Indonesia Tergadaikan?

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya (Ibrahim/14: 46)

 

“Indonesia Lapor ke Australia,” demikian head line harian Jawa Pos Rabu, (13/6). Berita ini diturunkan oleh Jawa Pos berkaitan dengan ramainya lagi penangkapan terhadap—apa yang oleh polisi dan media disebut—jaringan teroris di Indonesia, di antaranya (kelompok) Abu Dujana.

Australia secara eksplisit menyebut Indonesia berhasil menangkap pemegang kendali Jamaah Islamiyah (JI) itu. Informasi dari Negeri Kanguru tersebut disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer. Dia mengatakan bahwa pejabat yang berwenang di Indonesia telah memberi tahu dirinya tentang penangkapan Abu Dujana. “Saya bisa memastikan bahwa itulah yang dikatakan oleh seorang pejabat di Indonesia,” kata Downer kepada Sky News seperti dikutip surat kabar The Age.

Apa yang menarik dari berita di atas? Inilah berita telanjang bahwa perburuan terhadap apa yang disebut jaringan teroris oleh Densus 88 Antiteror Polri memiliki hubungan yang sangat erat dengan pihak luar negeri. Sudah lama masyarakat menganggap bahwa perburuan para aktivis Muslim Indonesia oleh Densus 88 adalah bagian dari proyek global dengan tema melawan terorisme, dengan sponsor utama AS (masuk di dalamnya Australia). Sejak peristiwa 11 September 2001, AS di bawah komando George W. Bush menggalang kekuatan dunia, tak terkecuali Indonesia, untuk memerangi terorisme. Dalam konteks ini kita melihat bahwa segala isu tentang terorisme tidak jauh dari AS.

Maka kita menempatkan posisi Densus 88 Antiteror Polri tidak lepas dari isu global terorisme itu. Secara simbolik kita bisa mengkaitkan posisi itu dengan”ide” Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abubakar Ba’asyir, yang mengusulkan nama Detasemen Khusus yang sebelumnya bernama Densus 88 menjadi Densus 5.000. “Nama 88 apa itu? Itu kan 88 orang Australia yang mati di Bali, kenapa tidak dibikin Densus 5.000, yakni 3.000 orang Islam mati di Ambon dan 2.000 mati di Poso,” katanya.

Tentu saja, buru-buru pernyataan Downer itu segera dibantah. Mabes Polri tidak memastikan apakah buron kasus terorisme Abu Dujana telah ditangkap seperti yang disampaikan Downer. Klarifikasi juga dilakukan oleh Duta Besar Australia di Jakarta Bill Farmer kepada Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Farmer didampingi Kepala Kepolisian Federal Australia Commissioner Mick Keelty. “Mereka meralat dengan mengatakan apa yang dikatakan menterinya tidak seperti di media. Menteri mereka hanya menyampaikan penghargaan untuk penangkapan teroris,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto kepada wartawan.

Tapi, apa ya sebodoh itu rakyat Indonesia? Bagaimana mungkin pernyataan seorang pejabat setingkat menteri sangat tidak akurat?

 

Mempertanyakan Nasionalisme Indonesia

Nafsu besar Indonesia menangkap rakyatnya sendiri dengan tuduhan terlibat jaringan terorisme tentu sangat disayangkan. Karena di samping sangat subjektif dan tidak menutup kemungkinan bagian dari sebuah rekayasa global dengan merek Islamiphobia, tuduhan dan penangkapan itu menunjukkan sempitnya rasa nasionalisme pemerintah Indonesia sendiri. Bahkan bukan dalam kasus isu terorisme saja, dalam kasus TKW misalnya, pemerintah sangat kurang respek melakukan pembelaan terhadap rakyatnya.

Mari kita bandingkan dengan sikap pemerintah Kamboja. Pada halaman Internasionalnya harian Kompas Selasa (12/6) menurunkan berita, “Hun Sen Marah Besar

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Senin (11/6), berang atas tuduhan Thailand bahwa kelompok Muslim Kamboja memiliki kaitan dengan kelompok regional Jemaah Islamiyah atau JI. “Tuduhan tak berdasar ini tidak bisa diterima,” tegasnya. Sebelumnya, Jenderal Purnawirawan Watanachai Chaimuanwong, penasihat senior bidang keamanan untuk Perdana Menteri Thailand Surayud Chulanont, mengatakan bahwa sebuah kelompok Muslim Kamboja yang memiliki jaringan ke JI telah masuk ke Thailand selatan.

Kepada seorang pejabat Kedutaan Besar Thailand yang hadir di acara itu, Hun Sen memintanya untuk mencatat pernyataannya dan menyampaikan kepada Pemerintah Thailand. “Saya sudah pada tahap tidak bisa bersikap toleran lagi atas tuduhan seperti itu,” katanya.

“Sangat menyedihkan (mendengar) Muslim Kamboja dituduh sebagai teroris. Tuduhan ini sangat menyeramkan. Kamboja bukanlah tempat berlindung (kelompok) yang akan melancarkan serangan ke Thailand,” ujar Hun Sen.

Jadi, ah … apakah Endonesia (karena kita susah bilang Indonesia…, meminjam situs endonesia.com) sudah tergadaikan? Wallahu A’lam!

 

Sidojangkung, 13 Juni 2007

Dimuat pada HANIF, 15 Juni 2007

Nenek Moyang Nabi SAW

Membicarakan nenek moyang (nasab) Nabi Muhammad saw sangat penting, setidaknya karena dua hal, pertama, adanya klaim (nasab) sepihak yang merujuk pada Nabi Ibrahim as dari bangsa Yahudi. Misalnya bisa kita lihat dari klaim bangsa Yahudi bahwa yang “dikurbankan” oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishaq.

Kedua, untuk membuktikan adanya estafet risalah kenabian Muhammad saw dari nenek moyang nabi terdahulu, khususnya dari Nabi Ibrahim as. Seperti yang kita baca dari beberapa ayat al-Qur’an berikut ini, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw bersumber dari agama Ibrahim as.

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi atau seorang Nasrani, melainkan seorang hanif dan Muslim.(Ali Imran/3:67). Kemudian kami wahyukan kepada engkau (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim secara hanif.” (an-Nahl/16:123). Katakanlah (olehmu, Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkan aku ke jalan yang lurus, yaitu agama yang tegak, agama Ibrahim yang hanif.” (al-An’am/6:161).

Bukti nyata dari runtutan agama dari Nabi Ibrahim as kepada Nabi Muhammad saw adalah pewarisan ibadah haji yang jejaknya ditorehkan oleh Ibrahim dan keluarganya (Hajar dan Ismail). Sofa-Marwah, kurban, zamzam, Mina, Muzdhalifah, Arafah adalah kata-kata kunci yang kini menjadi tradisi penting dalam haji.

Demikian pula, Ka’bah—rumah ibadah pertama kali yang didirikan untuk umat manusia (Ali Imran/3:96)—yang dibangun (kembali) oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as (al-Baqarah/2:127), kini menjadi sentral ibadah umat Islam. Bukan saja sebagai tempat thawaf dalam ibadah umrah dan haji, melainkan juga menjadi kiblat dalam ibadah shalat umat Islam sedunia.

Yang menarik, meskipun umat Islam (zaman Rasulullah saw), pernah diperintahkan oleh Allah untuk berkiblat pada Masjid Al Aqsha di Yerussalem—yang dibangun oleh Nabi Sulaiman as (8 abad setelah Nabi Ibrahim as), namun pada akhirnya Allah memperkenankan kembali umat Islam berkiblat ke Ka’bah di Mekkah. Perpindahan ini memiliki makna yang penting bahwa agama Islam merujuk pada agama Ibrahim as.

Dari Ibrahim, Ismail, hingga Muhammad

Nurcholish Madjid (Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Paramadina, 1996), menyebutkan ada dua bangsa yang mengaku sebagai keturunan Nabi Ibrahim as, yaitu bangsa Yahudi dan bangsa Arab (suku Quraish). Bangsa Yahudi diturunkan dari garis Nabi Ishaq as, kemudian turun ke Nabi Ya’qub as yang bergelar Isra’il (artinya, Hamba Allah). Karena itu maka keturunan Nabi Ya’qub juga disebut Bani Isra’il (artinya, anak-cucu Isra’il).

Ishaq adalah putera Ibrahim dari isterinya, Sarah. Tapi sebelum beranakkan Ishaq, Ibrahim telah beranakkan Isma’il dari istrinya yang lebih muda, Hajar, seorang yang dihadiahkan oleh Fir’aun. Dia dinamakan Isma’il, dari bahasa Ibrani, Ismael, yang artinya “Allah telah mendengar,” karena Ibrahim, memandangnya sebagai bukti bahwa Allah telah mendengar doa’nya untuk mempunyai keturunan.

Maka tidak heran Ibrahim sangat mencintai anaknya, Isma’il itu. Tetapi kecintaannya itu telah mengundang ketidaksenangan Sarah, isteri pertamanya yang kemudian meminta Ibrahim untuk membawa mereka, ibu dan anak itu, keluar dari rumah tangganya. Isma’il dan ibunya, Hajar dibawah Ibrahim ke Mekkah, dekat rumah Allah (Bayt Allah), sesuai dengan petunjuk Allah sendiri (Ali Imran/3:96). Di sanalah Isma’il dibesarkan, kemudian berumah tangga dengan wanita Arab suku Jurhum, yang kemudian menurunkan bangsa Arab Quraish, penduduk Makkah dan suku Arab yang paling terkemuka.

Dari suku Quraish itu kelak tampil Rasul Allah yang penghabisan, Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam.

Garis Keturunan Itu

Bagaimana nasab Nabi Muhammad saw sampai Nabi Ibrahim as? Para ahli sejarah sepakat bahwa Nabi Muhammad saw adalah keturunan Nabi Ibrahim as (lewat jalur Nabi Ismail as). Tetapi terjadi perselisihan berapakah nenek-nenek beliau di antara Ismail dengan Adnan. Kata setengahnya banyaknya 40 orang, setengahnya pula mengatakan 7 orang. Berkata Abu Abdullah Al-Hafidzh: “Tentang berapakah bilangan nenek-nenek moyang Rasulullah sejak dari Adnan menjelang Ismail dan Ibrahim itu tidaklah ada suatu riwayat yang muktamad.” (Hamka, Sejarah Umat Islam).

Tetapi sebagian ahli sejarah memberi data bagaimana sambungan antara Adnan sampai Nabi Ibrahim as, diantaranya: Adnan adalah Ibnu Ad bin Humaisi bin Salaman bin Aush bin Basuz bin Qumwal bin Ubay bin Awwan bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadlaf bin Thabikh bin Jahim bin Nasyid bin Makhi bin Iyadl bin Abqar bin Ubaid bin Ad Da’a bin Hamdan bin sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Arawa bin Iyadl bin Disyan bin Aishir bin Afnad bin Aiham bin Magshar bin Nahits bin Zarah bin Sama bin Maza bin Audlah bin Iram bin Qidar bin Ismail as bin Ibrahim as (Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad – Sirah Nabawi).

Bahkan silsilah itu oleh dilanjutkan sampai Adam as, meskipun ini oleh Syafiyyur Rahman dianggap bahwa di dalamnya terdapat perkara-perkara yang tidak benar. Adapun silsilah Nabi Ibrahim as sampai Adam as yang dimaksud adalah; Ibrahim bin Tarih  bin Nahur bin Asragh bin Arghu bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh as bin Lamik bin Mattusyalakh bin Akhnukh (Idris as) bin Yarid bin Mahlail bin Qayin bin Anus bin Syits bin Adam as. (Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I, Darul Falah,, Jakarta, 2004).

Jika silsilah dari Nabi Ibrahim as sampai Adnan terjadi perselisihan pendapat (apalagi dari Adam as sampai Ibrahim as!), maka ahli sejarah sepakat tentang nasab Nabi Muhammad saw sampai Adnan, dengan runtutan sebagai berikut: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (Syaibah) bin Hasyim (Amru) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (darinya penisbatan kabilah Quraish) bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mu’id bin Adnan.

Jalur keturunan dari garis keturunan Ismail ini oleh para ahli sejarah digolongkan dalam kelompok Arab Musta’ribah, yang dinamakan juga Arab Adnaniyyah. Sedangkan dua golongan bangsa Arab lainnya adalah Arab Ba’idah, yaitu kaum Arab terdahulu yang rincian sejarah mereka tidak dapat diketahui secara sempurna seperti kaum Ad, Tsamud Thasam, Amlaq. Golongan lainnya adalah Arab Aribah, yaitu kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ya’rib bin Yasyjib bin Qahthan, yang disebut Arab Qathaniyyah, yang bertempat di Yaman dengan dua kabilah yang terkenal, yaitu Humair dan Kahlan. (Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sejarah Hidup Muhammad – Sirah Nabawi)

Keistimewaan Keluarga Nabi Muhammad saw.

Dengan mempelajari nasab Nabi Muhammad saw, maka kita kana menemukan beberapa keistimewaan:

  1. Jalur dari Nabi Ibrahim as. “Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail di antara anak Ibrahim, kemudian memilih Kinanah di antara anak keturunan Ismail, kemudian memilih Quraisy di antara Bani Kinanah, kemudian memilih Bani Hasyim di antara Bani Kinanah, kemudian memilih aku di antara Bani Hasyim.” (HR Muslim dan Tirmidzi)
  2. Keluarga Terhormat dan Terbaik. Dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, lalu menjadikan aku termasuk dari kelompok mereka yang terbaik. Kemudian, dipilihlah kabilah-kabilah, maka Dia menjadikan aku termasuk kabilah yang terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga, maka Dia menjadikan aku termasuk dari keluarga yang terbaik. Maka saya adalah orang yang terbaik di antara mereka, dalam hal pribadi dan keluarga.” (HR Tirmidzi).

Keistimewaan keluarga Nabi Muhammad saw, bisa dilihat dari sisi singgungan mereka dengan Mekkah (kota suci yang melegendaris) dan Ka’bah (bangunan suci yang juga melegendaris). Mulai dari menghidupkan dan meng-kota-kan Makkah (dengan air zamzam yang terpancar dari tanah di atas kaki bayi Ismail, akan menjadi sumber kehidupan manusia), pembangunan (kembali) Ka’bah oleh Ibrahim dan Ismali berikut tradisi haji dan pemeliharaan ka’bah dari segala aspeknya secara turun temurun oleh nenek moyang Nabi Muhammad saw. Ini bisa kita lihat dari peran mereka masing-masing sebagai berikut:

  1. Qushayy bin Kilab (400 M). Dialah penggagas komunitas (ditandai dengan bangunan) di sekitar Ka’bah, termasuk tempat bernama Dar An-Nadwah, sebagai tempat bertemunya para pembesar-pembesar Mekkah.
  2. Pemegang jabatan-jabatan penting seputar Ka’bah: (penjaga pintu Ka’bah = juru kunci)
    • Siqayah (penyedia air tawar).
    • Rifada (pemberi makanan).
    • Nadwa (pemimpin rapat tiap tahun musim)
    • Liwa’ (penjaga panji-panji)
    • Qiyada (pemimpin pasukan perang)
  3. Abdul Manaf (430 M). Keluarga ini mendapat bagian untuk mengurus persoalan air dan makanan. Sedangkan keluarga Abdur Dar (saudaranya) bertugas memegang kunci, panji, dan memimpin rapat.
  4. Hasyim (464 M). Dialah pemegang urusan air dan makanan. Pengancur masyarakat untuk menafkahkan hartanya untuk memberi makanan pada peziarah ka’bah. Juga semakin meng-kota-kan Mekkah.
  5. Abdul Muttalib (495 m). Penerus urusan pembagian air dan makanan. Penggali (kembali) sumur Zamzam yang terpendam. Pada masa beliau, terjadi penyerangan Ka’bah oleh Abrahah. (Muhammad Haikal, Sejarah Hidup Muhammad)

Mohammad Nurfatoni
Sidojangkung, 12 April 2005
Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, BEST FOSI Surabaya

Turki, Sekulerisme Yes Islam No?

Saat ini suhu udara di Turki cukup dingin, berkisar 11 derajat Celsius. Tapi tidak dengan suhu politik. Suasana panas sedang melanda perpolitikan Turki. Suhu politik meningkat di parlemen, juga menyebar ke luar. Dua kelompok yang berseberangan saling berdemonstrasi: kelompok pendukung sekularisme di satu pihak, dengan kelompok propartai Islam di pihak lain.

Krisis politik ini terjadi menyusul terpilihnya Abdullah Gul dari partai berbasis Islam, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada pemilihan presiden Turki yang diselenggarakan hari Jum’at 27 April 2007. Kubu sekuler menganggap sidang pemilihan presiden putaran pertama tidak sah karena tidak memenuhi kuorum, yakni 2/3 anggota parlemen atau 367 dari 550 orang.

Seperti diketahui, pemilihan presiden Turki dilakukan oleh parlemen dalam tiga putaran. Jika dalam pemilihan putaran pertama seorang capres mendapat 2/3 suara maka dia terpilih menjadi presiden. Jika tidak, pemilihan putaran kedua harus dilakukan. Syarat terpilihnya presiden sama dengan putaran pertama. Jika parlemen tidak berhasil memilih presiden pada putaran kedua, pemilihan dilanjutkan pada putaran ketiga. Capres bisa terpilih jika mendapatkan setidaknya 276 suara.

Tidak kuorum-nya sidang tidak lain karena pemboikotan yang dilakukan oleh kelompok oposisi prosekularisme. Kelompok ini sejak semula curiga bahwa calon presiden dari AKP akan memperjuangkan sistem politik berbasis Islam, menggeser sekularisme yang sudah menjadi ideologi Turki sejak dicanangkan oleh Jenderal Mustafa Kemal Atartuk tahun 1923. Sebenarnya calon presiden yang diajukan AKP adalah PM Recep Tayyib Erdogan. Karena mendapat pertentangan keras, maka akhirnya AKP mengusung Menlu Abdullah Gul. Namun yang terakhir inipun tetap dianggap akan membawa pengaruh Islam di Negara sekuler Turki.

Penentang tidak saja datang dari partai oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP), partai yang menggusung sekularisme, melainkan juga dari militer. Panglima tertinggi militer Turki menyampaikan pernyataan bahwa mereka bisa mengintervensi jika proses pemilu mengancam diabaikannya sekularisme Turki.

Atas tuntutan CHP, akhirnya hasil pemilihan presiden putaran pertama dibatalkan oleh Pengadilan Konstitusi (PK). Sebenarnya, jika pemilihan putaran pertama tidak oleh keputusan PK, bisa dilakukan pemilihan putaran kedua, jika pun tetap gagal mencapai kuorum karena tetap diboikot oleh CHP, maka dilakukan pemilihan putaran ketiga. Karena cukup mensyaratkan 276 suara, maka sebenarnya Abdullah Gul bisa terpilih mengingat jumlah anggota parlemen dari AKP adalah 353 orang. Tapi inilah akal-akalan yang dilakukan oleh pihak pro sekuler, bagaimana caranya bisa menggagalkan terpilihnya calon dari AKP.

Sebagai konsekuensi dari keputusan PK, maka diadakan pemilihan ulang putaran pertama pada Ahad, 6 Mei 2007. Pemilihan inipun akhirnya gagal juga mencapai kuorum, karena kembali diboikot pihak oposisi. Maka sebagai konsekuensinya, pemerintah harus mempercepat pemilu legislatif (22 Juli 2007), yang sedianya baru dilakukan pada Nopember 2007.

Turki, Romantisme Sekularisme Kemal Atartuk

Seolah mengulang sejarah, kegagalan Abdullah Gul dari partai berbasis Islam AKP mencapai kursi presiden saat ini, menandai kembali sengitnya pertarungan antara kubu sekuler dengan Islam. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, setidaknya terjadi tiga kali kudeta militer dengan alasan menyelamatkan sekularisme, yaitu pada tahun 1960, 1970, dan 1980. Sepuluh tahun yang lalu, krisis politik juga terjadi setelah Partai Kesejahteraan, partai Islam pertama, memenangi pemilu Turki. Krisis ini akhirnya juga “dimenangi” pihak sekuler, karena militer berhasil memaksa PM Necmettin Erbakan dari Parta Kesejahteraan untuk meletakkan jabatan. Dan militer pun akhirnya melarang Partai Kesejahteraan.

Data sejarah ini tentu menarik dikaji. Pertama, sekularisme yang dicanangkan oleh Jenderal Mustafa Kemal Atartuk sejak tahun 1923 dengan melakukan perubahan secara luas di Turki antara lain dengan memasyarakatkan pakaian ala Barat, mengadobsi alfabet dan kode hukum Barat, serta menghapus lembaga-lembaga Islam, masih punya pengaruh kuat di Turki, terutama karena mendapat “pengawalan” dari militer—di samping karena magnet kemajuan Barat (Uni Eropa) yang sangat kuat untuk menarik Turki sejajar dengan negara-negara Barat.

Maka, seperti diajarkan oleh Ataturk, agar bisa menjadi Barat, Turki harus meninggalkan identias lama (Islam) berganti baju dengan identitas baru (sekuler). Hal ini tidak boleh ditafsirkan dalam pengertian substansi (misalnya kemajuan ekonomi atau ilmu pengetahuan), melainkan juga pada hal-hal simbolis. Maka Turki menjadi sangat antisimbol Islam (misalnya, salah satu alasan kecurigaan akan adanya misi antisekuler dari Erdogan dan Gul, diantaranaya karena istri kedua tokoh ini memakai jilbab).

Kedua, meski masih memiliki pengaruh kuat di Turki, namun sekularisme Turki menuai kritik keras, karena sekularisme gaya Attartuk dianggap terlalu ekstrem dan mendiskriminasi mayoritas Muslim Turki. Dan yang lebih menarik, ternyata pelan-pelan tapi pasti, sekularisme Turki mulai ditinggalkan warga Muslim Turki. Gelombang protes dari kelompok yang propartai Islam di jalan-jalan yang memperlihatkan wanita-wanita berjilbab setidaknya menunjukkan bahwa telah berkembang dengab pesat kesadaran kembali pada Islam.

Meski capaian terbesarnya dibuldezor oleh militer dan kemudian dilarangnya partai Islam, Partai Kesejahteraan, pada 1997, tidak menyurutkan gelora kesadaran pada (politik) Islam. Capaian kursi mayoritas di parlemen oleh partai berbasis Islam, AKP (354 kursi dari 550) pada pemilu 2002 juga adalah indikator penting mulai ditinggalkannya sekularisme Turki. Maka, kelompok sekularis Turki tidak sepatutnya selalu mengenang romantisme masa-masa keemasan sekularisme di bawah pengaruh Atartuk.

Ketiga, selalu menjadi potret buram dari wajah demokrasi Barat, jika partai-partai Islam memenangkan pemilu selalu saja dianulir, dengan berbagai cara. Masih sangat segar dalam ingatan kita bagaimana AS dan Israel, juga Eropa meradang dan akhirnya mengintimidasi dan meneror kemenangan Hammas dalam pemilu di Palestina. Inilah yang kini sedang terjadi di Turki. Berbagai akal bulus dimainkan untuk menggagalkan kemenangan calon presiden dari kelompok Islam.

Meskipun begitu, PM Erdogan tetap yakin bahwa kelompok Islam akan tetap memenangkan pemilu dipercepat 22 Juli 2007. Optimisme ini bukan saja didasarkan akan terus bangkitnya kekuatan (politik) Islam, melainkan juga oleh capaian positif pemerintahan yang dipimpinnnya. Di bawah pemerintahan PM Erdogan, pemerintahan Turki sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan koalisi sekuler sebelumnya. Erdogan yang bekuasa sejak tahun 2002 mampu mengurangi inflasi dari 29,7 persen menjadi 9,65 persen. Dia juga berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga rata-rata 7 persen pada 2003-2007 dari pertumbuhan 2,5 persen sebelumnya.

Tapi, tentu saja, berpegang dari pengalaman sejarah, optimisme itu tetap saja menyelipkan pesimisme. Bahwa dalam sistem demokrasi Barat, sedemokratis apapun capaian yang dimenangkan oleh kelompok Islam, selalu saja mengundang campur tangan pihak seluler, baik lewat militer maupun cara-cara tidak demokratis lainnya.

Maka, tidakkah kita lebih mawas diri? Wallahu a’lam.

Sidojangkung – Menganti, 7 Mei 2007

Dimuat di majalah Muslim, Edisi 6, Mei 2007