Selain puasa Ramadhan yang menjadi kewajiban umat Islam, Nabi Muhammad saw juga memberi teladan dengan berbagai puasa sunah. Yang sangat populer adalah puasa sunah hari Senin dan Kamis. Ada juga puasa sunah setiap tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah. Ada puasa 6 hari di bulan Syawwal, juga puasa Arafah setiap tanggal 9 Dzulhijjah, ada lagi puasa 10 Muharram. Selain itu Nabi saw juga mereferensi puasa sunah Daud: sehari puasa, sehari berbuka. Lanjutkan membaca “Mari Berpuasa Sunah (1)”
Mencari Ikhlas di Titik Nol
Apa yang dimaksud dengan ikhlas? Salah satu contoh perbuatan ikhlas yang sering dikutip adalah seorang yang sedang membuang “hajatnya” di WC. Mengapa? Dia disebut ikhlas karena tak mengharapkan apa-apa dari sesuatu yang baru saja dilepasnya.
Contoh di atas tentu saja menyesatkan karena yang dilepaskan itu adalah sesuatu yang tak lagi dia butuhkan dan, mau tak mau, harus dibuang. Maka, logikanya, bagaimana ada harapan [timbal balik] dari kotoran yang justru harus dilepaskan itu?
Jadi, apa makna ikhlas itu? Menarik, untuk mengutip surat ke-112 dalam al-Qur’an. Surat itu disebut surat al-Ikhlas. Sedang isinya tentang ketauhidan: “Katakanlah, Dia Allah yang Esa. Allah tempat bergantung. Tak beranak dan dipernakkan dan tak ada satu pun yang setara dengan Dia.”
Jadi ikhlas itu apa? Secara letter lijk kata ikhlas berarti memurnikan dari kata khalasa-yukhlisu-ikhlaasun. Dengan merujuk pula pada kandungan surat al-Ikhlas di atas, maka ikhlas adalah memurnikan segalanya pada Allah.
Lebih gamblang makna ikhlas itu kita dapati dari ikrar kita: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, illahi rabbil alamin (karena dan untuk Allah semata).
Filsafat Angka Nol
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya. Ayat di atas memberi petunjuk bahwa: pertama, kita pada dasarnya tidak ada. Adanya kita (lahir) karena diadakan oleh Yang Ada (Allah). Inilah makna innalillahi (sesungguhnya kami berasal dari Allah).
Kedua, karena asalnya tidak ada, maka pada akhirnya kita pun akan tiada (mati); wa ina ilaihi rajiun (dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali). Dalam bahasa matematika, kondisi seperti ini dilambangkan oleh bilangan nol (0)—sebuah bilangan yang secara aritmatika menunjukkan ketiadaan.
Dalam bahasa puisi, kondisi nol itu saya urai sebagai berikut:
Fana
aku dalam semesta fana
bungkus lingkaran hampa
meraba penuh tanya
benarkah aku ada?
aku ada karena Kau ada
tanpa Kau, aku tiada
maka aku ada
bagai tiada
(Nfath, 21012008)
Dari Nol Menuju Ikhlas
Karena pada dasarnya yang ada hanya Allah, maka semuanya adalah milik Allah. Karena semua milik Allah, maka semua harus dikembalikan kepada Allah. Maka, ikhlas adalah memuarakan semuanya pada Allah.
Simaklah cerita menarik ini: Suatu saat, sekelompok pramuka mengadakan penjelajahan di bukit berbatu; dalam perjalanannya salah seorang pramuka menemukan sebuah pengalaman yang berharga; dia terheran takjub ketika melihat ada air yang menetes dan terus menetes dari celah bukit.
Mengapa kawan pramuka itu takjub, bukankah air selalu menetes dari atas ke bawah! Ya, tapi yang ia takjubi adalah ternyata air itu terus menetes meski tak ada yang memperhatikannya. Ia terus menetes meski tak ada yang memuji; ia terus menetes meski tak ada yang mencaci. Ia mengalir, menetes memenuhi kehendak Allah lewat hukum sunatullah-Nya bahwa air selalu mengalir dari atas ke bawah, terseret daya tarik grafitasi. (Pak Muh, “Langit-Langit Desa”).
Air itu ikhlas, karena ia menjalankan perintah Allah karena tak ada pilihan lain selain taat pada Allah. Bukankah ia adalah nol. Ia milik Allah bagaimana ia akan membangkang pemiliknya. Maka ia rela terhadap Allah: bagaimanapun kehendak Allah itu; bagaimanapun ketentuan Allah itu; bagaimanapun keputusan Allah itu; bagaimanapun ketetapan Allah itu, tanpa peduli dengan pujian atau makian; dalam keadaan sendirian pun; sunyi, senyap, sepi ia terus bekerja.
Jadi ikhlas itu adalah beraktivitas karena, demi, dan semata untuk Allah.
Simak pula cerita ini: Suatu ketika seorang lelaki memohon pada tuhan sekuntum bunga dan seekor kupu-kupu namun Tuhan malah memberinya sebonggol kaktus dan seekor ulat.
Alangkah sedihnya lelaki itu, ia tak mengerti mengapa permintaannya keliru pikirnya, oh Tuhan masih banyak tugas mengurusi orang-orang lain … dan dia memutuskan tak akan bertanya.
Setelah beberapa waktu, si lelaki memeriksa kembali permintaan yang telah lama dilupakannya itu alangkah terkejutnya dia dari sebonggol tanaman kaktus berduri nan jelek itu tumbuhlah sekuntum bunga yang elok dan ulat yang menjijikkan itu telah berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Ah, ternyata Tuhan selalu memberikan yang terbaik walaupun bagi kita kelihatannya keliru. (Dewi, “Kupu-Kupu dan Bunga”, kiriman Arch222)
Maka ikhlas saja pada Tuhan apapun pemberiannya apapun keputusannya. Mungkin hari ini penuh onak berduri esok akan menjadi bunga indah mewangi. Maka teruslah berusaha, teruslah berdoa! (*)
Mohammad Nurfatoni
Materi ini isampaikan pada acara MABID siswa putri SMP Al Hikmah Surabaya, 6 Maret 2008
Syariah Islam, Dicari Juga Dicaci
Berita menarik tentang syariah Islam kembali mencuat menyusul pernyataan pemimpin tertinggi Gereja Anglikan Inggris Dr Rowan Wiliams yang mengatakan bahwa adopsi sejumlah syariah Islam dalam dasar hukum Inggris adalah hal yang tak terhindarkan. Sebab, syariah Islam tak sering bertentangan dengan struktur dan pola hidup warga di negeri kerajaan itu.Williams mengakui bahwa syariah Islam mencakup aturan yang sangat luwes, tapi komprehensif. Lanjutkan membaca “Syariah Islam, Dicari Juga Dicaci”