Siapakah Tuhan?

Meskipun secara eksistensial manusia sadar dan mengakui adanya Tuhan, namun secara substansial manusia tidak mungkin mengetahui sosok Tuhan. Relevan dengan ini, adalah kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Ibrahim, seperti yang terekam dalam Al An’am/6:75-79: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkan) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inikah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tetkala matahari itu tenggelam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan“.

Kisah di atas memberikan pelajaran, betapa sesungguhnya manusia telah memiliki kesadaran terdalam terhadap eksistensi Tuhan. Tetapi, ketika manusia mencoba untuk “memperjelas” siapa (substansi) Tuhan, seperti Ibrahim yang mengira bintang, bulan, dan matahari sebagai Tuhan-maka pasti akan menemui kegagalan. Oleh karena itu, penjelasan yang bisa diterima adalah bahwa manusia tidak akan pernah tahu siapa Tuhan itu, jika hanya berdasarkan logika dan perasaannya sendiri, sebagaimana logika dan perasaan Ibrahim yang pernah menganggap matahari sebagai Tuhan karena matahari itu besar dan mampu menerangi jagat bumi. Jika manusia tetap memaksa untuk menemukan Tuhan dengan akalnya, maka pasti Tuhan yang ditemukannya itu palsu. Dalam bahasa lain, barangsiapa merasa mengetahui Tuhan, maka sesungguhnya justru pertanda bahwa ia tidak tahu apa-apa. Kata lbn Arabi dalam sebuah syair: “Barangsiapa mengaku ia tahu Allah bergaul dengan dirinya, dan ia tidak lari (dari pengakuan itu), maka itu tanda ia tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang tahu Allah kecuali Allah sendiri, maka waspadalah, sebab yang sadar di antara kamu tentulah tidak seperti yang alpa …”

Lantas bagaimana manusia mengenal Tuhan? Jawabannya, adalah ketika Tuhan sendiri yang memperkenalkan diriNya kepada manusia. Di sinilah kita akan memahami fungsi malaikat, wahyu, dan rasul. Pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan: siapa Dia; apa mauNya; bagaimana cipatanNya; apa yang diperbolehkannya; atau apa yang dilarangnya; hanya dapat dicari jawabannya lewat informasi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Inilah yang dimaksud dengan (fungsi) wahyu; yang wahyu itu disampaikan oleh Tuhan melalui malaikat (Jibril) kepada rasul untuk kemudian diteruskan kepada segenap manusia. Tentang siapa Dia, misalnya, Tuhan telah memberikan informasi dalam AI Qur’an: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Thaha/20:24); “Katakanlah; Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada suatupun yang setara dengan Dia” (AI Ikhlash/112:1-4). “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinnya? Allah mengatahui apa­-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (AI Baqarah/2:255).

Jadi, pengetahuan manusia tentang Tuhan hanyalah sebatas pada perkenalan Tuhan yang diinformasikan melalui wahyuNya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Karena wahyu adalah jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhannya, maka otentisitas wahyu sangat diperlukan. Otentisitas wahyu ini menjadi penting terutama karena banyak sekali informasi yang dianggap sebagai wahyu, sementara antarinformasi itu terjadi kontradiksi. Maka pertanyaannya adalah benarkah suatu wahyu itu benar-­benar datang dari Tuhan, bukan fantasi dan keinginan terselubung manusia atau kiriman setan? Dalam kaitan wahyu ini pula, orsinalitas rasul dan nabi juga menjadi penting. Benarkah seorang itu benar-benar rasul atau nabi, ataukah orang yang mengaku-ngaku sebagai penerima wahyu.

Di sinilah pentingnya dilakukan studi (kritis) tentang ajaran suatu agama. Jadi, iman bukan sekedar warisan nenek moyang!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 46 Tahun ke-4, 9 Juni 2000

Banyak Baca …

Banyak baca, banyak lupa … kwok … kwok. Sedikat baca, sedikit lupa … kwok … kwok. Tidak baca, tidak lupa … kwok … kwok

Kalimat di atas saya cuplik dari iklan layanan masyarakat yang pernah dimuat harian Kompas sekitar tahun 1997, persembahan Ammirati Puris Lintas bekerja sama dengan Kompas dan Reprindo Warna Indah. Pemuatan iklan tersebut dimaksudkan sebagai salah satu upaya kampanye peningkatan minat membaca. Anda kaget! Lbo kok ganjil? Apa tidak salah bunyi iklan itu? Banyak baca kok malah banyak lupa; sedikit baca sedikit lupa; tidak baca tidak lupa! Apa ini tidak kontra-produktif dengan maksud kampanye itu? Ini sih pengembosan minat baca!

Tapi.., ojo kagetan, ojo gumunan. Kalimat di atas sebenarnya adalah milik Si Katak. Dalam ilustrasi iklan tersebut, kalimat itu memang disuarakan oleh Si Katak dalam tempurung; katak yang nihil wawasan, karena malas membaca. “Ngapain susah-susah membaca jlka membaca itu justru membuang-buang enerji: harus mencerna dan mengingat-ingat. Lebih baik tidak membaca. Dengan tidak membaca kan tidak ada yang barns diingat. Jadi aku menjadi satu-satunya makhluk yang tidak pernah lupa. Tapi wawasanku sudah seluas angkasa … kwok … kwok,” begitulah kira-kira argumentasi-kerdilnya. Ternyata Si Katak bisa juga lupa (pura-pura lupa?) bahwa angkasa yang dimaksud hanyalah sebatok tempurung. Ya, katak dalam tempurung.

Kita bukan katak. Tapi sebenarnya kita disindir habis-habisan oleh Si Katak dalam iklan itu. Bagaimana tidak? Bagi kita, membaca belum menjadi kebutuhan penting. Indikasinya? Kita masih suka menonton (televisi) dari pada membaca. Berapa jam waktu yang kita luangkan untuk menonton televisi dan berapa jam untuk membaca? Dalam sebuah penelitian, terbukti bahwa rata-rata waktu tonton televisi masyarakat kita sekitar 3 jam sehari. Nah, berapa jam waktu kita untuk membaca? Untuk hal ini kita patut bercermin pada Bung Hatta! Beliau “menganggarkan” waktu 3 jam di malam hari dan 6 jam di siang hari (paska dinas) untuk membaca (dan menulis). Tak heran, saat-saat karyanya dikumpulkan dan diterbitkan kembali, tak kurang dari 6.000 halaman buku berukuran 18 cm x 26 cm dibutuhkan, sehingga harus dicetak secara berangkai dalam 10 jilid (Kompas, 13/12/98).

Mungkin Anda bertanya, bukankah televisi juga menyajikan berita dan informasi? Memang betul, tapi dibanding dengan buku (atau bahan bacaan lainnya), televisi mengandung sejumlah kelemahan. Pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (Catatan Kang Jalal. Bandung: Mizan,1997, h.10-12) memberikan beberapa argumentasi. Pertama, televisi adalah sebuah kegiatan yang orientasinya betul-betul bisnis. Karena itu informasi dalam televisi akan cenderung disajikan dalam bentuk-bentuk yang menarik, tidak terlalu sulit, sederhana, dan mengandung unsur human interest. Oleh karena itu, kedua, TV hanya memberikan informasi sekilas, instant. Karena sekilas, tidak mungkin televisi memberikan presentasi yang mendalam tentang sesuatu hal. Televisi tidak akan memberikan informasi secara mendalam sehingga kita bisa melakukan refleksi.

Disamping itu, menonton adalah kegiatan yang bersifat pasif, cenderung enjoy, dan tidak membangun unsur konseptual. Menonton hampir tidak membutuhkan proses “berfikir”. Menonton hanya mendapatkan hiburan. Berbeda dengan menonton, membaca dapat memantapkan kemampuan pemikiran konseptual yang tercermin dari kegiatan merumuskan kata atau ungkapan yang mewakili gejala dalam kenyataan hidup.

[Mantan] Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsono [kini Menhan] (Republika, 17/8/98) memasukkan membaca sebagai salah satu dari delapan kompetensi dasar, tentu, menonton tidak termasuk di dalamnya, yang patut dimantapkan pada setiap jenjang pendidikan dan kegiatan kebudayaan. Lebih lanjut, kata Juwono, membaca perlu digiatkan untuk “mengimbangi” meluasnya pengaruh media massa dengar pandang (audio visual, semacam televisi).

Indikasi lain? Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara introspektif oleh iklan layanan masyarakat lain, persembahan Komunika Advertising dan Reprindo berikut ini! Bagaimana dengan daftar belanja Anda? Adakah tertulis satu judul buku? Bagaimana akhirnya? Beli, tidak, beli, tidak, beli, ti …, atau tetap menjadi daftar belanja yang akan dibeli. “Bahkan mungkin tidak sama sekali?”

Memang, agak sulit menemukan keluarga yang memang betul-betul menjadikan buku sebagai sesuatu yang wajib belanja seperti kebutuhan lainnya. Jangankan buku, untuk koran saja (yang lebih ngepop) tingkat konsumsi kita masih dibawah standar UNESCO. Data terakhir, sebelum era krisis (yang membuat penerbitan cetak menurunkan [turun] tirasnya atau sebelum era refomasi yang memberikan kemudahan penerbitan media cetak sehingga bermunculan koran-koran baru [juga majalah dan tabloid], tiras koran di Indonesia baru mencapai 4,7 juta untuk 200 juta penduduk. Padahal seharusnya-sesuai dengan standar UNESCO, tiras itu harus mencapai 20 juta ekslempar (10 persen dari jumlah penduduk).

Mengapa bisa begini? Hanya karena soal harga! Ya, sebagian besar alasannya seperti itu, khususnya di era krisis ini. Tapi menurut saya, tidak selamanya benar. Hipotesis saya, karena minat baca masyarakat kita rendah sekali! Buku dan berlangganan koran memang mahal. Tapi berapa pengeluaran Anda untuk hal-hal yang sekunder bahkan tersier, atau bahkan sesuatu yang kontra-produktif. Rokok, misalnya (bagi yang merokok); berapa pengeluaran Anda setiap bulan untuk rokok? Berapa anggaran jajan Anda di luar rumah, di kafe misalnya? Berapa anggaran ibu-ibu untuk belanja pernik-pernik rumah yang, bagi saya, sangat artifisial; guci atau piring antik misalnya? Maka berpulang kepada kita, apakah kita memang berbakat menjadi Si Katak dalam tempurung; yang hanya karena kurang wawasan, melakukan kesalahan komunikasi timbal balik. Apakah kita akan berpikir dan berkomunikasi seperti ini, bahwa: pi + pa = cangklong (ini iklan persembahan Fortune Indonesia yang juga dimuat Kompas) Membacalah demi kelancaran komunikasi timbal balik!

Kita memang harus membaca. Karena sesungguhnya, setiap kata yang kita baca, bermakna lebih dari sekedar kata-kata. Dengan membaca kita tahu lebih banyak dan “melihat” lebih banyak hal. Banyak baca, banyak tawa. Banyak tangis. Banyak senyum. Banyak ketertegunan. Banyak keterpanaan. Membaca membuka mata hati, memperluas wawasan.

Jadi, banyak baca …!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, No. 8, Tahun ke-3, 25 September 1998

Thaghut, Fir’aun, dan Kita?

Di antara jalan yang menjerumuskan manusia menjadi tuhan (palsu) adalah sikap tiranik, yaitu, meminjam Nurcholish Madjid, sikap yang selalu ingin memaksakan kehendak kepada orang lain tanpa memberi peluang kepada orang itu untuk melakukan pertimbangan bebas (dalam bahasa Al Qur’an sikap tiranik disebut thughyan, yang dari kata itu terambil kata thaghut, “si tiran”).

Untuk memahami sikap tiranik ini, Al Qur’an memberikan “teladan”, di antaranya, pada diri Fir’aun Ramses II, yaitu penguasa Mesir kuno yang menjadi salah satu obyek dakwah sekaligus lawan politik Nabi Musa, yang berkuasa sekitar tahun 1304-1237 SM, “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia itu menjalankan tirani” (Thaha/20:24; baca juga ayat 43 dan An Naaziat/79:17).

Adapun (rangkaian) sikap tiranik yang dilakukan Fir’aun adalah, pertama, mengingkari dan mendustakan kebenaran, “(Keadaan mereka) serupa dengan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah… “(AI An’fal/8:52, baca juga ayat S4). “Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu…”(AI Muzammil/ 73:16). Kedua, setelah menolak kebenaran, maka Fir’aun berusaha menciptakan “kebenaran” baru, “… Fir’aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar” (AI Mu’min/40:29). Ketiga, setelah merasa memiliki kebenaran itulah Fir’aun mengagung-agungkan dirinya sendiri, “Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar …” (AI Qashash/28:39). Pengangungan diri Fir’aun bahkan mencapai “maqam” tertinggi ketika dia menolak eksistensi Tuhan sembari mengangkat dirinya sebagai tuhan (AI Qashash/28:38). Keempat, setelah memperoleh legitimasi sebagai pemegang kebenaran dan kekuasaan, maka Fir’aun berlaku sewenang-wenang kepada rakyatnya, “… Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Yunus/10:83).

Di antara kesewenang-wenangan yang dilakukan Fir’uan adalah: 1) memecah belah rakyatnya dengan cara menindas segolongan [dan mengangkat segolongan yang lain]; 2) membunuh generasi laki-laki [potensi lawan atau oposisi politik] sembari membiarkan generasi perempuan hidup (AI Qashash/28:4). Kesewenang-wenangan yang dilakukan Fir’aun itu akhirnya membuat tatanan masyarakat menjadi rusak, “Dan Fir’aun yang memiliki bala tentara; yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri; lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu” (AI Fajr/89:10-12).

Sikap tiranik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Fir’aun, selalu bertentangan dengan sikap beriman kepada Allah, “… barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepadu buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus … ” (AI Baqarah/ 2:256).

Mengapa sikap tiranik selalu bertentangan dengan sikap beriman kepada Allah? Karena dalam sikap tiranik terselip pandangan bahwa diri sendiri pasti benar dan orang lain pasti salah. lnilah yang disebut sebagai pandangan yang memutlakkan diri sendiri. Padahal jika kita telah menyatakan beriman kepada Allah, maka salah satu konsekuensinya ialah pengakuan dan kesadaran, bahwa hanya Allah sajalah pemilik kemutlakan, sedangkan yang lain semuanya relatif. Oleh karena itu, sikap tiranik termasuk salah satu bentuk kemusyrikan.

Nah, dari kisah Fir’aun di atas, kita bisa menarik pelajaran bahwa yang disebut syirik bukan hanya sikap seseorang yang mengagung-agungkan sesuatu dari kalangan sesama makhluk, termasuk sesama manusia (kultus), tetapi syirik juga meliputi sikap mengagungkan diri sendiri kemudian menindas harkat dan martabat sesama manusia, seperti sikap para diktator dan tiran, karena pada dasamya kedua sikap itu adalah bentuk tandingan dan perlawanan terhadap kebenaran dan kekuasaan Allah yang Mutlak.

Absolutisme Pendapat

Ketika kita menyadari bahwa Allah sajalah pemilik kemutlakan sedangkan yang lain serba relatif, maka dengan sendirinya kita, sebagai yang relatif, tidak akan mampu menjangkau wujud dan hakekat Allah yang Mutlak. Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Pikirkanlah olehmu alam ciptaan-Nya dan jangan memikirkan Wujud Maha Pencipta, karena kamu tidak akan mampu memikirkan-Nya”.

Berpikir dan memahami tidak lain ialah membuat asosiasi dalam otak seseorang antara sesuatu yang belum diketahui serta yang ingin dipahami di satu pihak, dengan sesuatu yang telah diketahui serta yang ingin dipahami dalam simpanan ingatan atau pengertiannya, di pihak lain. Sedangkan apa yang kita ingat atau simpan dalam pengertian kita itu tidak lain ialah hasil penumpukan pengalaman dan pemahaman kita sebelumnya. Kita memahami sesuatu jika sesuatu itu analog, semisal atau sebanding dengan sesuatu yang sudah ada dalam simpanan pengertian kita (Pintu Pintu Menuju Tuhan, 1996:126).

Karena Allah mutlak, tidak analog dan tidak dapat diperbandingkan dengan suatu apa pun (“Tidak ada sesuatu apapun yang semisal dengan Dia” [As Syura/42:11; baca juga AI Ikhlash/112:4]), maka Allah tidak mungkin diketahui atau terjangkau oleh pengertian manusia. Kita mengetahui tentang Allah hanya berkenaan dengan beberapa sifat-Nya yang diberitakan kepada kita oleh para Nabi dan Rasul yang mendapat wahyu dari Allah sendiri.

Dengan kata lain, karena Allah yang Mutlak mustahil terjangkau oleh kita yang relatif, maka Kebenaran Mutlak pun tetap menjadi hak Allah. Artinya, sebagai penyandang sifat relatif, kita tidak bisa mengklaim sebagai orang yang mengetahui Kebenaran Mutlak secara sempurna. Oleh karena itu pemahaman, pandangan, atau tafsir kita tentang Kebenaran Mutlak tetap harus dibingkai sebagai sesuatu yang bisa benar dan juga bisa salah.

Jika kita bersikeras bahwa pemahaman kita terhadap Kebenaran Mutlak sebagai satu-satunya kebenaran dan pemahaman yang lain salah, maka pada dasarnya kita telah menjerumuskan diri kita kepada absolutisme pendapat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk lain dari sikap tiranik. Beriman kepada Allah berarti memandang diri sendiri sama dengan yang lain, dengan potensi yang sama untuk benar dan untuk salah. Maka iman membuat orang menjadi rendah hati (tawadhu’), tulus untuk menerima kebenaran orang lain dan mengakui kesalahan diri sendiri, bersedia melakukan musyawarah. Itulah modal awal untuk terhindar dari sikap tiran, diktator, totaliter, dan sebangsanya. Wallahu a’lam!

Mohammad Nurfatoni

Dimuat Buletin Jumat Hanif, tahun 2000