Sesuai dengan makna akhlakul karimah di atas, jamaah haji bertugas menjadi wakil umat manusia di depan Allah. Sungguh tugas yang tidak main-main.

Pemaknaan seperti itu sejalan pula dengan istilah yang beredar di masyarakat bahwa ibadah haji merupakan panggilan Allah. Memang, dalam kenyataannya, tidak semua umat Islam berkesempatan menunaikan ibadah haji. Dan itu bukan sekadar persoalan biaya.

Seorang kawan pernah bercerita bahwa dia memiliki teman yang setiap tahun menunaikan umrah. Tapi, untuk berangkat haji, dia masih enggan. Katanya, belum siap. Apa maknanya? Sekali lagi, itu menegaskan keyakinan umat Islam bahwa haji adalah panggilan. Ketika Allah berkenan melayangkan undangan, terpanggillah dia. Sebaliknya jika belum mendapat undangan Allah.

Maka, bersyukurlah bagi yang dipanggil Allah untuk berangkat haji. Tetapi, itu sekaligus membawa risiko berat, bahwa mereka yang berangkat haji membawa tugas penting: menjadi duta-duta umat manusia, khususnya umat Islam, untuk menyampaikan harapan dan keinginannya di hadapan Allah.

Karena itu, seorang yang dipanggil Allah untuk menunaikan ibadah haji harus tuntas dari urusan pribadi dan keluarganya karena kini harus mewakili dan menanggung umat yang lebih luas. Pak Muh dengan indah menggambarkan bahwa haji adalah momentum berubahnya individu (dengan tanggung jawab) kecil menjadi individu (dengan tanggung jawab) besar. 

Jika sebelum haji manusia hanya berputar-putar (dilambangkan dengan tawaf) melakukan rutinitas: pergi-pulang, bekerja-istirahat, tidur-bangun, dan seterusnya –yang semua itu sudah ribuan kali dilakukan sehingga membuatnya merasa nyaman dan sayang atas kenikmatan itu.

Padahal, ada hal-hal yang belum ditemukan oleh manusia ketika berjalan melingkar-lingkar antara tempat tidur dan kantor, tempat tidur dan pasar, tempat tidur dan sawah, dan sebaginya. Ada yang belum dimiliki dan perlu ditambah, yaitu nilai-nilai moral, intelektual, dan spiritual.

Sungguh berat memperoleh haji mabrur: karena harus memanivestasikan akhlakul karimah dalam kehidupan sosial: menjadi wakil manusia di hadapan Allah dan mewakili Allah di depan manusia. 

Selamat jalan para calon haji. Semoga bisa menggapai haji mabur! Amin. (*)

Mohammad Nurfatoni
Opini ini kali pertama dimuat Jawa Pos 28 Juli 2017

Bihun Cap Bikini atau Bikini Cap Bihun?

KH Idham Kholid pernah membuat statemen yang sangat terkenal sampai kini, “Mana yang lebih baik antara minyak samin cap babi daripada minyak babi cap onta?” Pernyataan ini berkaitan dengan diskursus politik Islam, mana yang lebih penting, Islam substansi atau Islam simbolis?

Dalam perdebatan tersebut, Islam substansi digambarkan sebagai ‘minyak samin cap babi’ sedangkan Islam simbolis diibaratkan ‘minyak babi cap onta’. Anda pilih mana? Saya sendiri, akan memilih alternatif yang ketiga: ‘minyak samin cap onta’. Sebab, Islam itu sarat dengan simbol-simbol. Tetapi dalam beragama, umat Islam tidak boleh berhenti pada simbol. Kita harus bisa merengkuh isi di balik simbol itu, yaitu substansi atau esensi Islam. Saya kira dalam konsep Islam politik, alternatif pilihan ketiga itu pun sah-sah saja.

Bagaimana dalam dunia bisnis? Tentu tidak fair, bahkan menyesatkan, jika ada yang menjual minyak babi tapi dilabeli onta? Jangankan babi yang haram, menjual minyak kambing, tapi jika di-packing sebagai minyak onta, itu sudah melanggar etika. Seperti juga menjual makanan dengan merek atau kemasan yang diasosiasikan dengan unsur-unsur pornografi.

(Baca juga: Jangan Ada Korban Lagi seperti Yy)

‘Bihun Bikini’ adalah salah satu contohnya. Nama, ilustrasi atau gambar, dan tagline-nya, semua menjurus pornografi. Lalu di mana etika produsennya? Kreatifitas memang patut dihagai, tetapi kreativitas yang melanggar norma, sopan santun, dan kepatutan, harus dikoreksi. Apalagi, Bihun Bikini itu bukan soal kreativitas. Itu hanya strategi marketing instan, agar produk booming sesaat. Tapi, menurut saya, prinsip meraup untung sebesar-besarnya tidak boleh mengorbankan etika.

Di perusahaan yang saya pimpin, ada prinsip penting yang kami tanamkan, “harga bisa ditawar, tapi tidak soal kualitas.” Maksudnya mahal-murah itu negosible. Bisa tawar-menawar. Termasuk dengan risiko marjin keuntungan yang tipis. Tapi soal kualitas, apalagi yang menyangkut kadar (timbangan dan ukuran), tidak boleh ditawar, alias harga mati.

Tidak boleh ada penurunan, apalagi penipuan, spesifikasi bahan. Meskipun hal itu sangat mungkin dilakukan. Apalagi konsumen tidak akan tahu atau menyadarinya. Kami juga tidak akan menerima order cetakan yang ada unsur pornografi, judi, dan minuman keras. Bahkan order cetakan rokok pun sebisa mungkin kami hindari.

Tapi di abad modern ini, soal etika bisnis masih pentingkah? Rasanya banyak pebisnis yang meminggirkan etika demi meraup untung besar. Celakanya, risiko kesehatan, bahkan kematian, tidak lagi dihitung. Makanan dicampur berbagai zat kimia yang membahayakan kesehatan konsumen. Obat, yang dibeli untuk tujuan menyembuhkan, justru dipalsu. Vaksin pun dipalsu!

(Baca juga: Membeli Kepalsuan Diri)

Dalam Islam, aktivitas bisnis termasuk bagian dari mu’amalah. Pesan utama dalam mu’amalah (interaksi) bisnis misalnya bisa kita dapati dalam Albaqarah ayat 188, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan (interaksi bisnis) di antara kamu secara batil …” Menurut ahli tafsir Prof M Quraish Shihab, kata ‘batil’ diartikan sebagai “segala sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan dan nilai agama”.

Nah, selain di dalam Alquran, ketentuan dan nilai agama soal bisnis (etika bisnis) terdapat dalam berbagai kitab hadis. Dalam kitab Bulughul Maram misalnya, ada satu bab khusus tentang jual beli, yang memuat hadis-hadis tentang hal-hal yang boleh dan yang dilarang dalam bisnis. Bahkan soal pailit dan pembekuan transaksi pun dibahas.

Dari semua hadis di dalam kitab itu, semangatnya bisa ditangkap dalam salah satu hadis yang secara eksplisit melarang tipu menipu dalam bisnis. Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Ibnu Umar berkata bahwa ada seseorang mengadu kepada Rasulullah saw bahwa dia tertipu dalam jual beli. Lalu beliau bersabda, Jika engkau jual beli, katakanlah, ‘Jangan melakukan tipu daya!’

Persoalannya, apakah etika bisnis dalam Alquran dan Alhadis itu banyak yang tidak diketahui? Atau, jangan-jangan sudah tahu tapi karena tidak lagi peduli dengan nilai-nilai, maka rambu-rambu bisnis banyak yang diterabas. Jika hal terakhir yang terjadi, maka saya sarankan untuk menyelami kembali ‘ilmu menghadirkan’ dalam dunia bisnis.

(Baca juga: Anehdong Jumat, 12 Kisah Lucu Seputar Jumatan)

Ilmu menghadirkan adalah menghadirkan perasaan orang lain dalam diri sendiri. Jika hendak menipu, hadirkan perasaan para korban penipuan itu. Jika akan berbisnis vaksin palsu, maka hadirkan perasaan jiwa yang akan terdampak serius akibat vaksin palsu itu. Sebelum memproduksi makanan bercampur borak atau zat warna sintesis, maka hadirkan perasaan para konsumen yang akan mati pelan-pelan, rusak tubuhnya oleh bahan kimia berbahaya itu. Bagaimana jika itu terjadi pada diri keluarga kita?

Dalam bisnis, memang salah satu tujuannya mendapatkan keuntungan. Tapi keuntungan itu harus dicapai dengan cara-cara beretika. Prinsip bisnis Islami yang saya pahami, soal harta itu bukan akeh-akehan (sebanyak-banyaknya), tetapi sebersih-bersihnya. Itu yang bikin hidup penuh barakah. Semoga! (*)

Kolom Mohammad Nurfatoni General Manager Cakrawala Print
Tulisan ini kali pertama dipublikasikan di harian Duta Masyarakat, 12 Agustus 2016