Kisah si Buta Jadi Juru Penerang

Pada malam yang gelap, di sebuah dusun terpencil, seorang nenek tua hendak bermaksud pergi ke kiwan.

Tidak jelas benar apa keperluan nenek tersebut pergi ke kiwan *) pada malam yang gelap gulita itu. Maklum, listrik belum menyentuh keterpencilan desa itu. Apakah untuk buang hajat atau hendak mengambil air wudhu untuk shalat? Atau malah, jangan-jangan, kegiatan ini sebuah rutinitas bagi nenek tersebut.

Bagi kebanyakan orang, rutinitas seperti itu mungkin bukan sesuatu yang aneh. Tapi bagi nenek tua yang ternyata buta ini, bukankah sesuatu yang menakjubkan? Bagaimana ia mampu menyusuri pojok belakang rumahnya dalam suasana pekat tanpa penerangan cahaya?

Ah, mengapa bertanya seperti itu, bukankah malam dan siang bagi si buta pada dasarnya sama: gelap? Ketakjuban kita mungkin bisa dialihkan pada kenyataan bahwa dalam keadaan tanpa indra mata—yang artinya dalam kondisi tidak bisa mengenali medan lingkungan—nenek buta tersebut masih bisa berjalan dan beraktivitas tanpa bantuan orang lain.

Tapi, dalam kasus nenek tua buta yang sedang menuju kiwan-nya di atas, lebih mengherankan lagi. Sebab ternyata, dia membawa obor! Maka, bertanyalah salah seorang tetangganya yang terheran-heran malam itu, “Mengapa nenek membawa obor, bukankah nenek sedang buta dan tak memerlukan cahaya lagi?”

“Oh, saudaraku, memang, saya tak lagi memerlukan cahaya obor ini. Justru obor ini untuk memberi penerangan pada kalian agar tidak menabrakku,” jawab nenek tua itu dengan tenang. Maka, terhenyaklah sang tetangga itu atas jawaban sang nenek. Jawaban yang sederhana, tapi banyak makna: sindiran dalam kearifan.

Hikmah Kisah

Apa yang bisa dipetik dari kisah di atas? Pertama, mata batin sang nenek ternyata telah mampu menggantikan mata lahirnya yang buta. Bahkan terlihat bahwa mata batin itu lebih tajam, lebih jernih, dan tak lagi “terikat” oleh ruang dan waktu. Sang nenek yang buta itu ternyata justru menjadi “juru penerang” bagi mereka yang memiliki kelengkapan indrawi.

Kedua, seringkali kelengkapan indrawi tidak otomatis menjadikan kita peka atau sensitive dalam merespon lingkungan dan fenomena-fenomena. Al-Qur’an dengan jernih mengingatkan bahaya ketidakpekaan inderawi itu, ” Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (al-A’raf/7:179).

Padahal, sesungguhnya kelengkapan indrawi adalah suatu anugerah besar dari Allah, yang bisa menjadi sarana untuk bersyukur, sebagaimana dijelaskan-Nya dalam al-Qur’an, “Dan Dialah yang mengeluarkan kami dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (an-Nahl/16: 78).

Sang nenek tua yang buta di atas, seolah mengingatkan kita dengan sindiran yang sangat halus, bahwa betapa banyak yang punya indra penglihatan tetapi sesungguhnya buta; tidak mampu membedakan mana hitam mana putih; tidak sanggup menatap kenyataan diri.

Banyak yang punya telinga tapi sebenarnya tuli; tidak bisa mendengar apalagi merespon peristiwa-peristiwa di sekitarnya. Tidak peka terhadap perubahan; tidak mendengar atas rintihan dan keluhan; tidak peduli terhadap jeritan dan tangisan. Begitu juga banyak yang punya hati tapi beku; tidak mampu berempati pada yang lain; tidak memiliki rasa simpati.

Inilah yang disebut sebagai sebuah ironi indrawi. Maka, orang yang demikian ini perlu diberi “obor”; diberi penerangan; diberi pencerahan; disadarkan dan difungsikan indrawinya agar mampu merespon setiap gejala dan fenomena; supaya mampu menangkap makna di balik peristiwa.

Maka, menarik untuk mengutip Bruno Guiderdoni (seorang intelektual Perancis yang memiliki nama “Muslim” Abdul Al-Haqq Ismail) ketika menjelaskan makna penting indrawi—sebuah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia sebagai sarana-sarana untuk “mengetahui”.

Dengan mengutip surat an-Nahl/16 ayat 78 di atas; dia memaparkan pendengaran (al sam’) adalah kelengkapan manusia untuk menerima dan mematuhi petunjuk tekstual yaitu al-Qur’an dan as-Sunah yang merupakan dua sumber pengetahuan religius. Pendengaran terkait erat dengan ketundukan pada kehendak Allah seperti yang juga dinyatakan oleh al-Qur’an, “Kami dengar dan kami taat” (sami’na wa atha’na). Maka, pendengaran di samping sebagai simbol sarana pengetahuan tekstual juga merupakan simbol ketaatan pada syariah.

Penglihatan (al-bashar) adalah indra pengetahuan yang memungkinkan manusia mengetahui, merenungkan atau berefleksi terhadap fenomena-fenomena (alam semesta). Indra ini sangat erat hubungannya dengan pengetahuan rasional (sunnatullah di alam semesta).

Dan hati (qalb) adalah tempat intuisi pengetahuan dan kontemplasi tentang kebenaran, yang memungkinkan untuk menghubungkan ayat-ayat kauliah (al-Qur’an dan as-Sunah) atau ayat-ayat kauniah (alam semesta) kepada Sang Khalik. Dari hati inilah akan lahir pandangan batin (al-bashirah) yaitu kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari Allah, melalui penyingkapan spiritual.

Dengan memfungsikan secara optimal tiga sarana yang diberikan Allah kepada manusia tersebut, manusia akan menjadi makhluk yang gemilang karena ia akan memperoleh tiga “penyingkapan”, yaitu pertama, penyingkapan syariat karena ia mampu menelaah dan mematuhi hukum yang diwahyukan (syariah) yang disimbolkan dengan optimalisasi pendengaran.

Kedua, penyingkapan terhadap keteraturan dan keajaiban jagad raya karena ia mampu menelaah hukum yang ditorehkan Allah pada alam semesta yang disimbolkan dengan optimalisasi penglihatan, dan yang ketiga, penyingkapan batin yang ia peroleh langsung dari petunjuk Allah sebagai hasil olah hati. Semoga!

*) Kiwan adalah kamar mandi ala desa yakni sebuah bilik di pojok belakang rumah yang terbuat dari sesek (anyaman bambu) yang di dalamnya biasanya terdapat jombangan (kini, bak mandi) dan padasan (semacam kran untuk berwudhu zaman kini).

Mohammad Nurfatoni

Kali pertama diterbitkan di cakraprint.com tahun 2007 dengan judul Si Buta Membawa Obor

Ilmu Menghadirkan

Seorang pemuda menemui Nabi saw. Ia berkata, “Ya Nabi Allah, izinkan aku berzina!” Orang-orang berteriak mendengar pertanyaan itu. Tetapi Nabi saw Bersabda, “Suruh dia mendekat padaku.” Pemuda itu menghampiri Nabi saw dan duduk di hadapannya. Nabi saw berkata kepadanya, “Apakah kamu suka orang lain mezinai ibumu?” Segera ia menjawab, “Tidak, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusannya.” Nabi saw bersabda, “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka.” Sukakah kamu jika perzinaan itu terjadi pada anak perempuanmu?” “Tidak, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada anak perempuan mereka.” “Sukakah kamu, jika perzinaan itu terjadi pada saudara perempuanmu?”

Begitu pula Nabi saw menyebut bibi dari pihak ibu dan pihak bapak. Untuk semua pertanyaan Nabi, pemuda itu menjawab, “Tidak!” Rasulullah saw meletakkan tangannya pada dada pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni dosanya, dan pelihara kehormatannya.” Setelah itu tidak ada yang paling dibenci pemuda itu selain perzinaan.

##

Hikmah apa yang bisa kita pungut dari kisah di atas? Ternyata Rasulullah saw sedang menghadirkan (mengajarkan) “ilmu menghadirkan” pada pemuda tersebut; dan tentu, kini, pada kita sebagai umatnya.

Apa yang dimaksud dengan ilmu menghadirkan? Berdasarkan dialog dalam peristiwa di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ilmu menghadirkan adalah kemampuan “menghadirkan” pengalaman orang lain dalam diri kita.

Ketika sang pemuda hendak meminta izin berzina, maka Rasulullah saw mencoba menghadirkan perasaan para korban perzinaan, dengan menyebut wanita-wanita yang punya hubungan kekerabatan terdekat. Bagaimana jika mereka yang menjadi objek perzinaan? Bagaimana perasaannya? Bagaimana pedihnya luka yang menusuk?

Ketika pemuda itu mampu menghadirkan perasaan pedih dan rasa malu yang tak tertahankan dari para korban perzinaan, dengan kesadarannya sendiri ia urung meneruskan niatnya dan jadilah ia orang yang sangat anti-perzinaan. Begitulah seharusnya kita membangun rasa keberagamaan. Ternyata beragama itu membutuhkan rasa; membutuhkan empati dan simpati.

Seorang yang memiliki ilmu menghadirkan setidaknya akan mendapatkan dua hal. Pertama, ia akan terjaga dari perbuatan tercela (maksiat, jahat, keji, dan munkar) karena ia mampu menghadirkan perasaan orang lain ketika menjadi korban dari perbuatan tercela itu.

Ketika kita hendak mencaci-maki orang lain, maka hadirkan pada diri kita bagaimana perasaan orang yang sedang menjadi objek caci maki. Jika kita jujur dan objektif, tentu akan merasakan betapa sakit dan pedihnya menjadi korban caci-maki. Maka, dengan demikian kita, insya Allah, akan mengurungkan niat mencaci-maki itu.

Saat kita akan mencuri barang milik orang lain, maka hadirkan bagaimana perasaan orang yang sedang kecurian? Saat hendak merampas hak orang lain, hadirkan bagaimana perasaan para korban perampasan itu? Saat hendak melukai orang lain, hadirkan juga bagaimana persaan orang yang terluka? Saat kita akan menipu orang, maka hadirkan pada diri kita bagaimana perasaan orang yang menjadi korban penipuan itu. Begitu seterusnya?

Maka, ilmu menghadirkan akan menjadi benteng dari perbuatan-perbuatan buruk. Ketika jadi pengusaha, maka kita akan menghindari sistem pengupahan yang rendah, karena kita mampu menghadirkan pengalaman pekerja yang berupah kecil di tengah kebutuhan dan harga-harga yang melambung naik.

Sebagai penguasa, kita tidak akan pernah memanfaatkan jabatan dan kewenangan demi mengeruk keuntungan pribadi karena kita sadar bahwa perbuatan itu akan menyengsarakan rakyat kecil. Sementara kita bisa merasakan bagaimana jadi rakyat kecil yang hidupnya sengsara!

Ketika naik mobil dan saat itu ada genangan air, sedapat mungkin kita akan pelan-pelan untuk menghindari genjretan air yang bisa membasahi pejalan kaki atau pengendara sepeda dan motor. Kita bayangkan bagaimana rasanya jika kita sendiri yang kena genjretan air.

Ketika kita naik motor, kita akan menghindari cara mengendarai yang memotong arah sembarangan, karena kita mampu merasakan bagaimana jika kita dipotong arah secara tiba-tiba.

Kedua, dengan ilmu menghadirkan, kita juga akan termotivasi untuk berbuat baik, bijak, dan terpuji; karena kita mampu menghadirkan perasaan orang lain akibat perbuatan baik itu.

Saat mendapati orang-orang yang sedang kelaparan, maka hadirkan pada diri kita bagaimana perasaan mereka; maka dengan mudah kita akan memberinya makan karena kita bisa membayangkan kalau kita sendiri yang mengalami kelaparan.

Ketika ada yang membutuhkan pinjaman uang pada kita, maka kita hadirkan perasaan orang yang lagi kesulitan uang akibat berbagai problem kehidupannya, insya Allah kita akan tergerak untuk membantunya.

Ketika kita bekerja, maka kita akan berusaha sebaik-baiknya, karena kita mampu menghadirkan perasaan orang lain yang menerima hasil kerjaan kita. Betapa senangnya jika hasil kerja kita memuaskan! Dan begitu seterusnya.

Menghadirkan Tuhan

Jika pada ilmu menghadirkan di atas kita baru sampai pada tahap menghadirkan pengalaman orang lain dalam diri kita, maka di atas tingkatan itu adalah ilmu “menghadirkan” Tuhan.

Yang dimaksud ilmu “menghadirkan” Tuhan adalah kesadaran selalu dalam pengawasan Tuhan. Kita “hadirkan” Tuhan dalam hidup kita (omnipresent). Seperti yang selama ini kita pahami, bahwa dengan segala kekuasaan-Nya, Allah swt Maha Melihat atas segala tindak-tanduk kita, baik yang tersembunyi maupun terang-terangan. Di mana pun kita berada, Dia pasti tahu. Apapun yang kita lakukan Dia Mengetahui.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan dia bersama kamu di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Periksa atas segala apa yang kamu lakukan.” (QS Al Hadiid/57: 4).

Selama ini posisi selalu dalam pengawasan Tuhan hanya kita sadari saat berada di masjid atau di majelis pengajian. Pada tempat-tempat sakral itu, biasanya kita selalu berpenampilan terpuji (baik fisik maupun perilaku), karena kita sadar betul bahwa saat itu kita sedang diawasi oleh Tuhan. Makanya kita selalu mendapati kebaikan dari orang-orang yang baik-baik pula.

Namun biasanya kesadaran dalam pengawasan Tuhan itu hilang saat kita berada pada tempat-tempat profan. Ketika di pasar, misalnya, kita sudah lupa bahwa Tuhan sedang mengawasi kita, sehingga dengan berani kita mengurangi timbangan atau takaran.

Saat di kantor, kita sudah lupa akan pengawasan Tuhan, maka kita pun berani memanipulasi angka-angka dan anggaran (baca: korupsi).

Saat di hotel, kita pun lupa sedang dilihat Tuhan, maka kita pun dengan enteng membawa wanita atau pria selingkuhan!

Dengan kemampuan “menghadirkan” Tuhan, insya Allah kita akan terjaga dari perbuatan-perbuatan tercela dan sebaliknya termotivasi untuk selalu berbuat kebajikan. Kita akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, karena kita sadar sedang dilihat Tuhan. Betapa senangnya saat bekerja diawasi oleh Allah swt, Tuhan pemilik jagad raya ini; sementara dilihat presiden saja hati kita sudah berbunga-bunga!

Begitulah seharusnya kita membangun rasa keberagamaan. Ternyata beragama itu di samping membutuhkan rasa, empati dan simpati dengan menghadirkan pengalaman orang lain pada diri kita, juga membutuhkan “kehadiran” Tuhan. Semoga! (*)

Menganti, 7 April 2006
Sumber, “Hikmah” pada http://www.cakrawala-print.com

Logika Kekuasaan Alas Tlogo

Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono mengatakan, efek tembakan pantulan dan tembakan langsung yang diarahkan pada sasaran, sama-sama mematikan. “Peluru yang ditembakkan ke tanah bahkan lempung sekalipun, akan tetap memantul dan efeknya sama dengan tembakan langsung,” katanya dalam demo tembakan menggunakan senapan serbu (SS) 1 dengan peluru berkaliber 5,56 mm di Markas Brigif-2 Marinir Cilandak di Jakarta, Jumat (8/6/07).

Pernyataan di atas disampaikan oleh Nono Sampono menanggapi hasil investigasi beberapa tim—diantaranya Komnas HAM dan dan Tim Advokasi PKB—yang terjun ke Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan, yang membeberkan data bahwa pasukan marinir melepaskan tembakan langsung pada warga Alas Tlogo sehingga menewaskan 4 warga yaitu Siti Khotijah (luka di kepala dan mengandung 5 bulan), Mistin (luka dada), Rohman (luka kepala) dan Sutam (luka di kepala) dan melukai sejumlah orang termasuk bocah usia 3 tahun, Khoirul Anwar (anak alamarhumah Mistin).

Sebelumnya, dalam keterangan pers setelah kejadian (Rabu 30/5/07), Komandan Korps Marinir (Dankormar), Mayjen TNI Syafzen Noerdin (sebelum diganti Nono Sampono) menyatakan bahwa penembakan yang dilakukan anggotanya hingga menyebabkan empat orang warga tewas dalam rangka membela diri. Menurut Safzen, saat penyerangan itu, anggotanya memberikan tembakan peringatan beberapa kali ke udara. Namun tidak digubris. Malah ada yang mengomando agar terus maju dengan mengatakan bahwa yang ditembakkan oleh Marinir adalah peluru hampa. “Karena terus menyerang, anggota saya menembak ke tanah dengan harapan kepulan debunya diketahui oleh warga bahwa peluru itu beneran, bukan hampa. Tapi mereka terus menyerang. Kemungkinan pantulan peluru itu yang terkena warga karena lokasi di situ memang berbatu-batu,” tuturnya.

Di samping silang pendapat tentang arah tembakan, kita dengar pula dua versi yang berbeda tentang mengapa Korp Marinir harus menembak warga. ”Peristiwa itu adalah pelanggaran, sehingga harus diusut tuntas,” kata Ketua Komnas HAM, Abdul Hakim Garuda Nusantara, usai meninjau tempat terjadinya bentrokan, Jumat (1/6/07). Boleh saja, ujar dia, Dankormar Marinir mengatakan penembakan itu terpaksa dilakukan karena membela diri atau peluru memantul. ”Silakan saja, tapi masyarakat bisa memberi kesaksian berbeda.”

Samad (53), kepala Dusun Alastlogo (Rabu, 5/6.07), memberikan testimoni di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya. Ayah dari korban tewas Mistin itu mengaku sempat mendengar adanya tiga kali perintah menembak menjelang insiden yang merenggut nyawa empat warga pada 30 Mei lalu oleh berondongan senjata anggota Marinir.

”Saya mendengar perintah tembakan itu, karena saya saat itu memang melakukan negosiasi dengan anggota Marinir dengan jarak sekitar 15 meter dari warga (yang menjadi sasaran tembak),” ungkap Samad dalam testimoninya.

Sebelumnya Dankormar, Mayjen TNI Syafzen Noerdin menyatakankan bahwa penembakan yang dilakukan anggotanya dalam rangka membela diri.
“Waktu itu anggota kami betul-betul terdesak, sedangkan warga mengejar anggota Marinir menggunakan celurit dan lemparan batu. Tembakan itu dilakukan, karena betul-betul membahayakan,” katanya.

Logika Aneh

Kita masih menunggu bagaimana hasil akhir dari silang sengketa pendapat dan bagaimana proses hukum akan berlangsung. Namun begitu, ada beberapa hal yang harus kita kritisi pernyataan-pernyataan tentara.

Pertama, tentang logika Dankormar Mayjen TNI (Mar) Nono Sampono yang bersikukuh bahwa yang terjadi adalah tembakan pantulan. Dalam pembuktian yang dilakukan di Cilandak, dikatakan bahwa tembakan di tanah maupun batu semuanya memantul dan mengenai sasaran. Pertanyaannya adalah, apakah bukti teknis di Cilandak itu otomatis menjadi bukti hukum bahwa yang terjadi di Alas Tlogo adalah juga tembakan pantulan? Sementara kesaksian dan bukti-bukti menujukkan terjadinya penembakan langsung.

Yang lebih aneh lagi, jika antara tembakan pantulan dan tembakan langsung sama-sama memiliki efek mematikan, mengapa tembakan pantulan itu tetap dilakukan? Tentu dalam logika ini kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan penembakan itu sama: membunuh warga. Ibaratnya seperti main karambol, terserah mau pakai teknis langsung atau ngeban (pantulan), yang penting sama-sama bisa memasukan buah karambol.

Jadi di samping berbeda dengan keterangan awal bahwa tembakan pantulan adalah dalam rangka menunjukkan bahwa senjata itu benar-benar berisi peluru tajam sehingga warga takut, pembuktian secara teknis efek tembakan pantulan di Cilandak sama sekali tak ada artinya untuk meringankan hukum.

Kedua, yang lebih mendasar lagi adalah pengguanan senjata oleh Korp Marinir dalam menghadapi protes para petani. Apakah para petani di Pasuruan itu adalah para pemberontak yang mau menyungkurkan NKRI? Ataukah mereka itu melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh tentara Angkatan Laut Malaysia yang memasuki wilayah perairan Indonesia beberapa tahun lalu? Atau mereka adalah penerbang F16 milik Angkata Udara AS yang pernah melintasi udara Indonesia? Apakah mereka tentara sekutu yang mau merebut kembali jajahan Indonesia?

Sementara terhadap kesalahan angkatan perang negara lain saja yang bisa dilakukan diplomasi politik, mengapa terhadap rakyatnya sendiri langsung ditembak. Padahal sebenarnya senjata tentara bukan diperuntukan untuk fungsi keamanan melainkan untuk fungsi pertahanan.

Oleh karena itu, logika penembakan pada warga Alas Tlogo sebagai upaya membela diri Korp Marinir sama sekali tidak masuk akal dan karena itu tidak dapat diterima. Sebab menghadapi rakyat dengan senjata saja adalah sebuah kesalahan tersendiri, apalagi sampai membunuhnya.

Tapi mengapa para petinggi tentara tetap mencoba membela diri seakan tidak pernah salah? Perhatikan, di tengah-tengah sorotan atas penembakan yang dilakukan pada rakyat belum tuntas terurai, mereka malah balik melaporakan terhadap apa yang disebut penganiayaan oleh warga Alas Tlogo. Seolah 4 nyawa sebanding dengan lecet dan sedikit memar di tubuh kekarnya. Mereka yang mestinya profesional, malah terlihat seperti anak cengeng. Tapi, itulah soalnya. Tentara punya kekuasaan—tidak sekedar laras panjang. Mungkin ini pula dasar kisah panjang sengketa tanah di Pasuruan itu, juga di tempat lain.

Maka jangan salahkan jika ada pikiran nakal, seperti yang dilontarkan oleh Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir di Tempo (4/6/07). “Perlukah kita tentara?” tulisnya. “… saya tahu bahwa tentara berfungsi untuk mempertahankan Republik, tapi jangan-jangan kita dan tentara kita tak jelas benar apa saja dari Republik yang harus dipertahankan, dan dari siapa ia harus dipertahankan. Seingat saya, selama Indonesia berdiri, belum ada usaha yang terus-menerus untuk merebut wilayah Indonesia. Masa depan juga tampaknya aman; perang perebutan teritorial telah jadi amat mahal dan ruwet, dan tampaknya di dunia sekitar kita tak ada orang gila, juga orang Singapura, yang ingin melakukannya. …Tapi saya tahu, tentara memang dipertahankan dalam sejarah, karena sejarah dibangun dari bayangan kemungkinan yang terburuk.”

Ah, apakah sambil menanti kemungkinan terburuk itu, persenjataan tentara boleh dimanfaatkan untuk membunuh rakyatnya? Wallahu a’lam.

Sidojangkung, 9 Juni 2007

(dimuat di majalah Muslim, edisi 6, Juni 2007)